Hidup Gavin Wijaya berubah total dalam semalam. Mantan "sultan" Jakarta yang terbiasa hidup mewah harus meninggalkan kehidupan glamor dan menjadi buruh migran (TKI) di Taiwan. Dari pesta dan kemewahan, kini yang tersisa hanyalah kerja keras di sebuah pabrik.
Di sisi lain, Tiffany Chen adalah CEO muda jenius yang dikenal dingin dan perfeksionis. Baginya hidup hanya tentang bisnis, angka, dan kesuksesan. Namun sebuah tekanan dari sang ayah memaksanya mencari jalan keluar yang tidak pernah dia bayangkan.
Sebuah pertemuan tak terduga membuat Gavin masuk ke dunia Tiffany. Dengan sebuah rahasia dan kontrak pernikahan, seorang mantan sultan yang kini menjadi TKI mendadak berubah menjadi "suami penyamaran" seorang CEO Taiwan.
Ketika pria santai dan usil harus hidup bersama wanita dingin yang lebih mirip robot pekerja, kehidupan mereka mulai berubah. Akankah pernikahan kontrak ini tetap menjadi sekadar kesepakatan, atau berubah menjadi sesuatu yang tidak pernah mereka rencanakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miko J, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pernikahan Dengan Tante ceo
Proses pelegalan kontrak pernikahan itu berjalan dengan kecepatan luar biasa yang cenderung dingin. Tidak ada gaun putih yang anggun, tidak ada dekorasi bunga, dan tidak ada pesta mewah layaknya pernikahan anak konglomerat Taiwan.
Gavin dan Tiffany berdiri di dalam kantor pendaftaran sipil Taipei yang bernuansa kaku. Hanya dalam waktu kurang dari lima belas menit, di bawah tatapan datar petugas pendaftaran dan coretan tanda tangan kilat, sebuah akta pernikahan resmi berkekuatan hukum telah terbit.
Gavin baru saja hendak mengulurkan tangannya yang gatal untuk mengambil map dokumen tersebut berniat melihat foto atau sekadar memeriksa apakah nama sultannya tertulis dengan gagah saat sebuah tangan dengan kuku bermanikur rapi menyambarnya dengan kecepatan kilat.
Set!
"Eh? Kok diambil, Tante?" protes Gavin melongo.
Tiffany memasukkan dokumen itu ke dalam tas kerja bermereknya tanpa ekspresi.
"Dokumen ini adalah aset hukum Chen Corp. Kamu tidak berhak memegangnya agar tidak disalahgunakan untuk mencairkan dana atau jaminan utang baru di Taiwan," bohong Tiffany dengan nada dingin. Padahal, dalam hati, dia juga ingin menyembunyikan kolom tahun kelahirannya yang menunjukkan angka 25 tahun dari mata pemuda ceroboh ini.
Gavin hanya bisa mendengus pasrah, meratapi hak miliknya yang lagi-lagi dikebiri oleh sang Tante Judes. Bagi Tiffany, dokumen itu adalah nota pembelian tameng politiknya. Bagi Gavin, itu adalah surat garansi agar dia tidak dideportasi ke Jakarta sebagai gelandangan.
Gavin melirik tas kerja hitam yang kini berada di tangan Tiffany seolah-olah itu adalah brankas bank yang baru saja menelan seluruh masa depannya.
"Minimal kasih lihat fotonya sekali saja," gumam Gavin lirih.
"Tidak perlu."
"Nomor akta juga enggak?"
"Tidak."
"Kalau begitu aku pinjam buat difoto?"
"Tidak."
Tiga penolakan beruntun itu membuat Gavin mengangkat kedua tangannya menyerah.
"Baiklah, Tante memang bos. Aku cuma pegawai kontrak seumur... eh, maksudku suami kontrak."
Tiffany tetap berjalan tanpa menoleh. Sudut bibirnya nyaris bergerak, tetapi dia buru-buru mengembalikan ekspresi datarnya. Pria ini benar-benar mampu membuat percakapan paling serius berubah menjadi konyol hanya dalam hitungan detik.
Di luar kantor pendaftaran sipil, matahari sore mulai condong ke barat. Jalanan Taipei dipenuhi kendaraan yang bergerak perlahan, sementara pejalan kaki lalu-lalang dengan langkah tergesa. Bagi orang-orang di sekitar mereka, Gavin dan Tiffany hanyalah pasangan biasa yang baru selesai mengurus administrasi pernikahan.
Tak seorang pun tahu bahwa pernikahan itu hanyalah kontrak yang dibangun di atas kepentingan masing-masing.
Gavin menghela napas panjang sambil memandangi langit.
"Jadi... mulai hari ini statusku resmi jadi suami CEO galak."
Tiffany menghentikan langkahnya sejenak.
"Ingat satu hal."
"Apa lagi?"
"Di depan orang lain, jangan pernah memanggilku Tante."
"Lho? Kenapa?"
"Karena itu akan membuat orang curiga ."
Gavin menggaruk kepalanya . "Kalau begitu panggil apa? Bos? Nyonya Direktur? Yang Mulia CEO?"
" Kamu bisa Panggil namaku atau istriku terserah kamu asal jangan panggil aku Tante didepan orang."
"Ya." Gavin mengangguk pelan, tetapi beberapa detik kemudian refleksnya kembali muncul.
"Baik, Tante."
Tiffany memejamkan mata sesaat. Kesabarannya benar-benar sedang diuji.
Tanpa berkata apa-apa lagi, dia langsung berjalan menuju area parkir bawah tanah. Gavin buru-buru mengejar dari belakang sambil membawa koper lusuhnya, sementara senyum kecil tak sadar muncul di wajah beberapa orang yang sempat menyaksikan percakapan aneh pasangan pengantin baru itu.
Sore itu juga, berbekal lembaran akta nikah di tangannya, Tiffany melangkah masuk ke rumah utama keluarga Chen di kawasan elite Yangmingshan. Sebagai anak semata wayang, Tiffany sebenarnya masih terdaftar tinggal di rumah mega-mewah ini bersama kedua orang tuanya, meskipun dia lebih sering menginap di apartemen pribadinya di pusat kota karena alasan efisiensi jarak ke kantor Chen Corp.
Plak!
Tiffany meletakkan dokumen akta nikah itu dengan bunyi yang mantap di atas meja kayu jati, tepat di hadapan ayahnya yang sedang membaca koran bisnis.
Tuan Chen menurunkan kacamatanya. Begitu matanya membaca judul dokumen tersebut, wajah pria paruh baya itu seketika memerah padam. Dia menggebrak meja hingga cangkir teh porselen di atasnya berdenting nyaring.
"Tiffany! Apa-apaan ini?!" bentak ayahnya, suaranya menggelegar penuh amarah yang tertahan. "Kamu menikah?! Tanpa persetujuan Ayah? Tanpa memberi tahu keluarga besar?! Siapa pria asing bernama Gavin Wijaya ini?!"
Tiffany berdiri tegak dengan dagu terangkat, mempertahankan ekspresi wajahnya yang sedingin es kutub. Argumen bisnis yang sudah dia rancang matang-matang langsung diluncurkan.
"Dia adalah pengusaha muda sukses asal Indonesia, Ayah," jawab Tiffany dengan nada tenang dan meyakinkan. "Kami sengaja menikah secara hukum sipil terlebih dahulu agar proses integrasi dan ekspansi investasi modal dari perusahaannya ke Chen Corp. bisa berjalan cepat tanpa hambatan birokrasi di Taiwan. Mengenai pesta resepsi, kami sepakat menundanya demi menunggu kedatangan keluarga Wijaya ke sini. Untuk sementara waktu, kami akan fokus pada kerja sama bisnis ini agar berjalan dengan lancar."
Mendengar kata investasi, kemarahan Tuan Chen sedikit mereda. Namun, sebagai pebisnis senior yang sudah makan asam garam, dia tidak mudah ditipu oleh selembar kertas. Matanya yang tajam menyipit penuh kecurigaan.
Tuan Chen mendengus sinis, melemparkan dokumen akta nikah itu kembali ke meja.
"Lalu kenapa kamu mendadak berkemas dan pindah ke apartemenmu? Kenapa tidak tinggal di rumah utama ini saja bersama Ayah dan Ibu?"
Tiffany sudah menduga arah pertanyaan ini. Ayahnya sengaja ingin menahan mereka di rumah utama agar bisa memata-matai gerak-gerik Gavin, memastikan apakah pria itu benar-benar menantu yang kompeten atau hanya lelaki bayaran untuk menghindari perjodohan dengan keluarga Lin Group.
"Itu tidak efisien, Ayah," jawab Tiffany taktis tanpa berkedip. "Jarak dari rumah ini ke kantor pusat memakan waktu satu jam pada jam sibuk. Jadwal rapat Gavin dengan investor sangat padat dan sering kali dilakukan pada dini hari. Karena jarak kantor ke apartemenku jauh lebih dekat, untuk sementara ini merupakan solusi terbaik agar mobilitas kerja kami tidak terganggu oleh kemacetan Taipei."
"Baik," ujar Tuan Chen akhirnya. Suaranya merendah, namun terasa sangat mengintimidasi. "Ayah tidak peduli seberapa kaya dia di Indonesia. Bawa suamimu itu ke rumah ini besok malam untuk jamuan makan malam keluarga! Ayah sendiri yang akan menguji apakah dia benar-benar pengusaha yang kompeten atau hanya pria asing yang sedang memanfaatkanmu."
Ayah Tiffany berdiri, menatap putrinya dengan tatapan tajam penuh peringatan.
"Jika dia gagal meyakinkan Ayah besok malam... kamu harus membatalkan pernikahan ini, dan kamu harus menerima lamaran dari keluarga Lin!"