Ara Milano tidak pernah menyangka satu malam akan mengubah seluruh hidupnya.
Ketika kakaknya menghilang sebelum pernikahan, keluarga Milano tidak memiliki pilihan lain. Demi menjaga perjanjian antara dua keluarga, Ara dipaksa mengenakan gaun pengantin dan menggantikan posisi kakaknya.
Pria yang menunggunya di altar adalah Dante Theo, pewaris keluarga mafia paling berkuasa, yang terkenal dingin, keras, dan tidak mengenal kata kompromi.
Dante tentu tahu wanita yang berdiri di hadapannya bukanlah pengantin yang seharusnya.
Sementara Ara merasa terjerat dalam pernikahan pengganti ini. Bahkan sejak di malam pernikahan, ia berulang kali mencoba kabur. Meskipun pada akhirnya usahanya seperti usaha menjaring angin.
Lama kelamaan keduanya terbiasa dengan kehadiran lainnya. Bagi Dante, gadis itu telah menjadi bagian dari perjanjian yang tidak boleh dilepaskan. Sekalipun harus ia akui, Ara bukan wanita yang mudah dikendalikan. Sayangnya ia juga tidak pernah sanggup kehilangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liza Navy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 Insiden Dasi Sebelum Sarapan
Pagi itu, Dante sudah berdiri di depan cermin ketika Ara keluar dari kamar mandi. Kemeja putihnya sudah terpasang rapi. Jas hitam tergantung di salah satu lengannya.
Ara berjalan melewatinya tanpa banyak bicara.
"Ara." panggil Dante yang masih berdiri di area walking closet.
Ara menoleh.
Dante mengangkat dasi yang ada di tangannya. "Pasangkan."
Ara menatap dasi itu, lalu menatap Dante. "Bukankah biasanya kau bisa memakai sendiri?"
"Kau istriku. Aku ingin kau memasangkan untukku. Alasan ini cukup." Dante menatap Ara melalui cermin.
Ara mendengus. "Sangat cukup." Ia menekankan dua kata itu. Dengan setengah hati, ia mengambil dasi itu dari tangan Dante.
Dante menatap Ara lebih dekat. Ia sedikit menunduk agar Ara lebih mudah mengalungkan dasi itu ke leher Dante.
Ara merasakan hembusan nafas Dante yang menyentuh kulitnya. Pandangannya bersitubrukan dengan Dante.
"Jangan lihat aku," protes Ara.
"Kenapa? Kau kawatir aku memakanmu?" goda Dante dengan nada suaranya yang terdengar dingin.
"Aku sedang berkonsentrasi." Seolah Ara ingin meraung dari suaranya yang pelan. Entah apa salahnya, Dante mengusilinya sejak bangun pagi ini. Dimulai dari menyibakkan selimutnya, mengambil bantal pembatas diantara mereka. Katanya selimut dan bantal itu terbang sendiri. Bagaimana mungkin dua benda mati bisa hidup dan bergerak? Sungguh tidak masuk akal. Bahkan ia memanggil kepala pelayan untuk mengambil keduanya, katanya agar tidak menakuti nyonya. Bukankah itu hanya caranya agar ia bangun dan tidak tidur lagi?
"Memasang dasi membutuhkan konsentrasi sebesar itu?"
"Iya," sahut Ara ketus. Ia memicingkan mata.
"Apakah kau ingin aku memanggil instruktur lagi untuk mengajarimu?" bisik suara Dante pelan. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Ara.
"Tidak perlu merepotkan Tuan," timpal Ara tak senang. Ia masih sibuk membuat simpul ketika salah satu tangan Dante tiba-tiba memeluk pinggang Ara dan menariknya lebih mendekat.
"Dante lepaskan aku!" ronta Ara kaget, tangannya masih memegang simpul yang belum jadi.
Dante menelisik wajah Ara lebih teliti. "Tidakkah kau merasa ada yang salah dengan panggilanmu barusan?"
Ara terkesiap. Ia tersadar Dante tidak suka ia memanggilnya dengan sebutan tuan.
"Suami. Harusnya aku tidak menyebut Tuan. Aku tidak akan mengulanginya." Ara memohon Dante melepaskannya.
Dante menyeringai kecil. Tangannya perlahan turun dari pinggang Ara. "Lanjutkan memasang dasi ku!" Suara dingin Dante kembali terdengar. Suaranya sangat stabil seolah tidak terjadi apapun diantara mereka berdua.
Padahal tangan Ara menjadi lebih kikuk. Simpulnya sedikit miring. Ia mengerutkan kening. Ia mengangkat wajah dan menatap balik Dante.
"Kalau kau terus melihatku seperti itu, aku jadi tak simetris memasangkan dasimu."
Dante tersenyum tipis. "Kau gugup?"
"Aku tidak gugup." Ara menarik ujung dasi sedikit lebih kuat.
Dante mengendorkan dasinya. Tangannya sempat bersentuhan dengan tangan Ara. "Sedikit terlalu kencang."
"Bukankah itu bagus untuk mengendalikan libidomu?"
Dante tertawa pelan. Ia membongkar dasinya dan mengembalikan lagi ke Ara. "Aku sudah cukup menahan diri untukmu. Aku harap aku tak perlu menggunakan tali untuk mengendalikan pergerakan mu."
Ara kembali mendengus. "Aku tahu," gumam Ara mirip tentara yang baru dilucuti senjatanya. Ia mengambil senjata dari Dante dan fokus memasangkan dasi itu kembali. Ia lalu merapikan kerah kemeja Dante tanpa banyak bicara.
Saat tangannya hendak ditarik, Dante menangkap pergelangan tangannya.
Ara membeku. "Apa lagi yang kau mau Dante?"
Dante masih memegang tangan Ara lebih lembut. "Terima kasih."
Ara menatap tangan mereka. "Lepaskan," protesnya. Wajahnya perlahan memanas saat ia menemukan Dante menatap intens padanya.
Dengan sedikit tak rela, Dante melepaskan genggaman nya pada pergelangan tangan Ara.
Ara langsung mundur satu langkah.
"Mulai besok, kau yang akan memasangkan dasi untukku.
Ara mengernyit. "Kalau aku bisa bangun pagi," ceplosnya.
"Kau tidak perlu kawatir. Aku punya seribu satu cara untuk membangunkanmu."
"Kau.."
"Selama kau tidur di sampingku, jangan harap bisa pura-pura tidur selama aku menginginkan kau bangun."
"Baik. Baik. Besok akan kulakukan. Puas?" Ara mengiyakan permintaan Dante. Ia pikir ia memang tidak akan pernah melawan Dante. Jadi ia akan berhenti berdebat dengan pria itu.
Dante tersenyum dingin. Jemarinya mengetuk lembut pipi Ara. "Puas," jawabnya singkat.
Ia menatap punggung Ara yang buru-buru berbalik meninggalkannya. Ara mendahuluinya keluar kamar.
Mereka berdua pergi ke lantai bawah untuk sarapan.
***
Aroma telur dadar dan roti panggang memenuhi ruang makan. Ara berjalan masuk dengan kikuk. Tak lama Dante mengikuti nya masuk.
Dante menyapukan pandangan.
Pelayan datang meletakkan sepiring telur dadar, roti panggang, buah, dan segelas susu di atas meja.
Ara menatap makanan itu. “Aku tidak ingin susu pagi ini.” Ia berharap pelayan mendengar dan mengganti dengan minuman lain.
Dante tanpa mengangkat tangan dan memberi isyarat kepada kepala pelayan tak perlu mengganti.
“Aku ingin jus jeruk," pinta Ara pada Dante.
Dante hanya menjawab dengan gelengan kepala.
Ara ingin memprotes lagi. Tapi sepertinya Dante tidak bakal menggubris. Ia hanya bisa mengambil roti dengan kesal.
“Kau menyebalkan,” maki Ara tak senang. Pria ini sulit ditebak. Sebentar sangat baik, sebentar sangat pendendam. Terkadang memberi lebih dari apa yang ia minta. Terkadang sulit mengabulkan sedikit permohonannya.
“Terima kasih. Aku anggap itu pujian dari istriku."
Ara menatapnya tajam. “Itu bukan pujian.”
“Aku tahu.” Dante menyerahkan piringnya ke Ara. "Ambilkan aku yang sama denganmu." Tatapannya jatuh pada wajah Ara yang masih terlihat kesal.
Mau tak mau Ara mengisi piring Dante dengan roti dan telur dadar di atasnya. Ia menuangkan sedikit mayones dan saos juga. Kemudian ia meletakkan piring yang sudah terisi itu di depan Dante. Ia melihat dari ekor matanya, Dante mengambil garpu dan pisau.
Ara perlahan mengangkat wajah. Tatapan mereka berdua beberapa kali bertemu. Tetapi mereka tetap makan dalam keadaan sunyi. Tidak ada yang bicara. Tidak ada percakapan yang dimulai sebelum mereka selesai. Hanya suara dentingan alat makan yang sesekali terdengar.
Ara buru-buru mengalihkan pandangan dan menggigit rotinya. Ia seperti remaja yang ketahuan diam-diam menaruh perhatian pada crush-nya. Padahal ia sadar ia dan Dante sudah bukan anak remaja lagi. Apalagi Dante, usianya jauh lebih tua delapan tahun di atasnya.
Dante menyeringai tipis. Ia harap kebahagiaan kecil ini bisa selalu ada di rumah tangganya. Tentunya ia tahu ia harus segera membereskan masalah yang berkaitan dengan Alessia. Ia tidak ingin apapun yang Alessia rencanakan bakal membawa Ara dalam bahaya. Bagaimanapun ia tidak ingin Ara terluka. Kelihatannya kakak Ara tidak sesederhana kelihatannya. Wanita itu terlalu rumit dan pelik. Seolah kemunculannya melibatkan banyak pihak dari dunia bawah. Misteri yang harus mereka berdua hadapi bersama. Bagaimanapun mereka sudah menjadi satu bukan lagi dua, mereka diikat dalam pernikahan yang hanya maut yang memisahkan.
***