Di bawah langit kelabu Inggris yang selalu basah oleh gerimis, Aurora "Rory" Vance melangkah masuk ke kampus paling bergengsi di Britania Raya hanya berbekal koper tua, beasiswa penuh, dan keteguhan hati. Sebagai gadis dari kalangan menengah ke bawah yang realistis dan tak punya waktu untuk urusan cinta, prioritas Rory hanya satu: bertahan hidup dan mempertahankan IPK-nya.
Namun, tradisi Freshers' Week (PKKMB) di kampus elit ini jauh dari kata ramah. Para senior panitia yang keras dan disiplin tanpa ampun siap menyaring siapa yang pantas berada di sana. Di tengah tekanan fisik dan mental itu, Rory bertabrakan dengan Julian Edward Radcliffe senior tingkat tiga sekaligus ketua panitia kedisiplinan yang berasal dari salah satu dinasti bangsawan terpandang di Inggris.
Julian adalah definisi kesempurnaan yang dingin, tampan, cerdas, kaya, dan tak tersentuh. Namun, di balik tatapan tajam dan wibawanya yang mendominasi, Julian menyimpan beban ekspektasi keluarga yang mencekik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon air sungai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pagi pertama dan Konfrontasi
Cahaya matahari pagi yang hangat menerobos masuk dari celah tirai tipis di flat sederhana kawasan Oxford, melukis garis-garis emas di atas lantai kayu dan ujung tempat tidur. Udara dingin musim dingin di luar kontras dengan kehangatan yang menyelimuti kamar kecil itu.
Rory terbangun perlahan. Kelopak matanya bergetar sebelum akhirnya terbuka sepenuhnya. Hal pertama yang ditangkap oleh indra penglihatannya adalah dada bidang Julian yang berada tepat di depannya. Pria itu masih tertidur lelap, selimut tebal menutupi sebagian tubuh mereka. Wajah Julian yang biasanya selalu dipenuhi ketegangan, kini tampak sangat rileks dan damai.
Rory menyunggingkan senyum tipis. Ia menggerakkan jemarinya, mengusap pelan rahang tegas Julian. Sentuhan lembut itu membuat Julian sedikit terusik. Mata hazel-nya terbuka perlahan, memancarkan binar kehangatan yang murni begitu melihat Rory di pelukannya.
"Selamat pagi," bisik Julian, suaranya terdengar serak khas orang baru bangun tidur.
Julian menarik Rory lebih dekat, mendaratkan kecupan hangat di kening gadis itu, lalu berpindah ke ujung hidungnya dan berakhir di bibirnya dengan sangat lembut. Rory terkekeh pelan, membalas dekapan Julian dan menyandarkan kepalanya di dada pria itu, mendengarkan detak jantungnya yang teratur.
"Selamat pagi, Julian," balas Rory tulus. "Bagaimana perasaanmu?"
Julian melingkarkan lengannya di pinggang Rory, mengusap punggung gadis itu dengan ibu jarinya. "Seperti seseorang yang baru saja menemukan dunianya yang utuh."
Momen magis dan damai itu terasa sangat berharga bagi mereka berdua. Setelah berbulan-bulan dihantam tekanan akademis, intrik keluarga Radcliffe, dan isolasi sosial dari beberapa lingkaran elite kampus, malam tadi adalah perayaan kebebasan sekaligus penyatuan dua jiwa yang tak lagi memiliki keraguan.
Namun, realitas dunia nyata selalu memiliki caranya sendiri untuk memanggil mereka kembali.
Ponsel Rory yang tergeletak di meja dekat tempat tidur bergetar nyaring. Rory menghela napas pelan, mengulurkan tangannya untuk meraih benda persegi tersebut. Nama Gemma tertera di layar.
"Ya, Gem?" panggil Rory, menjawab telepon sambil tetap bersandar pada Julian.
"Rory! Kamu di mana?!" suara Gemma terdengar panik dan terengah-engah dari seberang telepon. "Kamu harus buka forum internal St. Jude’s sekarang juga! Ada yang menyebarkan dokumen riset kalian dan berita miring tentang kemenangan hibah Helios!"
Rory seketika duduk tegak, merapikan selimut yang menutupi dadanya. Julian yang menyadari perubahan raut wajah Rory ikut bangkit, menatap gadis itu dengan kening berkerut.
"Berita miring apa, Gemma?" tanya Rory, suaranya mendadak berubah menjadi sangat tenang dan terkontrol mode profesionalnya kembali aktif.
"Seseorang mengunggah klaim anonim kalau kamu dan Julian mencuri ide metodologi dari laboratorium pusat Radcliffe Corp sebelum Julian keluar. Mereka bilang kemenangan hibah setengah juta poundsterling itu adalah hasil dari pelanggaran hak cipta industri!" jelas Gemma dengan penuh kekesalan. "Bahkan ada kutipan palsu yang mengisyaratkan kalau kamu memanfaatkan posisi Julian sebagai asisten dosen untuk mendapatkan data itu!"
Julian yang berada cukup dekat untuk mendengar suara dari speaker ponsel Rory langsung merebut telepon tersebut dengan raut wajah yang menggelap.
"Gemma, ini Julian," kata Julian, suaranya dalam dan sedingin es. "Siapa yang menyebarkan unggahan itu di forum?"
"Aku tidak tahu pasti, Julian. Akunnya anonim. Tapi dosen komite etik fakultas baru saja mengeluarkan pengumuman bahwasanya kalian berdua dipanggil ke ruang sidang senat kampus pukul sepuluh pagi ini untuk klarifikasi," jawab Gemma.
"Baik. Terima kasih informasinya, Gemma," ujar Julian singkat sebelum mematikan sambungan telepon.
Atmosfer hangat di kamar itu seketika sirna, berganti menjadi ketegangan yang pekat.
Rory menatap Julian. "Itu strategi Ayahmu atau Victoria?"
Julian memejamkan matanya sejenak, mengepalkan tangannya rapat-rapat hingga buku-buku jarinya memutih. "Ayahku tidak akan menggunakan cara murah seperti rumor anonim di forum mahasiswa. Ini gaya Victoria Montgomery. Dia menggunakan koneksinya di Senat Mahasiswa untuk menjatuhkan kredibilitas kita sebelum dana hibah Helios resmi dicairkan."
Skenario itu sangat licik. Dalam dunia akademis, tuduhan pelanggaran integritas dan pencurian data meski belum terbukti bisa membekukan pencairan dana hibah dan mencoreng nama baik peneliti selama berbulan-bulan.
Rory menarik napas dalam-dalam, menatap mata hazel Julian dengan keteguhan yang tak tergoyahkan. Ia mengulurkan tangannya, menggenggam kepalan tangan Julian, menyalurkan ketenangan.
"Julian," panggil Rory lembut namun mantap. "Tatap aku."
Julian menoleh, menatap mata cokelat jernih Rory.
"Mereka mencoba merusak apa yang baru saja kita bangun," kata Rory tegas. "Tapi mereka lupa satu hal: seluruh catatan riset, logbook laboratorium dari hari pertama di Cambridge, dan times tamp pembuatan file analisis kita tersimpan rapi di sistem enkripsi independen milikku. Kita punya bukti otentik bahwa metodologi itu murni hasil pemikiran kita."
Melihat ketenangan dan kecerdasan Rory yang selalu hadir di saat-saat paling krusial, ketegangan di rahang Julian perlahan melunak. Pria itu menyunggingkan senyum tipis senyuman yang sarat akan rasa bangga yang tak terhingga.
Julian membawa jemari Rory ke bibirnya, menciumnya dengan dalam. "Kamu benar. Kita tidak akan biarkan permainan kotor mereka merusak apa pun."
Pukul 09.45 pagi.
Gedung Utama St. Jude’s College tampak ramai oleh mahasiswa yang berkumpul di sekitar papan pengumuman dan koridor menuju Ruang Sidang Senat. Bisik-bisik spekulatif mengudara ketika rumor pencurian ide riset itu berembus cepat.
Victoria Montgomery berdiri di dekat pintu masuk ruang sidang bersama beberapa anggota komite etik junior. Wajahnya memancarkan kepuasan yang teramat sangat. Ia yakin, dengan memicu investigasi etik, nama Rory akan tercemar dan reputasi Julian sebagai peneliti independen akan hancur sebelum berkembang.
Namun, langkah kaki yang mantap mendadak membuat suasana koridor yang riuh menjadi hening.
Julian dan Rory berjalan berdampingan menyusuri koridor utama.
Julian mengenakan kemeja hitam berbalut mantel cokelat tua yang rapi, sementara Rory mengenakan kemeja putih dan rok span hitam dengan rambut terikat rapi menampilkan aura profesionalisme seorang ilmuwan muda yang siap bertarung. Tidak ada raut panik, tidak ada wajah ketakutan. Mereka melangkah dengan kepala tegak dan genggaman tangan yang tak terputus.
Saat mereka melintas di hadapan Victoria, Julian menghentikan langkahnya sejenak. Ia menatap Victoria dengan mata hazel-nya yang tajam, penuh dominasi yang membuat gadis dari keluarga Montgomery itu secara tidak sadar mundur satu langkah.
"Semoga tuduhanmu cukup kuat untuk menahan konsekuensi hukum dari pencemaran nama baik, Victoria," kata Julian datar, suaranya terdengar sangat jelas oleh para dosen dan mahasiswa di sekitar mereka.
Rory menyunggingkan senyum tipis yang sangat anggun pada Victoria. "Mari kita lihat apakah retorika anonimmu bisa bertahan di depan bukti data digital yang otentik."
Tanpa menunggu balasan dari Victoria yang mendadak pucat, Rory dan Julian mendorong pintu ganda ruang sidang senat, melangkah masuk untuk menghadapi sidang klarifikasi etik dengan keyakinan penuh pada kebenaran yang mereka miliki.