NovelToon NovelToon
Setelah Benda-Benda Bicara, Seluruh Keluarga Berlutut Memohon Ampun

Setelah Benda-Benda Bicara, Seluruh Keluarga Berlutut Memohon Ampun

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:25.8k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Sari

Dibuang di tengah hujan oleh keluarganya sendiri, Keira Santoso nyaris mati — sampai sebuah lampu jalan BICARA padanya.

Sejak malam itu, dia bisa mendengar suara semua benda. Jantung yang mau mogok kerja. Kalung yang membisikkan rahasia. Berlian yang memanggilnya Tuan Putri.

Dan sentuhan seorang CEO tampan yang semua orang tak bisa menyentuhnya... adalah satu-satunya obat untuk keduanya.

Enam kakak yang dulu mengabaikannya? Sekarang rebutan memanjakannya.
Keluarga yang membuangnya? Berlutut memohon ampun.

Tapi Keira sudah menemukan rumahnya yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1

Bab 1

Hujan menghantam wajah Keira seperti jarum kecil.

Ia tersadar dengan pipi menempel pada aspal yang dingin. Air mengalir melewati pelipis, masuk ke sudut bibir, membawa rasa debu, bensin, dan darah tipis dari luka di bibirnya. Piyama kelinci yang melekat di tubuhnya sudah berubah berat seperti kain pel. Telinga panjang di tudungnya menempel basah di bahu, tidak lagi lucu, hanya menyedihkan.

Kota S tidak mengenal salju. Malam itu, gantinya adalah hujan deras dan angin yang menggigit tulang.

Jari-jari Keira mati rasa. Saat ia mencoba mengepalkan tangan, yang bergerak hanya sedikit ujung kuku. Napasnya pendek. Setiap tarikan udara terasa seperti menelan air hujan. Lampu kendaraan sesekali lewat jauh, pecah menjadi garis kuning buram di pandangannya, lalu menghilang begitu saja.

Tidak ada yang berhenti.

Tentu saja tidak ada yang berhenti. Siapa yang mau turun di jalan pinggiran kota pada Jumat malam, di bawah hujan segila ini, hanya karena melihat seorang gadis berpiyama kelinci tergeletak di dekat trotoar?

Keira ingin tertawa, tetapi tenggorokannya hanya serak.

Beberapa jam lalu, Gunawan Santoso berdiri di ambang pintu rumah dengan wajah dingin yang tidak berubah sedikit pun.

"Keluar."

Alvin bahkan tidak repot-repot mengambil payung. Ia menyeret Keira melewati ruang tamu, melewati lantai marmer yang biasanya dipoles sampai licin, lalu mendorongnya keluar pagar seolah membuang barang rusak.

Di belakang mereka, Seline memeluk lengan Tante Lina, mata merah, suara kecilnya gemetar manis. "Kak Keira, jangan marah sama Papa. Kalau Kakak minta maaf sekarang, mungkin Papa..."

Pintu pagar menutup sebelum kalimat itu selesai.

Keira sempat berdiri lama di depan rumah Santoso. Lama sekali, sampai penjaga keamanan pura-pura tidak melihat, sampai air hujan menghapus sisa hangat dari kulitnya, sampai ia sadar satu hal yang sangat sederhana.

Mereka benar-benar ingin ia mati.

"Woy, neng!"

Keira membuka mata.

Tidak ada siapa pun di dekatnya. Hanya jalan basah, selokan yang meluap, dan tiang lampu tua di atas kepala yang cahayanya berkedip-kedip.

"Neng piyama kelinci! Iya, lu! Jangan tidur di situ, astaga. Lu mau jadi berita kriminal subuh-subuh?"

Keira menatap tiang lampu itu.

Cahayanya kembali berkedip. Sekali. Dua kali. Seperti orang yang sedang melambaikan tangan dengan panik.

Untuk beberapa detik, dingin di tubuh Keira kalah oleh rasa takut yang lebih aneh. Ia pernah mendengar benda berbicara sebelumnya, di dunia asalnya, sejak kecil. Saat itu semua orang menyebutnya terlalu imajinatif, lalu terlalu stres, lalu mungkin sakit. Ia belajar menutup telinga, mengabaikan suara-suara yang tidak boleh ada.

Tapi ia sudah mati di dunia asalnya. Ia membuka mata di tubuh Keira Santoso, gadis malang dalam novel yang berakhir mengenaskan.

Dan sekarang sebuah lampu jalan sedang memarahinya dalam bahasa gaul.

"Halusinasi," bisik Keira. Bibirnya bergetar. "Aku pasti demam."

"Demam apaan? Gue lampu, bukan jin penunggu tiang!" suara itu menggerutu. "Dengerin gue. Dari arah selatan ada mobil gede. Mahal banget. Harganya mungkin bisa buat beli satu kompleks ruko kecil. Jalannya pelan karena sopirnya takut ban selip."

Keira memaksa lehernya bergerak.

Jauh di ujung jalan, dua sorot lampu putih muncul di balik tirai hujan. Lambat, tapi mendekat.

"Nah itu! Itu dia!" Lampu Jalan terdengar makin heboh. "Gue udah nyala seterang-terangnya dari tadi, tapi mobil-mobil receh pada kabur semua. Yang ini auranya sombong. Mobil mahal biasanya takut lecet, jadi remnya bagus. Lu masih bisa diselamatkan."

Keira tidak punya tenaga untuk menjawab. Ia hanya menghitung.

Jarak kira-kira enam puluh meter. Kecepatan mungkin dua puluh kilometer per jam karena hujan. Jalan basah, waktu reaksi pengemudi satu sampai dua detik. Kalau ia berguling sekarang, tubuhnya masuk ke jalur terlalu cepat. Sopir bisa menghindar tanpa berhenti.

Kalau terlambat sedikit, ia mati sungguhan.

Lucu. Keluarga Santoso membuangnya untuk mati, dan ia masih harus memakai fisika dasar demi mendapat kesempatan hidup.

Keira menggigit bagian dalam pipinya sampai rasa besi pecah di lidah. Sakit itu membangunkan sedikit sisa kesadaran. Ia menekan siku ke aspal. Kulitnya tergores. Lututnya gemetar. Tubuhnya tidak mau menurut, tetapi ia tidak meminta izin pada tubuhnya.

"Sekarang?" tanyanya nyaris tanpa suara.

"Belum, belum! Sabar, neng. Tiga... dua... eh tunggu, mobilnya cakep juga dari dekat. Rolls-Royce, coy. Sombong banget hidungnya."

"Sekarang?"

"Sekarang! Guling!"

Keira mengerahkan seluruh tenaga yang tersisa.

Tubuhnya jatuh ke tengah jalan dengan gerakan buruk, lebih mirip karung basah daripada manusia. Bahunya membentur aspal. Rasa sakit menyambar putih di matanya. Pada saat yang sama, Lampu Jalan di atasnya berkedip-kedip gila, terang, redup, terang lagi, seperti sirene darurat yang keras kepala.

Suara ban menjerit tertahan di atas aspal basah.

Rolls-Royce hitam berhenti kurang dari dua meter dari tubuh Keira.

Untuk sesaat, hanya ada suara hujan.

Lalu pintu depan terbuka. Seorang pria paruh baya turun membawa payung hitam besar. Wajahnya tegang, jasnya langsung basah diterpa angin. Ia membungkuk dan terkejut saat melihat Keira.

"Ya Tuhan... Nona? Nona masih sadar?"

Keira mencoba menjawab, tetapi bibirnya tidak bekerja.

Pintu belakang mobil terbuka. Suara lelaki tua terdengar dari dalam, berat namun masih jernih. "Chen, bawa dia masuk."

"Pak, dia tiba-tiba berguling ke tengah jalan. Ini bisa saja jebakan."

"Kalau jebakan, jebakannya sedang membiru kedinginan," kata lelaki tua itu. "Bawa masuk. Sekarang."

Pak Chen ragu hanya setengah detik. Setelah itu ia menyelipkan satu tangan di bawah bahu Keira dan mengangkatnya dengan hati-hati. Tubuh Keira terlalu lemah untuk merasa malu. Saat ia dipindahkan ke jok belakang, kehangatan kabin langsung membungkusnya seperti selimut tebal.

Aroma kulit mahal, obat gosok samar, dan teh hangat memenuhi hidungnya.

Di sampingnya duduk seorang lelaki tua berambut putih rapi. Wajahnya pucat, tetapi matanya tajam dan tenang. Ia melepas syal dari lehernya sendiri, lalu menaruhnya di bahu Keira.

"Namamu siapa?" tanyanya.

Keira menelan ludah. "Keira."

"Keira," ulang lelaki tua itu pelan. "Saya Sutedjo Tanuwijaya. Orang-orang biasanya memanggil saya Engkong Tedjo."

Nama itu masuk ke kepala Keira seperti kilat.

Tanuwijaya.

Dalam novel yang pernah ia baca, keluarga Tanuwijaya berdiri jauh di atas keluarga Santoso. Enam cucu laki-laki mereka tersebar di bisnis, hukum, medis, hiburan, investigasi, dan esports. Dan Engkong Tedjo...

Keira menoleh perlahan.

Di balik suara hujan yang menghantam kaca mobil, ada suara lain. Bukan dari Lampu Jalan. Bukan dari jok mobil. Bukan dari payung Pak Chen yang masih menetes di luar.

Suara itu datang dari dada Engkong Tedjo.

"Capek banget..."

Keira membeku.

"Kerja terus dari tujuh puluh tahun lebih. Kapan liburnya? Mau mogok... mau istirahat... mau pensiun dini..."

Itu bukan suara manusia. Itu suara lemah yang berdetak tidak teratur, basah, tua, dan putus asa.

Jantung Engkong Tedjo sedang berbicara.

Keira menatap wajah lelaki tua yang baru saja menyelamatkannya. Hangat dari syal di bahunya tiba-tiba terasa terlalu berat. Ia bisa diam. Ia bisa pura-pura tidak mendengar. Orang normal mana yang akan percaya gadis asing berpiyama kelinci yang baru dipungut dari jalan?

Tapi beberapa menit lalu, Lampu Jalan menyelamatkan hidupnya.

Keira menarik napas. Dadanya sakit, tetapi suaranya keluar lebih jelas dari yang ia kira.

"Engkong sebentar lagi mau meninggal."

1
lin sya
kluarga gk tahu malu, stlh tau kbnarannya ngomong ttg kluarga. pdhl dulu kei anak yg diabaikan dan disakitin. skrg dtg dgn tmpg gk brsalah🤭
Dey77
baru awal baca,
semangat thor💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!