Hidup Evelina Lim hancur seketika saat ia menangkap kekasihnya Rangga berselingkuh dengan adik tirinya, Jesslyn Lim.
Di titik terendah, Eve berpapasan dengan Edric Kho, mantan prajurit TNI baru pulang dari misi Afrika Selatan.
“Kamu kurang apa sih, Mas?”
“Tidak kurang apa-apa. Cuma kurang istri.”
Dipicu amarah, Eve menerima tawaran itu dan menikah kilat.
Eve mengira suaminya hanya mantan tentara sederhana, tanpa tahu Edric adalah Direktur Utama Kho Group, pewaris konglomerat raksasa Jakarta. Ia merahasiakan identitasnya, ingin dicintai sebagai Edric, bukan pewaris keluarga Kho.
Rahasia besar itu akhirnya terbongkar. Ia berhadapan dengan saingan kekuasaan Valen Kho, pesaing cinta Calista Sia, serta misteri kematian ibu Eve.
Eve harus memilih: kabur, atau bertahan di samping pria misterius ini.
Edric Kho siap mempertaruhkan segalanya demi wanita yang dinikahinya dalam sekejap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7
Bab 7: Gelang GEMMA
Plaza Indonesia pada Sabtu sore selalu punya cara membuat orang merasa isi dompetnya terlalu jujur.
Eve berdiri di toko perlengkapan rumah, memegang dua gulung kain tirai. Satu warna abu-abu, satu warna pink muda. Di sampingnya, Edric memakai kaus putih, jeans, dan jam Casio sederhana yang membuatnya terlihat seperti laki-laki biasa yang sedang menemani istri belanja.
"Abu-abu lebih netral," kata Edric.
"Pink lebih hidup."
"Kamar saya sudah hidup setelah kamu beli seprai pink."
Eve menatapnya. "Kamu keberatan?"
"Saya sedang belajar menerima takdir."
Eve tertawa kecil. Ia hampir lupa betapa seminggu lalu hidupnya hancur di bandara. Bersama Edric, hari-hari bergerak aneh, terlalu cepat, tetapi tidak lagi kosong.
Lalu ia melihat Jesslyn Lim turun dari eskalator.
Jess menggandeng Rangga. Rambutnya ditata sempurna, tas bermerek di bahu, dan di pergelangan tangannya ada gelang rose gold yang sengaja dibiarkan terlihat. Rangga berjalan di sampingnya dengan wajah pria yang ingin terlihat sukses tetapi lehernya terlalu tegang.
Jess melihat Eve.
Senyumnya langsung mekar.
"Kak Eve!" Jess melambai, suaranya manis sampai palsu. "Belanja juga?"
Eve meletakkan kain tirai. "Jess."
Mata Jess pindah ke Edric. Ia menilai kaus putih, jeans, jam murah, lalu tersenyum miring. "Oh, sama tunangan bandara itu ya? Atau sekarang sudah naik pangkat jadi suami?"
Rangga menegang. "Jess, sudah."
"Kenapa? Aku cuma menyapa."
Eve menggenggam pegangan tasnya. "Kami sedang buru-buru."
"Sebentar saja." Jess mengangkat tangannya. Gelang itu berkilau di bawah lampu toko. "Lihat, Kak. GEMMA limited edition. Rangga belikan untuk anniversary satu bulan."
Satu bulan.
Eve hampir tertawa. Tiga tahun dengannya Rangga selalu bilang belum siap, belum stabil, belum waktunya. Dengan Jess, satu bulan saja sudah ada anniversary.
"Bagus," kata Eve datar.
"Bagus banget. Katanya model terbaru. Susah dapat, lho." Jess melirik tangan Eve. Di sana hanya ada cincin sederhana dan tidak ada perhiasan lain kecuali gelang baru yang tertutup lengan bajunya. "Suami tentara mungkin agak sulit ya beli begini. Gaji TNI berapa sih sekarang?"
Pipi Eve panas.
Ia tidak malu karena Edric tidak kaya. Ia malu karena Jess sengaja menaruh harga diri seseorang di etalase seperti barang diskon.
Edric yang sejak tadi diam akhirnya bertanya, "GEMMA?"
Jess mengangkat dagu. "Iya. Kamu tahu? Atau baru dengar?"
"Yang limited edition?"
"Tentu."
Edric melihat jam. "Saya bisa dapat edisi terbaru GEMMA dalam lima menit. Mau taruhan?"
Jess tertawa. Beberapa pengunjung menoleh.
"Lima menit? GEMMA terbaru belum rilis ke publik. Kamu pikir kamu siapa?"
"Suaminya."
Jawaban itu pendek. Eve menoleh cepat.
Edric mengambil ponsel dan berjalan dua langkah menjauh. Ia bicara sangat pelan. Eve hanya menangkap satu kalimat.
"Celestial Line. Plaza Indonesia. Sekarang."
Lalu ia kembali.
Rangga mencibir, tetapi keringat kecil muncul di pelipisnya. Jess masih tertawa, namun matanya mulai tidak setenang tadi.
Empat menit kemudian, lift terbuka.
Seorang perempuan paruh baya bersetelan hitam keluar bersama dua staf keamanan. Di tangannya ada kotak beludru hitam bertuliskan GEMMA. Langkahnya cepat, wajahnya profesional, dan saat ia sampai di depan Edric, ia menunduk hormat.
"Pak Edric, Celestial Line sudah kami siapkan. Sepuluh buah di Asia Tenggara, nomor seri delapan. Sesuai instruksi."
Udara di sekitar mereka berhenti.
Eve menatap perempuan itu, lalu Edric.
Pak Edric.
Bukan Pak Kolonel.
Edric membuka kotak. Di dalamnya ada gelang platinum dengan satu batu safir biru di tengah, elegan tanpa berteriak. Cahaya lampu membuat batu itu seperti menyimpan potongan langit malam.
"Tangannya," kata Edric pelan.
Eve masih terkejut, tetapi ia mengulurkan tangan. Edric memasangkan gelang itu dengan hati-hati, kait demi kait, seolah benda itu bukan barang mewah melainkan sesuatu yang memang sejak awal harus berada di pergelangan tangan Eve.
"Suka?"
Eve menelan ludah. "Ini terlalu..."
"Suka?"
Ia mengangguk pelan.
Jess berdiri kaku. Wajahnya berubah dari merah muda menjadi putih.
Perempuan GEMMA itu melirik gelang Jess. Senyumnya tetap sopan, justru karena itu terasa lebih tajam.
"Rose Gold Classic, ya? Model itu sudah diskontinyu dua tahun lalu."
Jess menoleh pada Rangga. "Kamu bilang ini terbaru."
"Jess, aku bisa jelaskan."
"Kamu bilang limited edition."
"Memang limited..."
"Pak," perempuan GEMMA memotong dengan nada halus kepada Rangga, "menurut sistem kami, pembelian gelang itu bukan dari authorized dealer resmi. Untuk perlindungan merek, kami perlu verifikasi keasliannya."
Bisik-bisik pengunjung langsung naik.
"Palsu?"
"Kasihan, pamer padahal..."
Jess menatap pergelangan tangannya seperti benda itu tiba-tiba berubah menjadi ular. Lalu ia menampar Rangga di depan semua orang.
Plak.
Suara itu mengembalikan kenangan bandara pada Eve, tetapi kali ini yang berdiri dipermalukan bukan dirinya.
"Kamu mempermalukan aku!" Jess berteriak.
Rangga memegang pipinya. "Jess, jangan di sini."
"Kenapa? Malu?"
Rangga berusaha meraih tangan Jess, tetapi perempuan itu menepisnya. Gelang rose gold di pergelangan Jess bergoyang, tiba-tiba tidak lagi terlihat seperti perhiasan, melainkan bukti bahwa Rangga bahkan tidak mampu berbohong dengan rapi.
"Kamu bilang ini dari dealer resmi."
"Aku pesan lewat teman. Dia bilang barangnya asli."
"Teman siapa? Teman yang jualan jam KW juga?"
Beberapa pengunjung tertawa tertahan. Wajah Rangga makin merah. Ia melihat Eve seolah meminta perempuan itu menolongnya keluar dari situasi memalukan, kebiasaan lama yang dulu selalu berhasil karena Eve terlalu mudah kasihan.
Kali ini Eve hanya berdiri di samping Edric.
Tidak maju. Tidak membela. Tidak menenangkan.
Rangga baru menyadari, perempuan yang dulu selalu membereskan kekacauannya sudah tidak berada di pihaknya.
Ibu Santi memberi isyarat kepada staf. "Kami tidak menuduh apa pun di tempat umum. Namun untuk keamanan merek, kami sarankan gelang itu tidak dipakai sampai proses verifikasi selesai."
Kalimat sopan itu lebih kejam daripada hinaan.
Jess langsung melepas gelangnya dan melemparkannya ke dada Rangga. "Ambil. Aku tidak mau pakai barang yang mungkin palsu."
"Jess, semua orang lihat."
"Bagus. Biar mereka lihat kamu seperti apa."
Di samping Eve, Edric bergerak setengah langkah, menempatkan tubuhnya di antara Eve dan kerumunan yang mulai terlalu dekat. Ia tidak menyentuh Eve, tetapi keberadaannya membuat bahu Eve turun. Perlindungan itu kecil, nyaris tidak terlihat, namun terasa jelas.
Seorang ibu muda di dekat etalase berbisik kepada temannya, "Yang istrinya diam itu malah kelihatan elegan."
Eve mendengarnya. Untuk pertama kalinya, ia tidak ingin mengecil.
Petugas keamanan Plaza Indonesia mendekat dengan sopan, tetapi tegas. Perempuan GEMMA itu memberi isyarat kecil. Dalam hitungan detik, Jess dan Rangga digiring menjauh dari kerumunan. Jess masih mengomel, Rangga masih mencoba menjelaskan, tetapi pintu lift menutup sebelum mereka sempat menyelamatkan harga diri.
Eve berdiri dengan gelang safir di tangan dan jantung yang belum tenang.
"Ibu Santi," kata Edric kepada perempuan GEMMA, "terima kasih."
"Dengan senang hati, Pak." Ibu Santi menunduk pada Eve. "Nona Evelina, gelangnya bisa disesuaikan lagi kalau terasa longgar."
Eve hanya bisa mengangguk.
Setelah mereka keluar dari toko, suasana Plaza terasa terlalu terang. Eve menatap gelang itu berulang kali. Bukan karena silau. Karena setiap kilau seperti pertanyaan.
Di parkiran, ia akhirnya berhenti.
"Kamu siapa sebenarnya?"
Edric memasukkan tangan ke saku. "Orang yang mau belikan istrinya gelang tapi duitnya pas-pasan."
"Lima ratus juta rupiah itu pas-pasan?"
"Kamu tahu harganya?"
"Aku bisa membaca ekspresi orang, Edric. Ibu Santi tadi hampir memperlakukanmu seperti pemilik toko."
"Mungkin dia menghormati tentara."
"Jangan bercanda."
Edric menatapnya. Kali ini tidak langsung menjawab.
Eve ingin mendesak. Ia ingin bertanya kenapa seorang manajer GEMMA datang dalam empat menit, kenapa orang-orang memanggilnya Pak Edric dengan cara seperti itu, kenapa semua hal tentang pria ini terasa terlalu rapi untuk disebut kebetulan.
Namun di balik semua pertanyaan itu, ada rasa takut yang lebih kecil dan lebih dalam.
Kalau Edric juga berbohong, apakah ia sanggup mengetahuinya sekarang?
Baru seminggu ia keluar dari kebohongan Rangga. Baru seminggu ia belajar tidur tanpa merasa seluruh hidupnya bodoh. Dan hari ini, saat Jess menghina, Edric tidak menjelaskan dirinya. Ia hanya berdiri di samping Eve dan membuat orang yang merendahkannya kehilangan suara.
Rasanya terlalu hangat untuk langsung dicurigai.
"Kalau suatu hari aku tanya lagi," kata Eve pelan, "jawab yang benar."
Edric mengangguk. "Baik."
"Hari ini aku tidak tanya."
"Kenapa?"
Eve melihat gelang di tangannya, lalu pintu lift tempat Jess dan Rangga menghilang.
"Karena hari ini aku masih ingin merasa menang."
Mata Edric melembut.
"Kalau begitu," katanya, "mari pulang, Nyonya Kho."
Untuk pertama kalinya, panggilan itu tidak terdengar seperti sandiwara.
Di dalam mobil, Eve tidak langsung melepas gelang itu. Ia menyentuh batu safirnya pelan-pelan, lalu melihat pantulan wajahnya di kaca jendela. Ada perempuan yang sama dengan yang ditinggalkan di bandara, tetapi matanya berbeda. Tidak sepenuhnya sembuh, belum. Namun hari ini, saat Jess mencoba menginjaknya lagi, ia tidak jatuh.
"Terima kasih," katanya tanpa menoleh.
"Untuk gelang?"
"Untuk tidak menyuruhku membalas mereka dengan kata-kata."
"Kamu sudah cukup membalas dengan berdiri di sana."
Eve menunduk. Kalimat itu sederhana, tetapi menempel lebih lama daripada kilau gelang di tangannya.
Dan kali ini, ia percaya dirinya pantas dilihat.