Reynard Sutanto.
CEO termuda Sutanto Group. Konglomerat paling berkuasa se-Indonesia. Dijuluki "Dewa Bisnis" oleh seluruh dunia usaha.
Tapi di balik semua itu, ada satu rahasia yang membuatnya tak pernah bisa tidur nyenyak: tiga tahun lalu, dia divonis mandul. Selamanya.
Akibat racun yang diberikan seorang wanita dari keluarga Goh, Reynard kehilangan kemampuan untuk memiliki keturunan. Pewaris tunggal Sutanto Group... tanpa pewaris. Dia memilih mengasingkan diri ke Gunung Lawu selama tiga tahun, menyerah pada takdir.
Sampai suatu hari, di sebuah pesta biasa di BSD City, matanya jatuh pada seorang anak laki-laki berusia tiga tahun.
Wajah anak itu... persis seperti dirinya.
Alis tegas. Tatapan tajam. Garis rahang yang sama. Seolah seseorang mengecilkan Reynard Sutanto dan menaruhnya di tubuh balita.
Anak itu bernama **Bobo**. Dan ibunya? **Meilan Mulyadi** -- seorang single mother yang tinggal di kontrakan sempit di Serpong, berjuang mati-matian menghidupi anak kembarnya: si kecil Bobo yang jenius dan Lala yang menggemaskan.
Meilan bukan wanita biasa. Di balik penampilannya yang sederhana, tersembunyi kecerdasan luar biasa dan keberanian yang membuat tujuh preman keok dalam satu malam. Dari nol, dia membangun kerajaan bisnis -- mulai dari resep restoran sampai brand fashion "Cantika" -- semua dengan otaknya sendiri.
Tapi masa lalunya menyimpan luka yang tak pernah sembuh: sebuah gudang tua di Jakarta Timur, satu malam yang mengubah segalanya, dan seorang pria yang wajahnya tak pernah bisa dia ingat...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Bab 26: Kebenaran di Gudang Tua
Wajahnya berubah.
Di ruang rapat Sutanto Tower, perubahan sekecil itu cukup membuat semua suara berhenti.
Reynard membaca pesan Bima untuk ketiga kalinya. Setiap kata seperti dipaku ke matanya.
`Kemiripan visual dengan dokumentasi masa kecil Pak Rey sangat tinggi. Bobo dan Lala kemungkinan memiliki hubungan biologis yang perlu diverifikasi.`
Direktur logistik yang sedang presentasi menelan ludah. Tidak ada yang berani bertanya. Reynard menutup tablet, berdiri, dan berkata hanya satu kalimat.
"Rapat ditunda."
Bima menerima teleponnya dua menit kemudian.
"Jangan lakukan apa pun pada anak-anak," kata Reynard.
"Baik, Pak."
"Aku ke BSD."
"Sekarang?"
"Sekarang."
Namun sebelum Reynard tiba, Adrian lebih dulu bicara.
Sore itu, Meilan sedang memeriksa catatan keuangan Cantika ketika Adrian duduk di depannya. Luka remaja itu sudah jauh membaik. Wajahnya tetap pucat, tetapi matanya tidak lagi berpura-pura kosong.
"Bu Meilan," katanya, "ada sesuatu yang harus Ibu tahu sebelum terlalu dekat dengan Kak Rey."
Meilan menutup buku. "Kedengarannya serius."
"Kak Rey punya rahasia yang tidak boleh dibicarakan sembarangan."
"Tentang dia tidak bisa punya keturunan?"
Adrian terdiam. "Ibu sudah tahu?"
"Gosip Jakarta punya kaki panjang."
"Itu bukan sekadar gosip. Tiga tahun lalu, Belinda Goh membuatnya terkena obat bius khusus. Racun Mei. Efeknya..." Adrian menelan ludah. "Keluarga bilang kerusakan itu permanen. Kak Rey tidak bisa punya anak."
Meilan merasakan ruangan bergerak pelan.
"Tiga tahun lalu?"
"Iya."
"Di mana?"
"Yang saya tahu, setelah obat itu bereaksi, Kak Rey melarikan diri dari pengawal yang sudah disusupi orang Goh. Dia menghilang beberapa jam di Jakarta Timur. Ditemukan subuh di dekat kawasan gudang tua, sendirian, hampir pingsan. Sejak itu dokter keluarga memastikan efek obatnya."
Gudang tua.
Jakarta Timur.
Tiga tahun lalu.
Setiap kata mengangkat serpihan ingatan pemilik tubuh ini dari tempat gelap. Bau debu. Lantai dingin. Napas kacau. Ketakutan seorang gadis yang berlari dari pernikahan paksa, lalu bersembunyi di tempat yang salah pada malam yang lebih salah lagi.
Meilan berdiri terlalu cepat sampai kursi bergeser.
Adrian ikut tegang. "Bu Meilan?"
"Cukup."
"Saya hanya ingin Ibu tidak berharap terlalu banyak. Kak Rey... dia baik, tapi dia tidak bisa memberi anak."
Meilan tertawa sekali. Suaranya pendek dan dingin.
"Adrian, kadang orang paling pintar pun tidak tahu betapa terlambatnya mereka memberi peringatan."
Tidak lama setelah itu, mobil Reynard berhenti di depan rumah.
Kali ini ia tidak datang sebagai tamu makan malam. Wajahnya pucat dengan cara yang tidak terlihat oleh orang biasa, tetapi Meilan melihatnya. Bima dan Bayu berdiri di belakang, tegang. Adrian keluar dari ruang depan dan menunduk.
"Kak Rey."
Reynard hanya mengangguk. Matanya mencari sesuatu.
Atau seseorang.
Anak-anak baru pulang dari Harmony Academy. Lala berlari masuk sambil membawa gambar matahari untuk Sari. Begitu melihat Reynard di ruang tengah, langkahnya berhenti.
Selama satu detik, ia hanya menatap.
Lalu wajah kecilnya bersinar.
"Papa!"
Ia berlari dan memeluk kaki Reynard.
Seluruh rumah membeku.
Bima menutup mata.
Bayu menahan napas.
Adrian memucat.
Sari yang membawa nampan air putih hampir menjatuhkannya. Hugo menatap Lala, lalu Reynard, lalu Bobo, bingung mengapa satu kata bisa membuat semua orang seperti patung. Yan berdiri di sisi pintu, alis kecilnya mengerut. Ia tidak memahami hubungan darah, tetapi ia memahami bahaya dari keheningan orang dewasa.
Lala tidak tahu apa pun.
Ia hanya memeluk kaki Reynard dengan keyakinan anak kecil yang tidak punya alasan. Seolah tubuhnya lebih dulu mengenal seseorang yang pikirannya belum pernah dikenalkan. Pipi bulatnya menempel pada celana hitam mahal itu, tangan kecilnya menggenggam kain dengan polos.
Meilan merasa sesuatu dalam dadanya runtuh.
Ia pernah mencoba menolak foto, menolak kemiripan, menolak kemungkinan. Tapi suara Lala barusan tidak memberi ruang untuk menolak.
Reynard menatap anak perempuan kecil yang memeluknya seolah ia sudah mengenalnya seumur hidup. Tangannya terangkat, berhenti di udara, lalu turun sangat pelan menyentuh kepala Lala.
"Nak..." suaranya pecah halus.
Lala mendongak. "Papa tinggi."
Meilan berdiri di ambang ruang makan. Darahnya terasa dingin sampai ujung jari.
Bobo masuk setelah Lala. Begitu melihat adiknya memeluk Reynard, wajah kecilnya mengeras.
"Lala, sini."
Lala menoleh bingung. "Bobo, Papa."
"Dia bukan Papa," kata Bobo.
Kata itu menusuk lebih tajam daripada teriakan.
Reynard menatap Bobo. Dua wajah itu saling berhadapan, satu dewasa, satu anak kecil. Sama dingin, sama keras kepala, sama-sama seperti cermin yang memantulkan tahun yang hilang.
Meilan berjalan mendekat. "Reynard."
Ia menoleh.
"Kita bicara. Sekarang."
Mereka masuk ke ruang kecil di belakang, meninggalkan Sari menahan Lala dan Bobo yang menolak melepas tangan adiknya. Adrian berdiri di luar pintu, wajahnya penuh penyesalan karena ia tahu kata-katanya baru saja membuka sesuatu yang tidak bisa ditutup.
Di dalam ruangan, Meilan langsung bertanya, "Tiga tahun lalu. Gudang tua di Jakarta Timur. Kamu ingat?"
Reynard memejamkan mata.
Jawaban itu cukup.
Namun Meilan butuh kata-kata. "Jawab."
"Aku ingat potongan-potongan."
"Potongan apa?"
"Obat. Panas. Aku melarikan diri. Ada gudang. Ada seseorang di sana." Suara Reynard rendah, setiap kata seperti ditarik dari luka lama. "Aku tidak tahu siapa dia. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan jelas sampai semuanya sudah terlambat."
Ia berhenti, lalu memaksa dirinya melanjutkan. "Belinda sudah lama mengejar kerja sama yang kutolak. Malam itu, ia memakai acara amal sebagai penutup. Minuman ditukar. Pengawal yang seharusnya menjagaku diarahkan ke pintu yang salah. Saat efeknya mulai bekerja, aku tahu ada sesuatu yang buruk, tapi tubuhku tidak mendengar perintahku sendiri."
Meilan menatapnya tanpa berkedip.
"Aku ingat memecahkan kaca mobil. Aku ingat berlari. Aku ingat bau karat dan debu di gudang. Setelah itu..." Reynard menutup rahang. "Yang tersisa hanya rasa bersalah yang tidak punya wajah."
"Sekarang wajahnya ada," kata Meilan.
Reynard seperti menerima pukulan bahkan sebelum tangan Meilan bergerak.
Meilan menatapnya.
Dalam kepala, ingatan pemilik tubuh ini meledak lebih terang.
Gadis muda itu berlari dari orang Limanto yang mengejarnya. Hujan, lumpur, napas terbakar. Ia masuk ke gudang tua karena pintunya terbuka sedikit. Ia mengira tempat itu kosong. Lalu ada pria yang setengah sadar, tubuhnya panas seperti demam, matanya tidak fokus.
Ketakutan.
Kekacauan.
Tubuh yang terlalu lemah untuk melawan sampai akhir.
Pagi yang dingin.
Darah di kain.
Kesunyian yang membuat seorang gadis merasa seluruh dunia sudah membuangnya.
Meilan mencengkeram tepi meja sampai buku jarinya memutih.
"Orang itu adalah aku."
Reynard membuka mata.
Wajahnya kehilangan warna.
"Meilan..."
"Bukan aku yang sekarang. Pemilik tubuh ini. Gadis yang hidupnya sudah cukup dihancurkan keluarganya, lalu malam itu dihancurkan lagi."
Reynard mundur setengah langkah. Untuk pertama kalinya sejak Meilan mengenalnya, pria itu terlihat benar-benar tidak punya tempat untuk meletakkan dirinya.
"Aku tidak tahu."
"Itu membuatnya tidak terjadi?"
"Tidak."
"Itu membuat lukanya hilang?"
"Tidak."
Meilan tertawa tanpa suara. Matanya panas, tetapi suaranya tetap tajam. "Belinda Goh memberimu racun. Kamu menjadi korban. Aku mengerti. Tapi tubuh perempuan itu juga korban. Dan dari malam itu lahir Bobo dan Lala."
Reynard seperti dihantam sesuatu yang tidak terlihat.
"Bobo dan Lala..."
"Anak-anakmu."
Kata itu jatuh di antara mereka.
Tidak ada musik, tidak ada keajaiban. Hanya kebenaran yang datang terlambat dan membawa terlalu banyak darah.
Reynard mengangkat tangan, lalu menurunkannya lagi. "Aku tidak punya hak meminta maaf dan berharap selesai."
"Memang tidak."
"Aku akan bertanggung jawab."
Meilan melangkah maju.
Pukulan pertama mengenai rahangnya.
Bima di luar pintu bergerak, tetapi Adrian menahannya. "Jangan."
Di dalam, Reynard tidak menghindar.
Pukulan kedua mengenai dadanya. Tidak sekuat yang bisa Meilan lakukan, tetapi cukup untuk membuat suara tumpul. Pukulan ketiga berhenti setengah jalan karena tangan Meilan gemetar.
"Kamu tahu apa yang paling membuatku marah?" suaranya pecah untuk pertama kali. "Aku bahkan tidak bisa membencimu dengan cara sederhana. Karena kamu juga korban. Karena kamu tidak tahu. Karena anak-anakku hidup karena malam itu. Dan semua itu membuat sakitnya lebih kotor."
Reynard berdiri diam, menerima setiap kata.
"Aku tidak akan mengambil mereka darimu," katanya pelan. "Aku tidak akan memaksa apa pun. Tapi aku ingin melindungi mereka."
"Kamu terlambat tiga tahun."
"Aku tahu."
"Keluar."
Reynard menatapnya.
"Meilan..."
"Keluar sebelum aku benar-benar kehilangan kendali."
Ia keluar.
Di ruang tengah, Lala masih menangis kecil karena tidak mengerti mengapa semua orang tegang. Bobo berdiri di depan adiknya, wajahnya putih tetapi keras.
Reynard ingin mendekat, tetapi Bobo mundur satu langkah.
"Jangan buat Mama menangis."
Reynard berhenti.
Meilan masuk ke kamar dan menutup pintu. Kakinya kehilangan tenaga. Untuk pertama kalinya sejak ia datang ke dunia ini, ia membiarkan dirinya jatuh duduk di lantai dan menangis tanpa suara. Bahunya bergetar, tetapi ia menggigit bibir agar anak-anak tidak mendengar.
Di luar pintu, Bobo dan Lala berjongkok di celah.
"Mama menangis," bisik Lala.
Bobo menggenggam tangan adiknya. Matanya merah, tetapi suaranya dingin.
"Siapa pun yang membuat Mama menangis, Bobo tidak akan memaafkan."
Di ujung lorong, Reynard berdiri dalam bayangan.
Tangannya bergetar.
Tidak ada satu pun kata yang mampu menyelamatkannya malam itu lagi.