Kau adalah milikku. Jika aku tidak mendapatkannya, maka tidak siapa pun!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BumbleBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dia Memiliki Kekasih
Langkah Pollux terhenti di anak tangga, melirik jam tangannya, masih terlalu pagi tapi Megan sudah berada di rumahnya.
Ia melanjutkan langkah kakinya, sengaja berdehem untuk mendapatkan perhatian Megan. Dan benar saja, Megan segera menoleh sembari memamerkan gigi putihnya.
"Selamat pagi, aku membawakan sarapan untukmu dan tentunya juga kopi," Megan menunjuk makanan yang ia letakkan di atas meja. "Kemari lah sebelum makanan dan kopinya dingin," Megan menepuk kursi kosong di sebelahnya.
Pollux mengernyitkan dahi, sejak kapan Megan menjadi lancar jaya saat berbicara dengannya, dan bahkan wanita itu menatap wajahnya.
Pollux berjalan perlahan, alih-alih duduk di sebelah Megan, ia memilih untuk duduk di hadapan gadis itu. Megan masih dengan senyum yang terpatri di wajahnya menyodorkan kopi ke arahnya. Pollux menerimanya, menyesap sedikit, lalu kembali meletakkannya.
"Terima kasih," Pollux berdiri, membuat Megan ikut berdiri.
"Kau belum memakan sarapannya. Mungkin ini tidak penting buatmu, tapi aku sengaja membuatnya." Megan terlihat kikuk saat mengakuinya. Ya, ia memang sengaja untuk bangun pagi demi membuatkan sarapan untuk Pollux. Ia yakin pria itu akan melewatkan sarapannya, bahkan saat Megan memeriksa dapurnya, tidak ada perlengkapan dapur sama sekali. Hanya ada beberapa mangkuk yang mungkin terpaksa ada hanya karena ingin menikmati sereal di pagi hari.
Melihat wajah Megan yang terlihat sangat kikuk, Pollux akhirnya kembali duduk. Megan tersenyum, ia segera membuka bekal yang ia bawa. Omelet dan roti panggang.
"Yang kau bawa adalah favorit Pax," Pollux menatap Megan dengan wajah datar.
Megan mengerutkan dahi, tidak mengerti apa yang dimaksud oleh pria itu.
"Mungkin kau lupa, tapi aku Pollux. Aku tidak memakan telur," kembali Pollux berdiri dan tidak berniat untuk menyentuh masakan buatan Megan. Ia kehilangan seleranya.
"Tapi bukankah kau dan Pax memang menyukai..." kalimatnya mengambang di udara karena Polllux segera membalik tubuhnya.
Megan segera beringsut dari tempatnya untuk menyusul Pollux, "Jadi apa yang kau sukai, aku akan membuatkannya," Pollux mengabaikannya dan terus melanjutkan langkahnya.
Bel rumah berbunyi. Pollux yang sudah berada di ambang pintu segera membukanya.
"Selamat pagi. Aku datang untuk berbagi dan menabur kebahagiaan," Alena mengangkat keranjang yang ada di tangannya. "Sarapan karbo, hohoho.." tanpa dipersilakan Alena melenggang masuk.
"Oh, kau sudah datang?" Alena segera menghampiri Megan. "Baguslah, apa kau sudah sarapan?" tanya Alena sembari menggandeng tangan Megan untuk duduk di meja makan.
Alena menghentikan langkahnya, kembali menoleh ke arah Pollux yang masih berdiri di ambang pintu. "Ini masih terlalu pagi untuk ke kantor. Aku membuat masakan Indonesia yang sangat lezat. Aku yakin kau akan ketagihan. Kemarilah. Aku jarang melakukan ini."
Pollux menarik napas panjang. Ada apa dengan para wanita di pagi hari ini. Kenapa mereka mendadak sangat memperhatikan kondisi perut Pollux.
Megan hanya diam saat Alena mengeluarkan masakan buatannya yang memang langsung memanjakan indra penciuman mereka. "Ini namanya nasi goreng ala chef Alena." Alena mengisi piring mereka satu persatu. "Dan selamat menikmati."
Pollux menatap nasi yang ada di hadapannya. Tampak ragu untuk menyendokkan ke dalam mulutnya.
"Aku tidak membuat racun ke dalamnya," Alena menepuk pundaknya. "Makanlah, mungkin ke depannya kau tidak akan pernah merasakannya lagi,"
Pollux menautkan alisnya, "Kau ingin pulang ke negaramu?"
Alena mengangguk, "Itu sudah pasti. Tapi aku belum tahu kapan tepatnya aku kembali ke Indonesia. Hanya saja beberapa hari ini aku akan sibuk. Aku akan jarang terlihat. Jangan mencariku di supermarket atau pun menunggu," Alena mengerling jenaka.
Megan yang memperhatikan interaksi keduanya merasa cemburu. Sejauh dalam ingatannya, Pollux adalah tipe pria yang sangat menjaga jarak dengan wanita. Ia tidak akan memberi ruang kepada mereka untuk dekat dengannya, kecuali orang tersebut berarti.
Pollux bukanlah Pax yang mempunyai segudang wanita dalam hidupnya, baik sebagai teman, partner kerja, partner ranjang, dan sebagai simpanan. Ia mempunyai segudang koleksi untuk itu dari berbagai belahan dunia.
"Katakan, kapan tepatnya kau kembali." Pollux mulai menyendokan nasi ke dalam mulutnya. Ia membelalakkan mata, "Enak."
Alena tergelak, "Sepertinya kau sangat menyukai sentuhan tanganku."
Pollux tersedak, Alena dengan sigap menepuk-nepuk punggungnya. Megan mengambilkan air dan mengulurkannya pada Pollux yang diabaikan pria itu. Alena menerimanya, dan membantu Pollux untuk meminumnya.
"Kau berlebihan. Yang kumaksud sentuhan tangan dalam masakanku. Kau ingat mie cup yang kubuat untukmu. Kau juga mengatakannya enak. Ya sudah, habiskan makananmu." Alena kembali duduk di kursinya.
"Meg, kau juga makanlah. Jika kau suka, aku akan mengajarimu membuatnya dan memberitahumu resep rahasianya."
Megan gelagapan, ia sedang melamun, dengan tatapan yang terarah kepada keduanya yang memang duduk bersampingan.
"Ya, terima kasih," Megan tersenyum tipis. Ia menatap Pollux yang terlihat lahap menikmati masakan Alena, lalu melihat masakannya yang terabaikan begitu saja. Ia menggigit bibir, mencoba mengenyahkan rasa sakit hatinya.
Alena tanpa sengaja memperhatikan Megan. Melihat kedua manik indah wanita itu terluka. Alena menatap Megan dan Pollux bergantian. "Oh, apa itu?" pertanyaan Alena membuat Megan dan Pollux menoleh, "Itu, aku ingin mencobanya, bisakah kau mengambilkannya." pinta Alena kepada Pollux, menunjuk omlet buatan Megan.
Pollux mengambilkannya dan meletakkannya di hadapan Alena. "Telur. Wah, kebetulan sekali, nasi goreng tanpa telur bagai sayur tanpa garam. Nikmatnya kurang terasa." Alena memotong omelet dan memasukkannya ke mulutnya. "Ini baru nikmat, cobalah!" Alena merampas sendok Pollux untuk memotong omelet dan menyodorkannya kembali.
Pollux mendorong sendoknya, "Aku tidak.."
"Cobalah sedikit saja," Alena melotot ke arahnya. Alena dengan sengaja menginjak kaki Pollux di bawah meja.
"Akh!" Pollux meringis dan Alena segera memasukkan sendok ke dalam mulut Pollux yang membuat pria itu melotot garang ke arahnya.
Megan dibuat terkejut. Selama ini ia tidak pernah melihat ekspresi di wajah pria itu, bahkan saat kematian Maria-istri yang Megan anggap sangat dicintai Pollux, pria itu hanya memasang wajah datar tanpa ekspresi.
"Kunyah dan nikmati sensasinya," Alena tersenyum manis. Mau tidak mau Pollux pun mengunyahnya, tidak mungkin ia mengeluarkan kembali. Megan pasti sakit hati. "Anak baik," tangan Alena terulur mengusap kepala Pollux yang membuat Pollux dan Megan membelalakkan mata.
"Bagaimana rasanya?" tanya Alena.
"Enak." jawab Pollux singkat.
"Kalau begitu habiskan ini," Alena meletakkan omelet tersebut di hadapan Pollux. "Tidak lah baik membuang makanan."
Dan akhirnya Pollux memang menghabiskan masakan yang dibawa oleh Megan. Walaupun Alena yang meminta Pollux untuk memakannya, tapi Megan cukup senang, karena setidaknya pria itu sudah mencicipi masakan buatannya.
"Aku sudah selesai," Polllux membersihkan mulutnya, lalu berdiri.
"Hm, selamat bekerja dan kumpulkan uang yang banyak."
Pollux tergelak mendengar ucapan Alena. "Setidaknya katakan hati-hati,"
Alena tertawa, "Aku sudah mengatakannya pada sopirmu, bukankah dia yang akan membawamu."
Kembali Pollux tergelak, "Baiklah. Aku pergi."
Megan menatap punggung Pollux yang menjauh. Ia iri pada Alena yang bisa besikap santai dan bahkan pria itu juga menanggapinya, dan apa tadi yang ia lihat. Pollux tertawa!
"Kau sudah lama mengenalnya?" pertanyaan Alena membuat Megan mengalihkan tatapannya.
"Ya, kami bersekolah di tempat yang sama,"
Alena mengangguk faham, "Dia memiliki kekasih yang sangat cantik."
Kejutan lagi. Megan tidak percaya ini. Maria baru saja meninggal dan sekarang Alena mengatakan pria itu sudah memiliki kekasih. Oh astaga, melihat Alena sudah cukup membuatnya cemburu, dan sekarang ada wanita lain. Apakah artinya ia memang tidak mempunyai kesempatan untuk mendekati pria itu.