NovelToon NovelToon
Rahasia Sang Mamba Hitam

Rahasia Sang Mamba Hitam

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Menyembunyikan Identitas / Putri asli/palsu / Chicklit
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Joko Joko

Ayla Prameswari, instruktur latihan keras dengan nama sandi Mamba di Pulau Seraya, terpaksa kembali ke Jakarta setelah sinyal misterius Berkas 531 muncul dekat keluarga kandungnya. Di rumah mewah Prameswari, ia berhadapan dengan orang tua yang lebih menyayangi Alina, anak angkat yang pandai bersandiwara lembut. Ternyata yayasan amal keluarga menyembunyikan jalur obat eksperimen ilegal berdarah. Saat Ayla menyelidiki, Arga Wiratama, penyidik khusus yang pernah ia tembak tiga tahun lalu, datang menawarkan kerja sama. Antara dendam masa lalu, rahasia keluarga, dan kasus mematikan—siapa yang sebenarnya bersembunyi di balik topeng baik hati?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Joko Joko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10

Bab 10 - Foto Mayat Keempat

Arga membuka pintu mobil belakang.

Ayla tidak langsung masuk.

Nisa berdiri di sampingnya dengan wajah antara ingin lari dan ingin tahu.

“Kamu pulang dulu,” kata Ayla.

Nisa menunjuk Arga. “Dengan dia?”

“Ya.”

“Dia polisi?”

Arga menjawab sebelum Ayla sempat membuat jawaban buruk. “Satuan khusus.”

Nisa makin pucat. “Ayla, kamu bikin masalah sampai dijemput satuan khusus?”

“Belum.”

“Belum itu bukan jawaban.”

Ayla memasukkan helm ojek yang tadi dia pinjam ke tangan Nisa. “Pulang. Kalau ada yang tanya, bilang aku diculik pria tampan.”

Arga menatapnya.

Nisa menatap Arga, lalu berbisik, “Memang tampan, sih.”

“Nisa.”

“Iya, iya. Aku pulang. Tapi kabari aku kalau kamu tidak ditahan.”

“Kalau ditahan juga akan kukabari.”

Nisa pergi dengan langkah ragu. Beberapa kali dia menoleh, seolah takut Ayla benar-benar masuk mobil menuju penjara.

Setelah Nisa cukup jauh, Ayla baru masuk ke mobil. Arga duduk di sebelahnya, bukan di depan. Sopir menutup pintu, lalu mobil bergerak keluar dari area kampus.

“Teman barumu?” tanya Arga.

“Saksi hidup.”

“Kamu punya cara aneh menyebut teman.”

“Kamu punya cara aneh menjemput orang. Biasanya orang ajak makan dulu sebelum menunjukkan mayat.”

Arga mengeluarkan tablet dari map. “Kamu sudah tahu saya akan menunjukkan mayat?”

“Kamu bilang mayat keempat. Orang sepertimu tidak membawa kabar buruk tanpa bukti visual.”

Arga menyalakan layar.

Foto pertama muncul.

Gudang tua dekat pelabuhan. Lantai semen basah. Seorang pria terbaring dengan mata terbuka, kulitnya pucat keabu-abuan. Di lengan ada bekas suntikan. Di sampingnya, kotak obat kecil dengan kode yang sama seperti foto kemarin.

Ayla mengambil tablet.

Dia memperbesar bagian leher, mata, dan ujung jari.

“Berapa jam sebelum ditemukan?”

“Perkiraan enam sampai delapan.”

“Suhu ruangan?”

“Panas, ventilasi buruk.”

“Dia bukan pemakai biasa.”

Arga menoleh sedikit. “Kenapa?”

“Bekas suntikannya rapi. Terlalu rapi untuk orang yang menyuntik diri sendiri di gudang gelap. Ada orang lain.”

Arga tidak tampak terkejut. “Tim forensik mengatakan hal yang sama.”

“Kalau sudah tahu, kenapa tanya aku?”

“Saya ingin tahu kamu melihat apa lagi.”

Ayla membuka foto kedua. Wajah korban lebih dekat. Ada bercak kecil di sekitar bibir.

“Dia kejang sebelum mati. Tapi bukan reaksi obat tunggal.”

Arga diam.

Ayla memperbesar kotak obat. “Ini bukan formula asli.”

“Maksudmu?”

“Kode produksinya benar, desain kotak benar, tapi segel salah. Orang yang membuat tiruan ini punya data luar, bukan formula lengkap. Mereka mencoba mencampur ulang dari catatan parsial.”

Arga menatapnya tajam. “Kamu tahu formula aslinya.”

Ayla mengembalikan tablet. “Aku tahu banyak hal.”

“Ayla.”

“Pak Arga.”

Mereka saling menatap di kursi belakang mobil yang dingin.

Sopir di depan pura-pura tidak mendengar, tetapi bahunya tegang.

Arga akhirnya berkata, “Empat orang mati. Kalau formula tiruan ini beredar, jumlahnya bisa bertambah.”

Ayla melihat keluar jendela. Mobil melewati gedung tinggi dan deretan restoran mahal. Jakarta di siang hari tampak terlalu sibuk untuk peduli pada mayat di gudang.

“Kamu sudah cek Prameswari Foundation?”

“Sedang.”

“Lambat.”

“Kami bekerja dengan prosedur.”

“Korban bekerja dengan waktu kematian.”

Arga menyimpan tablet. “Kamu bisa membantu mempercepat.”

“Aku bisa.”

“Tapi?”

“Tapi aku tidak suka diperintah.”

“Saya tidak memerintah.”

“Wajahmu begitu.”

Arga menghela napas. “Apa yang kamu mau?”

Ayla tersenyum. “Akses.”

“Ke apa?”

“Berkas kasus, laporan forensik lengkap, data transaksi yang sudah kalian pegang, dan kebebasan bergerak.”

“Kamu bukan aparat.”

“Korban juga bukan aparat.”

Arga menatapnya lama. “Kebebasan bergerak bukan berarti kamu boleh menghajar orang di gudang.”

“Kalau mereka menghajar dulu?”

“Ayla.”

“Aku akan berusaha tidak membuatmu menulis laporan panjang.”

“Itu tetap bukan janji.”

“Aku jarang menjanjikan hal yang tidak ingin kutepati.”

Mobil berhenti di depan sebuah gedung perkantoran kecil, bukan kantor polisi. Dari luar, gedung itu terlihat seperti perusahaan konsultan keamanan. Tidak ada papan mencolok, hanya logo kecil berwarna abu-abu.

Ayla melihatnya. “Kantor rahasia yang berusaha terlihat tidak rahasia.”

“Turun.”

“Kamu selalu sehangat ini pada orang yang pernah menyelamatkan waktumu?”

“Kamu menembak saya.”

“Di bahu. Itu pilihan penuh belas kasih.”

Arga keluar lebih dulu.

Di dalam gedung, mereka melewati pemeriksaan keamanan. Petugas memindai tas Ayla dan menemukan pisau lipat kecil, jarum logam, kabel tipis, dan sesuatu yang membuat petugas berhenti.

“Ini apa, Bu?”

Ayla melihat benda itu. “Pembuka botol.”

Petugas menatap benda yang jelas bukan pembuka botol.

Arga mengambilnya. “Simpan di loker.”

Ayla tampak tersinggung. “Itu favoritku.”

“Simpan.”

“Kalau aku bosan di dalam?”

“Jangan membunuh siapa pun karena bosan.”

Petugas keamanan menelan ludah.

Ayla menyerahkan semua benda dengan wajah malas. Setelah itu, Arga membawanya ke ruang rapat kecil. Di sana sudah ada dua orang: seorang perempuan berkacamata bernama Lestari, analis cyber, dan seorang pria berambut cepak bernama Bima, penyidik lapangan.

Bima langsung menatap Ayla dari atas ke bawah.

“Ini sumbermu?”

Ayla duduk tanpa diminta. “Kalau mau menilai, pakai mata yang lebih pintar.”

Bima tersenyum sinis. “Galak.”

Lestari menendang kaki Bima di bawah meja. “Diam.”

Arga meletakkan tablet di meja. “Ayla akan melihat data jalur transaksi.”

Bima mengerutkan dahi. “Pak, dia sipil.”

“Konsultan eksternal sementara.”

Ayla mengangkat alis. “Aku naik pangkat cepat.”

Bima tampak tidak suka. “Konsultan bidang apa?”

Ayla menjawab, “Bidang orang mati karena kalian lambat.”

Lestari terbatuk menahan tawa.

Arga membuka layar besar. Data transaksi muncul: Prameswari Foundation, perusahaan cangkang, logistik medis, gudang pelabuhan, empat korban.

Ayla berdiri dan mendekat ke layar.

Dia tidak menyentuh keyboard dulu. Dia membaca.

Ruang itu sunyi selama beberapa menit.

Lalu dia menunjuk satu nama perusahaan.

“Ini bukan pembeli. Ini tempat cuci jalur.”

Lestari langsung bertanya, “Kenapa?”

“Nominalnya terlalu rapi. Tiga kali transfer dengan angka pecahan sama. Orang yang ingin menyamarkan uang biasanya membuatnya terlihat acak. Orang ini justru ingin terlihat seperti pemula.”

Bima menyipit. “Atau memang pemula.”

Ayla menatapnya. “Kalau pemula, dia tidak akan memakai tiga perusahaan yang semuanya pernah menang tender logistik kesehatan.”

Lestari mengetik cepat. “Benar. Ketiganya pernah ikut tender pengadaan alat kesehatan dua tahun lalu.”

Arga berdiri di samping Ayla. “Siapa penghubungnya?”

Ayla menunjuk nama lain.

“Ini.”

Raka Mahendra. Konsultan yayasan. Mantan direktur operasional perusahaan logistik. Sekarang menjadi penasihat tidak resmi Prameswari Foundation.

Arga menatap nama itu. “Kami belum memasukkannya sebagai tersangka utama.”

“Masukkan.”

Bima bertanya, “Kamu kenal?”

“Tidak.”

“Lalu yakin?”

Ayla memperbesar data tanda tangan digital. “Akun Alina dipakai untuk persetujuan, tapi pola waktunya bukan pola orang yang biasa memegang akun itu. Login pukul tiga pagi dari perangkat kantor yayasan. Alina tipe orang yang kalau begadang pasti unggah story sedih, bukan duduk di kantor mengurus logistik.”

Lestari kali ini benar-benar tertawa kecil.

Bima menatap Ayla aneh. “Kamu mengenal adikmu dengan baik.”

“Dia bukan adikku.”

Ruangan kembali diam sesaat.

Arga tidak mengomentari.

Ayla melanjutkan, “Raka memakai akses Alina. Bisa dengan izin, bisa tanpa izin. Tapi Alina tahu nama Arga dan panik saat mendengarnya. Berarti dia tahu setidaknya ada sesuatu yang tidak bersih.”

Arga menatapnya. “Kamu melihat reaksinya?”

“Aku melihat banyak hal.”

Bima menyilangkan tangan. “Kalau begitu kita panggil Alina.”

Ayla menoleh padanya. “Lalu Raka menghilang.”

“Kita awasi.”

“Kamu pikir orang yang bermain obat eksperimen menunggu dipanggil dengan sopan?”

Bima tersinggung. “Kami bukan anak baru.”

“Bagus. Jangan berpikir seperti anak baru.”

Lestari pura-pura sibuk mengetik, tetapi sudut bibirnya naik.

Arga mengetuk meja sekali. “Cukup. Ayla, apa langkahmu?”

“Biarkan Alina berpikir aku hanya sibuk dengan drama kampus. Dia akan menghubungi Raka atau orang yang mengarahkannya. Aku bisa masuk dari rumah.”

“Terlalu berisiko.”

“Untuk siapa?”

Arga menatapnya. “Untukmu.”

Ayla terdiam sepersekian detik.

Bukan karena takut.

Karena jawaban itu tidak sesuai pola. Biasanya orang menilai risiko terhadap operasi, bukti, atau reputasi. Arga menyebut dirinya.

Ayla tersenyum lagi, kali ini lebih pelan.

“Pak Arga, saya tersentuh.”

“Jangan.”

“Sayang sekali. Sudah terlanjur.”

Arga tampak lelah.

Ponsel Ayla bergetar. Pesan dari nomor rumah.

Ratna:

Pulang sekarang. Alina sakit setelah kejadian kampus. Kamu harus minta maaf.

Ayla menunjukkan layar pada Arga.

“Ikan bergerak.”

Arga membaca pesan itu. “Kamu tidak sendirian.”

“Tentu.”

“Saya kirim tim memantau sekitar rumah.”

“Tidak perlu terlalu dekat. Keluarga Prameswari alergi aparat.”

“Saya tidak meminta izin.”

Ayla menatapnya, lalu tertawa.

“Lihat? Wajahmu memang suka memerintah.”

Arga tidak membalas. Namun saat Ayla keluar dari ruang rapat, dia mengikutinya sampai lobi.

Di loker keamanan, Ayla mengambil kembali barang-barangnya. Petugas menyerahkan “pembuka botol” dengan dua tangan.

Arga berkata pelan, “Jangan membuat saya menyesal memberi akses.”

Ayla memasukkan pisau lipat ke tas.

“Pak Arga, orang biasanya menyesal karena terlambat, bukan karena percaya padaku.”

Dia berjalan keluar gedung.

Di bawah matahari sore Jakarta, Ayla membuka aplikasi ojek.

Sebuah mobil hitam berhenti di depannya.

Arga menurunkan kaca. “Masuk. Saya antar.”

Ayla menatapnya.

“Takut aku kabur?”

“Takut sopir ojeknya trauma.”

Ayla tertawa.

Kali ini dia masuk tanpa banyak protes.

Di rumah Prameswari, Alina sedang menunggu dengan air mata.

Dan di balik air mata itu, mungkin ada jalan menuju Raka Mahendra.

1
Osie
masih penuh misteri tapi seru..gak bosan nulis up lanjutannya thor💪💪💪💪💪💪
Bonny Liberty
cerita elit,cerdas,no menyerang.. menye...semangat!!!!!
Osie
up lagi ya thoorr🙏🙏🙏🙏🙏 ceritanya bagus bangeett..suka suka suka suka
Osie
datang lagi 1 teman mamba🤣🤣 makin seruuu
Osie
thoor aku baca udah sampai bab ini lho..sumpeh bagus banget alur ceritanya..tapi sayang msh sepi..pdhal kereen abiiss/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/so haraoanku ini cerita sampai end..i hope
Osie
yaaacckk arga kenapa gak langsung di bogor aja sisurya nya..kabutkan dia
Osie
jangan bilang emaknya si ratna juga ikut terlibat
Osie
alina siap siap menuju lubang kematian
Osie
ayla dilawan..ya manaaa bisaaaa..mama cuuyy udah biasa membunuh dlm senyap
Osie
wwaaww aku aku gaya ayla..kereen abiizzz..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!