NovelToon NovelToon
Kebahagiaan Setelah Bercerai Denganmu

Kebahagiaan Setelah Bercerai Denganmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Duda / Mengubah Takdir
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: E.N Viana

Menikahi seorang duda beranak remaja di usia 19 tahun bukanlah impian Kinanti Larasati. Namun, jerat kemiskinan dan ijazah SMA yang tak bernilai memaksanya menerima perjodohan itu. Pria yang dinikahinya terpaut usia lebih tua darinya sebuah pernikahan yang awalnya ia kira didasari oleh ketulusan demi mengangkat derajat hidupnya.

Selama tiga tahun, Kinanti menelan semua kerumitan itu sendirian. Ia mengalah demi menjinakkan hati anak sambungnya, dan tetap bertahan meski mantan istri suaminya tiada henti mengusik ketenangan rumah tangga mereka.

Kehadiran putri kecilnya, Aira Shakila, sempat menjadi lentera yang menerangi hari-harinya. Namun, tepat saat Aira merayakan ulang tahunnya yang pertama, badai yang sesungguhnya baru saja dimulai. Sebuah rahasia besar yang selama ini disimpan rapat-rapat oleh suaminya mendadak terbongkar ke permukaan.

Ketika topeng sang suami terbuka dan dunia tempatnya bersandar mendadak runtuh, akankah Kinanti tetap bertahan demi masa depan putrinya? Ataukah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E.N Viana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12.Kuasa di Balik Dinding Kaca

Ketegangan di sudut kamar utama itu kian meremang seiring dengan tenggelamnya matahari di ufuk barat. Cahaya temaram senja yang menembus dinding kaca besar memantulkan siluet intim dua orang yang jaraknya nyaris tak bersisa. Kinanti bisa merasakan dadanya naik turun dengan cepat, bergesekan samar dengan dada bidang Baskara yang mengurungnya tanpa ampun.

Aroma maskulin yang bercampur dengan bau keringat tipis khas pria yang baru pulang kerja dari pabrik justru membuat pertahanan mental Kinanti kian terkikis. Di bawah tatapan elang Baskara yang begitu menghujam, gadis sembilan belas tahun itu sadar bahwa berbohong atau bersikap keras kepala saat ini hanya akan memancing singa yang sedang lapar.

"Aku... aku tidak berbohong, Om," cicit Kinanti, mencoba melakukan perlawanan terakhir, walau suaranya terdengar bergetar di ujung kalimat.

Baskara tidak menjawab dengan kata-kata. Pria matang itu justru menurunkan wajahnya serendah mungkin, membiarkan bibirnya menyapu lembut helai rambut di dekat telinga Kinanti, sebelum berbisik dengan suara rendah yang serak. "Aku memberikanmu satu kesempatan lagi, Kinanti. Katakan apa yang terjadi, atau aku yang akan mencari tahu sendiri dengan caraku... dan kau tahu, jika aku yang turun tangan, tidak akan ada yang tersisa di rumah ini."

Sentuhan halus namun posesif di lehernya membuat Kinanti merinding hebat. Cengkeraman tangan Baskara di pinggang rampingnya pun terasa semakin mengetat, mengunci pergerakannya mutlak. Sadar bahwa dia tidak akan bisa menang melawan dominasi suaminya, Kinanti akhirnya memejamkan mata sesaat dan menghela napas pasrah. Egonya runtuh, berganti dengan kejengkelan yang meletup-letup.

Kinanti membuka matanya, menatap galak lurus ke manik mata Baskara. "Anak manjamu itu! Natasha menyelinap ke kamar ini tadi siang saat aku berpura-pura pergi ke supermarket. Dia mengobrak-abrik laci riasku dan mencuri kotak kayu kuno milikku karena dia dihasut oleh maminya untuk mencari kelemahanku!" cerocos Kinanti dengan nada ketus, meluapkan seluruh kekesalannya dalam satu napas.

Mendengar pengakuan jujur yang keluar dari bibir ranum istrinya, sudut bibir Baskara terangkat tipis, membentuk sebuah senyuman misterius yang jarang sekali dia perlihatkan. Tatapan matanya yang tadinya sedingin es mendadak melunak, dipenuhi kilat kepuasan.

"Bagus. Anak pintar," bisik Baskara, ibu jarinya bergerak mengusap lembut pipi Kinanti yang merona merah.

"Sekarang lepaskan aku, Om. Aku sudah menjawabnya," pinta Kinanti, mencoba menggeser tubuh Baskara karena jantungnya sudah berdegup terlalu kencang, takut pria itu bisa mendengarnya.

Namun, alih-alih menjauh, Baskara justru mencondongkan tubuhnya lebih maju, menekan tubuh Kinanti semakin rapat pada dinding kaca. "Kau sudah menjawabnya, benar. Tapi ini hukuman karena kau sudah mencoba berbohong dan menyembunyikannya dari suamimu sejak awal," ucap Baskara dengan nada otoriter yang tak terbantahkan.

Sebelum Kinanti sempat memprotes, Baskara menundukkan kepalanya dan mendaratkan bibirnya di atas bibir Kinanti. Kecupan itu awalnya terasa menuntut dan tegas, seolah sedang menegaskan kepemilikan mutlak pria itu atas dirinya, namun lambat laun berubah menjadi lumatan yang dalam dan hangat. Kinanti membelalakkan mata, tangannya yang berada di dada Baskara meremas kemeja pria itu dengan erat. Seluruh persendiannya mendadak terasa lemas, dan cengkeraman kokoh Baskara di pinggangnya yang menopang tubuhnya agar tidak jatuh ke lantai.

Setelah beberapa detik yang terasa seperti keabadian bagi Kinanti, Baskara perlahan melepaskan tautan bibir mereka. Dia menatap Kinanti yang kini terengah-engah dengan wajah yang merah padam layaknya kepiting rebus.

Baskara menjauhkan tubuhnya, memberikan ruang bagi Kinanti untuk bernapas, lalu berjalan menuju lemari pakaian dengan santai seolah tidak baru saja menjungkirbalikkan dunia batin istrinya. "Bersiaplah. Setelah aku membersihkan diri, kita turun ke ruang kerja. Ada urusan yang harus diselesaikan," ucap Baskara dingin sebelum melangkah masuk ke kamar mandi, meninggalkan Kinanti yang masih terpaku di dinding kaca dengan jantung yang berdentum liar.

Pukul tujuh malam, atmosfer di dalam ruang kerja pribadi Baskara di lantai satu terasa begitu mencekam. Ruangan yang didominasi oleh perabotan kayu jati gelap dan deretan buku-buku tebal itu terasa sangat dingin, sedingin wajah pria yang kini duduk di balik meja kerja besarnya.

Baskara sudah berganti pakaian dengan kaos polo hitam bersih, namun aura dominannya tidak berkurang sedikit pun. Di samping kanannya, Kinanti duduk di sebuah kursi berlengan. Gadis itu sudah kembali memasang wajah datar andalannya, meskipun di dalam hati dia masih sedikit canggung setelah kejadian di kamar tadi.

Di depan meja kerja, Natasha berdiri dengan kepala menunduk dalam. Tubuh remaja manja itu bergetar kecil, dan kedua tangannya saling bertautan dengan cemas. Pelayan rumah baru saja memanggilnya atas perintah mutlak papanya, dan firasat Natasha langsung memburuk begitu melihat Kinanti duduk di sana.

Baskara meletakkan sebuah map hitam di atas meja dengan hentakan pelan, namun bunyinya sanggup membuat Natasha tersentak kaget.

"Natasha," panggil Baskara, suaranya terdengar datar namun sarat akan ancaman yang nyata. "Apakah fasilitas yang aku berikan selama ini membuatmu lupa bagaimana cara menghormati nyonya di rumah ini?"

Natasha mendongak dengan mata yang mulai berkaca-kaca, mencoba mencari pembelaan. "Pa-Papa... aku tidak melakukan apa-apa. Gadis kampung itu pasti memfitnahku! Aku cuma masuk kamar untuk—"

"Cukup!" potong Baskara dengan suara yang meninggi satu oktaf membuat kata-kata Natasha tertelan kembali di tenggorokannya. Mata elang Baskara menatap tajam putrinya tanpa belas kasihan. "Aku tidak membesarkan seorang pencuri dan pembohong, Natasha. Kau pikir mata-mataku tidak tahu kalau kau menerima telepon dari mamimu siang tadi? Dan kau pikir aku butuh laporan dari Kinanti untuk tahu kalau kau mengobrak-abrik kamarku?"

Wajah Natasha seketika pucat pasi tanpa darah. Rahasianya terbongkar total. Ternyata papanya sudah tahu segalanya bahkan sebelum dia sempat mengelak.

Baskara membuka map hitam di hadapannya, lalu mengeluarkan beberapa kartu plastik mengkilap dan sebuah kunci mobil berlogo mewah. Dengan gerakan dingin, Baskara memotong semua kartu kredit itu menjadi dua bagian menggunakan gunting di mejanya.

Krek. Krek.

Bunyi guntingan itu laksana petir yang menyambar dada Natasha.

"Mulai malam ini, seluruh kartu kredit atas namamu diblokir total. Mobil yang biasa kau pakai akan disimpan di gudang, dan supir tidak diizinkan mengantarmu ke mana pun kecuali ke sekolah," ucap Baskara memberikan vonis hukumannya tanpa keraguan sedikit pun. "Uang jajanmu bulanan akan dipotong delapan puluh persen, dan semuanya harus melalui persetujuan tertulis dari Kinanti."

"Papa!! Tidak bisa begitu!" jerit Natasha histeris, air matanya kini benar-benar tumpah ruah. Kehilangan semua fasilitas mewah itu sama saja dengan kematian sosial baginya di depan teman-teman pergaulan kelas atasnya. "Kenapa Papa lebih membela perempuan asing ini daripada anak kandung Papa sendiri?! Dia hanya mengincar hartamu, Pa!"

Baskara berdiri dari kursi kebesarannya, menumpukan kedua tangannya di atas meja, memajukan tubuhnya ke arah Natasha dengan pandangan mata yang mengerikan. "Karena perempuan yang kau sebut asing ini adalah istriku, ibumu di rumah ini. Jika kau tidak bisa menghormatinya, maka kau tidak berhak menikmati satu sen pun dari harta Dirgantara!" bentak Baskara telak.

Natasha lemas, kakinya terasa seperti jeli. Dalam keputusasaannya, dia melirik ke arah Kinanti yang duduk tenang. Mengesampingkan seluruh harga dirinya yang setinggi langit, Natasha melangkah maju dan berlutut di dekat kursi Kinanti, mencengkeram ujung baju tunik gadis itu.

"Kinanti... tolong aku... tolong katakan pada Papa agar tidak memotong uang jajanku. Aku minta maaf... aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi," ratap Natasha dengan suara serak, memohon pada orang yang paling dia benci demi menyelamatkan gengsinya.

Kinanti menatap Natasha yang bersujud di dekat kakinya. Ada rasa iba yang sempat melintas melihat remaja yang kehilangan arah karena didikan salah dari ibunya, namun Kinanti tahu dia harus tegas. Kinanti dengan perlahan menarik ujung bajunya dari cengkeraman Natasha.

"Bukan aku yang menghukummu, Natasha, tapi perbuatanmu sendiri. Belajarlah untuk menerima konsekuensinya," ucap Kinanti dengan nada datar yang tenang namun mematikan.

Baskara melihat tindakan Kinanti dan merasa puas dengan ketegasan istri kecilnya. "Bi Asih! Bawa Natasha kembali ke kamarnya dan kunci dari luar. Dia tidak boleh keluar sampai besok pagi!" perintah Baskara pada pelayan yang menunggu di depan pintu. Dengan tangisan yang meraung-raung, Natasha akhirnya diseret keluar dari ruang kerja, meninggalkan keheningan yang kembali mencekam.

Setelah pintu ruang kerja tertutup rapat, Kinanti menghela napas panjang, bersandar pada kursi dengan perasaan yang campur aduk. "Apakah itu tidak terlalu kejam untuk anak seusianya, Om?" tanya Kinanti lirih, menatap Baskara yang kini kembali duduk dan memijat pelipisnya yang tampak lelah.

Baskara menatap Kinanti, sorot matanya melembut. "Jika aku tidak tegas sekarang, dia akan tumbuh menjadi wanita perusak seperti maminya, Kinanti. Aku melakukan ini juga untuk melindungimu," jawab Baskara dengan nada suara yang hangat, sesuatu yang jarang dia tunjukkan pada orang lain.

Namun, momen tenang di antara mereka tidak berlangsung lama. Tiba-tiba, ponsel pintar milik Baskara yang tergeletak di atas meja bergetar hebat. Sebuah nama tertera di layarnya: Herman Wijaya.

Alis tebal Baskara bertaut. Dia menekan tombol hijau dan mengaktifkan pengeras suara, membiarkan Kinanti turut mendengar pembicaraan itu. Begitu panggilan tersambung, suara berat, serak, dan penuh wibawa khas pria tua yang berkuasa langsung menggelegar dari seberang sana.

"Baskara!" sapa Herman tanpa basa-basi, suaranya sarat akan kemarahan yang tertahan. "Apa-apaan yang kau lakukan pada cucuku, Natasha?! Dia baru saja meneleponku sambil menangis histeris! Dan apa maksudmu menaruh mata-mata untuk mengawasi putriku, Chynthia?!"

Baskara menyandarkan tubuhnya di kursi, wajahnya kembali berubah menjadi sedingin es kutub. "Herman," sahut Baskara dengan nada meremehkan. "Cucumu mencoba mencuri di kamarku, dan putrimu yang gila itu mencoba merusak pernikahan sahku. Kurasa tindakanku sudah sangat toleran dengan tidak menjebloskan mereka berdua ke dalam sel yang sama."

Di seberang telepon, Herman Wijaya mendengus geram. Suara gebrakan meja terdengar samar dari ujung sana. "Jangan sombong, Baskara Dengar baik-baik... cabut semua mata-matamu dari Chynthia, kembalikan semua fasilitas Natasha, dan usir gadis kampung pembawa sial itu dari rumahmu!"

Herman menarik napas sejenak sebelum memberikan ancaman pamungkasnya. "Jika dalam waktu dua puluh empat jam kau tidak melakukannya, aku akan menarik seluruh investasi besarku dari Dirgantara Group dan memastikan semua proyek tokomu di seluruh Indonesia diboikot! Aku akan menghancurkan bisnismu, Baskara!"

Mendengar ancaman skala besar yang menyangkut kelangsungan hidup perusahaan suaminya, wajah Kinanti seketika menegang. Gadis itu mencengkeram erat pinggiran kursi, rasa bersalah dan cemas mendadak menyerang dadanya. Dia tidak ingin menjadi penyebab hancurnya kekaisaran bisnis keluarga Dirgantara. Kinanti menatap Baskara dengan pandangan cemas, berharap pria itu memikirkan ulang keputusannya.

Namun, Baskara justru melirik ke arah Kinanti dengan tatapan yang teramat tenang dan meyakinkan. Tidak ada sedikit pun riak ketakutan di wajah tampan pria matang itu. Dia menegakkan tubuhnya, mendekatkan bibirnya ke arah ponsel, dan menjawab dengan suara yang teramat dingin, tegas, dan bergema penuh wibawa mutlak.

"Tarik semua uangmu dari perusahaanku malam ini juga, Herman. Boikot semua proyekku jika kau mampu," ucap Baskara dengan nada tenang yang mematikan. Pria itu jeda sejenak, matanya mengunci penuh manik mata Kinanti yang berkaca-kaca karena terharu. "Tapi dengar ini baik-baik... sepeser pun harga diri istriku, tidak akan pernah bisa kau beli dengan seluruh kekayaan kotormu. Sentuh Kinanti seujung kuku saja, dan aku yang akan memastikan seluruh bisnis keluarga Wijaya rata dengan tanah besok pagi."

Pip.

Baskara memutus sambungan telepon secara sepihak, melemparkan ponselnya ke atas meja dengan kasar. Di dalam ruang kerja yang mendadak sunyi itu, Kinanti terpaku di kursinya, kehilangan kata-kata dengan jantung yang berdegup kencang berantakan. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ada seorang pria yang berdiri begitu kokoh di depannya, siap mempertaruhkan seluruh dunianya hanya demi melindungi dirinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!