Fisya Alexander tak pernah menyangka rumah tangga yang ia jaga sepenuh hati justru menjadi awal kehancurannya.
Suaminya, Jason, berselingkuh dengan sahabat yang paling ia percaya namun pengkhianatan itu belum seberapa dibanding rencana keji yang mereka siapkan di ruang bersalin
Saat dua bayi perempuan lahir di hari yang sama, sebuah pertukaran terjadi, mereka yakin telah merebut segalanya dari Fisya.
Sayangnya, mereka tidak pernah sadar bahwa Fisya melihat semuanya
Sejak malam itu, senyum Fisya hanya untuk putrinya, sementara racunnya disiapkan untuk mereka yang telah menghancurkan hidupnya.
Ketika rahasia mulai terungkap, siapa yang sebenarnya sedang menjebak siapa ?
Jangan lupa tekan love sebelum melanjutkan membaca dan tinggalkan komentar dan Vote juga ya besty!🫰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen_Fisya08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sosok Misterius
Di ujung lorong yang gelap, seseorang berdiri memperhatikan dari balik bayangan dinding.
Tatapan orang itu tajam mengarah ke Jason, tangannya mengepal kuat sampai urat di lengannya terlihat jelas.
Orang itu mendengar semuanya, melihat semuanya dan jelas tahu apa yang baru saja dilakukan Jason.
Suasana lorong terasa semakin mencekam ketika Jason akhirnya keluar dari ruang bayi.
Bik Lili langsung panik, ia buru-buru mundur menjauh sebelum Jason melihatnya berdiri di sana jantungnya berdetak sangat cepat.
Ia berbelok ke lorong lain sambil memegang dadanya sendiri namun baru beberapa langkah, Bik Lili mendadak berhenti.
Tidak jauh di depannya ada seseorang berdiri dalam bayangan dan tubuh Bik Lili langsung menegang ketakutan.
Ia hampir berteriak sosok itu dengan cepat mengangkat telunjuk ke depan bibir
Memberi isyarat agar Bik Lili diam dan Bik Lili langsung menutup mulutnya sendiri lalu matanya membelalak karena melihat orang itu yang wajahnya ditutupi masker
Lorong rumah sakit malam itu sangat sepi hingga suara langkah kaki Jason masih terdengar samar dari kejauhan.
Sosok misterius itu sedikit menggeleng pelan seolah memperingatkan Bik Lili untuk tidak bertindak gegabah.
Sosok misterius itu kembali memberi isyarat cepat kepada Bik Lili agar tetap diam dan bersikap biasa dan menyuruh Bik Lili untuk pergi segera
Bik Lili akhirnya mengangguk pelan meski tubuhnya masih gemetar lalu ia dengan langkah cepat segera pergi keruangan tunggu
Beberapa detik kemudian, langkah kaki Jason terdengar semakin dekat.
Jason muncul dari ujung lorong dengan wajah dingin.
Matanya sempat melihat ke sekitar seperti memastikan tidak ada siapa pun di sana.
Bik Lili langsung menunduk gugup sedangkan sosok misterius tadi sudah menghilang entah ke mana.
Jason berjalan melewati Bik Lili yang sedang duduk diruang tunggu namun sebelum masuk keruangan, pria itu sempat berhenti beberapa detik.
“Bibi belum pulang?” tanya Jason
Bik Lili langsung menegang.
“S-saya mau lihat keadaan ibu dulu, Pak.”
Jason menatapnya lama seolah mencoba membaca sesuatu dari wajah wanita itu.
Namun akhirnya ia mengangguk pelan.
“Jangan banyak bicara malam ini.”
Setelah mengatakan itu, Jason berjalan keruangan Kasandra terlebih dahulu karena Kasandra sudah dipindahkan ke kamar rawat Vip berdekatan dengan kamar Fisya
Dan ia juga ingin memberitahu Kasandra karena ia telah berhasil menukar bayi mereka
Ia langsung menuju kamar rawat Kasandra yang berada di lantai atas
Saat pintu kamar dibuka, Kasandra yang sedang berbaring langsung menoleh.
“Jason?” ucapnya pelan.
Jason segera masuk lalu menutup pintu rapat-rapat.
Kasandra langsung duduk perlahan meski tubuhnya masih lemah setelah melahirkan.
“Bagaimana?” tanyanya tidak sabar.
Jason mendekat lalu tersenyum tipis.
“Sudah berhasil.”
Mata Kasandra langsung berbinar.
“Benarkah?”
Jason mengangguk.
“Aku sudah menukar bayi kita.”
Kasandra langsung tertawa kecil penuh puas.
“Akhirnya…”
Ia memegang selimutnya erat-erat.
“Akhirnya anak kita nanti yang akan mewarisi semua harta keluarga Alexander.”
Jason duduk di samping ranjang.
“Mulai sekarang semua akan berubah.”
Kasandra tersenyum puas.
“Istrimu yang bodoh itu akan menjadi gelandangan miskin dan nanti kita yang akan merawat anak istri bodoh mu itu, kita akan jadikan anaknya Fisya itu babu dirumah kita"
Mereka berdua tertawa pelan tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Kasandra lalu menatap Jason serius.
“Fisya tidak curiga?”
Jason menggeleng.
“Dia bahkan belum sadar penuh setelah melahirkan.”
Kasandra terlihat semakin lega.
“Bagus.”
Namun mereka tidak sadar… di balik pintu yang sedikit terbuka, seseorang sedang berdiri diam sambil memegang ponsel.
Kamera ponsel itu mengarah tepat ke arah Jason dan Kasandra, semua percakapan mereka terekam jelas.
Orang misterius itu tersenyum tipis sambil memperhatikan layar ponselnya.
“Rekaman ini akan berguna nantinya dan akan menjadi bukti ketika waktunya tiba,” gumamnya pelan dan senyumnya mengembang penuh arti.
Setelah memastikan rekamannya aman, orang itu perlahan menjauh dari kamar Kasandra tanpa suara.
Sedangkan di dalam kamar, Jason sama sekali tidak menyadari semuanya.
“Aku sudah bilang kan, semuanya pasti berhasil,” ucap Jason sambil menggenggam tangan Kasandra.
Kasandra tersenyum puas.
“Aku tidak sabar melihat Fisya kehilangan semuanya”
Jason menghela napas pelan.
“Sekarang yang penting kita harus hati-hati.”
Kasandra mengangguk.
“Tentu"
Jason lalu berdiri.
“Aku harus ke kamar Fisya sekarang.”
Kasandra tersenyum sinis.
“Pergilah ke istri bodoh mu itu.”
Jason langsung keluar dari kamar tanpa menyadari ada seseorang yang sejak tadi mengawasi mereka.
Sementara itu… Bik Lili perlahan masuk ke kamar rawat Fisya.
Ruangan itu cukup tenang hanya suara alat monitor yang terdengar pelan.
Fisya yang sebelumnya tertidur perlahan membuka mata saat mendengar pintu dibuka.
“Bik…” ucapnya lirih.
Bik Lili langsung mendekat.
“Iya Bu.”
Fisya terlihat sudah sedikit segar meski wajahnya masih pucat.
“Bibi sendirian? Di mana Mas Jason?”
Pertanyaan itu membuat Bik Lili gugup, ia langsung teringat semua yang dilihatnya malam ini.
“S-sebentar lagi ke sini, Bu,” jawabnya asal.
Fisya menatap Bik Lili beberapa detik seolah mencoba membaca ekspresinya.
Namun akhirnya ia mengangguk pelan.
“Bibi sudah lihat anak saya?”
Bik Lili langsung menggeleng cepat.
“Belum Bu.”
Fisya tersenyum tipis.
"Bibi tahu tidak kalau anak saya itu perempuan dan mempunyai tanda lahir bik"
Bik Lili hanya terdiam dan tersenyum kearah Fisya
Tidak lama kemudian pintu kamar kembali terbuka.
Jason masuk dengan wajah penuh perhatian.
“Sayang…”
Ia langsung menghampiri ranjang Fisya.
“Bagaimana keadaan kamu? Aku sangat khawatir sekali.”
Fisya menatap suaminya diam-diam.
“Tadi kamu habis melahirkan langsung pingsan,” lanjut Jason.
Fisya tersenyum tipis namun tatapannya sulit diartikan.
Jason mulai merasa tidak nyaman melihat cara istrinya menatap.
“Oh ya sayang, tadi aku lihat Kasandra juga melahirkan di sini.” ucap Jason mencoba mengalihkan suasana
Fisya langsung menoleh pelan.
“Oh ya?”
Jason mengangguk.
“Iya.”
“Apakah dia diantar suaminya?” tanya Fisya penuh arti.
Jason terlihat sedikit salah tingkah.
“Tidak, kasihan sekali dia, katanya suaminya sedang di luar kota.”
Fisya tersenyum kecil.
“Sama dong sama aku.”
Jason mengernyit.
“Maksudnya?”
“Sama-sama tidak diantar suami, sama-sama suami sibuk.” jawab Fisya
Ucapan Fisya membuat Jason langsung terdiam sesaat.
Ia tertawa kecil mencoba terlihat santai.
“Beda lah sayang, aku nungguin kamu tadi waktu melahirkan.”
Jason langsung melirik ke arah Bik Lili.
“Tanya saja Bik Lili.”
Bik Lili langsung gugup.
“I-iya Bu…”
Fisya kembali menatap Jason lama.
“Oh syukurlah Mas,” ucapnya pelan dengan nada aneh.
Jason mengusap tengkuknya sendiri entah kenapa malam ini ia merasa Fisya berbeda.
Tatapan istrinya membuatnya tidak nyaman.
“Anak kita sehat kan?” tanya Fisya pelan.
“Sehat dan anak kita perempuan yang cantik sama seperti ibunya" jawab Jason cepat.
Mata Fisya langsung berbinar.
“Benarkah?”
Jason mengangguk sambil tersenyum.
“Iya.”
Fisya terlihat lega.
“Alhamdulillah…”
Jason lalu melirik jam di tangannya.
“Bik, sudah malam banget. Bibi pulang saja, biar saya yang jaga ibu di sini.”
Bik Lili terlihat ragu namun sebelum ia menjawab, Fisya lebih dulu bicara.
“Kalau Bibi mau nginep di sini gak apa-apa lah Mas. Kasihan Bibi pulang sendiri.”
Jason langsung tersenyum tipis.
“Tenang sayang, nanti aku pesankan taksi online buat antar Bibi.”
Fisya mengangguk pelan, Bik Lili sebenarnya takut pulang sendirian malam-malam seperti ini, apalagi setelah mengetahui rahasia besar Jason.
Namun tatapan Jason membuatnya tidak berani membantah.
“Kalau begitu saya pulang dulu Bu,” ucap Bik Lili pelan.
Fisya mengangguk.
“Hati-hati ya Bik.”
Jason langsung berdiri.
“Ayo Bik, saya antar ke bawah.”
Bik Lili mengikuti Jason keluar kamar begitu pintu kamar tertutup, wajah Jason langsung berubah dingin.
Mereka berjalan menuju lift dalam diam, suasana terasa mencekam.
Saat lift terbuka dan mereka masuk, Jason langsung bicara tanpa melihat Bik Lili.
“Bibi tadi ngomong apa ke Fisya?” tanya Jason
Bik Lili langsung menegang.
“S-saya gak ngomong apa-apa Pak.”
Jason akhirnya menoleh tajam.
“Yakin?”
Bik Lili mengangguk cepat.
“Saya gak bilang apa pun soal tadi.”
Jason menatapnya beberapa detik.
“Bagus.”
Lift kembali terbuka di lantai bawah mereka berjalan keluar rumah sakit menuju area parkiran.
Malam terasa dingin Jason berhenti di dekat mobilnya lalu menatap Bik Lili serius.
“Dengar ya Bik.”
Bik Lili langsung gugup.
“Apa yang Bibi lihat malam ini jangan sampai keluar sedikit pun.”
“Saya ngerti Pak…” jawab Bik Lili
Jason mendekat pelan
“Kalau sampai Fisya tahu, Saya gak akan diam.”
Bik Lili langsung pucat.
“Saya gak akan ngomong Pak, sumpah.”
Jason tetap menatapnya dingin.
“Karena kalau rahasia ini terbongkar, bukan cuma saya yang hancur, bibi juga akan saya habiskan"
Bik Lili menunduk ketakutan dan Jason menghela napas kasar.
“Bibi kerja saja seperti biasa, anggap gak ada apa-apa malam ini.” ucap Jason lagi
“Iya Pak…” jawab bik Lili singkat
Jason lalu mengeluarkan ponselnya dan memesan taksi online.
Beberapa menit kemudian mobil datang namun sebelum Bik Lili masuk ke mobil, Jason kembali bicara.
“Satu lagi.”
Bik Lili menoleh pelan.
“Kalau saya sampai tahu Bibi bicara ke siapa pun itu…”
Jason berhenti beberapa detik.
“Saya pastikan Bibi menyesal.”
Bik Lili langsung mengangguk cepat dengan mata berkaca-kaca.
“Iya Pak.”
Jason membuka pintu mobil.
“Pulang.”
Bik Lili masuk ke dalam mobil dengan tangan gemetar.
Sepanjang perjalanan pulang, pikirannya kacau, ia terus teringat wajah bayi kecil itu.
Anak kandung Fisya dan bayi itu, mereka bayi yang tidak bersalah tapi di jadikan permainan oleh Kasandra dan Jason
Air mata Bik Lili jatuh perlahan.
“Dan pada akhirnya nanti mereka yang akan hancur sendiri…” gumamnya dengan penuh keyakinan
***
Sementara itu… Di kamar rawatnya, Fisya masih terjaga sendirian.
Tatapannya kosong memandang langit-langit kamar.
Perlahan tangannya menyentuh perutnya yang kini sudah kosong.
Lalu tanpa alasan yang jelas, air mata mengalir dari sudut matanya.
Entah kenapa… hatinya terasa sangat tidak tenang malam ini...
"Tunggu pembalasanku Jason" ucap Fisya pelan
__Bersambung__