Aria Evander, seorang mahasiswi kedokteran brilian di dunia modern, terbangun di dalam tubuh putri Baron yang bangkrut dalam novel fantasi yang pernah ia baca. Mengetahui nasibnya adalah kematian tragis sebagai pion politik, ia menolak tunduk pada naskah 'takdir'. Dengan bantuan Lumi, roh pena takdir yang memberinya kemampuan memanipulasi narasi realitas, Aria memulai permainan catur politik di Kekaisaran Sihir Elgarth. Ia harus menyeimbangkan antara bertahan hidup, memperbaiki kondisi keluarganya yang terpuruk, dan menjinakkan hati para penguasa yang memegang kunci kelangsungan dunianya, sambil menyadari bahwa setiap perubahan yang ia buat menciptakan riak yang mengancam keseimbangan antara terang dan kegelapan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah Pertama
Sinar matahari senja menyusup di antara celah gorden beludru hijau tua yang mulai memudar warnanya di kediaman Baron Evander. Di atas meja ek tua yang permukaannya dipenuhi goresan halus dan sisa pelitur yang mengelupas, lembaran-lembaran kertas kusam berisi rincian utang berserakan. Aria mengembuskan napas perlahan, membiarkan punggungnya bersandar pada sandaran kursi kayu yang sedikit bergoyang setiap kali ia bergerak.
Aroma samar kayu manis dan madu fermentasi masih tertinggal di ujung jemarinya, bercampur dengan bau kertas tua yang khas. Sisa dari keberhasilan tak terduga di pesta teh Evelyn Roselia beberapa jam yang lalu masih membekas di benaknya. Rasa manis dari anggur madu yang telah ia ubah takdirnya itu bukan hanya menyelamatkan kehormatannya, melainkan juga membuka celah sempit untuk menyelamatkan leher keluarganya dari jerat kebangkrutan yang mencekik. Aria masih ingat betul bagaimana wajah Evelyn yang semula penuh kemenangan mendadak memucat bagai kertas ketika Marchioness Vance memberikan pujian setinggi langit. Bisik-bisik kagum dari para lady yang hadir di pesta tersebut masih terngiang di telinganya, menjadi kemenangan kecil pertama yang berhasil ia rebut dari cengkeraman sang protagonis asli.
Ketukan lembut di pintu memecah keheningan sore yang berdebu itu. Pintu kayu ek yang tebal berderit pelan saat terbuka, menampilkan sosok jangkung Baron Edward Evander. Pria paruh baya itu tidak lagi mengenakan seragam militer kebesarannya yang gagah, melainkan setelan katun sederhana berwarna kelabu yang sudah beberapa kali ditambal di bagian siku. Langkah kakinya yang biasanya tegas kini terasa lebih berat, diseret oleh kelelahan batin yang bertahun-tahun menumpuk.
“Aria,” panggil Edward dengan suara baritonnya yang parau.
Aria segera menegakkan tubuh, menyunggingkan senyum tipis yang menenangkan untuk menyambut sang ayah. “Ayah. Masuklah, di luar sangat dingin.”
Edward melangkah mendekat ke arah meja kerja putrinya. Di tangannya, ia menggenggam selembar perkamen tebal dengan segel lilin berwarna merah marun berlogo burung pemangsa—segel resmi dari kediaman Marchioness Vance. Jemari veteran perang yang biasanya kokoh itu tampak bergetar halus saat ia meletakkan surat itu di hadapan Aria, seolah-olah kertas itu terbuat dari kaca tipis yang mudah hancur.
“Utusan dari Marchioness baru saja pergi,” kata Edward, suaranya tercekat di tenggorokan. Ia menatap Aria dengan mata yang berkaca-kaca, memancarkan perpaduan antara rasa tidak percaya dan kelegaan yang luar biasa. “Mereka memesan lima puluh botol anggur madu Evander untuk perjamuan musim gugur pekan depan. Mereka bahkan mengirimkan uang muka sebesar seratus keping emas secara langsung.”
Aria menatap kantong beludru kecil yang diletakkan Edward di samping surat tersebut. Gemerincing logam mulia di dalamnya ketika diletakkan di atas meja terdengar seperti melodi paling indah yang pernah ia dengar sejak terbangun di dunia ini. Seratus keping emas bukanlah jumlah yang kecil bagi keluarga Baron yang hampir terusir dari tanah mereka sendiri.
“Ini baru permulaan, Ayah,” sahut Aria lembut. Ia meraih jemari ayahnya yang kasar karena kapalan bekas memegang pedang, meremasnya perlahan untuk menyalurkan kekuatan. “Anggur dari perkebunan kita memiliki kualitas yang layak dihargai tinggi. Kejadian hari ini membuktikan bahwa kita hanya membutuhkan panggung yang tepat untuk menunjukkannya.”
Edward menarik napas panjang, bahunya yang semula tegang kini tampak sedikit rileks untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir. Beban berat yang selama ini menekan dadanya seolah terangkat sebagian oleh keberhasilan putrinya. Ia menatap Aria dengan pandangan penuh rasa syukur sekaligus kekaguman yang mendalam, meskipun ada sedikit keraguan yang tersirat di matanya.
“Aku hampir kehilangan harapan, Nak. Kupikir kita harus menyerahkan seluruh perkebunan ini kepada kreditor pada akhir bulan,” gumam Edward, menyeka sudut matanya dengan cepat menggunakan punggung tangan agar tidak terlihat lemah. “Bagaimana kau bisa tahu bahwa mencampurkan madu hutan dengan sisa anggur masam itu akan menghasilkan cita rasa yang begitu megah?”
Aria tersenyum misterius, memilih untuk tetap menjaga rahasia tentang kemampuan menulis ulangnya. “Hanya sedikit keberuntungan dan catatan kuno tentang fermentasi yang pernah kubaca di perpustakaan lama, Ayah. Alam selalu memiliki cara untuk memperbaiki dirinya sendiri jika kita tahu cara membantunya.”
Setelah beberapa saat berbincang mengenai rencana alokasi dana untuk melunasi utang-utang mendesak kepada para pedagang di ibukota, Edward akhirnya pamit meninggalkan ruangan. Langkah kakinya terdengar jauh lebih ringan daripada saat ia masuk, meninggalkan kehangatan yang perlahan mulai kembali ke dalam rumah yang dingin itu.
Begitu pintu tertutup rapat dan langkah kaki ayahnya menjauh di sepanjang selasar, keheningan kembali menguasai ruangan. Aria menghela napas panjang, lalu mengetuk permukaan meja kayu sebanyak tiga kali dengan ujung jari telunjuknya yang ramping.
“Lumi,” panggilnya setengah berbisik ke arah udara kosong.
Udara di atas tumpukan kertas mendadak berdesir halus, menciptakan riak kecil yang hangat. Butiran cahaya keemasan yang berkilauan mulai berkumpul, berputar lambat sebelum akhirnya membentuk sosok mungil bersayap transparan selembut sutra. Lumi, sang roh pena takdir, mendarat dengan anggun di atas tumpukan kertas kosong dengan ekspresi wajah yang tampak begitu gembira.
“Aku di sini, Nona!” cicit Lumi, suaranya terdengar seperti gemerincing lonceng kecil yang jernih di tengah sunyi. Mata bulatnya yang sewarna langit senja menatap Aria dengan penuh kekaguman. “Tadi itu sungguh luar biasa! Anda benar-benar membalikkan naskah asli dengan sangat mulus hingga sang protagonis asli tidak bisa berkata-kata!”
Aria tidak langsung membalas pujian itu. Ia mengambil sebatang pena bulu angsa hitam yang terletak di dalam wadah kuningan, lalu mencelupkannya ke dalam botol tinta ungu gelap yang pekat. “Jangan senang dulu, Lumi. Perubahan kecil yang kita lakukan hari ini pasti akan memicu reaksi berantai dari Evelyn Roselia. Dia bukan tipe orang yang akan duduk diam setelah dipermalukan di depan para bangsawan tinggi.”
Lumi terbang sedikit lebih tinggi, mengepakkan sayapnya hingga debu cahaya keemasan berhamburan lembut di sekitar kepala Aria sebelum mendarat di bahu gadis itu. “Nona benar. Dalam draf asli 'The Script', seharusnya reputasi Anda hancur total hari ini setelah menyajikan anggur yang rusak itu. Karena kita telah mengubah alurnya, takdir Evelyn sebagai 'tokoh yang selalu menang' mulai bergeser. Dia pasti merasakan ketidaknyamanan itu.”
“Persis,” sahut Aria, pandangannya menatap lurus ke arah jendela yang menampilkan langit malam yang mulai menggelap. “Evelyn menganggap dunia ini berputar di sekelilingnya. Ketika dia menyadari ada bagian dari panggungnya yang tidak berjalan sesuai rencana, dia akan menggunakan segala cara untuk merebut kembali kendali. Kita harus selangkah lebih maju.”
Jemari Aria mulai menari di atas kertas kosong yang baru, menuliskan beberapa baris kalimat dengan tulisan tangan yang rapi, tegas, dan tanpa keraguan.
*Perjalanan pengiriman anggur madu Evander menuju kediaman Marchioness Vance pada lusa sore akan berjalan tanpa hambatan. Cuaca di sepanjang rute bukit akan sangat cerah\, dan tidak ada kereta kuda lain yang menghalangi jalan di persimpangan utama.*
Lumi memperhatikan setiap kata yang terbentuk dari tinta emas ajaib yang hanya bisa dilihat oleh mereka berdua. “Anda ingin mengamankan pengiriman pertama ini dari gangguan fisik?”
“Evelyn memiliki pengaruh yang cukup besar untuk menyewa bandit jalanan atau menyabotase roda kereta kita di tengah jalan,” jelas Aria tanpa menghentikan gerakan tangannya. “Dia ingin membuktikan bahwa anggur yang kita sajikan di pesta teh hanyalah sebuah kebetulan yang tidak bisa diulang. Aku tidak akan membiarkan kesempatan pertama ini hancur hanya karena kelengahanku.”
Begitu titik terakhir disematkan pada kalimat tersebut, tinta emas itu meresap ke dalam serat kertas, menyisakan kilauan tipis sebelum menghilang sepenuhnya ke dalam jalinan realitas dunia Elgarth. Aria merasakan sedikit energi magis di dalam tubuhnya terkuras, meninggalkan rasa hangat yang menjalar di dadanya seiring dengan berjalannya sihir takdir tersebut. Menggunakan kemampuan 'Penulis Takdir' selalu menuntut bayaran; rasanya seperti seutas benang dingin ditarik langsung dari pusat jantungnya, meninggalkan kekosongan sementara yang harus dipulihkan dengan meditasi Mana Suci. Namun, rasa lelah itu sama sekali tidak sebanding dengan kepuasan karena berhasil mengamankan masa depan keluarganya.
“Satu perubahan kecil lagi telah tercatat dalam jalinan dunia,” bisik Lumi, menatap kertas yang kini kembali kosong dengan pandangan takjub. “Namun, Anda harus tetap waspada, Nona Aria. Mengubah hukum alam semesta secara terus-menerus, bahkan untuk hal-hal kecil, akan meninggalkan jejak mana yang bisa dilacak oleh penyihir tingkat tinggi. Terutama Duke Lucien Veritas yang misterius itu.”
Mendengar nama itu disebut, gerakan tangan Aria yang hendak meletakkan pena bulunya sempat terhenti di udara. Bayangan senyum tipis yang dingin dan tatapan mata safir gelap yang seolah bisa menembus jiwanya kembali terlintas di benaknya. Duke Lucien adalah variabel paling berbahaya dalam permainan ini—pria yang tampaknya tahu lebih banyak tentang 'The Script' daripada siapa pun di kekaisaran ini.
“Lucien adalah ancaman yang harus kuhadapi nanti,” gumam Aria pelan, akhirnya meletakkan penanya kembali ke tempatnya. “Tapi untuk saat ini, menyelamatkan keluarga Evander dari kemiskinan adalah prioritasku yang paling mutlak. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menulis akhir yang tragis untuk ayah dan ibuku.”
Aria bangkit dari kursi kerjanya, melangkah perlahan menuju jendela besar yang menghadap langsung ke arah halaman depan mansion yang sunyi. Angin malam yang dingin berembus masuk melalui celah jendela yang sedikit retak, menerpa wajahnya dan membawa aroma tanah basah serta dedaunan kering.
Di luar sana, di bawah naungan langit malam Kekaisaran Elgarth yang dipenuhi bintang, bidak-bidak catur baru saja diletakkan di atas papan. Dan Aria tidak lagi berniat menjadi pion pasrah yang menunggu giliran untuk dikorbankan demi kebahagiaan sang tokoh utama. Kali ini, ia yang memegang pena takdirnya sendiri.