NovelToon NovelToon
Please, Menikahlah Denganku!

Please, Menikahlah Denganku!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta
Popularitas:246
Nilai: 5
Nama Author: Nona Khansa

Aku tidak meminta banyak padamu, hanya satu hal. Menikahlah Denganku!

Cinta yang terpaut 2 tahun lebih tua dari Arhan, siapa bilang ia tidak bisa mendapatkannya? Ia bertekad pada dirinya, apapun yang terjadi Lula Khansa hanyalah miliknya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Khansa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7-Paket Komplit

Lama menunggu, sekitar hampir satu jam, Lula akhirnya keluar juga dari ruangan salon itu.

Arhan yang masih bermain game di ponselnya tidak menyadari keberadaan cewek itu.

Hingga langkah kaki Lula yang sudah dihadapkan Arhan. "Arhan..." Panggil Lula pelan.

Mendengar suara yang dikenalinya, Arhan langsung mendongok, mematikan ponselnya begitu saja. Sejenak ia terpukau dengan perubahan Lula.

Rambut yang awalnya benar-benar rusak dan pecah-pecah kini terlihat berbeda saat Arhan membawanya kesini satu jam yang lalu ke salon rambut. "Cantik." Gumamnya pelan namun masih samar-samar Lula dapat mendengar nya.

"Hah? Cantik?." Tanya Lula sekali lagi untuk memastikan pendengaran nya benar atau salah.

Arhan seketika gelagapan karena ketauan memuji cewek itu. "Maksudnya rambut nya cantik. Udah enggak rusak lagi kaya sebelumnya." Elak Arhan yang tidak ingin ketauan memuji cewek itu. Tapi, demi apapun Lula baru dipoles sedikit saja sudah terlihat cantik, apalagi jika semuanya akan Arhan ubah.

Lula mengangguk setuju. Ya, Arhan memang benar. Rambutnya sekarang begitu bagus dan lurus. "Kamu benar. Tapi, untuk apa kamu sampai segininya Arhan? Kalo uang kamu habis gimana? Nanti kamu nyesel loh." Titah Lula yang memastikan pada Arhan, bahwa semua ini mungkin hanya cuma-cuma dan buang-buang uang saja.

Arhan terkekeh kecil. "Tenang aja, uang aku enggak akan habis. Limited edition kok, masih banyak banget, mau keliling dunia pun bisa kalo mau. Dan apa tadi? Nyesel? Buat apa nyesel, kamu layak kok dapet ini. Kakak Arhan itu harus tampil cantik, gak boleh kaya dulu lagi!" Tukas Arhan tanpa mau diganggu gugat.

Ia kemudian berdiri, memasukkan ponselnya kemudian memajukan wajahnya dan sedikit menunduk. Mengisahkan jarak yang begitu dekat pada Lula. Lula bahkan bisa merasakan hembusan nafas Arhan di telinganya. "Cewek depan aku harus berubah, enggak boleh lemah lagi titik!" Bisiknya pelan namun mampu membuat bulu kuduk Lula berdiri tegak.

Arhan menjauhkan lagi wajahnya, namun pandangannya tetap menatap Lula dengan begitu dalam dan.... Tatapan itu entah kenapa bisa membuat jantung Lula berdebar begitu kencang seakan ingin keluar dari tempatnya.

Lula membuang muka nya untuk menepis rasa debaran pada hatinya. Apa ini?? Kenapa rasanya seperti ini?

"Kenapa malah buang muka? Aku ganteng ya?." Arhan menaik turunkan alisnya dengan begitu tengil dan nakal.

Mendengar ucapan Arhan sangat membuat Lula jadi jengkel. Ia langsung memukul pelan baju Arhan. "Kepedean juga enggak baik!" Lula melototkan matanya pada Arhan.

Bukannya takut Arhan malah gemas melihatnya. Kedua tangannya justru terangkat untuk mencubit pipi Lula. "Badan kakak kecil tapi pipinya gede."

"Arhan....!!!!!" Cicit Lula pelan saat merasakan kedua tangan Arhan mencubit pipinya pelan, Lula langsung menepis tangan itu.

"Erehennnn" Arhan mengejek Lula dengan menirukan gaya bicara Lula, kemudian langsung berlalu pergi meninggalkan Lula keluar dari salon rambut itu.

Lula menyusul Arhan dengan perasaan jengkel. Ia tidak menyangka Arhan bisa se tengil itu hingga membuatnya sedikit emosi.

Sore itu Arhan dan Lula melajukan motornya melewati jalanan kota dengan begitu nikmat. Udara sejuk yang berhembus menerpa mereka.

Lula tidak tau kemana lagi Arhan akan membawa mereka. Berulang kali ia bertanya pada Arhan, tapi pria itu seolah tuli dan mengabaikan pertanyaan nya.

Hampir setengah jam perjalanan mereka. Motor yang Arhan tumpangi berbelok pada sebuah bangunan besar bertuliskan 'perawatan wajah'.

Lula memandangi tempat itu dengan kagum. Tempatnya yang begitu mewah, bahan diparkiran saja rata-rata mobil semua, tidak ada yang motor kecuali motor milik Arhan.

"Jangan bilang kamu?" Lula menatap Arhan dengan wajah yang begitu bertanya-tanya.

"Ini tempat biasanya mama perawatan tiap bulan. Aku sengaja bawa kesini biar kakak dikasih perawatan spesial karena mereka tau aku." Jelas Arhan ada Lula.

Lagi-lagi Lula memasang wajah tidak enak hati. "Arhan! Kamu berlebihan sama aku! Aku gak bisa bayarnya nanti kalo kamu kebanyakan kasih aku kaya gini." Tukas Lula dengan wajah gelisah. Ia saja tidak tau perawatan rambutnya sudah berapa juta Arhan keluarkan.

"Cukup jadi kakak aku yang baik dan perhatian aja, enggak butuh buat kakak ganti kok uangnya." Sambung Arhan dengan wajah tersenyum memandang Lula yang masih dengan wajah gelisah nya.

"Tapi Arhan...."

"Apa perlu sih kak aku gendong biar mau kesana?"

Mata Lula seketika terbelak mendengar ucapan Arhan barusan. "Ish! Enggak mau lah!" Kesalnya pada Arhan.

"Ya udah ayo masuk." Arhan kemudian menggandeng tangan Lula memasuki gedung perawatan wajah itu.

Lula tidak henti-hentinya menatap isi ruangan yang begitu dingin karena AC itu. Tempatnya begitu bagus dan mewah. Tanpa sadar bibirnya terangkat membentuk lengkungan. Ia tidak menyangka bisa memasuki tempat seperti ini.

Arhan memanggil salah satu pegawai yang ada di tempat itu yang ia kenalinya. "Mbak, dia kasih perawatan wajah ya yang terbaik, kasih skincare dan bodycare nya juga, nanti saya yang bayar."

Pegawai tersebut mengangguk. "Siap mas Arhan. Ini pacar nya ya?" Tanya pegawai itu dengan melihat ke arah Lula yang masih dengan pikirannya sendiri menatap ruangan itu.

"Ya gitulah." Jawab Arhan yang menahan senyumannya. Ia menjawab itu karena yakin Lula pasti tidak akan mendengarkan apa yang sedang ia bicarakan. Pasalnya saat ini Lula malah sibuk sendiri.

Saat Lula akan melangkahkan kakinya tidak tau kemana, Arhan langsung menarik kerah baju Lula dari belakang. "Mau kemana sih? Nanti ilang." Tanya Arhan yang bingung karena Lula akan pergi dari jangkauan nya.

"Hah? Gak tau tiba-tiba kakinya jalan sendiri." Jawab Lula dengan jujur. Mungkin saking masih penasarannya dengan ruangan yang disebelah kanannya, kakinya reflek ingin melaju kesana.

"Aneh! Itu ikut sama mbak nya." Perintah Arhan kemudian.

Lula mengangguk mengikuti pegawai tersebut setelah pegawai itu mengajaknya masuk kedalam.

Lagi-lagi Arhan harus menunggu ditempat duduknya. Seperti sebelumnya, ia kembali membuka ponselnya. Bermain ponsel disana untuk menunggu kedatangan Lula.

Sementara didalam. Semua pegawai yang bertugas langsung melakukan tugasnya untuk memberikan perawatan terbaik pada wajah Lula. Disana Lula hanya bisa terdiam dan mengikuti arahan mereka. Kalau disuruh merem ya merem, disuruh melek ya ia akan melek, disuruh menghadap ke atas ia juga nurut, disuruh menghadap ke kiri juga akan nurut.

"Mas Arhan itu pacarnya mbak ya ternyata?" Ucap pegawai tadi yang mengantarkan nya kemari.

Lula yang sedang dilakukan pemijatan pada wajahnya langsung membuka matanya terkejut. "Hah? Pacar?." Tanyanya bingung. Sejak kapan? Dan siapa yang bilang kalau dirinya berpacaran dengan Arhan.

Pegawai itu mengangguk. "Beruntung deh mbak kamu pacaran sama mas Arhan. Saya kenal dari dia SD sampai udah bujang kaya sekarang ini. Keluarganya itu sangat terpandang sakali."

Lula mendengarkan penjelasan pegawai itu dengan seksama. Jujur ia juga penasaran dengan keluarga Arhan bagaimana. "Terus gimana lagi mbak?" Ucap Lula penasaran.

"Mas Arhan itu anak yang paling penurut dan ramah si menurut saya. Dia itu anak dari keluarga Ardigo, pengusaha paling sukses dinegri ini. Anak terakhir dari tiga saudara. Anak pertamanya sudah meninggal karena kecelakaan."

"Yang perempuan itu ya mbak?"

Pegawai itu mengangguk. "Iya. Anak keduanya itu laki-laki tapi anak keduanya ini enggak tinggal disini, tinggal diluar kota mengurusi cabang perusahaan disana. Nah kalau ketiga ini baru deh mas Arhan. Mas Arhan itu sering banget nganterin nyonya Ghea kemari buat perawatan setiap bulannya. Saya paling suka liat mas Arhan. Manis, ganteng, baik, ramah, pokoknya komplit! Mbak jangan sia-siakan mas Arhan ya? Kalo bisa sampe nikah."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!