Rebeca Alexander terbiasa mendapatkan segalanya. Kaya, cantik, dan berpengaruh, ia tak pernah ragu merendahkan Cika, gadis sederhana yang berani menjadi saingannya di kampus.
Bagi Rebeca, Cika hanyalah gadis miskin yang tidak tahu tempat.
Namun hidupnya hancur saat sang ayah membawa seorang wanita baru ke rumah mereka. Dan wanita itu adalah Cika.
"Aku tidak akan pernah menganggapmu sebagai ibu tiriku!"
Cika menyahut dingin. "Bagus. Karena aku juga tidak berniat menggantikan ibumu. Aku hanya akan menjadi istri ayahmu. Dan mulai detik ini, aku punya aturan baru di rumah ini ... belajarlah untuk menghargai orang lain, terutama aku."
Bisakah dua gadis seumuran dan keras kepala itu bersatu dan akur? Atau malah jadi musuh selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10. SYARATNYA APA?
Robinson masih menatap Cika beberapa saat sebelum akhirnya tersenyum tipis. "Kebaya itu ... sangat cocok untukmu, Cika."
Cika yang sejak tadi menundukkan kepala perlahan mengangkat wajahnya. "Benarkah, Pak?"
"Iya." Robinson mengangguk mantap. "Sederhana, anggun, dan elegan. Sepertinya Astri memang tahu pilihan yang terbaik."
Pipi Cika memerah. "Terima kasih, Pak."
Astri ikut tersenyum melihat keduanya. "Berarti pilihannya sudah cocok, ya."
"Sangat cocok," jawab Robinson tanpa ragu.
"Kalau begitu nanti tinggal sedikit penyesuaian di bagian pinggang dan lengan. Selebihnya sudah pas."
Cika mengangguk pelan.
"Baik, sekarang giliran Pak Robinson yang mencoba jasnya." Astri beralih menatap atasan suaminya itu.
Robinson berdiri. "Baik." Tak lama kemudian ia masuk ke ruang ganti. Beberapa menit berselang, Robinson keluar mengenakan jas hitam dengan potongan yang pas di tubuhnya. Dipadukan dengan kemeja putih dan dasi hitam, penampilannya terlihat gagah sekaligus berwibawa.
Astri memperhatikan dari berbagai sudut sebelum mengangguk puas. "Bagus sekali. Tinggal sedikit merapikan panjang lengan. Selebihnya sudah pas."
Robinson menoleh kepada Cika. "Bagaimana menurutmu, Cika?"
Cika tersenyum sopan. "Sangat cocok, Pak."
"Terima kasih."
Setelah proses fitting selesai, Robinson menyelesaikan beberapa administrasi dengan Astri. "Terima kasih banyak, Astri."
"Sama-sama, Pak Robinson. Insya Allah semua akan selesai tepat waktu."
"Iya, saya percaya kamu. Sama seperti saya percaya Hasan." Robinson dan Cika kemudian berpamitan. Setelah mengucapkan terima kasih sekali lagi, keduanya keluar dari butik dan kembali menuju mobil.
Di sepanjang perjalanan pulang, suasana mobil kembali tenang.
Beberapa menit kemudian Robinson membuka percakapan. "Bagaimana kuliahmu hari ini, Cika?"
Cika menoleh. "Alhamdulillah lancar, Pak."
"Syukurlah" Robinson mengangguk puas. "Mulai sekarang, kalau ada kebutuhan kuliah, jangan sungkan bilang kepada saya. Karena kamu dan Sinta sudah menjadi tanggung jawab saya."
Cika sedikit terkejut. Tubuhnya menegang sesaat. "I-Iya, Pak. Terima kasih."
Hening sejenak.
Kemudian Robinson kembali bertanya. "Apakah hari ini Rebeca menjahilimu?"
Cika menggeleng pelan. "Tadi Rebeca tidak masuk kuliah, Pak."
Robinson spontan menoleh sekilas. "Serius, Cika?"
"Iya, Pak."
"Tapi tadi pagi dia berangkat ke kampus."
"Saya juga kurang tahu, Pak. Yang jelas hari ini Rebeca memang tidak masuk kelas."
Dahi Robinson langsung berkerut. "Aneh ..." Tangannya segera mengambil ponsel, lalu menekan nama putrinya.
Nada sambung terdengar beberapa kali.
Namun panggilan itu tak kunjung diangkat. Robinson menghela napas pelan. "Ke mana anak itu pergi?" Sesaat kemudian ia mencari nama lain di daftar kontak. "Mili."
Panggilan kali ini langsung tersambung.
"Halo, Om ..." Suara Mili terdengar serak, seperti baru bangun tidur.
"Mili, Rebeca ada di rumahmu?"
"Tadi memang sempat di sini, Om. Tapi sekitar satu jam yang lalu dia sudah pulang."
"Sudah pulang?"
"Iya, Om."
"Baik. Terima kasih, Mili."
"Sama-sama, Om."
Robinson mengakhiri panggilan. Wajahnya masih menyiratkan kebingungan. Ia melirik Cika. "Kamu tahu kenapa Rebeca sampai bolos kuliah? Apakah tadi terjadi sesuatu?"
Cika tertegun sejenak, ia berpikir. "Saya tidak tahu, Pak. Tapi ..." Ia menjeda ucapannya.
"Tapi apa, Cika?"
Cika pun menceritakan kejadian lucu tadi pagi.
Robinson menggeleng sambil tersenyum kecil. "Rebeca ... Rebeca ..." gumamnya.
"Mungkin Rebeca bolos karena itu, Pak."
"Sepertinya memang begitu, Cika. Rebeca anaknya gengsian. Dia tidak suka jadi bahan candaan."
Cika mengangguk setuju.
"Tapi aslinya dia baik. Cuma agak keras kepala."
"Iya, Pak."
"Oh iya, kamu mau saya antar pulang ke rumah atau kembali ke rumah sakit?"
"Ke rumah sakit saja, Pak. Saya mau menemani Sinta dulu. Baru nanti pulang ke rumah."
Robinson mengangguk pelan. "Baik."
Mobil pun berbelok menuju rumah sakit.
Beberapa saat kemudian Robinson kembali berpesan dengan nada hangat. "Cika."
"Iya, Pak?"
"Jangan pulang terlalu malam. Bahaya seorang perempuan pulang sendirian."
Cika mengangguk pelan. "Iya, Pak. Terima kasih sudah mengingatkan."
Robinson hanya tersenyum tipis sambil kembali memusatkan perhatian ke jalan di depannya.
Tak lama kemudian, mobil berhenti di parkiran rumah sakit. Cika turun dan mengucapkan terima kasih.
Robinson kembali melajukan mobilnya meninggalkan rumah sakit.
Sekitar empat puluh menit kemudian, mobil sedan hitam itu memasuki halaman rumah megahnya. Setelah memarkirkan mobil di garasi, Robinson turun dan melangkah masuk ke dalam rumah.
Seorang asisten rumah tangga segera menghampirinya. "Selamat sore, Tuan."
"Sore." Robinson melepas jasnya.
"Rebeca di mana?"
"Nona ada di kamarnya, Tuan."
"Baik." Tanpa membuang waktu, Robinson menuju lift pribadi yang menghubungkan lantai dasar dengan lantai atas. Beberapa saat kemudian, ia tiba di depan kamar putrinya. "Beca."
Tak lama kemudian pintu terbuka. Rebeca muncul dengan rambut yang masih basah. Tampaknya ia baru selesai mandi. Wajahnya terlihat datar. "Ada apa, Pa?"
"Papa mau bicara sebentar."
"Bicara saja."
Robinson masuk beberapa langkah ke dalam kamar. "Apa benar tadi kamu bolos kuliah?"
Rebeca tampak sedikit tersentak. "Papa tahu dari siapa?"
"Dari seseorang."
"Seseorang itu siapa?" tekan Rebeca.
"Papa punya banyak mata, Beca. Jadi bukan hal susah untuk mengetahui keseharian kamu."
"Huh!" Rebeca mengembuskan napas panjang. "Iya, aku bolos."
"Kenapa?"
"Tadi aku jatuh gara-gara Cika."
Alis Robinson langsung bertaut. Ia sudah menduga jika putrinya pasti melemparkan kesalahan pada orang lain. Rebeca pantang mengakui kesalahannya. "Terus, apa hubungannya jatuh sama bolos kuliah?"
"Ya ada, Pa. Tadi tuh semua mahasiswa lihat aku jatuh. Terus mereka ngetawain aku. Papa bayangin gimana malunya aku? Makanya aku milih bolos dan pergi ke apartemen Mili."
Robinson memijat pelipisnya pelan. "Ya Tuhan ... Beca. Tapi nggak perlu sampai bolos kuliah."
"Tapi aku malu, Pa. Seorang Rebeca Alexander jatuh tersungkur di hadapan semua orang ... itu konyol banget, Pa. Aku serasa nggak punya muka. Dan menyebalkannya ... si Cika, tertawa paling keras. Ihhh! Pengen kujambak aja tuh rambutnya!" omel Rebeca sambil mengentak-entakan kedua kakinya bergiliran.
Geleng-geleng kepala Robinson. "Beca ... Papa mau tanya, kenapa kamu benci banget sama Cika?"
Rebeca duduk di depan meja rias terlebih dahulu sebelum akhirnya menjawab. "Karena dia miskin, belagu dan sok pintar."
"Beca ... jangan bicara seperti itu, Nak. Papa tidak suka."
"Terserah." Rebeca mengibaskan rambutnya. "Aku nggak minta pendapat Papa. Aku hanya menjawab pertanyaan Papa."
"Papa tahu. Tapi Papa tidak suk-"
"Stop, Pa!" potong Rebeca. "Kalau Papa mau ceramah, silakan keluar dari kamarku!" usirnya. Namun Robinson masih berdiri di tempatnya. Hal itu membuat Rebeca kesal. "Aku bilang keluar, Pa. Aku mau video call sama Mama." Suara Rebeca mulai bergetar. "Aku kangen sama Mama. Tapi Papa malah melarang aku pergi ke Korea buat ketemu Mama."
"Beca ..."
"Udah ah." Rebeca memalingkan wajah. "Aku malas ngobrol sama Papa."
Suasana mendadak hening. Beberapa detik kemudian Rebeca kembali bersuara dengan nada ketus. "Mending Papa cari istri baru saja deh, biar nggak ganggu waktuku."
Ucapan itu membuat Robinson terdiam.
Entah mengapa, kalimat putrinya justru mendorongnya untuk mengatakan sesuatu yang selama ini masih ia simpan. Ia menarik napas panjang. "Beca ..."
"Apa lagi?"
Robinson menatap mata putrinya dengan serius. "Memangnya kamu nggak keberatan kalau Papa nikah lagi?"
Rebeca menoleh, "Nggak. Tapi ada syaratnya?" Seringai kecil terbit di bibirnya.
"Syaratnya apa?" tanya Robinson dengan serius.