NovelToon NovelToon
Cinta Di Atas Logika

Cinta Di Atas Logika

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:289
Nilai: 5
Nama Author: najmun_huda

yovada, seorang anak remaja yang memilik obsesi pada pengetahuan. ia tidak peduli dengan apapun, selama itu menambah pengetahuannya maka akan ia lakukan. ia di kenal debagai seseorang yang gila dengan ilmu dan tidak mau menjalin sebuah hubungan karena ia tahu bahwa hubungan tanpa memahami pasangan adalah sebuah penyiksaan. ia yakin bahwa tiada yang memahami perasaannya hingha ia bertemu seseorang yang membuatnya merasa nyaman dan aman. sebuah rasa yang membuatnya bingung dengan jalannya. sebuah lembaran baru yang ia buka demi cerita baru dalam hidupnya. apa yang terjadi selanjutnya dan apa semua akan berakhi karena ego atau malah luluh karena sebuah rasa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najmun_huda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CP: 10 suapan wanita

Aulia langsung berlari mengejar Kesya dan kemudian memukul kepalanya hingga akhirnya ia jatuh dan terkapar. Namun tidak lama setelah itu seorang petugas datang dan menahan Aulia karena membau kegaduhan di lorong rumah sakit. Kesya bangkit dan kemudian ia langsung mengambil keranjang roti itu dan kemudian ia langsung berjalan dengan tenang ke ruangan Yovada. Aulia yang melihat itu langsung meronta-ronta ingin di bebaskan, namun tim keamanan itu sama sekali tidak mau melepaskannya. Pada akhirnya tim keamanan pun menyeretnya secara paksa keluar dari gedung rumah sakit itu. Ia di lempar ke lapangan parkir dan di tinggalkan di sana.

Di sisi lain, Yovada sedang terbaring lemah dengan pikiran yang belum sepenuhnya jernih. Ia hanya memakan buah dari Kesya dan ia menolak makanan rumah sakit yang tawar dan juga membuatnya muak untuk sekedar mencicipinya. Namun seketika seseorang membuka pintu dan aroma manisnya langsung tersebar ke seluruh tempat. Yovada yang melihat itu langsung terdiam dan juga si pak tua yang terbangun dari tidurnya. Ia mengambil sepotong roti dan kemudian memberikan ke pak tua itu. Pak tua itu mengambilnya dengan tercengang karena selama ini sangat jarang ada seseorang yang membelikannya roti atau bahkan membelikannya makanan saat berkunjung.

Kesya pun langsung duduk di sebelah Yovada dan kemudian menaruh sekeranjang roti di sebelahnya. Ia menatapnya dengan tatapan datar seakan ia tidak memiliki perasaan. Yovada yang melihat itu langsung tercengang namun wajahnya tetap datar seakan bingung dengan apa yang di lakukan Kesya di sini. Kesya pun berkata pada Yovada. “hai, selamat siang. Maaf lama tadi, aku membeli beberapa roti dan juga minuman untukmu. Ya, aku tahu bahwa kamu tidak bisa banyak minum apa lagi yang memiliki pemanis buatan namun tenang saja kok, ini hanya jus yang aku buat sendiri kok.” Ucapnya dengan tetap tenang dan juga santai. Matanya menatap ke Yovada dengan tatapan yang penuh penasaran dan juga perhatian, namun ia menghembuskan nafasnya dan kemudian kembali menjadi lebih dingin tatapannya.

Yovada yang melihat perubahan Kesya langsung memancingnya agar ia menunjukkan sifat aslinya karena ia sendiri penasaran dengan julukannya yang sering di jelekkan. “baiklah, terima kasih sudah mau datang dan menjengukku, apa kamu sendiri tidak keberatan? Harusnya sih kamu keberatan karena ini masih jam sekolah dan kamu sendiri langsung pulang duluan sebelum sekolah selesai.” Ucap Yovada kepada Kesya dengan penasaran dan juga menatapnya dengan perhatian.

Kesya yang melihat i langsung memalingkan matanya ke Yovada namun ia malah menatap matanya secara langsung, Kesya yang melihat itu langsung panik dan kaget karena ia sendiri tidak menyangka ia akan memberikan tetapan perhatian kepada dirinya. Ia mulai mengalihkan pandangannya dan kemudian menenangkan dirinya. Ia kembali melirik ke Yovada dan melihat bahwa Yovada sedikit tertawa kecil. Kesya yang melihat itu sedikit kesal karena ia merasa di permainkan oleh Yovada. Dalam hatinya ia berbicara dengan nada kesal. “Sial, bisa-bisanya ia mempermainkan aku seperti ini. Aku saja tidak berani mempermainkannya dan kini ia malah menjadikan aku sebagai bahan hiburannya? Astaga... sialan kamu.” Ucap Kesya dengan tatapan kesal karena ulah Yovada kepadanya.

Seketika Kesya memilik ide dan kemudian ia mengambil sepotong roti dari keranjang itu kemudian mengambil sepotong kecil dari bagian roti itu dan mengarahkannya ke mulut Yovada dengan pelan. “baiklah, coba kamu buka mulutmu sekarang? Aku akan menyuapimu.” Ucap Kesya kepada Yovada. Yovada yang melihat itu kelihatan biasa saja, ia membuka mulutnya dan kemudian ia langsung memakan apa yang di suapi oleh Kesya. Kemudian Kesya pun langsung tersenyum kecil seperti licik kepada Yovada. “bagaimana rasanya? Enakkan..... aku suapi” Ucap Kesya kepada Yovada dengan nada lembu kepadanya.

Yovada yang mendengar itu langsung terkejut, matanya melebar dan wajahnya memerah. Ia menelan roti itu dan kemudian ia langsung tersedak karena rasa malu itu. Kesya yang melihat itu langsung panik dan mengambilkan air mineral kepada Yovada dengan cepat. Yovada cepat-cepat meminumnya dan menenangkan dirinya sambil bersandar ke tembok. Ia melirik Kesya yang memperhatikannya dan juga mengkhawatirkannya. Dalam hatinya, Yovada langsung berbicara tentang Kesya. “bisa-bisanya gadis sepertinya perhatian kepadaku. Aku sendiri saja tidak pernah perhatian seperti ini pada seseorang loh. Yasudahlah, setidaknya ia tidak seburuk Aulia. Ia semakin menyebalkan jika aku mengingatnya.” Ucapnya dengan kesal mengingat Aulia yang membuatnya mengalami pandangan buruk ketika awal di rumah sakit.

Kesya yang melihat tingkah Yovada juga berbicara di dalam hatinya. “anak ini aneh juga, ia begitu pintar namun juga begitu sial. Ia memang terlihat dingin ketika di sekolah namun di sini rasanya ada yang berbeda darinya. Yah.... setidaknya ia tidak seburuk itu harusnya. Namun aku tetap harus dalam tugasku dalam menjaganya juga. Ini tidak akan lama harusnya.” Ucap Kesya kepada dirinya sambil menatap kepada Yovada dengan tatapan penasaran dan juga perhatian yang jarang a tunjukan pada siapa pun di sekolahnya.

Kesya menyuapi Yovada dengan perlahan dan juga penuh perhatian. Yovada pun memakannya dengan perlahan dan juga menikmati tiap suapan yang di berikannya. Namun seketika ia bingung dengan keadaannya. Ia melirik Kesya dan kemudian berkata. “Kesya, aku mau tanya. Memang kenapa kamu menyuapiku, tangan aku baik-baik saja sebenarnya lalu kenapa kamu malah menyuapiku?” Ucap Yovada kepada Kesya dengan bingung. Ia sendiri baru menyadari hal itu ketika Kesya menyuapinya.

Mengetahui hal itu, Kesya sendiri langsung terdiam. Mereka saling menatap dan kemudian ruangan menjadi hening. Kesya yang mengetahui keadaannya menjadi canggung langsung berusaha mencairkan suasana. “ya... gini Yovada. Kamu itu di rumah sakit. Kamu itu belum cuci tangan dan bisa saja tangan kamu mengandung kuman. Lagi pula tangan kamu itu di impuls, akan sakit jika terlalu di gerakkan. Sudahlah, selama kamu sakit ini biar aku saja yang merawatmu. Kamu tidak perlu khawatir.” Ucap Kesya kepada Yovada dengan tenang sambil memejamkan matanya karena merasa malu dengan pertanyaan Yovada tadi.

Yovada yang mendengar itu langsung memiringkan kepalanya dan menatap Kesya dengan bingung dan juga penuh pertanyaan. “namun kamu baru saja memegang gagang pintu rumah sakit ini, gagang itu bisa saja mengandung lebih banyak bakteri karena di pegang oleh banyak orang, lagi pula aku masih ada tangan kananku yang biasanya aku pakai untuk makan.” Ucapnya kepada Kesya dengan penuh penasaran dan tatapannya yang kebingungan.

Mendengar penjelasan Yovada itu langsung membuat Kesya agak marah, wajahnya memerah seakan malu dengan jawaban Yovada tadi. Ia melirik ke arah meja dan mengingat bahwa ia membelikan Yovada buah pir kemarin. Ia yang mengetahui itu langsung tersenyum dan kemudian langsung berkata pada Yovada. “oh, ini karena kemarin kan kamu lemah dan kamu juga tidak nafsu makankan. Jadi akhirnya aku pikir kamu masih butuh bantuan dalam menyuapi makanan. Makanya aku langsung menyuapimu. Namun jika kamu masih mau di suapi aman kok” Ucapnya dengan wajah datar dan juga lebih tenang dalam menghadapi Yovada. Ia kembali mengambil potongan kecil dari roti yang ada di tangannya dan kemudian menyuapinya dengan perlahan.

Ketika menyuapi Yovada, Kesya menyadari bahwa ketika Yovada di suapi penampilannya jauh lebih seperti anak-anak. Kesya menatapnya dengan penuh perhatian dan memperhatikan sikap Yovada. Namun ketika Yovada memandangnya, penampilannya berubah menjadi dingin dan kemudian penuh pertanyaan di matanya. Seketika tatapan Kesya berubah seperti tidak tertarik kepada Yovada. Matanya langsung menunjukkan sikap tidak tertarik pada Yovada seakan ada yang membuatnya membenci sikap Yovada yang sekarang.

Dalam hatinya Kesya berkata pada Yovada. “sial, aku pikir ia akan begitu salam aku menyuapinya. Ia cukup manis ketika bersikap kekanak-kanakan, namun menyebalkan jika ia menjadi dirinya. Tatapannya seperti mempertanyakan sikap aku padanya. Padahal ini hanyalah perhatian biasa kepadanya. Astaga... aku harus menjaga sikapku selam aku ada di sini. Jangan sampai aku membuat keadaan semakin canggung atau membuat Yovada tidak nyaman dengan sikap aku.” Ucap Kesya dalam hatinya karena ia tahu bahwa dirinya akan merasa bersalah jika ia membuat masalah di sini. Ia harus lebih menjaga sikap kepada Yovada.

Di sisi Yovada sendiri. Ia memakan apa yang di suapi oleh Kesya dengan lahap seperti anak kecil. Di sisi lain, Yovada juga merasa aneh karena dirinya sudah dewasa namun dirinya di suapi oleh seorang gadis yang satu sekolah dan dianggap aneh bahkan membawa kutukan. Ia berbicara dalam hatinya. “astaga, aku merasa tidak nyaman dengan sikap aku sebelumnya ke Kesya. Seharusnya aku lebih terbuka kepadanya namun malah aku menjauh darinya. Namun yasudahlah, aku akan menjaga sikapku padanya. Sebaiknya aku tidak banyak tingkah setelah ini.”

Setelah menyuapi Yovada, Kesya langsung mengambil Tisu basah dan kemudian membersihkan mulut Yovada dengan perlahan dan juga hati-hati. Ia mengambil selembar lagi untuk membersihkan tangan Yovada yang lainnya agar tetap bersih dan aman dari kuman. Ia kemudian mengambil buku catatannya yang tadi ia pelajar tadi sekolah. Ia tahu bahwa Yovada adalah anak yang ambisius dan juga sangat bersemangat jika dalam belajar dan memahami. Ia langsung membuka catatan yang ia pelajari. Ia dengan tenang bertanya kepada Yovada tentang pembelajaran sejarah yang telah ia pelajari di sekolah.

Yovada mengingat-ingat apa yang terakhir kali di pelajari dahulu di sekolah, ia sebenarnya tidak pernah mengingat apa yang di pelajari terakhir yang di ajarkan setiap hari, yang ia ingat hanyalah apa yang ia pelajari. Ia pun akhirnya mengingat bahwa terakhir ia merasa bahwa ia belajar masalah dinasti di timur tengah.

Kesya yang mendengar itu langsung senang, karena yang ia catat adalah kelanjutan dari apa yang Yovada harus pelajari. Pada akhirnya ia pun langsung membuka buku catatannya dan menaruhnya di hadapan Yovada. Ia sudah mengingat banyak hal yang di katakan gurunya dan kini ia yakin bahwa dirinya bisa mengajari Yovada seperti gurunya di sekolah.

“baiklah Yovada, aku akan mengajarimu masalah sejarah. Jangan khawatir, aku akan mengajarimu dengan benar hingga kamu sendiri merasa berada di sekolah karena aku sudah menghafal banyak yang di beri tahu oleh ibu guru dengan benar. Kalau begitu bersiaplah.”

Yovada yang mendengar itu langsung dari mulut Kesya langsung menatapnya dengan kebingungan. “baiklah, namun jujur aku tidak berharap banyak dari ini.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!