Sebuah kerajaan terbesar punya misi menangkap semua petarung liar untuk kedamaian. Namun semua perguruan seni bertarung pedang menolaknya. Karena mereka tahu kalau kerajaan ingin mengatur masyarakat dengan menguasai sumber daya.
Sepasang pendekar pedang ini menjadi penyelamat untuk melawan sebuah kerajaan besar. Mereka melakukan perjalanan bersama untuk mengumpulkan rahasia teknik pedang tersembunyi dan dua pedang Sakti.
Pedang Zen Xi di Desa Win, lalu pedang Zoi Chu di Desa Hon. Namun mereka harus melewati rintangan dan tempat untuk bisa sampai di tujuan. Lalu mereka kembali untuk mengalahkan Kerajaan Sinpor.
Setelah masalah Kerajaan Sinpor selesai, kisah cinta mereka berdua sempat mendapatkan penolakan dari orang tua perempuan, karena perbedaan kelas sosial. Namun mereka berdua punya cara agar mereka berdua bisa menikah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Firdaus Rangkuti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bos Besar
Pria mata satu itu, pemimpin besar yang menguasai sebuah desa untuk di jadikan budak. Dia bernama Johin Cou. Pendekar pedang memimpin puluhan anggota. Mereka lemah, namun Johin Cou cukup lihai. Johin bergerak mundur, lalu mulai cari celah di samping tubuh Rio untuk menebas. Rio menangkis pedang itu dengan baik. Namun dia kaget bisa mengambil celah sebaik itu.
"Mereka sepertinya lemah. Namun sangat lihai dalam bertarung. Sebaiknya aku hati-hati." ucap Jinsin.
"Sring..."
"Tik..."
"Aaaaa." Jinsin berhasil menebas pria yang menyerangnya hingga terjatuh berteriak.
"Hah. Hah. Hah." Tidak ada habisnya orang ini. Berapa lagi sih. Hap. Hap. Hap."
Jinsin berlari melewati Rio, lalu melompat ke kursi kayu, meja dan ke pohon besar di dalam desa. Dia berdiri melihat ke bawah, banyak petarung mengejarnya menuju pohon dengan memanjat. Saat Rio sedang melihat Johin, dia menoleh ke Jinsin sebentar. Dia menangkis pedang Johin. Lalu mendorongnya dengan kekuatan penuh. Johin terdorong mundur hingga terlentang.
"Bos, bos tidak apa-apa?" beberapa petarung lain mendekati Johin menolong tubuhnya untuk bangkit.
"Serang dia." ke empat petarung itu berlari menyerang Rio. Lalu Rio menebas satu persatu mereka bertiga hingga jatuh. Rio menekan perut petarung yang ke empat dengan ujung gagang pedang sampai pria itu terdiam menahan rasa sakit, mau muntah.
"Kau selanjutnya." Rio menatap tajam Johin berjalan santai mendekatinya. Jinsin berdiri menendang wajah mereka saat sudah di dahan pohon.
"Aaaaa.."
"Kita harus melakukan sesuatu."
"Tebang saja pohonnya."
Para petarung mulai menebang pohon secara bergantian menggunakan kapak. Yang lain mulai melempar batu kepada Jinsin, masih di atas dahan pohon yang tinggi.
"Yang benar saja. Aduh aduh." ucap Jinsin kesakitan. Jinsin menangkis lemparan batu dengan pedang. Dia juga panik saat pohon itu di tebang sampai bagian dahan itu bergoyang. Jinsin melompat melewati kepungan para petarung cukup jauh.
"Hei, itu dia. Cepat kejar." Para petarung merayap mengejar Jinsin. Lalu Jinsin menangkis semua serangan para pria dengan cepat. Jinsin menangkis pria yang pakai kapak, menggunakan pedang kecil.
"Liat itu, temanmu kesulitan mengalahkan anggota ku sendirian." Rio mendengar ucapannya dan melihat Jinsin sedang di kepung banyak petarung dari segala arah.
"Berapa banyak anggota dia, memang mereka lemah tapi." Rio bingung jumlah rekan Johin bisa sebanyak itu hanya untuk menguasai satu desa kecil. Jinsin menunjukan kemampuan kepada musuh. Dia menutup mata sebentar. Lalu membuka kembali, bersiap menyerang dengan teknik pedang besar. Semua musuh membabi buta ke Jinsin.
Lalu Jinsin melakukan teknik pedang berputar. Semua musuh terkena goresan di tubuh sampai terjatuh. Jinsin melompat tinggi, lalu memijak kepala mereka dan menebas leher mereka sambil berjalan melangkah ke kepala kerumunan petarung, yang di tebas satu per satu. Rio sedang fokus ke Johin, menoleh kaget melihat para petarung yang sangat banyak tiba-tiba tumbang.
"Ooooh... Hebat. Aku tidak boleh kalah."
Rio berlari cepat ke Johin sedang berdiri. Johin bersiap menahan serangannya. Rio menebas pedangnya, lalu berputar menebas dari kiri, kanan dan atas. Johin kaget melihat cara menyerang Rio tidak biasa, sampai kebingungan menangkis. Johin terkena tebasan pedang Rio, sampai darah muncrat tepat di lengan kiri dan kanan. Dia kaget melihat luka dan memegangnya. Rio berhenti menyerang, lalu melihat Johin dari arah samping memelototinya.
"Kau kalah." Rio mengangkat pedang ke atas masih membelakanginya.
"Ciih..."
Johin berhenti menyerang, wajahnya panik, darah terus keluar membasahi pakaian yang robek. Jinsin terus menebas leher petarung berjalan di atas kepala mereka, lalu menendang wajah pria mencoba menggapai kaki Jinsin.
"Semuanya, lari!" Para petarung yang masih bisa bangkit langsung berlari ke segala arah. Johin sudah kalah telak juga kabur berjalan tertatih-tatih memegang lengan kanan yang terluka.
"Biarkan mereka, Jinsin." Rio membentang tangan kanan sebagai tanda kepada Jinsin untuk berhenti mengejar. Johin di gendong oleh anggota untuk lari ke luar desa.
"Jinsin, sebaiknya panggil warga desa ke sini." ucap Rio.
"Baik." ucap Rio.
Rio berdiri melihat sekeliling desa sangat kacau. Dia berjalan mengangkat para petarung itu ke dalam sebuah rumah besar. Beberapa waktu kemudian, Rio melihat para penduduk berjalan menghampirinya. Lalu membantu para petarung untuk di angkat ke dalam. Warga lain, membantu mengambil sapu, memperbaiki rumah, dan menyiapkan makanan untuk bergotong royong membersihkan desa. Sore Hari, Rio duduk di luar sendirian menikmati istirahat di teras rumah warga.
"Rio, pakaianmu kotor, sebaiknya kamu mandi." ucap Jinsin berdiri. Rio bangkit, berjalan ke tempat mandi yang berada di desa ini. Sebelumnya para warga harus mengambil air di luar desa karena para petarung melarang untuk memakai air di desa. Hal ini karena banyak para petarung mengambil air untuk keperluan mandi dan minum mereka. Rio mencuci wajah, lalu hendak membuka baju untuk mandi.
"Biar saya cuci pakaian anda, tuan." ucap seorang wanita muda mengambil pakaian Rio.
"Iya, terima kasih."
Setelah mandi, Rio berjalan keluar desa mengambil 25 para petarung yang berada di dalam hutan, yang di ikat sebelumnya. Di dalam rumah besar, banyak para petarung masih di rawat oleh warga desa. Suasana terlihat sibuk dan ribut mendengar keluhan mereka. Rio meletakkan dua orang terakhir di bawanya. Lalu pergi keluar mencari udara segar, berjalan ke pintu masuk desa. Di situ dia duduk di kursi meletakkan dua lengan di meja memandangi kondisi desa di buat seperti benteng kayu hanya di bagian depan.
"Hei, Rio kamu ngapain di situ?" Jinsin memanggil lalu menghampirinya.
"Sini duduk. Aku lagi jaga saja. Siapa tahu para petarung lemah yang kabur itu datang lagi." Jinsin diam, lalu menoleh kehutan gelap.
"Hari ini warga desa akan menjaga pintu masuk ini. Kamu istirahat sana." ucap Jinsin menyuruhnya.
"Begitu ya, mana mereka kok gak." Empat orang warga desa berjalan membawa cangkul, garpu rumput dan parang kebun menuju Mereka berdua.
"Hari ini kamu yang jaga, tuan."
"Kalau begitu terima kasih." Rio berdiri tersenyum ke mereka lalu pergi. Para petarung yang kabur mengintip di hutan malam gelap.
"Lihat itu, mereka yang jaga desa."
"Apa kita kesana."
"Jangan dulu tunggu waktu tepat, liar siapa lawan kita." tiga petarung mengintip pintu masuk, masih ada Jinsin dan warga desa di sana. Mereka diskusi untuk merencanakan menguasai desa lagi.
"Ayo kita laporkan sama bos." Anggota Johin pergi menemuinya untuk melaporkan keadaan desa di tempat persembunyian. Jinsin duduk bersama warga desa, hendak meninggalkan mereka untuk tidur.
"Haakhhh.... Haaaakhhh...." dengkur Rio.
"Belum larut malam saja sudah tidur." Jinsin berdiri melihat Rio, mendengar dengkuran tidur di dekat pintu. Jinsin duduk di alas tidur merasakan ke sunyian malam di dalam rumah. Mata sudah berat mengantuk. Dia berbaring tidur di kamar.