NovelToon NovelToon
Takdir Kejam Sang Duda

Takdir Kejam Sang Duda

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Balas Dendam
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Giarty gia

"Dia sudah mati. Menangis sampai darah pun tidak akan mengembalikannya."

Di usia sebelas tahun, Freya Anindita kehilangan segalanya dalam kecelakaan maut. Di malam yang kelam itu, Galen Danendra menariknya dengan kejam dari jasad sang papa, lalu mengurungnya dalam sangkar emas atas nama wasiat dan harta peninggalan.

Tujuh tahun berlalu, takdir kembali mempermainkan mereka dengan cara yang lebih kejam. Istri Galen tewas dalam kecelakaan tragis saat hendak menjemput Freya pulang sekolah—sebuah fakta yang sama sekali tidak diketahui oleh Freya.

kini, menghadapi Galen yang telah menjelma menjadi seorang duda yang penuh dendam, Freya yang duduk di bangku kelas 3 SMA harus menelan pil pahit. Ia dituduh sebagai pembawa sial sejak kecil.

Di antara jerat rasa bersalah yang dipaksakan dan tatapan benci Galen yang kian mengintimidasi, mampukah Freya lolos dari takdir kejam sang duda?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Giarty gia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30. Sangkar yang Berbeda.

***

Langkah kaki Galen menggema dingin menyusuri lorong marmer lantai empat puluh gedung pencakar langit Danendra Group. Pria berusia dua puluh sembilan tahun itu melangkah masuk ke dalam ruang kerja pribadinya yang luas dengan aura predator yang masih melekat pekat.

Ia menghempaskan tubuhnya di atas kursi kebesaran di balik meja jati raksasa.

Sepasang mata elangnya menatap kosong ke arah jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan kota Jakarta. Pikirannya masih terusik oleh senyuman manis Freya saat membaca pesan teks dari bocah ingusan itu di dalam mobil tadi.

Tok, tok, tok.

"Masuk," Perintah Galen dingin.

Pintu ruang kerja terbuka pelan, menampilkan sosok Ferdi yang melangkah masuk dengan memegang sebuah tablet kerja di tangannya. Sang asisten pribadi membungkuk hormat.

"Selamat pagi, Tuan Galen," Sapa Ferdi dengan nada suara yang sangat formal. "Saya ingin melaporkan agenda pagi ini. Pukul sepuluh nanti, Anda memiliki jadwal pertemuan rapat penting di luar kantor bersama jajaran direksi dari Mahardika Group untuk membahas investasi proyek baru."

Galen membenarkan posisi jam tangan mewahnya secara kaku, lalu mengangguk tipis tanpa ekspresi. "Siapkan berkas-berkas nya. Pastikan mobil sudah bersiap di lobi bawah tiga puluh menit sebelum jadwal."

"Baik, Tuan. Semuanya segera saya koordinasikan," Jawab Ferdi sigap, lalu menunduk takzim dan melangkah keluar dari ruangan, meninggalkan sang atasan yang kembali terkunci di dalam perang batinnya sendiri.

Sementara itu, di waktu yang bersamaan di kelas XII IPA 1 SMA Pelita Bangsa…

Atmosfer di dalam ruang kelas terasa begitu hening dan fokus. Freya, Rendy, dan Sella sudah mengikuti jalannya pelajaran Matematika sejak beberapa menit lalu.

Di depan papan tulis, guru mata pelajaran sedang menuliskan deretan soal latihan tingkat lanjut yang cukup rumit.

"Anak-anak, ini ada lima soal latihan tentang aplikasi turunan fungsi. Silahkan segera dikerjakan di buku tugas masing-masing," Perintah sang guru sembari meletakkan spidolnya. "Setelah selesai, tepat saat jam pelajaran matematika ini habis nanti, buku tugas harus sudah terkumpul di meja saya."

"Baik, pak..." Sahut seisi kelas serempak.

Freya bergerak lincah menggerakkan pulpennya di atas kertas. Kejeniusan akademiknya membuat jemari lentiknya dengan sangat mudah menjabarkan setiap rumus rumit tersebut tanpa ada satu pun hambatan.

Di barisan depan, Rendy sesekali menoleh ke belakang, melemparkan senyuman hangat yang dibalas anggukan lembut oleh Freya.

Kringgggggggggg!

Lonceng penanda pergantian jam pelajaran akhirnya berbunyi nyaring. Sang guru Matematika merapikan tasnya, lalu menoleh ke arah meja barisan ketiga.

"Freya, karena kamu ketua bidang akademik kelas, tolong kumpulkan semua buku teman sekelasmu sekarang. Segera kumpulkan ke ruang guru Matematika di lantai bawah, ya," Perintah sang guru dengan tegas.

"Baik, pak," Jawab Freya sopan. Ia segera berdiri dan mulai berjalan berkeliling memunguti buku tugas teman-temannya yang bertumpuk tinggi.

Melihat tumpukan buku yang tebal dan berat itu mulai menyiksa lengan kecil Freya, Rendy dengan sigap bangkit dari kursinya. Cowok jangkung itu langsung merebut setengah dari tumpukan buku di tangan Freya dengan senyuman jahilnya.

"Sini, biar aku bantu. Tangan kecilmu itu tidak cocok membawa beban berat," Goda Rendy, suaranya yang berat terdengar sangat manis.

Freya mencibir gemas, namun batinnya merasa sangat hangat. "Makasih ya, Rendy si paling ahli membantu."

"Sama-sama, Cantik. Yuk jalan," Kekeh Rendy.

Keduanya pun berjalan beriringan menyusuri koridor sekolah menuju ruang guru di lantai bawah.

Setelah meletakkan tumpukan buku tugas tersebut dengan rapi di atas meja guru Matematika, mereka kembali melangkah menaiki anak tangga untuk kembali ke kelas.

Namun, tepat saat mereka hampir mencapai koridor lantai dua, Freya tiba-tiba menghentikan langkahnya sembari memegangi perutnya.

"Ren, kamu ke kelas aja dulu ya untuk mengikuti pelajaran selanjutnya," Ucap Freya agak terburu-buru. "Aku tiba-tiba ingin ke toilet sebentar. Kebelet."

Rendy mengangguk paham. "Oh, oke. Jangan lama-lama ya, Frey. Setelah ini pelajaran Fisika, gurunya suka tidak suka kalau ada murid yang telat masuk kelas."

"Iya, aman kok. Duluan ya, Ren!". Pamit Freya, langsung memutar tubuh sintalnya menuju ke arah toilet wanita yang terletak di ujung lorong lantai dua yang agak sepi.

Freya melangkah masuk ke dalam area toilet, menyelesaikan urusannya di dalam salah satu bilik. Setelah selesai, ia membasuh tangannya di wastafel dan merapikan poni tipisnya di depan cermin. Namun, tepat saat ia memutar tubuhnya dan berniat keluar dari toilet…

Cklek.

Suara besi beradu yang teramat kasar terdengar dari balik pintu utama toilet wanita. Pintu tersebut mendadak tertutup rapat dan disusul oleh suara gembok luar yang dikunci secara paksa.

Freya tersentak kaget. Ia langsung berlari maju dan meraih gagang pintu, mencoba mendorongnya kuat-kuat. Namun, pintu itu tetap bergeming kaku.

"Halo? Siapa di luar? Tolong buka pintunya! Pintu toiletnya tidak bisa dibuka!". Pekik Freya, suaranya melengking cemas sembari mengetuk-ngetuk permukaan kayu pintu berulang kali.

Sialnya, di atas meja kelas XII IPA 1 saat ini, ponsel pintar milik Freya tertinggal di dalam tas sekolahnya. Ia lupa membawa ponselnya ke toilet karena terburu-buru tadi, membuatnya benar-benar kehilangan akses komunikasi.

Sementara itu, tepat di balik dinding pintu luar toilet…

Sesosok gadis remaja berseragam OSIS ketat dengan riasan wajah yang agak tebal tampak berdiri sembari memegang sebuah palang besi kecil yang ia pasang di celah gembok luar pintu toilet. Dia adalah musuh bebuyutan Freya dari kelas sebelah, seorang siswi yang sejak tahun pertama sangat tidak menyukai kehadiran Freya di sekolah ini.

Gadis itu menatap pintu toilet yang tertutup dengan seulas senyum smirk yang teramat sinis dan puas. Di dalam hatinya, rasa iri dan dengki sudah lama membakar batinnya. Ia merasa teramat tersaingi karena Freya selalu dinilai jauh lebih cantik, menjadi juara kelas, dan menjelma sebagai siswi terpopuler di SMA Pelita Bangsa setiap tahunnya. Semua perhatian cowok-cowok populer, termasuk Rendy, selalu tertuju pada Freya.

"Rasain Lo, Freya sialan. Duduk manis saja Lo di dalam sana sampai jam pulang sekolah". Bisik gadis itu penuh nada kemenangan yang licik.

Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, ia langsung membalikkan tubuhnya, melangkah cepat meninggalkan koridor toilet yang sepi, dan kembali ke ruang kelasnya sendiri dengan wajah tanpa dosa seolah tidak terjadi masalah apa pun.

Di dalam toilet yang sunyi, Freya mulai merasa lelah mengetuk pintu. Napas remajanya memburu pendek. "Astaga... kok tidak bisa dibuka ya? Apa kuncinya rusak dari luar?". Gumam Freya pada dirinya sendiri.

***

Waktu bergulir dengan cepat. Di dalam ruang kelas XII IPA 1, pelajaran Fisika sudah dimulai dan berlangsung selama lebih dari lima belas menit. Di barisan meja nomor tiga, Sella terus-menerus menatap ke arah pintu kelas yang masih tertutup rapat, lalu melirik ke arah kursi kosong di sampingnya.

Rendy yang duduk di depan juga mulai bergerak gelisah di kursinya. Cowok itu sesekali menoleh ke belakang, menatap Sella dengan kerutan dalam di keningnya, memberikan isyarat cemas melalui tatapan matanya.

Sella yang sudah tidak bisa menahan rasa khawatirnya akhirnya langsung menegakkan tubuh dan mengangkat tangan kanannya di udara, memotong penjelasan guru Fisika di depan kelas.

"Permisi, Pak!". Sela Sella dengan nada suara yang teramat sopan. "Mohon maaf mengganggu waktunya, Pak. Saya ingin izin ke toilet sebentar untuk menyusul Freya. Sudah lebih dari lima belas menit Freya izin ke belakang dari jam Matematika tadi, tapi dia tidak kunjung kembali ke kelas. Saya takut Freya sedang sakit di dalam."

Guru Fisika itu menurunkan kacamata bacanya sejenak, melirik ke arah kursi Freya yang kosong, lalu mengangguk pelan. "Oh, iya benar. Silakan susul Freya, Sella. Takutnya asam lambungnya kambuh lagi seperti bulan lalu."

"Baik, Pak. Terima kasih banyak". Jawab Sella terburu-buru. Gadis berambut pendek itu langsung bangkit dari kursinya dan berlari kecil keluar kelas, melesat menyusuri koridor lantai dua menuju toilet wanita di ujung lorong.

Begitu langkah kakinya sampai di depan pintu toilet, mata Sella seketika membelalak sempurna melihat sebuah palang besi kecil sengaja diganjal di sela gagang pintu dari luar.

"Astaga! Freya! Lo di dalam, Frey?!". Pekik Sella heboh, langsung menarik palang besi tersebut hingga terlepas dan melemparnya ke lantai.

Cklek.

Pintu terbuka lebar dari dalam, menampilkan sosok Freya yang sedang berdiri dengan helaan napas panjang yang teramat lega begitu melihat wajah sahabatnya.

"Sella! Untung Lo datang, Sell! Sumpah, pintu ini tadi tiba-tiba tidak bisa dibuka dari dalam. Aku kira kuncinya rusak atau ada kerusakan sistem". Cerita Freya dengan nada suara yang kembali tenang, mencoba tersenyum tipis menghalau kepanikannya.

Dan ternyata benar, Freya memang terjebak di dalam kamar mandi karena ganjalan besi tadi. Sella menatap palang besi di lantai dengan kening berkerut. "Kok bisa ada besi mengganjal di luar begini ya, Frey? Aneh banget."

Di antara mereka berdua, tidak ada satu pun yang tahu bahwa Freya sebenarnya sengaja dikunci dari luar oleh musuhnya. Namun, Freya yang memiliki hati yang teramat bersih memilih untuk tetap bersikap positive thinking.

Ia tidak ingin mengambil pusing atau merusak sisa harinya di sekolah hanya karena masalah sepele yang ia kira sebagai ketidaksengajaan.

"Sudahlah, Sell. Mungkin tadi ada petugas kebersihan yang tidak sengaja menaruh besi itu di sana atau ada anak jail yang tidak sengaja menyenggolnya. Gak usah diambil pusing ah, yuk kita kembali ke kelas sekarang sebelum guru Fisika mengamuk". Ucap Freya riang, merangkul santai lengan Sella.

Sella menghembuskan napas panjang, ikut tersenyum. "Iya deh, si paling positif. Yuk buruan!".

Kedua gadis remaja itu pun berjalan beriringan dengan langkah terburu-buru kembali menyusuri koridor lantai dua, masuk ke dalam ruang kelas XII IPA 1, menduduki kursi masing-masing, dan kembali fokus mengikuti jalannya pelajaran Fisika dengan ketenangan dunia masa muda yang penuh warna, melupakan sejenak riak sangkar kecil yang sempat mengurung kebebasan Freya beberapa menit lalu.

***

1
Alissia
gengsi amat bang kalau bilang suka🤭🤭
Giarty gia: duda satu ini pokoknya gengsi nya yang di gedein. 😄
total 1 replies
Giarty gia
hai... jangan lupa tinggalkan jejak ulasan dan bintang 🌟 nya ya guyss di kolom ulasan. supaya saya juga semangat update bab setiap hari. karena bab selanjutnya akan banyak kejutan. happy reading 🥰
Alissia
awas lo galen,jangan gengsi di gedein ayo nyatain pereasan dong 🤭🤭
Alissia
udah jatuh cinta sama freya tapi gengsi setinggi langit dan keras kepala 🤭🤭🤭
Giarty gia: Ahahaha ketahuan banget ya gengsinya setinggi langit! Freya deket sama Rendy udah ketar-ketir tuh si duda, cuma gengsi aja gak mau ngaku. Siap-siap liat si duda makin tersiksa sama perasaannya sendiri ya! 🤣 Dudanya lagi mode denial maksimal
total 1 replies
Giarty gia
Terima kasih banyak ya, teman-teman, sudah membaca kisah ini! Kalau cerita ini berhasil menghibur atau menyentuh hati kalian, yuk dukung author dengan memberikan ulasan terbaik dan rating bintang 5. Setiap dukungan dari teman-teman adalah energi luar biasa bagi saya untuk terus berkarya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!