NovelToon NovelToon
Di Bawah Sepatu, Di Atas Tahta

Di Bawah Sepatu, Di Atas Tahta

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Anak Genius / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: arrasy

Di balik sapu yang digenggamnya, Bagas menyimpan kecerdasan yang tak pernah disadari siapa pun. Ia pun diam-diam memendam rasa pada Naya, wanita yang dunianya terasa sejauh langit dan bumi darinya. Dihimpit kemiskinan dan biaya pengobatan ibu yang mahal, ia bertekad mengubah setiap informasi yang didengarnya menjadi jalan keluar. Cintanya yang tulus perlahan meluluhkan hati Naya, meski harus berhadapan dengan penghinaan, saingan licik, dan larangan tegas orang tua. Saat segalanya tampak mustahil dan terhalang tembok kasta tinggi, Bagas pergi membangun kerajaan bisnisnya sendiri dari nol. Ia kembali bukan lagi sebagai OB yang diremehkan, melainkan pengusaha sukses yang membuat semua orang terdiam kagum. Bukti nyata bahwa kesabaran dan ketajaman akal mampu mengangkat derajat setinggi langit. Akhirnya, ia bersanding dengan pujaan hati, hidup bahagia, dan membuktikan bahwa nasib buruk bisa diubah menjadi kemewahan yang abadi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 : Dekat dalam diam

Sejak kabar tentang sosok misterius yang dijuluki "orang pintar" itu beredar, suasana hati Naya berubah semakin menjadi penasaran. Di setiap sudut gedung, di setiap lorong yang ia lalui, matanya seolah tak henti mencari-cari. Ia ingin sekali menemukan siapa sosok jenius yang diam-diam menyelamatkan perusahaan berkali-kali itu. Di dalam benaknya, ia membayangkan sosok laki-laki berwibawa, berpendidikan tinggi, mungkin staf ahli dari divisi lain yang rendah hati, atau seseorang yang sangat ahli di bidangnya. Ia sama sekali tak pernah menyangka, bahwa sosok yang ia cari itu justru selalu ada di dekatnya, berjalan selangkah di belakang atau berpapasan sebentar di koridor, mengenakan seragam abu-abu tua kebesaran yang sama setiap hari.

Bagas pun merasakan perubahan yang sama, meski dengan cara yang berbeda. Uang pemberian Pak Hendra telah mengubah banyak hal dalam hidupnya. Hutang lunas, ibunya kini bisa beristirahat dengan tenang dan makan makanan bergizi, serta ia punya sedikit modal yang disimpan rapi. Beban berat di pundaknya telah hilang, digantikan oleh rasa percaya diri yang perlahan tumbuh.

Meski begitu, Bagas tetaplah Bagas. Ia tidak berubah menjadi sombong atau berani melampaui batas. Ia tetap bekerja seperti biasa, tetap menyapu, tetap mengepel, dan tetap berjalan menundukkan pandangan. Hanya saja, kini ada pancaran mata yang lebih tenang, lebih cerdas, dan lebih berani, meski tersembunyi rapat di balik sikap sederhananya.

Pertemuan demi pertemuan pun makin sering terjadi, seolah ditarik oleh benang tak kasat mata. Dulu, berpapasan dengan Naya adalah hal langka yang membuat jantung Bagas berdegup kencang karena gugup dan rasa rendah diri. Sekarang? Bagas tetap menghormat, tetap sopan, tapi hatinya jauh lebih tenang. Ia tahu nilainya. Ia tahu, meski secara jabatan ia masih di bawah, tapi secara kemampuan dan pemikiran, ia sejajar bahkan mungkin melebihi banyak orang yang ada di lantai atas sana.

Siang itu, di dekat ruang makan karyawan, Naya berdiri sendirian sambil memegang gelas kopi, menatap keluar lewat jendela kaca besar yang memandang ke arah kota. Wajahnya tampak berkerut, matanya menerawang jauh, seolah sedang memikirkan masalah berat yang rumit. Bagas yang kebetulan lewat sambil membawa ember dan kain pel, melambatkan langkahnya. Ia tahu persis apa yang sedang dipikirkan Naya. Tadi pagi, ia mendengar perbincangan tentang masalah persaingan harga yang cukup pelik yang sedang dihadapi perusahaan.

Saat Naya berbalik hendak pergi, ia kaget melihat Bagas berdiri tak jauh dari situ, sedang membenahi alat kebersihannya.

"Eh... kamu," sapa Naya agak kaku. Ia memang sering melihat Bagas, tapi akhir-akhir ini ia jadi makin sadar akan keberadaan pemuda itu. Ada sesuatu dari diri Bagas yang membuatnya sulit untuk dilewatkan begitu saja.

"Selamat siang, Nona," sapa Bagas balik dengan sopan, membungkuk sedikit namun matanya menatap lurus ke manik mata Naya dengan pandangan yang tenang dan jernih.

Naya mengangguk pelan, lalu tanpa sadar bibirnya berucap apa yang sedang mengganjal di hatinya. "Kamu... pernah merasa kalau usaha yang sudah dilakukan semaksimal mungkin ternyata masih ada saja yang kurang? Seolah sudah berjalan di jalur yang benar, tapi ternyata masih kalah cepat dengan orang lain?"

Pertanyaan itu terdengar aneh keluar dari mulut seorang Naya, apalagi ditujukan pada seorang petugas kebersihan. Biasanya ia takkan pernah berbagi keluhan dengan siapa pun, apalagi dengan karyawan rendahan. Tapi entah kenapa, di hadapan Bagas, rasanya aman. Rasanya pemuda ini bisa mengerti, meski ia sendiri tak tahu alasannya.

Bagas tersenyum tipis, senyum yang penuh makna. Ia menatap Naya lekat-lekat, lalu berucap pelan namun tegas, suaranya rendah dan berisi.

"Jalur tercepat belum tentu jalur yang benar, Nona. Dan orang yang berlari paling kencang belum tentu yang sampai duluan. Kadang, yang menang itu yang paling pintar memilih jalan, bukan yang paling banyak tenaganya. Kalau kita merasa tertinggal, mungkin bukan karena kita lambat, tapi karena kita belum lihat jalan pintas yang ada di samping kita."

Naya tertegun. Ia menatap Bagas lekat-lekat, matanya membelalak sedikit kaget. Kata-kata itu sederhana, tapi maknanya begitu dalam, begitu tajam, dan begitu pas menyentuh inti masalah yang sedang ia hadapi. Bukankah itu persis masalahnya? Mereka sibuk berlari di jalur utama, sementara pesaing mengambil jalan lain yang lebih efisien.

"Kamu... bicara apa sih?" "Kamu ngerti apa soal jalan atau lari-larian itu?"

Tanya Naya, berusaha menutupi rasa kagetnya dengan nada sedikit ketus, meski raut wajahnya menyiratkan rasa penasaran besar.

Bagas kembali menundukkan pandangan, kembali memasang topeng sederhananya, lalu menjawab tenang. "Cuma pepatah lama yang sering saya dengar, Nona. Hanya saja kadang kita lupa menyimpannya di hati. Saya permisi dulu ya, mau lanjut bekerja."

Ia berlalu begitu saja, melangkah pergi dengan tenang, meninggalkan Naya yang masih terpaku diam di tempat. Wanita itu menatap punggung Bagas yang menjauh dengan perasaan campur aduk. Ada rasa kagum, ada rasa bingung, dan ada rasa aneh yang mulai menjalar di dada. "Pepatah lama mana yang secerdas itu?" batin Naya bertanya-tanya.

Sejak hari itu, tanpa disadari Naya, ia mulai sering berada di tempat yang sama dengan tempat biasanya Bagas bekerja. Ia mencari-cari alasan. Kalau Bagas sedang membersihkan lantai dua puluh, Naya tiba-tiba punya urusan ke lantai dua puluh. Kalau Bagas sedang menyapu di taman dalam gedung, Naya tiba-tiba ingin mencari udara segar di sana. Ia sendiri bingung dengan tingkahnya sendiri.

"Apa sih yang kamu cari, Naya? Dia cuma petugas kebersihan biasa," omelnya pada diri sendiri setiap kali perasaannya mulai kacau.

 Tapi hatinya menjawab lain. Ada sesuatu pada Bagas yang membuatnya tertarik. Sikapnya yang sopan berlebihan tapi tidak merendahkan diri. Pandangannya yang selalu tahu tempat tapi berisi kecerdasan yang tersembunyi. Dan kata-katanya... setiap kali bicara, walaupun singkat, selalu ada bijak yang menohok dan membuatnya berpikir ulang.

Suatu sore hujan sangat deras, Naya terjebak di bawah atap pelindung di pintu samping gedung. Sopirnya terlambat datang menjemput, dan ia berdiri sendiri sambil memeluk berkas-berkas dokumennya, menatap derasnya air hujan yang turun membasahi jalanan aspal. Angin bertiup dingin, membuatnya sedikit menggigil.

Tiba-tiba ada gerakan di sampingnya. Bagas berdiri di sana, memegang selembar plastik penutup barang yang cukup besar. Ia berdiri agak jauh, menjaga jarak sopan seperti biasa, tapi matanya melirik sekilas ke arah Naya yang tampak kedinginan.

"Hujan agak lama sepertinya, Nona. Anginnya juga lumayan dingin," ucap Bagas pelan, memecah keheningan.

Naya menoleh. "Iya... sopirku kena macet di jalan."

Bagas diam sejenak, lalu perlahan melepaskan jaket tipis yang ia pakai di balik seragamnya. Dengan gerakan sangat sopan dan hati-hati, ia maju selangkah, mengulurkan jaket itu tanpa berani terlalu dekat.

"Kalau tidak keberatan... pakai ini dulu saja untuk menahan angin. Seragam saya tebal, saya nggak dingin kok. Nona kan sering sakit kalau kena angin malam," kata Bagas.

Kalimat terakhir itu terucap begitu saja, membuat keduanya sama-sama terdiam. Bagas sadar ia baru saja mengungkapkan bahwa ia memperhatikan kebiasaan Naya. Naya pun terkejut. Ia kaget bukan main. Bagaimana pemuda ini tahu kalau ia mudah sakit kalau kena angin? Padahal itu hal kecil yang jarang diketahui orang.

Naya menatap jaket itu, lalu menatap wajah Bagas. Di bawah cahaya lampu sorot gedung, wajah Bagas terlihat begitu tenang, begitu jujur, dan... begitu tampan. Jantung Naya berdegup kencang, jauh lebih kencang dari biasanya. Rasa dingin yang tadi ia rasakan seketika hilang, digantikan oleh rasa hangat yang aneh menjalar dari dada ke seluruh tubuhnya.

"Kamu... kok tahu aku gampang sakit kalau kena angin?" tanya Naya pelan, suaranya sedikit bergetar.

Bagas tersenyum tipis, senyum yang menyimpan seribu makna rahasia. "Karena saya selalu melihat, Nona. Saya melihat banyak hal yang orang lain lewatkan. Saya melihat hal-hal kecil, hal-hal sederhana."

Jawaban itu bukan jawaban merendahkan, bukan jawaban yang lancang. Itu adalah jawaban seorang pengamat yang diam, seorang pria yang menyimpan perhatian dalam keheningan. Jawaban itu menusuk tepat ke jantung hati Naya. Ia merasa tersentuh, merasa dilihat, merasa dihargai dengan cara yang belum pernah ia rasakan dari laki-laki lain. Laki-laki lain mendekatinya karena ia kaya, karena ia cantik, karena ia anak pemilik perusahaan. Tapi Bagas? Dia melihat hal-hal kecil, hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan kekayaan atau jabatan.

Dengan tangan sedikit gemetar, Naya menerima jaket itu. "Te... terima kasih," ucapnya lirih. Ia memakaikan jaket itu. Jaket itu berbau sabun wangi dan sedikit aroma keringat laki-laki yang segar. Aroma itu membuatnya merasa aman, merasa dilindungi.

Mereka berdiri diam berdua di bawah atap itu selama beberapa menit, mendengarkan suara hujan, tanpa ada yang bicara. Jarak di antara mereka cukup jauh, sesuai aturan sopan santun, tapi rasanya... rasanya hati mereka berdiri begitu dekat, begitu rapat, seolah tak ada sekat apa pun.

Naya mencuri pandang ke arah Bagas. Ia melihat profil wajah pemuda itu yang tegas, melihat rahangnya yang kokoh, melihat matanya yang menatap jauh ke arah jalanan. Di saat itu, benak Naya kembali bertanya-tanya. "Siapa sebenarnya kamu, Bagas? Kenapa setiap kali bicara kamu selalu punya makna dalam? Dan kenapa... kenapa aku jadi betah berdiri di sini bersamamu, padahal kamu hanya seorang petugas kebersihan?"

Perasaannya kacau balau. Ada gengsi yang menolak, ada akal sehat yang bilang ini tak pantas, tapi ada hati yang berteriak ingin lebih dekat. Ia ingin bertanya banyak hal. Ia ingin bertanya apa isi kepala pemuda ini. Ia ingin bertanya, apakah pemuda ini juga merasa hubungan mereka lebih dari sekadar atasan dan bawahan.

Namun, mobil jemputan datang memecah suasana. Mobil mewah itu berhenti tepat di depan mereka. Naya menghela napas panjang, lalu melepas jaket itu perlahan, meski berat rasanya.

"Mobilku sudah datang. Sekali lagi terima kasih ya," ucap Naya, suaranya lebih lembut dari sebelumnya, matanya menatap mata Bagas lebih lama dari yang seharusnya.

"Sama-sama, Nona. Hati-hati di jalan," jawab Bagas singkat, kembali membungkuk hormat, kembali menjadi sosok karyawan yang tahu diri.

Saat mobil itu melaju meninggalkan gerbang, Naya menoleh ke belakang lewat kaca jendela. Ia melihat Bagas masih berdiri di sana, menatap kepergiannya dalam diam, dengan senyum kecil yang tak lepas dari bibirnya. Di dalam mobil yang nyaman dan hangat itu, Naya meremas tangannya sendiri, hatinya berdebar tak menentu.

"Ada yang salah sama aku," gumamnya pelan sambil menggelengkan kepala bingung. "Kenapa aku merasa orang yang paling menarik, paling pintar, dan paling aku kagumi di gedung itu justru dia? Bagas si petugas kebersihan? Apa aku sudah gila?"

1
miumiu
ada sedihnya tapi ada kekuatan juga. lanjuut ya thor.
curbel
seru juga. Dan enak dibaca. 👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!