Aldara, wanita yang hatinya baru saja remuk redam ditinggalkan kekasih demi wanita lain, berusaha menyembunyikan kesedihannya di balik senyum tenang agar tidak dikasihani orang lain. Ketika dipanggil oleh kenalannya, Siska, untuk bertemu di kafe langganan, ia tidak menyangka bahwa kunjungannya kali ini akan menjadi titik balik hidupnya. Di sana ia diperkenalkan kepada Aries—seorang pemuda pendiam namun memiliki pesona tersendiri. Pertemuan yang awalnya terasa biasa saja perlahan membuka jalan bagi sebuah kisah baru yang akan menyembuhkan luka lama dan mengajarkan Aldara arti cinta yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chinta Maulana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 008: Pertemuan dengan Mantan Kekasih
Belum lama suasana tenang kembali setelah kejadian dengan Mondol, ponsel Aldara berdering lagi. Nama yang tertera di layar membuat jantungnya berdegup tak menentu. Hanzo, pria yang pernah melukai hatinya paling dalam, pria yang pergi meninggalkannya demi wanita lain. Dengan hati yang sudah lebih kuat dari dulu, Aldara tetap mengangkatnya, dan akhirnya menyetujui ajakan bertemu di sebuah kafe yang sepi dan tertutup, agar tidak ada keributan.
Di ruang VIP kafe itu, hanya ada mereka berdua. Udara terasa kaku dan dingin. Aldara duduk tegak dengan wajah datar, matanya menatap ke luar jendela tanpa mau memandang sosok pria di hadapannya.
“Katakan saja, apa yang membuatmu berani menghubungi dan meminta bertemu denganku setelah semua yang terjadi?” tanya Aldara dengan nada dingin dan tenang.
Hanzo menunduk, lalu mengangkat wajahnya dengan tatapan penuh penyesalan. “Dar, maafkan aku. Aku sadar sudah salah besar. Kita mulai saja semuanya dari awal lagi ya? Sebenarnya sampai detik ini aku masih sangat sayang padamu,” ucapnya memohon, lalu berusaha menggenggam tangan Aldara dengan lembut.
Namun Aldara segera melepaskan genggaman itu secara halus namun tegas. “Maaf, Nzo. Aku tidak bisa. Sekarang sudah ada hati yang harus aku jaga, ada perasaan baru yang telah menumbuhkan kembali senyumku yang sempat hilang,” jawabnya mantap tanpa keraguan.
Setelah mengatakan itu, Aldara berdiri dan melangkah pergi, meninggalkan Hanzo yang duduk terpaku sendirian di meja itu dengan wajah penuh rasa bersalah dan penyesalan yang terlambat.
Sepanjang perjalanan pulang, pikiran Aldara melayang kembali ke masa lalu. Ia teringat betapa hari-harinya dulu selalu diwarnai air mata, rasa curiga, dan kekecewaan mendalam saat masih bersama Hanzo. “Maaf, Hanzo. Dulu kamulah yang membuatku pergi dan melupakanmu. Sekarang, aku tidak mungkin menyakiti orang yang sudah datang membawa ketulusan untukku,” gumamnya pelan dalam hati.
Kini, selama tiga hari ke depan Aries harus berada di luar kota dan tidak bisa menghubunginya karena jaringan yang sulit. Rasa sepi sempat menyelimuti, namun Aldara tidak lagi tenggelam dalam kesedihan seperti dulu. Ia memilih mengisi waktunya dengan hal-hal yang membuat hatinya tetap tenang.
Keesokan harinya, ia pergi bertemu ketiga sahabat terdekatnya: Shaina, Hafizah, dan Dede Ara. Mereka menghabiskan waktu dengan mengunjungi taman kota, berjalan-jalan, makan makanan kesukaan, dan tertawa lepas melepaskan segala beban pikiran. Bersama mereka, Aldara merasa dikelilingi kasih sayang yang tulus tanpa syarat.
Namun saat malam tiba, ketika suasana menjadi sunyi, ia sering kali pergi ke rumah Abang Chepot. Di sana ia duduk di teras, ditemani secangkir teh hangat, dan bercerita panjang lebar layaknya adik yang mengadu pada kakak kandungnya.
“Abang, rasanya aneh ya. Dulu aku pikir hatiku sudah mati, tidak bisa lagi menerima siapapun. Tapi setelah bertemu Aries, semuanya terasa berbeda. Bahkan saat dia pergi dan tidak ada kabar begini, aku tidak merasa takut ditinggalkan lagi, hanya sedikit rindu saja,” ucap Aldara pelan sambil memandang bintang di langit.
Abang Chepot tersenyum lembut sambil menepuk bahunya. “Itu tandanya dia berhasil mengobati luka lama itu, Dede. Kalau dia memang jodohmu, dia akan kembali dengan selamat dan membawa kebahagiaan yang lebih besar lagi. Tenang saja, kami semua ada di sini untukmu, kapanpun kau butuhkan aku akan selalu ada buat kamu dede.”
Mendengar ucapan itu, hati Aldara terasa jauh lebih tenang. Ia menyadari, meski Aries tidak ada di sisinya saat ini, ia tidak lagi merasa sendirian. Ada keluarga baru, ada sahabat, dan ada keyakinan bahwa cinta yang tulus akan selalu menemukan jalannya untuk kembali.