NovelToon NovelToon
Legacy Of Soryu: In The Name Of Love And Blood

Legacy Of Soryu: In The Name Of Love And Blood

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Istana/Kuno / Balas Dendam
Popularitas:97
Nilai: 5
Nama Author: AzhuraAstra

Sembilan belas tahun lalu, Ryuichi Soryu ditemukan tewas dengan cara yang mengguncang jagat dunia bisnis Indonesia.

Berita kematiannya menjadi tajuk utama di seluruh kanal media pada saat itu, memicu kepanikan massal hingga membuat saham-saham di bawah naungan Soryu Group terjun bebas ke titik terendah.

Polisi menutup kasus itu dengan dalil "perampokan biasa" sebuah narasi yang tak masuk akal bagi siapa pun yang mengenal konglomerat berdarah Jepang itu.

Yang membuat kasus pembunuhan itu semakin terlihat jangal adalah tak ada satupun barang berharga yang hilang, tak ada satu pun saksi mata dikejadian perkara, seolah nyawa sang konglomerat hilang begitu saja.

Bagi sang putra, kematian ayahnya itu bukan sekadar tragedi. Itu adalah luka yang membekas di hidupnya selamanya.

Sekarang dirinya sedang mencari sang pelaku dan menyeretnya menuju kehancuran yang setimpal dengan apa yang dia dan ayahnya rasakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzhuraAstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

𖣂|Bab 23 Kakakku Yang Posesif|

...|Legacy of Soryu|...

......· · ─ ·𖥸· ─ · ·......

Rudi Hartanto melangkah memasuki rumahnya dengan langkah yang tergesa-gesa. Pintu depan dibuka cepat oleh sopirnya dari luar, namun Rudi langsung melengos masuk ke ruang tengah. Dia menyentak jasnya, lalu melemparnya kasar ke atas sofa.

"VINA!"

Suaranya menggelegar, memantul di dinding-dinding tinggi rumah mewah itu. Seorang asisten rumah tangga yang sedang menyapu di sudut ruang makan seketika membeku. Ia menunduk dalam, lalu melangkah mundur menjauhi area tengah.

Dari arah tangga, terdengar suara hentakan kaki santai dari anak tangga.

Vina turun dengan satu tangan memegang ponsel, sebelah kupingnya disumbat earphone. Wajahnya sama sekali tidak bergeser dari ekspresi datarnya saat melihat raut merah padam sang ayah.

"Ayah pulang cepat," ujar Vina.

"Duduk."

"Aku ada—"

"DUDUK!" Rudi membentak.

Vina mengembuskan napas pendek, mencopot earphone-nya, lalu duduk di sofa panjang. Matanya yang tajam mulai mencoba membaca situasi.

Rudi berdiri tepat di hadapannya. Tangannya mengepal erat hingga gemetar.

"Tadi siang," kata Rudi dengan suara rendah yang ditekan, "ada orang datang ke kantor ayah."

Vina hanya diam menatap ayahnya.

"Tanpa janji, tanpa pemberitahuan terlebih dahulu sebelumnya. Dia langsung menerobos masuk ke kantor ayah. Dan dalam waktu kurang dari setengah jam saja," Rudi menarik napas, "kontrak senilai empat puluh dua miliar rupiah milik kita diputus. Hari ini juga."

Vina mengernyit. "Kontrak yang mana?"

"Soryu Group."

Keheningan mendadak terasa mencekam.

"Soryu Group?" tanya Vina, mulai merasa ada yang tidak beres. "Kenapa mereka tiba-tiba—"

"Karena kamu!" Rudi menunjuk wajah Vina. "Orang itu menyebut namamu. Dia bilang kamu menyebarkan video busuk di kampus untuk merusak nama baik orang lain. Dan sebagai dampaknya, kerja sama kita dengan mereka selesai."

Vina menegakkan punggungnya. "Siapa orang yang datang itu?"

"Bara Soryu."

Vina mengernyitkan dahi. "Siapa dia?"

Rudi menatap putrinya dengan tatapan tidak percaya yang mendalam. "Kamu benar-benar tidak tahu?"

"Tidak."

Rudi menarik kursi kayu di dekat meja, lalu duduk tepat di depan Vina. Suaranya melunak, namun tekanannya justru terasa lebih berat.

"Siapa anak yang kamu cari gara-gara di kampus kemarin?"

"Anak baru," jawab Vina cepat. "Dia masuk di tengah semester. Penampilannya aneh, tidak tahu sopan santun, lagaknya seperti—"

"Namanya Bara Soryu," potong Rudi tegas. "Dia putra pewaris Soryu Group. Perusahaan raksasa yang menjadi penyokong utama bisnis kita selama tiga tahun terakhir. Dan dia memutus kontrak itu secara sepihak hanya karena ulah konyolmu."

Vina terkesiap. "P-putra... Pewaris?"

"Usianya baru dua puluh tiga tahun. Dan entah kenapa dia memilih duduk di kelasmu," Rudi memijat pelipisnya yang berdenyut. "Siapa yang memulai masalah ini, Vina?"

"Aku tidak—"

PLAK!

Satu tamparan keras mendarat tempat di pipi kanan Vina.

Suara tamparan itu menggema di ruangan yang luas itu. Vina terdiam, ia mematung di posisinya. Perlahan, ia mengangkat tangan kanannya untuk menyentuh pipinya yang mulai terasa panas dan berdenyut.

Rudi menurunkan tangannya. "Empat puluh dua miliar," desis Rudi dengan suara serak. "Proyek jangka panjang kita hancur hanya karena kamu tidak bisa mengontrol mulut dan jarimu di media sosial."

Vina menatap ayahnya. Matanya memerah, menahan air mata yang menolak untuk jatuh. "Aku benar-benar tidak tahu siapa dia, Ayah," bisik Vina.

"Itu yang membuat tindakanmu makin bodoh," balas Rudi dingin. "Kamu menghancurkan hal besar yang bahkan tidak kamu pahami."

Rudi berdiri, menyambar jasnya dari sofa. "Mulai besok, fokusmu di kampus hanya untuk belajar. Tidak ada gosip, tidak ada video, tidak ada drama kelompok sosialmu itu," kata Rudi ketat. "Kalau sampai aku mendengar nama Soryu bermasalah lagi denganmu, aku sendiri yang akan menyeretmu berlutut di hadapan mereka untuk meminta maaf. Paham?"

Vina menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Paham."

Rudi melangkah pergi. Meninggalkan Vina sendirian di ruang tengah.

Vina duduk sendirian di sofa. Ingatannya langsung berputar pada sosok pria berjaket kulit coklat yang duduk tenang di barisan belakang kelasnya. Pria yang mengabaikan semua omong kosongnya seolah dirinya sama sekali tidak penting.

"Sial! Aku tidak tahu kalo pria itu beneran CEO!"

...-Kediaman Adama - Kawasan Permata Hijau-...

...· · ─ ·𖥸· ─ · ·...

Rumah keluarga Adama bergaya modern minimalis dengan dominasi warna putih dan emas itu tampak tenang dari luar. Dua mobil terparkir rapi di garasi yang luas, diiringi suara gemercik air dari kolam koi di samping teras.

Namun di dalam rumah, suasananya justru sangat tegang. Sejak pukul tujuh pagi, isak tangis tertahan terus terdengar dari balik pintu kamar utama di ujung lorong lantai dua.

Nampan berisi sarapan pagi itu masih tergeletak utuh di depan pintu. Sudah dingin dan tidak tersentuh sama sekali.

Shu Hades berdiri di depan pintu kamar adiknya dengan kedua tangan di pinggang. Rambutnya agak berantakan karena dia baru saja bangun tidur dan langsung dipanggil oleh ibunya. Wajahnya mengeras, menatap pintu kayu di depannya dengan cemas.

"Nana, buka pintunya," panggil Shu dengan nada selembut mungkin.

Tidak ada jawaban.

"Na, ini Kakak. Ayo buka pintunya!"

Tetap hening.

"Kakak belikan boba kesukaanmu, ya? Tapi buka dulu pintunya."

Masih tidak ada respons.

Shu menghela napas kasar. Di sampingnya, Anzali Adama, berdiri dengan wajah pucat dan mata yang sudah sembab karena terus menangis sejak pagi, karena sangat mengkhawatirkan kondisi putrinya itu.

"Shu, jangan dipaksa dulu," bisik Anzali cemas.

"Aku sudah mencoba cara halus sejak tadi pagi, Ma," jawab Shu. "Sekarang kita pakai cara lain."

Shu mengambil ancang-ancang, lalu melayangkan tinjunya ke pintu kamar.

DUAR!

"Nana! Buka pintunya sekarang!"

Hening sebentar, sebelum terdengar suara isak tangis yang semakin tertahan dari dalam kamar. Suaranya serak, tanda Nana sudah menangis terlalu lama.

Shu menurunkan tangannya. Dadanya naik-turun menahan emosi yang mulai memuncak. Ia menoleh ke arah ibunya. "Ma, mundur sedikit."

"Shu, kamu mau apa—"

"Mundur, Ma. Tolong."

Setelah ibunya mundur beberapa langkah, Shu mengambil jarak tiga langkah dari pintu. Ia berlari kecil, lalu melayangkan tendangan kuat tepat ke arah slot kunci pintu.

BRAK!

Kayu di sekitar slot kunci retak, namun pintu itu masih juga bertahan. Shu mundur lagi, lalu menghantamkan kakinya sekali lagi dengan kekuatan penuh.

BRAK!

Pintu kayu itu jebol, menyisakan engsel atas yang tergantung miring. Begitu pintu berhasil dibuka Shu langsung melangkah masuk ke dalam kamar.

...-Kamar Nabhila-...

...· · ─ ·𖥸· ─ · ·...

Suasana dikamar Nana sangat pengap dan gelap gulita. Gorden jendela ditutup rapat, menghalau sinar matahari untuk masuk. Satu-satunya cahaya berasal dari celah pintu yang baru saja dirusak oleh Shu.

Di sudut ruangan, tepat di celah sempit antara ranjang dan dinding, Nana duduk meringkuk. Kedua matanya sudah bengkak kemerahan. Rambut panjangnya yang biasa dikepang rapi kini berantakan dan menempel di pipinya yang basah kena air mata.

"Nana..." Anzali langsung menerobos masuk dan berlutut untuk memeluk putrinya erat-erat.

"Sayang, ini Mama. Kamu kenapa, Nak?"

Shu berdiri tegak di tengah kamar. Melihat adiknya yang biasanya ceria dan manja kini malah meringkuk ketakutan seperti itu membuat dadanya berdenyut nyeri.

Shu melangkah mendekat, lalu berlutut di hadapan adiknya. Dengan sangat lembut, ia meletakkan jarinya di bawah dagu Nana, menengadahkan wajah adiknya itu agar menatapnya.

Mata Nana yang bengkak menatap Shu dengan tatapan kosong yang melelahkan.

"Kenapa, Na?" tanya Shu. Suaranya melunak, tidak ada sedikit pun nada membentak. "Kakak tidak marah. Tolong bicara dengan Kakak."

Nana menggigit bibir bawahnya, menahan tangis yang kembali membuncah.

"Maaf... Maafkan Nana, Kak. Maaf, Ma."

"Kamu tidak salah apa-apa, tidak perlu minta maaf," kata Shu sambil mengusap air mata di pipi adiknya dengan ibu jarinya. "Tapi Kakak harus tahu apa yang terjadi."

Nana kembali menunduk.

Shu bangkit berdiri. Matanya langsung tertuju pada ponsel milik Nana yang tergeletak di atas meja nakas dengan layar yang sedikit retak di bagian sudut.

"Kakak pinjam ponselmu."

"Jangan, Kak!" Nana mendongak panik, tangannya mencoba meraih ponsel itu.

"Kenapa?"

"Tolong jangan lihat—"

"Nana."

"KAKA, JANGAN!" Nana berteriak histeris.

Namun Shu sudah lebih dulu mengamankan ponsel tersebut di tangannya. "Berapa sandinya?"

"Tidak mau! Balikin Kakak!"

"Na, dengar Kakak," Shu menatap mata adiknya lekat-lekat. "Kakak bisa saja membawa ponsel ini ke ahli IT untuk membukanya, tapi itu membuang-buang waktu. Sementara orang yang membuatmu seperti ini di luar sana masih tenang-tenang saja. Kasih tahu Kakak cepat."

Anzali ikut menggenggam tangan Nana yang gemetar. "Kasih tahu Kakakmu, Sayang. Biar Kakak yang urus."

Nana memejamkan mata erat-erat, air matanya menetes lagi. "100806," bisiknya pasrah.

Shu dengan cepat menekan angka-angka tersebut. Ponsel terbuka, langsung menampilkan aplikasi WhatsApp yang dipenuhi ribuan notifikasi masuk.

Shu membuka grup angkatan kuliah Nana. Ia menggulir layar dengan cepat ke atas, membaca pesan-pesan yang dikirim sejak pagi.

"Kalian sudah lihat video Nana dengan cowok baru itu?"

"Serius? Mana link-nya?"

"Forwarded video"

"Gila, itu di tangga darurat kan? Jam istirahat pula, ih parah ya..."

"Kelihatannya polos, ternyata mainnya di tempat sepi, ups."

Shu berhenti membaca. Ia langsung memutar video yang dilampirkan di sana.

Video itu diambil diam-diam dari balik celah pintu yang sedikit terbuka. Di dalamnya terlihat Nana sedang berdiri berhadapan dengan seorang pria yang membelakangi kamera. Postur tubuh pria itu tegap, dengan tinggi badan yang proporsional.

Shu memperbesar gambar untuk mencari wajah si pria, namun posisinya menghalangi kamera. Hanya terlihat gerak-gerik tubuhnya yang tampak tenang dan dominan—bukan seperti gestur seorang mahasiswa biasa yang mudah gugup.

Shu mematikan layar ponsel itu, lalu menatap Nana kembali. "Siapa pria di video ini?" tanya Shu langsung.

Nana menggeleng cepat.

"Nana, siapa dia?" tanya Shu lagi, menuntut jawaban.

"Dia tidak bersalah, Kak," jawab Nana dengan suara serak. "Dia hanya menolongku kemarin. Kami hanya bicara biasa di sana, tidak melakukan apa-apa. Aku sumpah."

"Kalau tidak ada apa-apa, kenapa kamu sampai mengunci diri dan menangis seperti ini?"

"Karena Vina yang menyebarkan videonya," isak Nana. "Dia sengaja membuat narasi di grup agar orang-orang berpikir buruk tentangku."

"Dan pria ini membiarkannya?"

"Dia juga tidak tahu kalau kami direkam."

Shu menghela napas panjang. Ia tahu adiknya tidak sedang berbohong soal video tersebut, namun ada sesuatu yang sengaja ditutupi adiknya mengenai identitas pria itu.

"Siapa namanya?" tanya Shu sekali lagi.

Nana tetap menggelengkan kepala. "Tolong jangan cari dia, Kak."

"Kamu melindunginya?" Shu menaikkan sebelah alisnya.

"Bukan begitu. Aku hanya tidak ingin masalah ini semakin panjang dan rumit."

Shu berdiri tegak, memasukkan ponsel Nana kembali ke saku celananya sendiri. "Baik. Kalau kamu tidak mau bicara, Kakak yang akan cari tahu sendiri."

"Kak Shu—"

"Sekarang kamu istirahat," Shu memotong lembut sambil mengusap kepala Nana dengan penuh kasih sayang. "Makan makanan yang sudah dingin itu nanti Kakak minta pelayan panaskan lagi. Sekalian kamu mandi dan ganti bajumu dengan yang bersih."

Shu berbalik arah menuju pintu kamar.

"Kak," panggil Nana lirih dari sudut kamar. "Tolong... jangan sakiti dia. Dia nggak salah apa-apa..."

Shu menghentikan langkahnya sebentar tanpa menoleh. "Kakak tidak akan menyentuh orang yang tidak mencari masalah dengan keluarga kita lebih dulu."

...-Ruang Keluarga-...

...· · ─ ·𖥸· ─ · ·...

Shu duduk di sofa ruang tamu dengan kaki menyilang. Ia mengeluarkan ponselnya sendiri, mencari sebuah kontak seseorang, lalu menekan tombol panggil. Panggilan tersambung pada nada dering kedua.

"Ya, Tuan muda Shu?" suara di seberang telepon menjawab.

"Andrew, aku butuh bantuanmu sekarang."

"Ada apa, Tuan?"

"Ada video fitnah yang tersebar di kampus adikku hari ini. Kejadiannya berada di sebuah tangga di universitas tempat adikku kuliah," Shu bersandar pada sofa, menatap langit-langit ruang tengah. "Aku ingin kamu cari tahu siapa pria itu. Nama lengkapnya, latar belakangnya, dan hubungannya dengan adikku."

"Ada info yang bisa saya gunakan untuk pelacakan, Tuan?"

"Dia sepertinya seorang mahasiswa dari fakultas yang sama dengan adikku."

"Baik, Tuan. Saya akan langsung cari datanya segera."

"Aku butuh secepatnya."

"Siap, Tuan. Saya usahakan malam ini sudah ada kabar."

"Terima kasih." Shu menutup panggilan sepihak.

Ia meletakkan ponselnya di atas meja kaca.

"Siapa pun kamu," gumam Shu, "kamu harus punya alasan yang sangat bagus untuk semua ini."

...***...

Di dalam kamar yang kini sudah terang, Anzali duduk di tepi ranjang sambil mengusap perlahan kepala Nana yang kini sudah berbaring di bawah selimut.

Nana menatap lurus ke arah langit-langit kamar yang gelap. Air matanya kini sudah kering, menyisakan rasa lelah yang luar biasa di matanya.

"Mama tidak akan memaksamu bercerita sekarang," kata Anzali dengan suara bergetar. "Tapi kalau kamu sudah siap, Mama selalu ada di sini."

Nana terdiam sesaat sebelum akhirnya membuka suara dengan sangat pelan.

"Namanya Bara, Ma," bisik Nana. "Hanya itu yang bisa aku katakan."

Anzali hanya mengangguk pelan, terus mengusap rambut putrinya tanpa mengajukan pertanyaan tambahan.

Nana perlahan memejamkan matanya yang terasa amat berat. Di dalam kepalanya, rasa cemas baru mulai tumbuh.

Maaf, Bara. Kakakku sudah mulai mencarimu.

1
Alia Chans
Hadir Thor
Komen pertama , like + bunga🌹 , semangat😉
AzhuraAstra: Terimakasih 🫡
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!