NovelToon NovelToon
The CEO'S Private Doctor

The CEO'S Private Doctor

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Penyelamat
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: neyrfly

​"Saya bayar Anda mahal bukan cuma untuk mengobati fisik saya, Dok. Tapi juga untuk tanggung jawab karena sudah membuat jantung saya berdegup tidak karuan."

​Menjadi dokter pribadi seorang Arkananta Pradipta—CEO arogan yang hobi mengatur—adalah bencana terbesar dalam hidup Ayana. Alih-alih fokus menyembuhkan trauma masa lalu Arka, Ayana malah terjebak dalam pusaran kontrak profesional yang fana, komedi situasi di luar nalar, dan perasaan terlarang yang perlahan mengoyak hatinya.

​Saat rahasia kelam masa lalu Arka mulai terkuak, sanggupkah jas putih Ayana bertahan menghadapi dosis cinta yang terlalu mematikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neyrfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11. Sebuah Panggilan Derurat

Aroma mentega yang dilelehkan berpadu dengan aroma bawang bombay yang ditumis tipis perlahan-lahan mulai memenuhi ruang makan penthouse yang berkonsep terbuka itu. Ayana berdiri di balik meja bar, masih mengenakan kaos putih XL milik Arka yang longgar, tangannya dengan lincah mengocok tiga butir telur organik di dalam mangkuk kaca.

Matahari pagi menembus dinding kaca, memantulkan cahaya keemasan di atas lantai marmer hitam. Suasana tegang dan memalukan di kamar tidur tadi perlahan memudar, digantikan oleh mode profesional Ayana sebagai seorang dokter sekaligus—secara tidak resmi—juru masak dadakan.

"Menu pagi ini: omelette putih telur dengan bayam, jamur kancing, dan sedikit keju rendah lemak. Karbohidratnya pakai roti gandum panggang tanpa selai manis," gumam Ayana sembari menuangkan kocokan telur ke atas wajan datar.

KLIK.

Suara pintu lift privat yang terbuka langsung di area ruang tamu mengejutkan Ayana. Ia menoleh cepat. Di sana, Karina—sang sekretaris super cekatan—baru saja melangkah keluar dari lift dengan gaya perfeksionisnya yang biasa: setelan kerja blazer hitam, rambut disanggul rapi, dan tangan kanan memeluk tablet digital serta beberapa map dokumen.

Namun, langkah kaki Karina mendadak terkunci di tempat. Matanya membelalak sempurna, menatap lurus ke arah dapur bersih.

Pemandangan di depannya benar-benar menguji kewarasan seorang sekretaris korporat: Dokter Ayana, yang baru bekerja dua hari, sedang berdiri di dapur bosnya yang terkenal anti-sosial, mengenakan kaos putih polos milik Arka yang jelas-jelas kebesaran, dengan rambut yang dicepol asal dan wajah khas orang baru bangun tidur.

"Dok... Dokter Ayana?" suara Karina bergetar, separuh syok, separuh tidak percaya dengan apa yang ditangkap oleh retinanya. "Anda... semalam... menginap di sini?"

Ayana langsung membeku di depan kompor. Tangannya yang memegang spatula mendadak kaku. "Eh! Karina! I-ini... tunggu, jangan salah paham dulu! Ini tidak seperti yang kamu bayangkan!" cerocos Ayana panik, wajahnya kembali merona merah. "Semalam itu hujan badai, lalu Pak Arka... maksud saya, saya ketinggalan taksi, terus—"

"Ada apa, Karina?"

Suara berat dan dingin memotong kalimat panik Ayana. Arka muncul dari arah koridor timur. Pria itu sudah mandi dan berpakaian rapi, mengenakan kemeja kerja berwarna biru navy tanpa dasi dengan lengan yang digulung rapi hingga siku. Rambutnya sudah kembali klimis dan rapi, mengembalikan aura CEO diktatornya yang berwibawa dalam sekejap.

Karina buru-buru membetulkan posisi kacamatanya, mencoba menguasai keterkejutannya sebagai sekretaris profesional. "Ah, selamat pagi, Pak Arka. Maaf saya datang lebih awal. Ada beberapa dokumen mendesak dari direksi divisi keuangan yang harus Anda tanda tangani sebelum rapat umum pemegang saham jam sepuluh nanti."

Arka berjalan mendekati meja bar, lalu duduk di kursi tingginya dengan santai. Matanya melirik sekilas ke arah wajan tempat omelette buatan Ayana mulai sedikit gosong di pinggirannya karena sang dokter terlalu panik.

"Matikan kompornya, Ayana. Telurnya hangus," ujar Arka datar tanpa ekspresi bersalah sedikit pun karena telah membuat situasi menjadi canggung.

"Ah! Iya!" Ayana buru-buru mematikan kompor induksi, memindahkan omelette itu ke atas piring dengan gerakan gusar, lalu menyodorkannya ke depan Arka bersama dua lembar roti gandum panggang. "Nih, makan! Saya mau ganti baju dulu!"

Ayana menyambar tas medisnya dan berlari kencang menuju koridor barat untuk berganti pakaian dengan kemeja kerjanya sendiri yang semalam ia gantung.

Setelah punggung Ayana menghilang di balik pintu kamar tamu, Karina melangkah mendekati meja bar dengan ragu-ragu. Ia meletakkan map dokumen di atas meja, lalu menatap bosnya yang kini sedang memotong omelette dengan tenang menggunakan pisau dan garpu.

"Pak Arka..." panggil Karina lirih. "Apakah... saya perlu menjadwalkan ulang janji temu dengan pengacara keluarga mengenai klausul kontrak Dokter Ayana? Atau... apakah saya harus menyiapkan rilis pers jika ada media yang mengendus keberadaan Dokter Ayana di penthouse Anda?"

Arka menghentikan gerakan tangannya. Ia mendongak, menatap sekretarisnya dengan pandangan tajam yang membuat Karina langsung menundukkan kepala.

"Karina, apa yang ada di dalam kepalamu itu?" tanya Arka dingin.

"Maaf, Pak. Saya hanya... ini pertama kalinya dalam tujuh tahun saya bekerja dengan Anda, ada seorang wanita yang memakai baju tidur Anda dan memasak sarapan di dapur ini. Bahkan... mendiang kekasih Anda dulu pun tidak pernah menginap di sini," ucap Karina jujur, suaranya melunak penuh rasa hormat sekaligus kecemasan yang tulus untuk bosnya.

Mendengar frasa 'mendiang kekasih', kilatan bayangan masa lalu sempat melintas di mata Arka, namun dengan cepat ia kuasai kembali. Ia mengembuskan napas pendek. "Semalam serangan panik saya kumat karena badai petir. Dokter Ayana berada di sini untuk memastikan parameter vital saya tetap stabil tanpa perlu disuntik obat penenang dosis tinggi. Tidak ada hal lain yang terjadi. Paham?"

Karina mengangguk patuh, merasa lega. "Paham, Pak. Saya minta maaf karena telah berasumsi yang tidak-tidak."

"Tapi," Arka menggantungkan kalimatnya, menyuapkan sepotong omelette ke dalam mulutnya. "Masakannya tidak buruk. Masukkan anggaran belanja bahan makanan segar mingguan untuk penthouse ini ke dalam pengeluaran tak terduga perusahaan atas nama Dokter Ayana."

Karina mengerjap-ngerjap matanya. Seorang Arkananta Pradipta yang biasanya membuang makanan katering hotel berbintang jika rasanya kurang asin sedikit saja, sekarang memuji omelette rumahan yang pinggirannya agak gosong? batin Karina takjub. Ia buru-buru mencatat perintah itu di tabletnya. "Baik, Pak. Segera saya proses."

Sepuluh menit kemudian, Ayana keluar dari kamar tamu. Ia sudah kembali mengenakan kemeja biru muda dan celana bahan hitamnya yang kemarin, rambutnya sudah disisir rapi, dan jas putih dokternya tersampir rapi di lengan kirinya. Meskipun wajahnya masih agak kaku saat menatap Arka, ia mencoba bersikap seprofesional mungkin.

"Pak Arka, sarapannya dihabiskan. Air putihnya diminum sampai habis. Saya sudah memeriksa denyut nadi Anda dari jauh tadi, ritmenya sudah stabil di angka 72 kali per menit. Berarti efek trauma semalam sudah mereda," lapor Ayana sembari berdiri di dekat Karina.

Arka meneguk air putihnya hingga tandas, lalu berdiri dari kursinya. Ia meraih jas hitam yang dibawa Karina dan mengenakannya dengan gerakan maskulin yang sempurna. "Mari ke kantor. Kita punya banyak jadwal hari ini."

Namun, baru saja mereka bertiga melangkah menuju lift privat, ponsel di dalam saku kemeja Ayana mendadak bergetar hebat. Layarnya menyala menampilkan nama panggilan: "UGD RUMAH SAKIT UTAMA".

Ayana mengerutkan keningnya. Jantungnya mendadak berdegup kencang karena firasat buruk seorang dokter jarang sekali meleset. Ia buru-buru menggeser layar ke tombol hijau.

"Halo, dengan Dokter Ayana di sini. Ada apa?"

"Dokter Ayana! Mohon maaf mengganggu waktu Anda!" suara perawat jaga UGD terdengar sangat panik dan terengah-engah dari seberang telepon. "Ada kecelakaan beruntun di jalan tol dalam kota! Korban luka parah massal baru saja tiba di UGD kita! Dokter spesialis bedah dan penyakit dalam yang terjadwal pagi ini semuanya sudah masuk ke ruang operasi, tapi jumlah pasien kritis terus bertambah! Dokter Kepala meminta bantuan semua dokter spesialis yang sedang tidak bertugas untuk segera merapat!"

Darah Ayana mendadak berdesir hebat. Seluruh jiwa kedokterannya langsung mendidih, melupakan semua masalah pribadinya dengan Arka dalam sekejap. "Berapa jumlah korban merah (kritis)?"

"Ada empat pasien dengan trauma dada dan pendarahan internal, Dok! Kami kekurangan tenaga untuk melakukan penanganan awal dan stabilisasi!"

"Oke! Saya merapat sekarang! Siapkan kit intubasi dan cairan koloid di bed tiga dan empat! Dua puluh menit saya sampai!" tegas Ayana, suaranya berubah menjadi sangat dingin, berwibawa, dan penuh komando—sisi lain dari Dokter Ayana yang belum pernah dilihat oleh Arka maupun Karina.

Ayana mematikan ponselnya, lalu menoleh ke arah Arka dengan tatapan mata yang dipenuhi permohonan sekaligus ketegasan yang mutlak. "Pak Arka, maafkan saya. Ada panggilan darurat massal di UGD rumah sakit utama. Saya harus pergi sekarang juga."

Arka mengernyitkan alisnya, melirik jam tangannya. "Jadwal kontrol harian saya—"

"Kondisi Anda sudah stabil pagi ini, Pak! Sementara di luar sana, ada orang-orang yang sedang bertaruh nyawa di atas ranjang dorong!" potong Ayana cepat, suaranya meninggi satu oktav karena urgensi situasi. "Kontrak kita memang penting, tapi sumpah dokter saya jauh lebih tinggi dari nilai kontrak mana pun di dunia ini! Karina, saya pinjam mobil kantor atau taksi di bawah ya!"

Ayana berbalik, hendak menekan tombol lift dengan terburu-buru, namun sebuah tangan kokoh mendarat di pergelangan tangannya, menahannya dengan kuat.

Ayana menoleh dengan wajah gusar. "Pak Arka, tolong jangan egois sekarang—"

"Karina, batalkan rapat internal jam sembilan," perintah Arka dingin, matanya menatap lurus ke arah lift yang terbuka. "Hubungi Pak Joko. Suruh dia menyalakan lampu hazard dan bersiap di lobi utama. Kita akan mengantar Dokter Ayana ke rumah sakit menggunakan mobil saya."

Ayana tertegun, matanya membelalak kecil menatap wajah kaku sang CEO. "Pak Arka? Anda... mau mengantar saya? Ke rumah sakit? Tempat yang penuh dengan suara sirine ambulans dan..." Ayana menggantungkan kalimatnya, teringat akan trauma besar Arka terhadap lingkungan rumah sakit.

Arka menarik napas dalam-dalam, mengencangkan cengkeraman tangannya di pergelangan tangan Ayana, lalu melangkah masuk ke dalam lift terlebih dahulu, menarik tubuh mungil dokter itu ikut bersamanya.

"Saya adalah investor utama di rumah sakit itu, Ayana," ujar Arka datar saat pintu lift mulai tertutup rapat, menyembunyikan getaran halus di jemarinya yang mencoba melawan rasa takut yang mendadak kembali mengetuk pintu kesadarannya. "Dan saya tidak mau dokter pribadi saya terlambat menyelamatkan nyawa orang lain hanya karena menunggu taksi online yang terjebak macet. Masuk."

Bersambung.

1
Susilawati Susilawati
up lagi thor
Wardah Wilda
up nya yg banyak dong thor..biar semangat baca nya... please...🙏🙏
Hennyy exo
thor pliss up yg banyak ya🤭
💪💪
Hennyy exo
suka banget sama alur ceritanya😍
Hennyy exo
ahh suka banget sama alurnya thor
Hennyy exo
awas ya Arka nanti kamu jatuh cinta loh sama dokter aya🤣🤣
Hennyy exo
awal yg bagus thor
Wardah Wilda
awas ya Thor..klau up nya lama..🤭🤭🤭
neyrfly: siap kakk😍🤭
total 1 replies
Sri Rahayu
baru baca seru cerita na
neyrfly: makasi kakk🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!