Seorang murid sekte luar yang dihina karena akar spiritualnya yang cacat secara tidak sengaja membangkitkan sebuah pusaka kuno di lembah terlarang. Pusaka tersebut tidak memberinya kekuatan instan, melainkan sebuah metode kultivasi purba yang memungkinkannya menyerap dan memurnikan Qi dari garis keturunan binatang buas mitologis. Untuk mencapai puncak, ia harus menempuh jalur yang penuh darah dan memburu eksistensi terkuat di langit dan bumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga Puluh Hari Penempaan dan Menuju Balai Ujian
Gua sempit di pinggiran Hutan Hitam itu menjadi saksi bisu dari penyiksaan diri yang tak terbayangkan. Selama dua puluh hari pertama, Lin Tian tidak beranjak dari posisinya. Inti Ular Sisik Batu yang awalnya sebesar telur ayam kini telah menyusut menjadi seukuran kelereng kecil.
Tubuh Lin Tian ditutupi oleh lapisan kerak hitam berbau busuk—kotoran terdalam dari darah dan tulangnya yang terus-menerus didorong keluar oleh proses pemurnian Qi naga.
Di hari kedua puluh satu, Lin Tian akhirnya membuka mata. Ia memuntahkan seteguk napas keruh yang langsung menghancurkan batu sebesar kepalan tangan di depannya menjadi debu. Inti binatang buas di tangannya kini telah kehilangan cahayanya, namun masih menyisakan sedikit energi murni.
Ia menoleh ke arah Lin Chen yang sedang berlatih pernapasan dasar di sudut gua. Berkat bimbingan Lin Tian dan lingkungan gua yang terpapar sisa-sisa energi spiritual saat ia berlatih, luka-luka Lin Chen telah sembuh total.
"Chen'er, kemarilah," panggil Lin Tian.
Lin Chen membuka matanya dan segera mendekat. "Ada apa, Kakak Tian? Apakah kau sudah berhasil menembus tingkat tiga?"
"Belum, masih ada satu dinding tipis lagi. Tapi sebelum itu, aku butuh kau menahan rasa sakit yang luar biasa," ucap Lin Tian serius. "Buka bajumu dan duduk membelakangiku."
Tanpa banyak bertanya, Lin Chen menurut. Lin Tian menempelkan kedua telapak tangannya di punggung adiknya, memegang sisa inti binatang buas di telapak tangan kanannya. Dengan sangat hati-hati, Lin Tian menyalurkan seutas Qi ungu keemasan miliknya yang paling lembut, membungkus sisa energi dari inti ular tersebut, dan perlahan mendorongnya masuk ke dalam meridian Lin Chen yang tertidur.
Ugh!
Tubuh Lin Chen menegang hebat. Urat-urat di lehernya menonjol saat rasa panas yang membakar menyapu sekujur tubuhnya. Ini adalah Pencucian Sumsum. Bagi seseorang tanpa fondasi seperti Lin Chen, energi sekecil apa pun terasa seperti lahar cair yang dipaksa masuk ke pembuluh darah.
"Tahan! Jangan pingsan, atau meridianmu akan hancur permanen!" bentak Lin Tian memperingatkan, terus mengendalikan aliran energi itu agar tidak melukai organ vital adiknya.
Lin Chen menggigit bibirnya hingga berdarah, menolak untuk menyerah. Ia teringat akan hinaan Zhao Hai, rasa sakit cambukan, dan bagaimana Lin Tian selalu melindunginya. Aku tidak akan menjadi beban lagi! batinnya menjerit.
Dua jam berlalu seperti di neraka. Perlahan, cairan hitam mulai merembes dari pori-pori Lin Chen. Bersamaan dengan itu, suara letupan kecil terdengar dari dalam perutnya. Energi spiritual alam di sekitar gua tiba-tiba tersedot masuk ke dalam tubuh remaja itu.
Lin Tian menarik tangannya sambil tersenyum tipis. Lin Chen jatuh tersungkur, terengah-engah, namun ada cahaya baru di matanya.
"Selamat, Chen'er. Kau kini adalah kultivator ranah Mortal tingkat pertama," ucap Lin Tian.
Keesokan harinya, Lin Tian kembali memusatkan fokusnya. Menggunakan dorongan terakhir dari pemurnian energi yang ia berikan pada Lin Chen, ia memutar Seni Pemurnian Tulang Naga Astral hingga batas maksimal.
BOOM!
Di hari kedua puluh delapan, gelombang kejut meledak dari tubuh Lin Tian, menyapu bersih debu di dalam gua. Kerak kotoran di kulitnya hancur, memperlihatkan kulit yang sekeras tembaga namun seputih batu giok. Matanya memancarkan kilat keemasan yang tajam.
Ranah Mortal tingkat tiga!
Lin Tian mengepalkan tangannya. Ia merasa Qi di dalam tubuhnya kini bukan lagi sungai, melainkan lautan kecil yang berombak ganas. Kekuatan fisiknya cukup untuk meremukkan baja hanya dengan cengkeraman. Fondasi berat ini membuatnya yakin, tak ada seorang pun di bawah tingkat enam atau tujuh yang bisa menahan satu pukulannya.
Hari ketiga puluh. Langit Sekte Pedang Langit cerah tanpa awan.
Di Balai Ujian Luar, ribuan murid pelayan berkumpul dengan wajah tegang. Di atas panggung batu yang luas, berjajar sepuluh Boneka Perunggu mekanis yang memancarkan tekanan intimidasi. Di kursi kehormatan, seorang Tetua berjanggut putih duduk mengawasi jalannya pendaftaran.
Ujian Promosi adalah satu-satunya jalan keluar dari neraka bagi para pelayan. Namun, syarat minimum ranah Mortal tingkat tiga membuat 90% dari mereka hanya bisa menjadi penonton.
"Minggir! Minggir, para sampah!"
Sekelompok murid luar berpakaian sutra berjalan membelah kerumunan pelayan yang ketakutan. Di depan mereka adalah Zhao Hai, yang lengan kanannya kini dibalut perban tebal. Wajahnya terlihat jauh lebih suram. Di sebelahnya, berjalan seorang pemuda jangkung dengan pedang besar di punggungnya, memancarkan aura Mortal tingkat enam yang mencekik. Itu adalah Zhao Kuang, kakak sepupu Zhao Hai.
"Kau yakin anak itu akan datang?" tanya Zhao Kuang dengan nada angkuh, melirik Zhao Hai. "Berani mematahkan lengan adikku, aku akan memastikannya mati di panggung ujian hari ini."
"Dia pasti datang, Kakak Kuang. Anak sombong itu berjanji akan mengambil ujian promosi," desis Zhao Hai penuh kebencian.
Tepat saat pendaftaran akan ditutup oleh penjaga balai, kerumunan di gerbang belakang mendadak terbelah. Keheningan aneh menyebar seiring dengan derap dua pasang langkah kaki yang mantap.
Lin Tian dan Lin Chen berjalan masuk. Pakaian pelayan mereka sudah dicuci bersih. Tidak ada lagi sisa-sisa keputusasaan atau postur membungkuk di tubuh mereka. Lin Tian berjalan di depan, auranya tenang layaknya air yang dalam, tak terbaca namun menggetarkan jiwa siapa saja yang menatap matanya.
Zhao Hai membelalakkan matanya saat melihat mereka. Tangannya yang patah seolah berdenyut nyeri kembali.
"Penatua," suara Lin Tian menggema di balai ujian yang mendadak sunyi, "Saya, Lin Tian, dan adik saya, Lin Chen, mendaftarkan diri untuk Ujian Promosi Murid Luar."