NovelToon NovelToon
Second Half: Velix The Next Legend

Second Half: Velix The Next Legend

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Reinkarnasi / Sistem
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Wawan wan

Velix Purnama umur 26tahun seorang pekerja kantoran tanpa sengaja kembali ke masa lalu saat dia masih menduduki bangku SMP.

"Dengan sistem aku akan mengejar apa yang menjadi mimpiku", ujar Velix

bagaimana kisah Velix menjadi legenda sepakbola mari kita saksikan bersama sama!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wawan wan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10: Panggung yang Sesungguhnya

BAB 10: Panggung yang Sesungguhnya

Stadion Mini Jakarta Timur sore itu dipadati oleh ratusan penonton yang didominasi oleh anak-anak sekolah. Teriakan yel-yel, bunyi tabuhan drum dari kaleng bekas, hingga tiupan terompet plastik berbaur menjadi satu, menciptakan atmosfer kompetisi yang teramat kental. Bau minyak urut linimen merembes dari ruang ganti, bercampur dengan aroma rumput stadion yang agak gundul di beberapa sisi.

Turnamen Antar-Kecamatan resmi bergulir.

Tim SMP Velix mengenakan jersi kebanggaan mereka: merah marun dengan nomor punggung putih. Di ruang ganti yang pengap, Pak Joko sedang memberikan instruksi terakhir di depan papan strategi. Semua anak tampak tegang; ada yang terus-menerus membetulkan pelindung tulang kering (shinguard), ada pula yang bolak-balik ke kamar mandi karena gugup.

Hanya Velix yang duduk tenang di sudut bangku. Ketenangan seorang pria dewasa di dalam dirinya membuat atmosfer penuh tekanan ini justru terasa sangat familier dan membakar gairahnya. Dia memakai jersi nomor 11—karena nomor 10 mutlak milik Danu sang kapten.

"Velix, Danu," panggil Pak Joko tegas, membuat seisi ruangan mendadak hening. "Kunci permainan kita ada di kalian berdua. Lawan kita hari ini, SMP 14, terkenal dengan permainan sayap mereka yang agresif. Danu, potong serangan mereka dari tengah. Velix, begitu bola di tanganmu, langsung komandoi serangan balik cepat!"

"Siap, Pak!" jawab Danu dan Velix kompak.

Sebelum keluar menuju lorong stadion, Velix memfokuskan pikirannya untuk mengintip menu Sistem.

[Toleransi Fisik Tuan Rumah: 100% (Kondisi Puncak)]

[Skill Aktif: Sentuhan Pertama Sutra (Berbatov - Fase 1 / Sinkronisasi: 8%)]

[System Points (SP): 51 SP]

'Kondisi fisikku sangat bugar setelah istirahat penuh kemarin. Ini adalah panggung pembuktian pertamaku,' batin Velix, matanya berkilat penuh fokus saat melangkah keluar menuju teriknya lapangan hijau. Mode seriusnya telah terkunci 100%.

Prreeeetttt!

Peluit babak pertama dibunyikan. SMP 14 langsung mengambil inisiatif serangan. Sesuai prediksi Pak Joko, mereka mengandalkan dua penyerang sayap mereka yang memiliki kecepatan di atas rata-rata anak SMP.

Menit-menit awal berjalan sangat berat untuk tim Velix. Lini belakang mereka terus-menerus digempur. Pada menit ke-12, sebuah umpan silang dari sayap kanan gagal diantisipasi dengan baik oleh bek tengah Tim Merah Marun.

Dug! Striker lawan menyundul bola masuk ke sudut atas gawang.

Skor berubah, 0-1 untuk tertinggalnya tim Velix.

"Sial!" Danu memukul tanah dengan kesal. Anak-anak lain langsung tertunduk lesu, mental remaja mereka goyah seketika setelah kebobolan di awal laga.

Melihat situasi yang mulai kacau, Velix langsung mengambil alih peran sebagai pemimpin mental. Sifat hangat dan tenangnya keluar untuk membakar semangat tim. Dia berlari mendekati Danu dan memungut bola dari dalam gawang, lalu menepuk punggung teman-temannya satu per satu.

"Hei, angkat kepala kalian! Pertandingan baru jalan dua belas menit!" seru Velix dengan suara baritonnya yang tegas dan penuh wibawa dewasa. "Satu gol itu nggak ada apa-apanya. Fokus lagi, ikuti instruksi. Kita bales sekarang!"

Mendengar teriakan Velix yang begitu tenang tanpa ada kepanikan sedikit pun, mental anak-anak SMP itu seperti ditarik kembali dari jurang kecemasan. Mereka menarik napas dalam-dalam dan kembali ke posisi masing-masing dengan tatapan mata yang kembali hidup.

Pertandingan dimulai kembali dari titik tengah. Bola bergulir ke kaki Danu. Di bawah tekanan dua gelandang lawan, Danu dengan segera mengoper bola pendek ke arah Velix yang berdiri di lingkaran tengah lapangan.

Dua gelandang bertahan SMP 14 langsung berlari kencang mengurung Velix, berniat merebut bola secara agresif untuk melakukan serangan balik mematikan berikutnya.

"Sikat nomor 11! Jangan kasih dia napas!" teriak pelatih SMP 14 dari pinggir lapangan.

Velix menatap dua pemain yang datang menerjangnya dengan pandangan sedingin es. Fitur Analisis Lawan miliknya bekerja kilat, menampilkan kelemahan posisi berdiri kedua pemain tersebut yang terlalu condong ke depan.

Bola umpan Danu meluncur agak deras dan sedikit memantul karena kontur lapangan yang tidak rata. Namun, memori otot Sentuhan Pertama Sutra milik Dimitar Berbatov kembali bekerja secara magis di tubuh Velix.

Velix tidak menahan bola itu dengan kaku. Tepat saat bola menyentuh bagian dalam sepatu kanannya, dia melakukan gerakan memutar tubuh (turn) yang sangat halus, menyerap momentum bola sekaligus menggunakan putaran tubuhnya untuk melewati celah di antara kedua gelandang yang mengurungnya.

Sret.

Sebuah gerakan spin yang sangat elegan khas gelandang kelas dunia. Dua pemain lawan yang berlari kencang itu langsung meleset menabrak angin, kehilangan momentum, dan saling bertubrukan sendiri di belakang Velix.

"Apa?! Dia lewat begitu saja?!" teriak bek lawan panik.

Penonton di tribun Stadion Mini mendadak riuh, terkesima dengan aksi olah bola tingkat tinggi yang barusan dipertontonkan oleh Velix. Pak Joko bahkan sampai berdiri dari bangku cadangan dengan mata melebar.

Velix tidak membuang waktu satu detik pun. Area lini tengah lawan kini terbuka luas tanpa penjagaan. Sisi genius taktisnya melihat striker utama timnya sudah mulai melakukan tusukan ke dalam kotak penalti, membelah dua bek tengah lawan.

Menggunakan akurasi operan yang terus dia latih setiap subuh, Velix mengayunkan kaki kanannya, melepaskan sebuah umpan terobosan melambung yang sangat akurat—sebuah umpan chipped ball yang melewati atas kepala garis pertahanan lawan dengan presisi sentimeter.

Bola jatuh tepat di ruang tembak sang striker, meluncur manja tanpa perlu dihentikan lagi.

Breeettt! Striker tim Velix langsung menyepak bola itu dengan tendangan voli keras yang menghujam deras ke dalam jaring gawang SMP 14.

Gol! Skor berubah menjadi imbang 1-1 pada menit ke-15!

Papan skor imajiner di kepala Velix menyala terang bersamaan dengan gemuruh sorak-sorai pendukung sekolahnya yang pecah di tribun stadion. Langkah pertamanya di kompetisi resmi telah diukir dengan sebuah assist yang teramat indah.

Cetak biru menuju masa depan yang cerah kini benar-benar telah dimulai di bawah terik matahari Jakarta Timur.

1
Alia Chans
lanjut🌹✍️🤭
Wawan
Salam kenal buat Velix✍️
aldo
seru sekali 🙏🙏🙏🙏
aldo
ayo lanjut author 🙏🙏🙏🙏
aldo
lanjut author 🙏🙏🙏
NoxVeil
Ayok like dan komen guys biar tambah smngt up nya💪😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!