Sinta harus membayar hutang keluarganya dengan cara dia menikah dengan kepala desa dan menjadi istri keduanya.
Pernikahan ini diatur oleh mama sangat kepala desa dengan harapan agar Sinta bisa membuat sang kepala desa berpisah dengan istri pertamanya.
Sebuah pernikahan yang penuh misteri sampai akhirnya Sinta tahu rahasia yang membuat nya terjebak dalam pernikahan neraka ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Henny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perhatian Warga Desa
Mereka tiba di desa saat hari sudah menjelang sore. Mahendra langsung mengiring diri di ruangan kerjanya sedangkan Sinta memilih mandi dan ikut membantu mbo Sarmi membuat makan malam.
"Nyonya, besok ada acara pesta rakyat karena ulang tahun desa. Nyonya mau datang?"
"Boleh. Acaranya dilaksanakan di mana?"
"Di lapangan desa. Tadi sudah selesai dipasang tenda. Acaranya di laksanakan dari jam 3 sore. Saat Maghrib akan dilaksanakan sholat berjemaah di lapangan, lalu makan bersama. Semua penduduk akan membawa makanan. Malamnya akan dilaksanakan berbagai atraksi."
"Wah, pasti ramai ya?"
"Sangat ramai. Kalau nyonya Risna dan nyonya Gizel biasanya tak mau ikut."
"Mungkin karena mereka orang kota. Kalau aku kan orang desa juga. Pesta rakyat adalah acara yang paling disukai."
Mbo Sarmi tersenyum mendengar perkataan nyonya kedua ini. Dia sangat berbeda dengan nyonya pertama.
Saat makan malam, Sinta hanya makan sendiri karena Mahendra sedang ada di lapangan desa untuk melihat persiapan untuk acara besok.
"Tuan Mahendra memang begitu. Jika ada acara penting di desa ini, ia memang jarang berada di rumah. Tuan makan bersama aparat desa sambil duduk di bawah pohon. Tuan selalu bersikap bersahabat dengan siapa saja. Dia memang jarang bicara namun setiap kali dia bicara, penduduk desa ini sangat menghormatinya. Pada hal tuan itu dibesarkan di luar negeri."
Sinta makan malam sambil mendengarkan cerita mbo Sarmi. Selesai makan malam, Sinta membereskan barang-barang yang ia bawa dari tempat kost. Ia tersenyum melihat foto-foto kebersamannya dengan Natari dan teman-teman seangkatan mereka. Beberapa foto juga ada Arsen di sana.
Sinta mengangumi Arsen. Dia lelaki tampan, baik hati dan sangat jago bermain basket. Sinta bukan tak menyukainya. Namun ia tahu ada jurang yang begitu dalam antara dirinya dan Arsen. Apalagi saat mama Arsen datang menemuinya di tempat kost dan meminta Sinta menjauhi Arsen. Gadis itu pun memilih untuk menjauh dan membangun dinding yang tinggi. Ia menghapus semua perasaan yang mulai tumbuh di hatinya. Ia fokus di kuliah dan menjaganya IP nya agar tetap 4.
Kini, takdir telah membawanya pada suatu kehidupan yang lain. Ia menjadi istri salah satu juragan kaya walaupun dengan status istri kedua. Kini semua pakaian yang Sinta kenakan harus dari merk terkenal walupun ia sendiri tak menyukai model baju ini.
Pernikahan yang dirancang untuk membuat Mahendra dan Gizel berpisah.
Akhirnya setelah semua barang-barangnya tersimpan rapi di lemari dan rak buku, Sinta memilih untuk keluar kamar. Ia akan minum sebelum akhirnya tidur karena waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam.
"Abang?" Sinta kaget melihat Mahendra yang baru masuk dari pintu depan sambil memegang tangannya yang berdarah. "Abang kenapa?"
"Kudanya mengamuk."
"Mari aku bersihkan! Abang duduk dulu di sini." Sinta segera ke dapur. Ia mengambil air dan menaruhnya di baskom, lalu mengambil handuk kecil di kamarnya. Ia melihat ingat ada kotak obat di dinding dekat lemari kunci mobil.
"Lukanya cukup dalam. Kenapa tak ke bidan desa untuk diobati?" tanya Sinta sambil membersihkan luka di telapak tangan Mahendra.
"Aku tak mau membangunkan bidan desa. Ini sudah malam."
Sinta mengompres luka itu dengan es batu untuk menghentikan darahnya. Setelah itu ia membabat pergelangan tangan Mahendra dengan kain steril setelah memberikan obat merah di atasnya.
"Sebaiknya jangan kena air, Abang. Atau besok ke puskesmas saja untuk diobati."
Mahendra menatap Sinta. "Jangan cerewet!" Ia berdiri dan hendak pergi. Namun baru beberapa langkah ia membalikan badannya. "Ikut aku ke kamar. Kamu harus memandikan aku karena tanganku tak boleh kena air."
"Tapi.....eh....baiklah." Sinta langsung setuju karena Mahendra menatapnya dengan tajam.
Saat keduanya sudah berada di kamar Mahendra, Sinta diminta membuka kemeja yang lelaki itu kenakan. Bau keringat bercampur dengan harum parfum cowok itu membuat buku kuduk Sinta sedikit merinding.
"Celananya juga." perintah Mahendra.
Tangan Sinta bergetar saat membuka pengait celana cargo yang Mahendra kenakan.
"Boxer nya juga."
Deg!
Keringat dingin mulai membasahi wajah Sinta saat tangannya bersentuhan dengan kulit pinggang lelaki itu. Ia menurunkan boxer milik Mahendra dan nampak jelas sesuatu di balik boxer itu sudah mulai berdiri.
"Ayo ke kamar mandi!" ajak Mahendra.
Sinta mengikuti langkah Mahendra.
Mahendra menurunkan selang shower dan menyerahkannya kepada Sinta. Perempuan itu langsung membasahi tubuh Mahendra sementara lelaki itu mengangkat tangan kanannya yang terluka.
Berulang kali Sinta menarik napas panjang saat ia harus menyabuni tubuh berotot Mahendra dengan tangannya. sang palo (yang belum tahu Palo baca cerita emak yang berjudul Menikahi Selingkuhan kakak iparku) nampak sudah berdiri sempurna.
"Siapkan pakaianku, aku mau buang air kecil." kata Mahendra.
Sinta segera keluar kamar dan menyiapkan pakaian untuk Mahendra. Tak lama kemudian lelaki itu keluar kamar dalam keadaan polos.
"Abang, mau pakai celana panjang atau celana pendek?" tanya Sinta.
Mahendra mendekat. "Lain kali, jangan pakai pakaian seperti ini." Mahendra tak menjawab pertanyaan Sinta. Matanya menatap tajam ke arah tubuh istrinya yang hanya mengenakan tanktop dan celana pendek.
"Maaf. Tadi aku sebenarnya sudah mau tidur. Tiba-tiba saja haus." Sinta menunduk.
Mahendra kini hanya berjarak satu langkah dengan Sinta. Tangan kirinya yang tak terluka membelai wajah Sinta. "Puaskan aku."
Sinta terkejut. Kepalanya terangkat sambil matanya membulat sempurna.
"Aku tak bisa tidur jika Palo berdiri terus."
"Jadi.....!" Sinta tak meneruskan kalimatnya.
"Buka bajumu dan kita bercinta. Segitu saja sulit untuk dimengerti."
Sinta membuka pakaiannya.
Mahendra langsung mendorongnya ke atas tempat tidur. Ia menempatkan posisinya di atas Sinta dengan bertumpu pada kekuatan lututnya agar tubuhnya yang berbobot 85 kg itu tak membuat Sinta tersiksa.
Ciuman Mahendra panas dan menggoda. Ia tahu bagaimana membuat Sinta luluh dan kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Keduanya pun saling berbagi kehangatan di atas ranjang milik Mahendra. Lelaki itu lupa kalau ranjang ini tak pernah di tiduri oleh wanita lain.
**********
Pagi harinya, Sinta membantu Mahendra berpakaian setelah keduanya kembali berolahraga panas saat pagi menjelang.
Akhirnya Sinta dan Mahendra turun ke bawah saat waktu sudah menunjukkan pukul 11 siang. Sinta harus menggunakan kemeja milik Mahendra karena lelaki itu tak menginginkan Sinta keluar kamar dengan bajunya yang semalam.
Para pelayan kaget melihat Sinta turun dengan pakaian seperti itu.
"Sepertinya semalam nyonya muda tidur di kamar tuan."
"Iya. Saya tadi pagi mengetuk pintu kamarnya untuk bertanya menu sarapan pagi namun tak ada. Pintu kamarnya bahkan tak dikunci."
Mbo Sarmi tersenyum saat mendengar bisik-bisik para pelayan.
Setelah selesai makan siang, mereka segera pergi ke lapangan desa. Sinta mengenakan gaun berwarna biru muda. Sangat pas ditubuh rampingnya. Rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai dengan pita hitam yang menghiasi kepalanya.
"Wah, istri kedua pak kades cantik juga. Nggak full make up. Sederhana namun menggoda."
Acara pun di mulai. Sinta berbaur dengan para penduduk desa. Ia bahkan ikut bermain lari kelereng, memecahkan balon terbanyak. Tawanya terdengar sangat renyah membuat semua penduduk desa suka padanya.
Saat malam pun, Sinta ikutan bergoyang mengikuti gamelan saat semua perempuan muda diharuskan mengikuti tarian kas desa ini.
Mahendra memperhatikan cara istrinya menari. Ia juga melihat bagaimana Sinta tak menjaga jarak dengan para penduduk desa. Bahkan ia nampak memeluk beberapa anak kecil yang dibawah oleh orang tuanya. Tak sama dengan Gizel yang selalu menjaga jarak saat ikut dengan Mahendra.
"Pak kades, istrinya cantik dan merakyat. Semua penduduk menyukai istri bapak ini." kata bidan desa yang bernama Laras. Ia memang datang untuk memeriksa luka Mahendra.
Mahendra hanya tersenyum.
"Dia masih sangat muda namun bisa berbaur dengan para penduduk. Sangat luar biasa. Dia juga mengobati luka pak kades dengan baik." Larasati membabat kembali tangan Mahendra Keduanya memang sedang duduk di panggung utama.
Saat acara selesai, Sinta memilih jalan kaki pada hal dia sudah dijemput oleh sopir pak kades.
Sepanjang perjalanan, ia menikmati kebersamaannya dengan para penduduk desa.
Begitu tiba di rumah besar itu, Mahendra sudah duduk di ruang tamu. "Sinta, mandilah dan setelah itu ikut aku ke atas."
"Abang masih membutuhkan bantuan ku?"
"Kamu akan memandikan aku kembali."
"Hanya mandi kan, Abang?"
Mahendra tersenyum menggoda. "Aku tak tahu!"
Duh si Abang kepala desa sudah benar-benar candu ya guys
nackal kan yg ajarin emak🤣🤣🤣🤣