"Luka terdalam seorang wanita bukanlah saat dia harus melepaskan, melainkan saat dia menyadari bahwa selama ini dia telah mempertaruhkan seluruh hidupnya untuk seorang pria yang bahkan tidak sudi melangkah satu senti pun untuk mempertahankannya."
Menikah dengan Arman membuat Aini Lidya paham rasanya terlantar secara mental. Nafkah pas-pasan, suami yang gemar pulang larut malam, hingga mertua dan ipar yang toxic, semuanya Aini telan bulat-bulat selama satu tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: BADAI DI BALIK HAMPARAN HIJAU
Kemandirian finansial adalah baju zirah tercantik yang bisa dimiliki oleh seorang wanita.
Sore itu, di bawah atap rumah orang tuanya, sepasang netra Aini berkaca-kaca menatap layar ponselnya. Pihak manajemen aplikasi tempatnya menulis novel baru saja mencairkan bonus dan gaji pertamanya setelah karyanya meledak di pasaran. Nominal angka yang tertera di sana sangat besar, sebuah jumlah yang bahkan jauh melampaui uang nafkah yang pernah diberikan Arman selama satu tahun pernikahan mereka dulu.
Air mata Aini menetes pelan, namun kali ini bukan air mata duka, melainkan tangis haru atas pembuktian dirinya.
Tanpa menunda waktu, Aini langsung menyerahkan sebagian uang tersebut ke tangan Ibu Naya dan Bapak Farhan sebagai bentuk bakti, serta membelikan pakaian baru untuk Natan. Rumah sederhana itu seketika diliputi oleh tawa dan kehangatan yang tulus. Aini tersadar, ketika seorang wanita mampu berdiri di atas kakinya sendiri secara ekonomi, dunia tidak akan pernah lagi bisa mendikte atau merendahkan harga dirinya.
Kesibukan barunya sebagai penulis sukses membawa Aini pada babak kehidupan yang dinamis. Hari itu, sebuah pesan WhatsApp dari Egi mendarat di ponselnya.
Pria berusia 27 tahun itu memberi kabar bahwa dia sedang pulang kampung ke kecamatan mereka minggu ini. Dengan tutur kata yang sangat santun, Egi mengajak Aini untuk bertemu di sebuah kafe lokal terdekat dengan alasan ingin berdiskusi santai sekaligus melakukan riset bersama untuk plot novel kolaborasi mereka selanjutnya.
Aini sempat diliputi keraguan mengingat statusnya yang baru saja dijatuhi talak satu.
Namun, Ibu Naya yang melihat kegelisahan anaknya justru memberikan dorongan penuh agar Aini keluar menyegarkan pikiran. Didorong oleh restu sang ibu dan profesionalisme kerja, Aini akhirnya menerima ajakan tersebut.
Sore harinya, angin sejuk Pesisir Selatan berembus lembut. Dengan mengenakan celana jeans blue dan baju kemeja hitam dengan jilbab yang dililit rapi, Aini tiba di tempat pertemuan. Egi sengaja memilih sebuah kafe estetik yang terletak di pinggiran desa, sebuah tempat tersembunyi yang dikelilingi oleh hamparan sawah hijau yang membentang luas bagai permadani alam. Suasana begitu damai dengan aroma khas padi yang menenangkan jiwa.
Egi menyambut kedatangan Aini dengan senyuman hangat penuh wibawa. Pria itu bahkan dengan peka telah memesankan secangkir teh hangat kesukaan Aini—sebuah detail kecil yang sempat Aini sebutkan saat mereka mengobrol di lobi hotel dulu.
Awalnya, kecanggungan sempat menyelimuti meja mereka. Namun, kepiawaian Egi dalam mencairkan suasana membuat obrolan mengalir begitu menyenangkan.
Mereka mulai berdiskusi tentang karakter-karakter unik di novel mereka, hingga Egi melontarkan sebuah gurauan jenaka tentang bagaimana sulitnya mencari ide saat dikejar tenggat waktu.
"Kamu tahu tidak, Ai? Kadang kalau buntu ide, saya sampai mengobrol dengan kucing di rumah, berharap dia bisa memberi tahu kelanjutan babnya," seloroh Egi dengan wajah serius yang dibuat-buat.
Aini tidak bisa menahan tawa ringannya. "Lalu, apakah kucingnya memberi jawaban, Mas?" sahut Aini disela tawa kecilnya yang renyah.
"Tentu saja tidak. Dia cuma mengeong minta makan, lalu pergi tidur dengan sombongnya," balas Egi yang langsung disambut tawa lepas dari Aini.
Senyuman dan tawa lepas itu membuat wajah Aini memancarkan kecantikan murni yang telah lama redup. Sikap Egi yang teramat menghargai, dewasa, dan penuh perhatian itu tanpa disadari membuat jantung Aini berdebar asing, seolah membangunkan kembali rasa yang telah lama mati membeku di dalam dadanya.
Namun, kebahagiaan di tengah hamparan sawah itu mendadak robek menjadi berkeping-keping. Udara sejuk sore itu seketika berubah menjadi pengap dan mencekam saat sebuah bayangan melangkah terburu-buru mendekati meja mereka.
Brak!
Tangan kekar Arman menggebrak pinggiran meja kayu, memotong tawa Aini secara paksa dan membuat cangkir teh di atas meja terguncang hebat. Sepasang mata Arman merah menyala oleh kobaran api cemburu dan ego lelaki yang terbakar hebat. Pria itu menatap Aini dan Egi bergantian dengan pandangan tidak percaya penuh amarah yang bergejolak.
"Oh! Jadi ini maumu, Ai?! Jadi karena lelaki ini kamu ngebet banget untuk meminta berpisah dariku?!" tuduh Arman telak, suaranya bergetar menahan amarah yang meledak-ledak.
"Ternyata selama ini kamu sudah menyimpan lelaki lain di belakangku! Kamu bersandiwara seolah-olah menjadi pihak yang paling tersakiti, padahal kamu sudah memiliki pelarian yang berkelas!" Tuduh Arman.
Suara bentakan Arman yang menggelegar seketika menghentikan seluruh aktivitas di dalam kafe tersebut. Suasana kafe mendadak hening seketika. Orang-orang yang ada di meja lain langsung menoleh ke arah mereka dengan tatapan kaget.
Beberapa pengunjung berbisik-bisik, memicingkan mata, dan mulai bergunjing menerka-nerka apa yang sebenarnya sedang terjadi di antara mereka bertiga.
Mendengar tuduhan keji yang menghantam harga dirinya di depan umum, Aini tidak membalasnya dengan teriakan histeris. Dia teringat petuah bijak ayahnya. Aini hanya menarik napas dalam-dalam, lalu mengukir sebuah senyuman tipis di bibirnya—sebuah senyuman hambar yang sarat akan ketenangan yang mematikan. Dia menolak untuk menurunkan kelasnya dengan cara membela diri atau memberikan rincian penjelasan atas fitnah tersebut di depan gunjingan orang-masing.
Aini langsung bangkit berdiri, meraih tasnya, dan bersiap untuk melangkah pergi meninggalkan kekacauan yang diciptakan mantan suaminya. Namun, dengan gerakan cepat, tangan Arman mencengkeram erat pergelangan tangan Aini, menahan langkahnya dengan paksa.
"Lepas, Mas! Jangan lancang!" bentak Aini tegas, suaranya terdengar rendah namun begitu menghunjam. Dengan satu sentakan kuat yang penuh penekanan, Aini mengempaskan tangan Arman dari kulitnya.
"Aku tidak lagi halal untuk kamu sentuh!"
"Mau kemana kamu, Ai?! Jelaskan denganku sekarang! Apa hubungan kamu sebenarnya dengan lelaki ini?!" tuntut Arman frustrasi, matanya menatap Aini dengan pandangan memohon sekaligus menuntut kejelasan yang tidak lagi berhak dia dapatkan.
Aini berdiri tegak, menatap langsung ke dalam manik mata Arman tanpa ada setitik pun rasa takut yang tersisa. "Orang sepertimu sudah tidak pantas lagi untuk mendengar penjelasan dariku, Mas. Maaf, permisi," ucap Aini dingin, mengulangi kalimat prinsip hidupnya dengan penuh harga diri.
Tanpa menoleh lagi, langkah kaki celana dasar Aini bergerak tegap berbalik arah, berjalan cepat meninggalkan area kafe sawah tersebut. Dia melangkah pergi meninggalkan Egi yang duduk terpaku di kursinya, menatap kejadian dramatis itu dalam kebingungan mendalam karena sama sekali tidak tahu-menahu tentang badai masa lalu Aini. Bisik-bisik dari pengunjung kafe yang menonton terus mengiringi langkah perginya, memperbincangkan drama sore itu.
Sementara itu, di sudut kafe yang dikelilingi hamparan sawah, Arman hanya bisa berdiri membeku. Dia menatap punggung Aini yang kian menjauh dan mengecil ditelan jarak dengan tatapan yang dipenuhi oleh rasa frustrasi, kehampaan, dan keputusasaan yang teramat pekat. Sore itu, di bawah langit senja yang mulai menggelap, Arman tersadar bahwa dia telah sepenuhnya kehilangan kendali atas wanita yang dulu selalu mengemis perhatiannya.
Sebab, bagian paling menyakitkan dari sebuah kehilangan bukanlah saat seseorang pergi meninggalkanmu, melainkan saat kamu menyadari bahwa dia telah tumbuh menjadi sosok yang begitu kuat dan bahagia, sampai-sampai namamu tidak lagi memiliki kekuatan untuk mengusik kedamaian jiwanya.