Demi menyelamatkan diri dan bayinya, Arin memilih pergi dari suaminya dan mengubur rapat masa lalu kelam mereka. Ia mengungsi ke sebuah kampung terpencil dan menyambung hidup sebagai tukang cuci keliling demi membesarkan putra semata wayangnya.
Tapi, Takdir membawa Arin berhadapan kembali dengan laki-laki dari masa lalu yang paling ia benci dan tak ingin ia temui lagi seumur hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31
Beberapa menit kemudian, pintu kamar mandi kembali terbuka. Regan keluar dengan kaos santai dan celana panjang hitam, terlihat jauh lebih rapi.
Arin sudah duduk di pinggir kasur sambil mengelus lembut rambut Zayyan yang asyik menonton TV. Ia mendongak begitu mendengar langkah kaki Regan.
"Maaf soal tadi," ujar Regan pelan, mengusap tengkuknya.
"Aku beneran lupa bawa baju ke dalam."
Arin menghela napas panjang, menetralkan detak jantungnya yang tadi sempat maraton. "Lain kali bawa bajunya dulu sebelum masuk. Dan... kenapa pakai handuk aku?"
"Zayyan bilang handuk kamu yang tergantung di pintu, aku nggak bawa handuk dari luar," sahut Regan membela diri dengan suara pelan.
Arin hanya menggelengkan kepala, tidak ingin memperpanjang kepanikan kecil tadi. Pandangannya kemudian beralih ke meja makan yang sudah tertata rapi dengan beberapa kantong berisi makanan.
"Kamu beliin makanan?" tanya Arin.
"Iya, tadi mampir beli makan malam sekalian buat kita bertiga," jawab Regan, melangkah mendekati meja makan. Ia menarik kursi kayu kecil dan menatap Arin.
"Zayyan udah mandi, kamu bersih-bersih dulu aja, Arin. Habis itu kita makan bareng."
Zayyan menoleh sebentar, lalu berseru gembira. "Iya, Bu! Tadi Om Regan ajak makan es krim juga!"
Arin menatap Zayyan yang tampak begitu bahagia dan segar, lalu beralih menatap Regan yang kini berdiri menunggu tanggapannya. Ada rasa hangat yang perlahan menyusup di dada Arin melihat bagaimana pria itu merawat putra mereka.
"Ya udah, aku bersih-bersih dulu," ucap Arin pelan seraya bangkit berdiri menuju kamar mandi, meninggalkan Regan dan Zayyan yang saling melempar senyum tipis.
Begitu pintu kamar mandi tertutup, Regan mengembuskan napas lega. Ia menarik salah satu kursi plastik dan duduk di samping Zayyan yang masih betah menatap layar TV.
"Om," panggil Zayyan pelan, sambil menggeser duduknya mendekat ke arah Regan.
"Kenapa, Zayyan?" Regan menunduk, merapikan poni bocah itu yang sedikit berantakan.
"Tadi muka Ibu merah banget pas lihat Om. Kenapa, sih?" tanya Zayyan dengan polosnya.
Regan tersedak saliva sendiri. Ia terbatuk kecil, bingung harus menjawab apa pada anak kecil di sampingnya ini.
"Ngg... itu... Ibu kaget aja, Zayyan. Kan Om belum selesai siap-siap, tiba-tiba Ibu masuk."
"Ooh..." Zayyan mengangguk-angguk percaya begitu saja, lalu kembali fokus ke kartun kesukaannya.
Tak berapa lama, pintu kamar mandi terbuka. Arin keluar dengan pakaian rumahan yang santai, rambutnya yang agak basah diikat asal. Ia menghirup aroma makanan yang menyeruak memenuhi mess sempit mereka.
"Ibu! Ayo makan, Om Regan udah beliin makanan enak!" seru Zayyan antusias sambil melompat berdiri.
Arin tersenyum tipis melihat semangat putranya, lalu berjalan mendekati meja makan sederhana itu. Makanan sudah dikeluarkan dari kantong plastik dan tertata di atas piring Regan tampaknya benar-benar menyiapkan segalanya.
"Kamu beliin sebanyak ini?" tanya Arin heran melihat lauk-pauk yang tersaji.
"Aku nggak tahu kamu lagi mau makan apa, jadi aku beli beberapa pilihan," sahut Regan tenang, berdiri untuk menarikkan kursi untuk Arin.
"Duduklah, kamu pasti capek habis kerja."
Perlakuan perhatian yang wajar, tapi sudah lama tak dirasakan Arin membuat perasaannya berdesir canggung. Namun, melihat betapa cerianya Zayyan malam ini, Arin akhirnya melangkah dan duduk di kursi tersebut.
"Ibu mau ayamnya?" tanya Zayyan, menyodorkan piring ke arah Arin dengan penuh semangat.
"Ibu makan yang ini aja, Nak," sahut Arin lembut, mengambil potongannya sendiri sambil menyendokkan nasi ke piring kecil Zayyan.
Regan memperhatikan interaksi ibu dan anak itu diam-diam. Dulu, ia hanya bisa membayangkan bagaimana rasanya berada di posisi ini—duduk di satu meja, berbagi makanan hangat, dan mendengar tawa polos Zayyan secara langsung. Kini, meski berada di dalam ruangan mess yang sempit dengan pendingin udara yang berisik, rasanya jauh lebih tenang daripada rumah mewahnya yang sepi.
"Arin," panggil Regan pelan di tengah denting sendok mereka.
Arin mendongak. "Iya?"
"Besok... biar aku yang jemput Zayyan sekolah lagi," ujar Regan. Matanya menatap Arin sungguh-sungguh.
"Kamu nggak usah terburu-buru pulang atau khawatir. Aku bakal jagain Zayyan sampai kamu selesai kerja."
Arin menahan sendoknya di udara. Ada rasa ragu yang melintas di matanya, tapi melihat betapa dekatnya Zayyan dengan Regan sekarang, keras kepalanya perlahan melunak.
"Regan, kamu punya pekerjaan sendiri. Nggak enak kalau kamu harus terus-terusan di sini cuma buat jagain Zayyan," tutur Arin pelan, tidak ingin terdengar menolak tapi juga ragu untuk terlalu bergantung.
"Pekerjaanku bisa diatur dari laptop," jawab Regan cepat, seolah sudah menyiapkan alasan itu sejak tadi.
"Lagipula... Zayyan senang kan kalau sama Om?"
"Senang banget!" sahut Zayyan cepat tanpa ragu, mulutnya penuh dengan nasi. "Om Regan jago main game, terus tadi beliin es krim dua!"
"Zayyan, jangan makan sambil ngomong," tegur Arin halus, meski sudut bibirnya tak bisa menahan senyum tipis melihat tingkah putranya.
Ia kembali menatap Regan. Pria itu menatapnya penuh harap, menunggu persetujuan. Setelah menghela napas pendek, Arin akhirnya mengangguk pelan.
"Ya udah. Tapi tolong jangan terlalu memanjakan dia sama es krim terus."
Senyum lega langsung terbit di wajah Regan. "Siap, janji."
Selesai makan dan merapikan piring-piring kotor, Zayyan yang sudah kelelahan akhirnya tertidur pulas di atas kasur busa tipis di sudut ruangan. Napasnya teratur dan halus, menciptakan ketenangan kecil di dalam mess yang sempit itu.
Arin menyelimuti putranya hingga sebatas dada, mengelus pelan rambut Zayyan sebelum akhirnya berdiri. Pandangannya beralih ke area depan ruangan. Di sana, Regan masih duduk santai di atas kursi kayu, memegang remote TV dan menonton tayangan berita malam seolah-olah mess itu adalah rumahnya sendiri.
Arin melangkah mendekat, menghentikan langkahnya beberapa meter di samping Regan.
"Regan," panggil Arin pelan, menjaga agar suaranya tidak membangunkan Zayyan.
Regan menoleh, mematikan suara TV menggunakan remote. "Iya, Arin? Zayyan udah tidur?"
"Udah," jawab Arin singkat. Ia menyilangkan tangan di dada, menatap pria itu dengan raut wajah serius.
"Kapan kamu mau pulang? Ini udah malam."
Regan melirik jam tangan mewahnya yang menunjukkan hampir pukul sepuluh malam. "Sebentar lagi. Aku cuma mau mastiin kalian berdua bener-bener aman sebelum aku jalan."
"Regan, ini udah malam banget," tegur Arin pelan tapi tegas.
"Nggak enak sama tetangga yang lain. Ini area mess, banyak orang lalu-lalang. Kalau mereka lihat ada laki-laki asing keluar-masuk dari mess aku jam segini, bisa jadi gosip nggak jelas."
Mendengar penuturan Arin, Regan terdiam sejenak. Ia sadar Arin benar lingkungan mess seperti ini sangat rentan dengan omongan tetangga, dan ia tentu tidak ingin merusak reputasi Arin di tempat kerjanya.
Regan akhirnya meletakkan remote TV di atas meja, lalu berdiri tegak. "Maaf, aku nggak mikir sampai ke sana. Aku cuma... terlalu betah di sini."