Fatimah mengira pernikahan paksa dengan Rayhan Khalif adalah akhir dari impiannya.
Namun, saat ia mulai mencintai sang suami yang selalu memanjakannya, sebuah rahasia kelam terbongkar: Rayhan Khalif telah dijebak dan menikah siri dengan wanita dari masa lalunya.
Alih-alih mengamuk, Fatimah menghadapi pengkhianatan ini dengan cara yang elegan.
Menggunakan strategi psikologis dan ketenangan yang mematikan, sang istri bercadar siap merebut kembali kebahagiaannya. Air mata berbalut iman, siasat paling mematikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lia Lby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keinginanmu adalah Perintahku
Lima bulan telah berlalu sejak kehangatan di subuh itu mulai mengakar kuat.
Istana kecil mereka kini sepenuhnya dipenuhi oleh tawa dan warna baru.
Fatimah, yang dulunya adalah santriwati pemalu, kini telah bertransformasi total menjadi seorang istri yang sangat manja.
Perbedaan usia delapan belas tahun di antara mereka justru membuat Rayhan kian menikmati perannya sebagai pelindung yang selalu menuruti setiap jengkal keinginan istri kecilnya.
Pagi itu, sinar matahari masuk menembus celah gorden kamar utama.
Rayhan baru saja merapikan jam tangannya, bersiap untuk berangkat ke kantor.
Namun, langkah kakinya terhenti saat melihat Fatimah masih meringkuk di balik selimut tebal, wajahnya pucat dengan kening yang berkerut dalam.
Rayhan segera duduk di tepi ranjang, mengusap pipi Fatimah dengan cemas.
"Ima... Sayang, kamu kenapa?
Wajahmu pucat sekali. Sakit?"
Fatimah membuka matanya perlahan, lalu mendadak menutup mulutnya dengan telapak tangan.
"Mas Ray... perut Ima mual sekali."
"Rasanya berputar-putar."
"Kita ke dokter sekarang, ya?
"Mas batalkan semua rapat hari ini," ujar Rayhan cekatan.
Tangannya bergerak mengusap punggung Fatimah yang mulai terduduk lemas di kasur.
Fatimah menggeleng pelan, bersandar manja pada dada bidang suaminya.
"Tidak mau ke dokter, Mas Ray. Ima cuma mau tiduran seperti ini saja sama Mas."
"Tapi... Ima pusing."
"Keinginanmu adalah perintahku, Sayang. Mas tidak akan ke mana-mana hari ini."
Bisik Rayhan lembut, mengecup kening Fatimah yang terasa hangat. Ia segera meraih ponselnya, mengirim pesan singkat kepada sekretarisnya untuk membatalkan seluruh jadwal kerja.
"Sekarang, Mas buatkan sup hangat atau bubur, ya?"
"Kamu belum makan dari semalam."
Mendengar kata 'sup' dan 'bubur', wajah Fatimah justru semakin berkerut masam.
Ia menggeleng kuat-kuat sambil memeluk pinggang Rayhan erat.
"Tidak mau, Mas Ray. Ima tidak mau makan."
" Membayangkan baunya saja membuat Ima ingin muntah."
Rayhan mulai mengernyitkan dahi. Sifat manja Fatimah memang meningkat belakangan ini.
Namun menolak makan sama sekali bukanlah kebiasaannya. Kecurigaan manis mulai terlintas di benak pria dewasa itu.
"Ima, maaf... kalau Mas boleh tahu, bulan ini kamu sudah datang bulan?"
Fatimah terdiam sejenak, tampak berpikir keras di dalam dekapan suaminya.
"Eh... harusnya minggu lalu, Mas Ray. Tapi sampai sekarang belum."
Jantung Rayhan seketika berdegup kencang. Harapan besar mendadak membuncah di dadanya.
"Tunggu sebentar di sini, yah?"
"Mas ambil sesuatu dulu di kotak obat."
Rayhan bergegas menuju kamar mandi luar, mengambil sebuah alat uji kehamilan yang memang sengaja ia siapkan sejak beberapa bulan lalu.
Dengan tangan yang sedikit gemetar karena gugup, ia menyerahkannya kepada Fatimah.
"Coba periksa dulu di kamar mandi, ya, Sayang?"
Fatimah menatap alat kecil itu dengan bingung, namun ia tetap menurut.
Sepuluh menit berlalu dalam keheningan yang menegangkan bagi Rayhan.
Pria itu berjalan mondar-mandir di depan pintu kamar mandi dengan dada bergemuruh.
Saat pintu terbuka, Fatimah melangkah keluar dengan mata yang berkaca-kaca.
Tangannya memegang alat medis kecil itu, menyodorkannya ke arah Rayhan dengan bibir yang bergetar.
Di sana, dua garis merah muda terlihat dengan sangat jelas.
Rayhan terpaku. Matanya menatap tidak percaya ke arah alat itu, lalu beralih ke wajah polos istrinya.
"sayang...ini... dua garis?"
"Iya, Mas Ray... Ima... Ima hamil," bisik Fatimah, air matanya menetes pelan karena rasa haru yang luar biasa.
Tanpa membuang waktu, Rayhan langsung berlutut, memeluk pinggang Fatimah dan menyandarkan wajahnya di perut rata istrinya.
Isak tangis bahagia seorang pria dewasa terdengar di dalam kamar yang sunyi itu.
"Terima kasih, Ya Allah... Terima kasih, Ima," ucap Rayhan berulang kali dengan suara yang serak karena tangis haru.
Ia mendongak, menatap mata jernih istrinya dengan binar cinta yang kini berlipat ganda.
"Mulai hari ini, apa pun yang kamu inginkan, apa pun yang anak kita inginkan, katakan pada Mas."
" Keinginanmu adalah perintah mutlak untukku, Ratu-ku."
Fatimah tersenyum lebar di sela tangis bahagianya, mengusap rambut suaminya dengan penuh kasih.
Di balik rasa mual dan lemas yang menderanya, ada sebuah kebahagiaan suci yang kini tumbuh di rahimnya, menyempurnakan cinta mereka yang terikat karena Allah.