Di Benua Aldabaron yang dipenuhi sihir, monster, dan teknologi Rune, seorang ronin muda bernama Ryosuke Tagawa kehilangan seluruh keluarganya akibat perang yang dipicu ambisi tersembunyi Empire Krusador. Dalam pengembaraannya, ia menemukan Tenkū Matō, pedang legendaris yang ditempa dari pecahan meteor dan menguasai sihir kegelapan. Bersama katana warisannya, Nichirin-gatana, yang memiliki sihir cahaya, Ryosuke menguasai gaya pedang Hyoho Niten Ichi-ryū. Ketika pasukan Krusador menginvasi Kepulauan Great Sea dengan senjata mengerikan Beast Crust Rune Cannon, Ryosuke harus menentukan pilihan: tetap menjadi pengembara yang menghindari perang, atau bangkit melindungi mereka yang tidak mampu melawan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 — Bayangan di Perbatasan
Beberapa hari setelah latihan bersama di barak tentara bayaran, keadaan di sekitar Benteng Vargan mulai berubah.
Pada awalnya perubahan itu hanya terasa sebagai kegelisahan kecil.
Para pedagang yang datang dari wilayah luar mulai membawa kabar tentang pergerakan pasukan Empire Krusador. Beberapa desa yang berada tidak jauh dari jalur perbatasan mulai kehilangan hubungan dengan wilayah sekitar. Jalur perdagangan yang biasanya ramai menjadi lebih sepi, dan para penjaga benteng mulai meningkatkan pengawasan di sepanjang wilayah Green Continent bagian timur.
Bagi sebagian orang, hal itu hanyalah tanda bahwa perang semakin dekat.
Namun bagi Alfaro Perez, perubahan itu memiliki arti yang lebih besar.
Pagi itu, ia menerima laporan dari beberapa pengintai yang dikirim untuk memantau wilayah sekitar benteng.
Ruang utama barak menjadi lebih sunyi dari biasanya ketika Alfaro membaca laporan tersebut.
Ryosuke, Hana, Hector, Melinda, dan Amanda berdiri di hadapannya.
"Empire Krusador mulai bergerak." ucap Alfaro.
Ryosuke memperhatikan wajahnya.
"Apa yang mereka lakukan?"
Alfaro meletakkan laporan di atas meja.
"Mereka tidak langsung menyerang Benteng Vargan."
"Mereka mengubah cara mereka."
Melinda mengambil laporan tersebut dan membaca isinya.
"Desa-desa kecil di sekitar perbatasan?"
Alfaro mengangguk.
"Mereka menyerang desa yang berada di jalur menuju benteng."
Hector mengepalkan tangannya.
"Mereka menjadikannya tempat persediaan?"
"Benar." jawab Alfaro.
"Putra Mahkota Krusador tidak ingin melakukan serangan tanpa persiapan."
"Ia membangun basis sedikit demi sedikit."
Ryosuke menatap peta wilayah.
Desa-desa yang ditandai berada di sekitar jalur menuju Benteng Vargan.
Jika semua wilayah tersebut jatuh ke tangan Krusador, maka benteng akan terkepung dari berbagai arah.
"Mereka ingin memutus jalur bantuan." kata Ryosuke.
Alfaro mengangguk.
"Dan menjadikan desa-desa itu sebagai tempat pasukan mereka berkumpul."
Amanda melihat peta dengan serius.
"Berarti penduduk desa menjadi korban pertama."
Tidak ada yang menjawab.
Karena mereka semua memahami maksudnya.
Bagi Empire Krusador, desa-desa tersebut hanyalah bagian dari strategi.
Tetapi bagi penduduk yang tinggal di sana, itu adalah rumah.
Tempat mereka hidup.
Tempat mereka memiliki keluarga.
Ryosuke teringat kembali desa tempat ia berasal.
Rumah yang hancur.
Api yang membakar semuanya.
Dan orang-orang yang tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk menyelamatkan diri.
Ia menggenggam tangannya perlahan.
Alfaro memperhatikan perubahan ekspresi Ryosuke.
Namun ia tidak mengatakan apa pun.
Ia tahu luka itu masih ada.
"Pasukan benteng belum bisa bergerak bebas." lanjut Alfaro.
"Mereka harus tetap menjaga Vargan."
"Kalau mereka menarik terlalu banyak pasukan, Krusador bisa menyerang langsung."
"Jadi tentara bayaran yang akan melakukan pemeriksaan awal."
Hector mengangkat kepalanya.
"Misi?"
Alfaro mengangguk.
"Ya."
"Kita akan memeriksa desa-desa di jalur perbatasan."
"Melihat keadaan penduduk."
"Dan memastikan apakah ada pergerakan pasukan Krusador."
Ryosuke melihat anggota Shugo Ryu.
Mereka semua memahami situasinya.
Ini bukan sekadar misi biasa.
Mereka akan memasuki wilayah yang mungkin sudah berada dalam bayangan perang.
Amanda menggenggam tongkat kayunya.
Crystal Rune di ujungnya memantulkan cahaya kecil.
"Kalau ada korban..."
"Kita membantu." ucap Hana.
Ryosuke mengangguk.
"Itu tujuan kita."
Siang hari, persiapan keberangkatan dimulai.
Shugo Ryu memeriksa perlengkapan masing-masing.
Hector memastikan kapaknya dalam kondisi baik.
Melinda menyiapkan perlengkapan berburu dan alat pelacaknya.
Hana memeriksa persediaan obat.
Amanda membawa tongkat sihirnya dan beberapa perlengkapan Rune.
Ia tidak lagi terlihat seperti seseorang yang hanya bertahan hidup.
Sekarang ia terlihat seperti seseorang yang telah menemukan alasan untuk menggunakan kemampuannya.
Ryosuke berdiri di depan mereka.
"Tujuan kita bukan mencari pertempuran."
kata Ryosuke.
"Kita mencari informasi."
"Melindungi warga."
"Dan kembali bersama."
Mereka semua mengangguk.
Dulu Ryosuke mungkin akan langsung maju tanpa memikirkan apa pun.
Namun sekarang ia memahami satu hal.
Kekuatan sebuah regu bukan hanya berasal dari kemampuan bertarung.
Tetapi dari kemampuan setiap orang untuk saling menjaga.
Ketika mereka meninggalkan barak, langit di atas Benteng Vargan terlihat cerah.
Namun jauh di luar sana, di wilayah yang mulai dikuasai Krusador, api perang perlahan menyala.
Dan tanpa disadari oleh siapa pun, langkah kecil Shugo Ryu mulai membawa mereka semakin dekat dengan konflik yang lebih besar.
Perjalanan menuju desa-desa perbatasan berlangsung selama beberapa jam. Jalan yang biasanya dilewati oleh pedagang dan penduduk mulai terlihat berbeda dibandingkan sebelumnya. Tidak banyak kereta yang melintas, tidak banyak orang yang melakukan perjalanan, dan beberapa pos kecil yang biasanya dijaga oleh penduduk lokal tampak kosong.
Ryosuke berjalan paling depan bersama Melinda yang mengamati keadaan sekitar.
Sebagai seorang pemburu dan pelacak, Melinda mampu melihat perubahan kecil yang sering tidak diperhatikan orang lain.
"Jejak pasukan." ucapnya tiba-tiba.
Ryosuke langsung berhenti.
Hector dan Hana ikut menghentikan langkah.
Amanda memperhatikan tanah di sekitar jalur.
"Berapa banyak?"
Melinda berjongkok dan menyentuh bekas roda serta jejak kaki yang tertinggal.
"Banyak."
"Lebih dari kelompok kecil."
Ia melihat arah jejak tersebut.
"Mereka bergerak menuju desa."
Ryosuke menatap ke depan.
"Empire Krusador."
Tidak ada jawaban.
Karena semua sudah memahami.
Mereka mempercepat perjalanan.
Tidak lama kemudian, bangunan desa pertama mulai terlihat.
Namun pemandangan yang mereka temukan berbeda dari desa biasa.
Tidak ada rumah yang terbakar.
Tidak ada mayat.
Tidak ada kehancuran besar.
Tetapi suasananya terasa salah.
Beberapa warga berdiri dengan wajah ketakutan.
Ketika melihat Shugo Ryu datang, sebagian dari mereka langsung mendekat.
"Kalian tentara bayaran?" tanya seorang penduduk.
Ryosuke mengangguk.
"Kami dari Benteng Vargan."
"Kami datang untuk memeriksa keadaan."
Penduduk itu terlihat ragu sebelum akhirnya berbicara.
"Pasukan Krusador datang beberapa hari lalu."
"Mereka tidak menghancurkan desa."
"Mereka mengambil tempat penyimpanan makanan."
"Mereka memerintahkan kami menyediakan persediaan untuk pasukan mereka."
Hector mengepalkan tangan.
"Mereka menjadikan kalian pemasok perang."
Penduduk itu menunduk.
"Kami tidak punya pilihan."
Ryosuke diam.
Ia melihat wajah penduduk desa.
Ketakutan.
Tidak berdaya.
Tetapi masih bertahan.
Hal yang sama yang pernah ia lihat berkali-kali sejak perang dimulai.
Amanda memperhatikan keadaan sekitar.
"Mereka belum menjadikan desa ini basis penuh."
katanya.
Ryosuke menoleh.
Amanda menunjuk beberapa bangunan.
"Kalau mereka ingin membuat tempat persediaan besar, mereka akan membawa lebih banyak pasukan."
"Ini masih tahap awal."
Alfaro benar.
Putra Mahkota Krusador tidak menyerang secara terburu-buru.
Ia membangun kekuatannya perlahan.
Mengambil wilayah sedikit demi sedikit.
Melinda tiba-tiba melihat ke arah bukit.
"Ada sesuatu."
Semua langsung waspada.
Melinda menunjuk.
"Di sana."
Ryosuke melihat ke arah yang ditunjuk.
Dari kejauhan terlihat beberapa orang bergerak di antara pepohonan.
Bukan warga desa.
Gerakannya terlalu teratur.
"Mata-mata?" gumam Hector.
Ryosuke mengangguk.
"Mungkin."
Mereka tidak langsung mengejar.
Tujuan mereka bukan mencari pertempuran.
Mereka harus mendapatkan informasi.
Namun sebelum mereka mengambil keputusan, salah satu orang di bukit tersebut menyadari keberadaan mereka.
Sesaat kemudian suara peluit terdengar.
Melinda langsung berubah ekspresi.
"Mereka memberi tanda."
Beberapa detik kemudian, suara langkah kaki terdengar dari arah lain.
..._BERSAMBUNG _...
cerita nya seru, like + bunga🌹 , semangat😉