Bagus , seorang pemuda yang di tolak cintanya dengan cara menyakitkan, mengambil jalan pintas untuk mendapatkan cintanya. apa yg terjadi ? jika ternyata semua yang dia dapatkan hanya kenikmatan semu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang Alifas Yang Merumput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5 : Kegilaan Yang Di mulai
BAB 5: Kegilaan yang Dimulai
Sinar matahari pagi yang cerah perlahan mulai menembus kaca jendela besar kantor lantai sepuluh di sebuah gedung pencakar langit kawasan Sudirman. Namun, bagi Sri, kehangatan cahaya pagi itu sama sekali tidak mampu mengusir kegelapan dan kabut pekat yang sejak beberapa hari lalu menggelayuti kepalanya. Sudah tiga hari tiga malam ia tidak bisa tidur dengan nyenyak. Setiap kali ia mencoba memejamkan mata, wajah Bagus pemuda yang tempo hari ia maki-maki dengan sebutan kurir miskin di parkiran selalu hadir tanpa permisi. Bayangan pemuda ojol itu terus tersenyum manis, memandanginya dengan tatapan teduh, dan memanggil namanya dengan nada suara yang sangat memikat batin Sri. Akibat siksaan gaib itu, tubuh Sri terasa remuk redam. Lingkaran hitam yang menebal di bawah matanya kini tidak lagi bisa disamarkan, bahkan oleh lapisan foundation tebal yang sengaja ia poles berkali-kali pagi ini.
Sri duduk termenung di kubikel kerjanya yang bernuansa modern, menatap kosong ke arah layar monitor komputer yang sedang menampilkan tabel laporan keuangan bulanan perusahaan. Sepuluh jari lentiknya mematung diam di atas papan ketik. Logika sehatnya terus berteriak keras bahwa ia harus segera menyelesaikan pekerjaan menumpuk ini sebelum tenggat waktu makan siang tiba. Namun, batin dan jiwanya menolak patuh. Hawa hangat yang pekat dan berbau mistis secara tiba-tiba kembali merayap dari arah ulu hatinya, menjalar cepat menuju ke dada, lalu meledak menjadi rasa cemas dan gelisah yang luar biasa tak tertahankan. Dada Sri berdegup kencang secara tidak beraturan, berpacu liar persis seperti orang yang sedang dihantam gejala serangan panik akut.
"Sri? Sri! Kamu dengar aku tidak, sih?" Suara melengking khas milik rekan kerjanya, Siska, tiba-tiba memecah keheningan dan membuyarkan lamunan kosong Sri.
Sri tersentak hebat, badannya gemetar. Kepalanya menoleh patah-patah ke arah samping seperti sebuah boneka mekanik yang kehabisan daya baterai. Pandangan sepasang matanya terlihat sangat kosong dan sayu, membuat Siska langsung mengernyitkan dahi karena keheranan melihat gelagat aneh temannya itu.
"Ada... ada apa, Sis?" tanya Sri dengan suara yang terdengar parau, lemah, dan kehabisan tenaga.
"Itu, dokumen penting dari Pak Hendra harus kamu periksa dan tanda tangan sekarang juga. Kamu dari tadi aku panggilin malah bengong terus. Kamu sehat, kan? Muka kamu pucat sekali seperti mayat," ujar Siska sambil menyodorkan seberkas map jepit hitam ke atas meja kerja Sri.
Sri tidak langsung menjawab. Matanya kembali beralih menatap lembar demi lembar angka di layar komputer, namun anehnya, bukan tabel angka finansial lagi yang ia lihat. Ilusi gaib dari getaran energi Aji Jaran Goyang kiriman Bagus rupanya sudah mulai bekerja lebih agresif, memanipulasi penuh sistem saraf penglihatannya. Baris-baris angka digital di layar monitor itu seolah-olah bergerak sendiri, meliuk-liuk seperti cacing, lalu secara ajaib bertransformasi membentuk deretan formasi nama tunggal yang sangat jelas: B-A-G-U-S.
Sri mengusap matanya dengan kasar menggunakan kedua tangan, mencoba menyangkal apa yang ia lihat. Bukannya hilang, halusinasi itu justru membuat jantungnya berpacu semakin liar tak terkendali. Hawa panas yang menjalar di dalam kepalanya seolah mencambuk habis kesadaran rasionalnya, memaksa jiwanya untuk segera melepaskan seluruh urusan duniawi kantor demi memikirkan satu nama itu saja.
"Bagus..." bisik Sri pelan tanpa sadar, suaranya terdengar penuh kerinduan yang dalam.
"Siapa? Bagus siapa, Sri? Klien baru kita ya?" Siska yang mendengar bisikan itu langsung mendekatkan wajahnya, mencoba mendengar lebih jelas nama yang baru saja diucapkan Sri.
Sri langsung tersentak sadar, seolah baru saja ditarik paksa dari efek kejutan gaib yang sempat mengunci sukmanya selama beberapa menit. Ia menggelengkan kepala dengan cepat, mencoba mengulas senyum di bibirnya, namun senyuman itu terlihat sangat aneh, kaku, dan dipaksakan. "Bukan, Sis. Bukan siapa-siapa. Cuma... aku cuma salah sebut nama saja tadi."
Siska hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya dengan heran, lalu melangkah pergi meninggalkan kubikel Sri dengan perasaan janggal yang mengganjal di hatinya. Begitu sosok Siska menjauh dan menghilang di balik lorong kantor, pertahanan diri yang dibangun Sri selama tiga hari ini akhirnya runtuh total tak tersisa. Rasa rindu yang teramat sangat besar dan sama sekali tidak rasional langsung menyerang batinnya dengan kekuatan berkali-kali lipat lebih dahsyat dari malam sebelumnya. Ini bukan sekadar rindu biasa antar sepasang kekasih; ini adalah rasa haus gaib yang membakar kerongkongan jiwa, sebuah kekosongan roh yang sangat menyiksa yang menuntut pemilik tubuh untuk segera memenuhinya. Rasa gengsi yang tinggi dan harga diri sebagai wanita karier yang selama ini ia agung-agungkan perlahan-lahan terkikis habis, meleleh begitu saja oleh hawa panas asmara yang terus gencar menggedor dinding jiwanya.
Dengan tangan yang gemetar hebat hingga hampir menjatuhkan barang-barang di atas meja, Sri meraba bagian dalam tasnya dan mengambil ponsel pintarnya. Ia membuka aplikasi WhatsApp dengan tergesa-gesa. Tangannya bergerak seperti digerakkan oleh entitas lain di luar kendali akal sehatnya. Jarinya mengetikkan nama 'Bagus' di kolom pencarian kontak. Akun pria ojol yang semula ia blokir dengan rasa jijik dan tawa ejekan, kini ia pandangi dengan tatapan mata yang penuh damba dan air mata yang mulai menggenang. Dengan nafas memburu, Sri mulai mengetikkan sebaris pesan di kolom obrolan:
Gus, kamu di mana? Bisa kita ketemu siang ini? Aku mau minta maaf soal perkataanku yang kemarin di parkiran.
Sri terpaku sejenak. Sebelum jari jempolnya sempat menekan tombol kirim, logikanya yang tersisa masih mencoba melakukan perlawanan terakhir. Tidak, Sri! Sadar! Kamu wanita berpendidikan tinggi, kamu punya karir bagus di gedung pencakar langit ini, sedangkan dia cuma tukang ojol miskin! Kenapa kamu harus merendahkan diri dan mengemis seperti ini? jerit batinnya mencoba memberontak dari pengaruh pelet.
Namun, tindakan penolakan dari akal sehat Sri itu langsung dibalas dengan hantaman telak energi mistis secara instan dari ajian Jaran Goyang. Kepala Sri mendadak diserang rasa pening dan sakit yang luar biasa hebat, seolah-olah ada sebuah gada besi tak kasat mata yang dihantamkan tepat di atas ubun-ubun nya. Bersamaan dengan rasa sakit fisik yang mendera kepalanya, air matanya langsung menetes deras ke atas permukaan layar ponsel. Sri menangis sesenggukan dengan bahu yang terguncang hebat di depan meja kerjanya, mengundang perhatian dan tatapan heran dari beberapa rekan kantor yang kebetulan sedang berjalan lewat.
Sri sudah tidak peduli lagi dengan pandangan orang, tidak peduli lagi dengan reputasinya sebagai staf administrasi yang rapi. Rasa rindu yang tertahan di dadanya telah bermutasi menjadi siksaan fisik nyata yang membuatnya ingin menjerit histeris detik itu juga jika tidak segera bertemu Bagus.
Sri kembali meraih ponselnya dengan sisa tenaga yang ia miliki. Kali ini, benteng pertahanan logikanya sudah hancur lebur dibakar pelet. Dengan air mata yang masih mengalir membasahi kedua pipinya, ia mengetikkan pesan baru dengan sangat cepat dan langsung menekan tombol kirim tanpa berpikir dua kali:
Bagus, tolong balas pesan aku. Aku rindu banget sama kamu, Gus. Aku mau kita ketemu sekarang juga. Di mana pun kamu berada sekarang, aku bakal samperin kamu. Tolong jangan abaikan aku lagi, Gus... Aku bisa gila kalau hari ini gak ketemu kamu.
Di sudut kota yang lain, berjarak beberapa kilometer dari gedung pencakar langit Sudirman, suasana terasa kontras. Di atas sebuah motor matic tua yang sedang terparkir santai di bawah rindangnya pohon kedondong tepi jalan, ponsel yang berada di dalam kantong jaket ojek online milik Bagus bergetar panjang. Bagus perlahan meraba kantongnya, membuka layar ponsel, dan membaca setiap baris pesan darurat yang dikirimkan oleh Sri. Setelah selesai membaca pesan penuh keputusasaan itu, seulas senyuman dingin penuh kemenangan perlahan menyungging di sudut bibir Bagus. Tatapan matanya tampak kosong namun tajam. Umpan mematikan dari Aji Jaran Goyang yang ia rapalkan di malam Selasa Kliwon ternyata telah termakan sepenuhnya oleh targetnya tanpa sisa.
“Ketika kesombongan materi runtuh di hadapan kekuatan tak kasat mata, takhta yang kau banggakan akan berubah menjadi tempat penyiksaan. Penolakanmu yang berdarah kemarin, kini berbalik menjadi pesan pilu yang mengemis sebuah pelukan.”
— Sang Alifas Yang Merumput