Satu lembar uang sepuluh ribu rupiah terakhir di dompet Satria sudah berubah bentuk menjadi gumpalan lecek.
Di depannya, layar mesin ATM berkedip-kedip, menampilkan menu penarikan tunai yang terasa mengejek.
Satria menghela napas berat. Ia menekan tombol "Informasi Saldo". Dia sudah tahu angkanya akan mengenaskan, tapi dia tetap perlu melihatnya untuk memastikan seberapa jauh dia harus menahan lapar minggu ini.
Layar berganti. Angka yang muncul membuat jantungnya seolah berhenti berdetak.
SALDO REKENING ANDA:
Rp 270
Bukan 270 ribu. Bukan pula 270 juta. Hanya dua ratus tujuh puluh rupiah.
[SISTEM TOTAL KEKAYAAN]
Sisa Waktu: 00:58:42
Target Pengeluaran: Rp 50.000.000,00
Status Saat Ini: Rp 0 / Rp 50.000.000,00
Peringatan: Kegagalan akan mengakibatkan sanksi 'Kemiskinan Absolut' (Saldo dipotong menjadi Rp 27).
“Lima puluh juta. Satu jam."
"Kepala bapak kau ambyar!” umpat Satria,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode: 23
Baskoro dan Freya benar-benar melongo, membeku di tempat duduk mereka. Suasana ruang tamu yang tadinya mencekam mendadak sepi.
Tiga pria sangar yang biasanya membuat lingkungan perumahan itu ketakutan, kini lari pontang-panting hanya karena ancaman sandal jepit sebelah kiri Satria yang sudah diangkat tinggi-tinggi, bersiap untuk dilempar.
"K-Kamu... kamu resmi saya terima sebagai bodyguard pribadi Freya!"
ucap Baskoro dengan suara bergetar namun matanya memancarkan binar harapan yang amat besar.
"Mengenai gaji kamu..."
"Gak usah mahal-mahal, Pak."
"Cukup buat beli kopi saset dan mi instan dua bungkus sehari untuk bertahan hidup,"
potong Satria cepat, demi menjaga agar indikator detektor kemiskinan dari sistemnya tidak mendeteksi adanya akumulasi kekayaan pribadi yang melanggar aturan penyamaran.
Freya menatap Satria dengan kombinasi rasa heran, takjub, sekaligus sedikit gengsi khas anak orang kaya.
"Y-Ya udah... makasih."
"Tapi awas ya, besok kalau mau nemenin aku ke kantor Papa, sarungnya diganti yang agak bagusan dikit!"
"Jangan yang baunya kayak minyak kayu putih begitu!"
Keesokan harinya, Satria dengan setia mengawal Freya dan Baskoro ke kantor lama mereka yang kini sedang dalam proses penyitaan aset.
Begitu mereka melangkah masuk ke lobi utama gedung, seorang pria paruh baya berpakaian jas mewah bermerek Italia sudah menunggu di sana dengan senyum licik yang sangat memuakkan.
Dialah Budi Hendarso, kakak kandung Baskoro yang dengan tega memfitnah adiknya sendiri dan merebut seluruh kepemilikan saham perusahaan keluarga.
"Wah, lihat siapa yang datang."
"Adikku yang miskin dan tidak berguna," ejek Budi dengan nada merendahkan yang kental, menatap Baskoro dengan tatapan menghina.
"Masih berani menginjakkan kaki di sini? Perusahaan ini sudah sah menjadi milikku sepenuhnya sekarang."
"Dan apa itu di belakangmu? Kamu bahkan sudah tidak sanggup menyewa agensi pengawal yang layak?"
"Sampai-sampai harus membawa mas-mas penjaga ronda bersarung pudar begini?"
Baskoro hanya bisa mengepalkan tangannya kuat-kuat menahan amarah yang bergejolak di dadanya, sementara Freya memalingkan wajahnya, menggigit bibir bawahnya menahan air mata penghinaan yang hampir menetes.
Satria tetap berdiri diam di belakang punggung Freya.
Wajahnya tampak polos dan tidak berbahaya, namun sorot matanya secara rahasia menatap tajam ke arah Budi Hendarso.
Di dalam saku sarungnya, ponselnya bergetar lembut, memancarkan teks keemasan yang hanya bisa dilihat olehnya.
[SISTEM TOTAL KEKAYAAN]
Analisis Target Berhasil: Budi Hendarso terdeteksi memiliki simpanan dana gelap hasil korupsi dan fitnah di tiga bank sekuritas internasional tersembunyi.
Dana Taktis Perang Diaktifkan: Rp 1.000.000.000,00 (Satu Triliun Rupiah) siap disalurkan melalui Satria Corporation untuk melakukan akuisisi senyap terhadap seluruh vendor penyuplai bahan baku utama milik Budi Hendarso per detik ini.
Peringatan Mutlak: Tetaplah berpura-pura menjadi bodyguard bodoh yang tidak tahu apa-apa di depan mereka. Nikmati proses penghancuran mental dan finansial secara perlahan ini.
Satria tersenyum sangat tipis di balik pundak Freya. Ia sengaja maju satu langkah lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan gestur yang sangat lugu.
"Maaf, Pak Budi yang terhormat dan paling kaya raya... jas Anda sebenarnya bagus sekali, tapi sepertinya kancing paling bawahnya agak longgar dan miring, ya?"
"Mirip banget seperti fondasi keuangan perusahaan hasil curian Anda yang sebentar lagi bakal runtuh total ditelan bumi."
Budi Hendarso langsung melotot marah, wajahnya merah padam mendengar ucapan lancang pengawal tersebut.
"Apa kamu bilang?! Dasar bodyguard sampah tidak berpendidikan! Berani-beraninya kamu mengutuk perusahaan sukses saya?! Baskoro, usir monyet bersarung ini dari gedung saya!"
"Sudah, Budi, jangan dengarkan dia."
"Ayo Freya, Satria, kita pergi dari tempat ini,"
ajak Baskoro dengan suara lirih, menarik lengan putri dan pengawal barunya untuk meninggalkan lobi yang penuh tekanan tersebut.
Saat mereka berjalan menyusuri koridor luar gedung yang sepi, Freya berjalan agak melambat, menyamakan langkahnya di samping Satria.
Ia berbisik pelan dengan nada suara yang sangat halus, jauh dari kesan ketus kemarin.
"Hei, Mas Bodyguard... makasih ya udah berani ngomong begitu ke Om Budi tadi."
"Tapi jujur... aku takut banget kalau perusahaan Papa beneran gak bisa diselamatkan dan rentenir itu bakal..."
Satria menghentikan langkahnya sejenak, menatap mata Freya yang mulai berkaca-kaca.
Ia kemudian menepuk dadanya sendiri dengan penuh rasa percaya diri yang tinggi, meskipun ikatan sarung di pinggangnya agak miring ke kiri.
"Tenang aja, Mbak Freya."
"Di dunia ini, ada yang namanya hukum Karma. Orang yang merasa sedang berada di atas angin karena berbuat jahat, biasanya jatuhnya bakal paling berisik dan paling menyakitkan."
"Percayalah sama bodyguard sarungan pilihan Papa ini. Semua bakal berbalik dalam waktu dekat."
Freya tertegun, matanya terpaku menatap senyuman tulus dan penuh keyakinan yang terpancar dari wajah Satria.
Di dalam lubuk hatinya, ada rasa hangat yang aneh yang tiba-tiba muncul.
Gadis itu sama sekali tidak pernah tahu, bahwa mas-mas bersarung lapuk dan bersandal jepit di sampingnya ini adalah pemilik tunggal sekaligus Master tertinggi dari Satria Corporation raksasa finansial baru yang paling ditakuti di SCBD,
yang hanya membutuhkan satu ketukan jari di ponselnya untuk membuat Budi Hendarso dan seluruh jaringan bos rentenir di Jakarta jatuh miskin dan mengemis di pinggir jalanan.
Panggung pembalasan dendam terselubung sang Sultan kini resmi dimulai dengan kedok seorang pengawal serabutan.
#NOTE
Halo pembaca tersayang! Terima kasih banyak sudah membaca bab ini sampai selesai.
Bagaimana menurut kalian kelanjutan kisah kali ini? Yuk, jangan ragu untuk berikan like dan tulis teori kalian di kolom komentar, ya!
Oh ya, bagi kalian yang punya waktu luang, aku akan sangat berterima kasih jika kalian bersedia memberikan ulasan/review bintang 🌟 🌟 🌟 🌟 🌟 untuk novel ini di halaman utama.
Ulasan kalian sangat penting agar cerita kita ini makin dikenal banyak orang. Dan bagi yang punya rezeki lebih, kiriman gift sekecil apa pun akan jadi bonus semangat buat aku ngetik Episode selanjutnya.
See you in the next chapter! ✨