Kenan, CEO berkuasa, menjatuhkan talak pada Kinasih hanya untuk melindunginya. Tanpa ia tahu, wanita itu pergi membawa buah cinta mereka.
Kini Kinasih menjadi dokter muda yang berjuang sendirian, sementara Kenan terjebak dalam pernikahan hampa, hatinya tetap hanya untuk mantan istrinya itu.
Takdir mempertemukan mereka kembali. Kenan pun bertekad merebut kembali apa yang hilang, menghadapi cemburu buta istri barunya dan saingan baru yang ingin memiliki Kinasih. Akankah ia berhasil menebus kesalahan dan menyatukan keluarga mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Antara Kenan dan Firdaus, Hati Kinasih Masih Bimbang
Amara membalas genggaman itu sambil mengusap punggung tangan Kinasih. “Sudah, tidak perlu berterima kasih. Sekarang ceritakan, bagaimana kabar si dedek bayi di dalam sana? Sehat dan kuat?”
“Alhamdulillah, dokter bilang perkembangannya sangat baik dan sehat,” jawab Kinasih dengan senyum bahagia.
“Masih aktif sering menendang?” tanya Amara penasaran.
Kinasih tertawa kecil. “Aktif sekali, apalagi kalau aku sedang merasa lapar. Rasanya dia seolah protes minta segera diberi makan.”
Amara ikut tertawa mendengarnya. “Persis sifat bapaknya, kalau sudah menginginkan sesuatu pasti tidak mau menunggu lama.”
“Amara!” tegur Kinasih sambil menatapnya tajam namun tetap tersenyum. “Jangan mulai membahas dia lagi.”
“Iya, iya… maaf,” jawab Amara sambil mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. “Aku diam saja sekarang.”
Beberapa detik kemudian, raut wajah Amara berubah menjadi lebih serius. Ia menatap Kinasih dalam-dalam. “Nash.”
“Iya?”
“Aku sangat senang melihatmu sekarang. Kamu terlihat jauh lebih kuat dan tegar dibandingkan saat terakhir kali kita bertemu.”
Kinasih menghela napas pelan, lalu tersenyum tipis. “Aku sedang berusaha untuk belajar menerima segala keadaan dan menjalani hidup dengan lebih ikhlas.”
Amara mengangguk setuju. “Bagus sekali. Tapi ingat satu hal yang paling penting.”
“Apa itu?”
“Jangan lupa untuk tetap bahagia, untuk dirimu sendiri dan juga untuk anakmu itu,” pesan Amara lembut.
Kinasih mengangguk, lalu menjawab dengan suara yang lebih tenang. “Aku sedang berusaha melakukannya, Mara.”
Amara membalas senyum itu dengan tatapan yang menenangkan. “Nah, itu baru sahabatku. Aku paling tidak suka melihatmu terus-menerus bersedih.”
Keduanya pun melanjutkan obrolan santai, sesekali tertawa lepas mengingat kenangan masa-masa kuliah dan hal-hal konyol yang pernah mereka lalui bersama. Di tengah kesibukan dan hiruk-pikuk rumah sakit, pertemuan singkat itu menjadi obat penawar lelah yang sangat berharga bagi Kinasih, sekaligus mengobati rasa rindu yang terpendam lama di antara dua sahabat karib itu.
Amara menyeruput minuman dinginnya sampai habis, lalu mengembuskan napas panjang seolah ingin mengeluarkan beban pikiran yang terpendam.
“Nash.”
“Hm?”
“Ada hal yang ingin aku ceritakan.”
Kinasih menatap sahabatnya dengan perhatian penuh. “Cerita apa?”
Amara melirik ke kanan dan kiri, memastikan tidak ada orang yang terlalu dekat dan bisa mendengar pembicaraan mereka. Barulah ia melanjutkan dengan suara yang lebih pelan.
“Kemarin pagi aku sempat sarapan bersama di rumah. Dan seperti biasa, Kamila kembali membuat keributan.”
“Terus apa yang dia lakukan?” tanya Kinasih tenang.
“Dia menangis tersedu-sedu di depan Mama dan Papa, seolah-olah dialah korban yang paling menderita dan paling tersakiti dalam rumah tangga mereka,” jelas Amara dengan nada kesal.
Kinasih hanya tersenyum tipis tanpa terkejut sedikit pun. “Aku sudah menduga dia akan bersikap begitu.”
Amara menggeleng pelan. “Yang membuatku semakin kesal bukan itu saja, tapi ancaman yang dia lontarkan pada Mas Kenan.”
“Ancaman apa?” tanya Kinasih mulai penasaran.
“Dia bilang, kalau sampai proses perceraian itu benar-benar berjalan, maka keluarganya yang berada di London akan segera menarik seluruh investasi besar yang sudah ditanamkan di perusahaan Hartman Group,” ungkap Amara.
Mendengar hal itu, Kinasih sedikit terkejut. “Oh… begitu rupanya.”
“Tapi tahukah kamu apa jawaban Mas Kenan?” tanya Amara sambil tersenyum bangga.
Kinasih menggeleng. “Apa jawabannya?”
“Mas hanya menjawab dengan tenang, ‘Silakan saja jika itu keputusan terbaik menurut mereka.’”
Kinasih terdiam mendengarnya.
“Dia sama sekali tidak merasa takut atau terguncang sedikit pun,” lanjut Amara. “Bahkan dia menegaskan bahwa perusahaan yang dia bangun dari nol itu tetap bisa berdiri kokoh dan berkembang tanpa harus bergantung pada bantuan atau investasi dari siapa pun.”
Kinasih menundukkan kepalanya, tersenyum tipis. “Memang begitulah sifat Mas Kenan sejak dulu. Tegas, keras kepala, dan tidak pernah gentar menghadapi tekanan apa pun.”
Amara tertawa kecil setuju. “Benar sekali. Tapi kali ini, aku sepenuhnya mendukung pendiriannya.”
Kinasih hanya diam saja, tidak memberikan tanggapan lebih lanjut.
Amara lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, suaranya menjadi lebih lembut. “Sepertinya… tidak akan lama lagi mereka benar-benar resmi berpisah.”
Kinasih menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. “Semoga saja semuanya bisa selesai dengan baik dan tidak menimbulkan masalah yang lebih besar lagi.”
Amara menatap wajah sahabatnya dengan pandangan yang dalam, seolah ingin membaca apa yang ada di dalam hatinya. “Nash.”
“Iya?”
“Kalau nanti… kalau Mas Kenan sudah benar-benar berstatus sebagai pria bebas dan sudah bercerai sepenuhnya…” Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan. “…apakah kamu bersedia untuk kembali membangun hubungan dan rujuk lagi dengannya?”
Kinasih terdiam cukup lama. Pandangannya lurus menatap ke luar jendela kantin, melihat lalu lalang orang di halaman rumah sakit.
“Aku…” Ia menggeleng pelan. “…jujur saja, aku belum tahu jawabannya.”
Amara menghela napas pelan. “Masih bingung memikirkannya?”
“Iya,” jawab Kinasih jujur. “Ada banyak hal yang harus aku pertimbangkan dan pikirkan matang-matang sebelum mengambil keputusan apa pun.”
Amara lalu menjangkau dan menggenggam tangan Kinasih dengan lembut. “Aku tidak ingin memaksamu atau menekanmu. Aku hanya berharap agar kalian berdua bisa menemukan jalan yang membuat hati kalian tenang dan bahagia.”
Kinasih membalas genggaman itu dengan senyum tipis. “Aku tahu, Mara. Terima kasih sudah mengerti.”
“Dan satu hal lagi…” Amara tersenyum jahil sebelum melanjutkan ucapannya. “…aku masih terus mendoakan kalian setiap kali selesai beribadah.”
Kinasih mengernyitkan dahi bingung. “Doa apa yang kamu panjatkan?”
“Semoga Allah mempertemukan kembali dan menyatukan lagi hati kamu dan Mas Kenan,” jawab Amara dengan nada yakin.
Kinasih pun tertawa kecil mendengarnya. “Amara… jangan mendoakan yang seperti itu.”
“Loh, kenapa tidak boleh?” tanya Amara santai.
“Karena jodoh itu sepenuhnya menjadi rahasia dan urusan Allah,” jawab Kinasih lembut.
“Nah, makanya aku serahkan saja pada-Nya. Aku hanya berdoa meminta yang terbaik,” jawab Amara tidak kalah tangkas.
Keduanya pun tertawa bersama, mencairkan suasana yang sempat terasa sedikit serius. Obrolan mereka kembali mengalir santai, membahas kenangan masa kuliah, kesibukan pekerjaan, hingga cerita-cerita lucu yang sering terjadi di lingkungan rumah sakit.
Namun, tak lama kemudian, langkah kaki seseorang mendekat ke arah meja mereka.
“Permisi.”
Kinasih langsung menoleh dan tersenyum ramah. “Eh, Dokter Firdaus.”
Firdaus membalas senyum itu dengan wajah yang tenang dan bersahabat. “Sedang beristirahat ya?”
“Iya, baru saja selesai makan,” jawab Kinasih.
Firdaus lalu melirik ke arah Amara yang duduk di seberang. “Oh, ada tamu atau teman ya?”
Kinasih segera berdiri sedikit untuk memperkenalkan keduanya. “Dok, izin kenalkan. Ini Amara, sahabat dekatku sejak kuliah dulu.”
Amara ikut berdiri dan mengulurkan tangan dengan sopan. “Halo, Dok.”
“Halo. Saya Firdaus,” jawab pria itu sambil membalas jabatan tangan dengan lembut.
“Beliau juga merupakan dokter senior sekaligus atasan langsungku di bagian Instalasi Gawat Darurat,” tambah Kinasih melengkapi penjelasan.
“Wah, senang sekali bisa berkenalan dengan Anda, Dokter Firdaus,” ucap Amara ramah.
“Sama-sama.”
Firdaus kemudian mengangkat sebuah kantong kertas berwarna cokelat yang sejak tadi dibawanya, lalu menyodorkannya ke arah Kinasih.
“Nash, ini untukmu.”
Kinasih tampak bingung dan menatap kantong itu. “Apa ini, Dok?”
“Makanan dan camilan sehat. Kemarin aku sempat lewat toko khusus yang menjual bahan makanan berkualitas, katanya sangat baik untuk ibu hamil agar gizi janin tercukupi,” jelas Firdaus.
Kinasih tersenyum sungkan menerima pemberian itu. “Wah, jadi merepotkan sekali, Dok.”
“Tidak sama sekali. Anggap saja sebagai tambahan bekal untuk kamu di sini,” jawab Firdaus santai.
Kinasih menerima kantong itu dengan kedua tangan. “Terima kasih banyak ya, Dok.”
“Sama-sama,” jawab Firdaus sambil tersenyum hangat. “Jangan lupa makan tepat waktu, ya. Dan kalau mulai terasa lelah atau pusing, segera beristirahat saja, jangan dipaksakan terus bekerja.”
“Siap, Dok. Aku ingat pesanmu,” jawab Kinasih.
Firdaus melirik jam di pergelangan tangannya, lalu mengangguk. “Baiklah, aku pamit dulu. Masih ada beberapa pasien yang menunggu untuk diperiksa.”
“Semangat bekerja ya, Dok,” ucap Kinasih.
Firdaus menoleh dan tersenyum singkat kepada keduanya. “Sampai jumpa lagi.”
“Hati-hati di jalan, Dok,” tambah Amara.
Begitu Firdaus melangkah pergi dan menjauh hingga tidak terlihat lagi, Amara menatap punggungnya yang menghilang dengan tatapan penuh rasa ingin tahu. Setelah itu, ia memalingkan wajah kembali ke arah Kinasih dengan senyum tipis yang terasa menyelidik.
Amara masih memperhatikan punggung Dokter Firdaus sampai benar-benar menghilang di ujung lorong. Setelah itu, ia menyenggol lengan Kinasih dengan gerakan yang ringan dan usil.
“Nash.”
“Hm?”
“Itu…” Amara tersenyum lebar, matanya berbinar penuh rasa ingin tahu. “…dokter yang menyimpan rasa suka padamu, kan?”
Kinasih langsung tersipu malu, lalu tersenyum tipis sambil mengangguk pelan. “Iya.”
“Tuh kan, tebakanku benar juga!” seru Amara dengan nada puas.
Ia lalu menyandarkan dagunya di atas telapak tangan, menatap Kinasih dengan pandangan yang menyelidik. “Hmm… tidak dipungkiri, dokternya juga terlihat ganteng dan sopan, lho.”
Kinasih hanya bisa terkekeh mendengar komentar itu. “Amara, kamu ini…”
“Kenapa? Memang benar apa yang aku katakan kok,” jawab Amara santai sambil tersenyum.
Kinasih hanya menggeleng pelan, namun senyumnya tidak hilang dari wajah.
Amara kembali menatap wajah sahabatnya dengan tatapan yang lebih serius. “Terus… gimana perasaanmu sendiri? Kamu juga menyukainya?”
Pertanyaan itu membuat senyum di bibir Kinasih perlahan memudar. Ia terdiam cukup lama, seolah sedang menggali perasaan yang masih samar di dalam hatinya.
“Nash?” panggil Amara pelan.
Kinasih mengembuskan napas panjang dan lembut. “Aku… jujur saja, aku belum tahu pasti.”
Amara mengangguk mengerti. “Masih bingung memilah perasaanmu ya?”
“Iya,” jawab Kinasih jujur. “Hati ini belum benar-benar merasa tenang dan pulih sepenuhnya. Masih ada banyak hal yang membuatku ragu.”