Aruna Cheryl Adijaya adalah anak perempuan yang diadopsi oleh keluarga konglomerat Adijaya yang tersohor. Ia diambil sebagai pengganti Aaira Beril Adijaya- si bungsu yang meninggal karena sakit.
Namun kisahnya tidak seindah yang dibayangkan, kehadirannya tidak dianggap oleh ketiga saudaranya yang lain.
Tidak sampai disitu, nasib buruk masih mengikutinya saat ia dipaksa oleh Ayana- ibu tiri ketiga saudara angkatnya itu untuk menikahi seorang pria yang berusia 15 tahun lebih tua darinya. Dalam pernikahan itu ia disiksa hingga akhirnya dibunuh oleh suaminya sendiri.
Tapi saat Aruna membuka matanya, ia kembali ke usia saat masih berusia 10 tahun, 2 tahun setelah diadopsi.
Apakah Aruna akan kembali mengalami takdir yang sama? Atau Aruna akan berjuang untuk merubah takdir hidupnya yang mengenaskan?
Di saat Aruna sudah bertekad dengan keputusannya, takdir kembali mempermainkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon QueenBwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tujuh
Aruna baru saja turun dari mobil ketika ia di sambut oleh pelukan hangat Ganesha, anak itu sempat kaget sebelum tersenyum dan balas memeluk sahabatnya erat.
"Selamat pagi, Una!"
"Pagi juga. Semangat sekali, apa ada sesuatu yang membahagiakan terjadi?" tanya Aruna sembari melepas pelukan Ganesha pelan.
Ganesha tersenyum lebar dan menggeleng, kemudian ia membelalak syok saat menyadari rambut Aruna yang memendek.
"Ya Tuhan! Una! Rambutmu kenapa?!"
"Aku memotongnya. Kenapa? Apa terlihat buruk?" tanyanya sembari sedikit merapikan rambutnya.
"Tidak. Sempurna! Tapi, kenapa? Maksudku, kau sangat menyukai dan menjaga rambut panjangmu. Kenapa memotongnya tiba-tiba?"
"Hmm, hanya ingin. Aku bosan dengan model rambut lamaku. Nah, ayo masuk," kata Aruna sembari menarik tangan Ganesha memasuki sekolah. Sepanjang koridor, Aruna sadar ia menjadi bahan perhatian para siswa. Meski begitu ia tak mau ambil pusing dan mengabaikan mereka.
"Kau terlihat baru dan segar. Aku menyukainya," ucap Ganesha tiba-tiba.
Kekehan Aruna terdengar, "Apa aku dulu sesuram itu?"
"Tidak, sih. Kalau boleh jujur, saat pertama kali bertemu denganmu, kau terlihat kaku dan nampak tertekan. Aku sempat ragu untuk mengajakmu berkenalan saat itu," ungkap Ganesha.
"Tapi kau tetap mengajakku berkenalan dan menemaniku sepanjang hari."
"Karena aku tahu rasanya berada di tempat asing tanpa ada siapa pun yang mengenalmu dan mengajakmu berbicara," katanya.
Senyuman tipis Aruna terlihat, "Benarkah?"
"Yup! Dan aku tak menyesalinya! Sekarang kau terlihat lebih bebas, sorot matamu berubah lebih hidup. Aku suka perubahanmu yang sekarang, bukan berarti aku tak menyukaimu yang dulu. Hanya saja, kau yang sekarang serasa bisa aku raih," jelas Ganesha.
Kali ini tawa Aruna terdengar, "Sadar tidak kau seperti sedang menyatakan perasaanmu padaku," godanya.
Wajah Ganesha memerah samar dan itu manis, "Una! Kau tahu bukan itu maksudku! Berhenti menggodaku!" protesnya dan kembali membuat Aruna tak bisa menahan tawanya.
"Wah! Kau terlihat berbeda, Una!" sebuah suara menginterupsi tiba-tiba. Langkah Aruna dan Ganesha berhenti tepat di hadapan Abas. Anak lelaki berperawakan tinggi dengan bentuk wajah dominan blasteran. Kening Aruna mengernyit mendengar panggilannya, ia tak suka.
"Una?"
Abas mengangguk mantap, "Aku akan memanggilmu Una juga."
"Kata siapa kau boleh melakukannya?" Aruna berucap dengan nada dingin.
"Kenapa tidak? Ganesha bisa melakukannya."
"Karena Ganesha sahabatku dan kau bukan," jawab Aruna tanpa basa-basi.
Abas mengerjapkan matanya dan terkekeh, ia tidak sakit hati mendengar penuturan Aruna. Apa yang anak itu ucapkan memang benar, lagipula mereka belum selama itu saling kenal untuk bisa di anggap sahabat. Namun, tetap saja Abas ingin menjalin pertemanan dengan Aruna. Mungkin ini hanya perasaannya saja, tapi menurutnya Aruna merupakan anak yang menarik dan memiliki sesuatu yang membuat Abas begitu penasarannya dengannya.
"Kalau begitu aku mau jadi sahabatmu," kata Abas lagi.
Koridor sekolah sudah cukup ramai dan interaksi antara Abaskara juga Aruna begitu menarik perhatian karena perbedaan latar belakang keduanya. Abaskara yang merupakan penerus sah keluarga Allaric sedangkan Aruna yang merupakan anak angkat keluarga Adijaya.
Semua siswa dan siswi bahkan para guru selalu mencoba menghindari Aruna dan berusaha tidak berinteraksi dengan anak itu karena statusnya. Sementara Abaskara malah sebaliknya, ia di dekati oleh semua orang karena status keluarganya. Lalu kini Abaskara malah mengajukan diri untuk menjadi sahabat Aruna?
Apa yang terjadi?
Aruna menghela nafas, ia tidak berminat menjalin pertemanan dengan siapa pun kecuali Ganesha. Bukan itu tujuannya ketika ia berhasil kembali ke masa lalu, percuma ia memiliki banyak sahabat jika tak ada satu pun dari mereka yang bisa menolongnya ketika ia butuh. Tidak ada yang benar-benar tulus padanya, mereka hanya baik di awal saat mendengar nama Adijaya tersemat di belakang namanya lalu ketika mengetahui perlakuan yang ia terima dari keluarga Adijaya, mereka menjauhinya.
Maka Aruna tidak keberatan jika semua orang di sekolah menjauhinya karena memang itu yang ia mau, dirinya jadi tak perlu repot menolak mereka.
Tapi kenapa tiba-tiba Abaskara jadi tertarik padanya?
Aneh sekali.
"Tidak, terima kasih. Aku tidak berminat menjalin hubungan pertemanan dengan siapa pun saat ini juga ke depannya," tolak Aruna terang-terangan. Hal itu membuat para siswi di tempat itu langsung syok dan menatap Aruna tak percaya.
Bisa-bisanya anak angkat sepertinya menolak Abaskara. Aruna sudah tahu apa yang mereka pikirkan karena terlihat jelas sekali dari raut wajah kesal mereka. Namun, Aruna tidak perduli.
"Tapi kau berteman dengan Ganesha. Kenapa aku tidak boleh?" tanya Abaskara masih tidak menerima jawaban Aruna.
"Perlu aku menjawabmu?"
"Tentu saja! Aku tidak terima kalau aku di tolak tanpa alasan pasti," dengus Abas. Anak lelaki itu bersedekap angkuh di hadapan Aruna.
Aruna menghela nafas lagi, menjengkelkan sekali menghadapi anak kecil seperti Abas begini. Tapi Aruna melangkah maju dan mendekati Abas hingga wajahnya tepat berada di dekat telinga anak itu.
"Karena aku tahu kau memiliki motif tersembunyi, Abaskara. Jadi, lupakan niatmu dan jauhi aku," bisik Aruna lalu ia memundurkan wajahnya lagi dan tersenyum lebar.
"Kuharap kau mengerti, Abas. Aku rasa anak angkat sepertiku tidak pantas berteman dengan Tuan Muda sepertimu. Aku pergi, ayo Ganes," kata Aruna lalu menarik Ganesha pergi begitu saja meninggalkan Abas yang hanya diam dengan raut wajah aneh. Berikutnya Abas malah tertawa geli sendiri dan berbalik untuk melihat kepergian Aruna masih dengan senyum di wajahnya.
Sementara itu Ganesha melirik Aruna khawatir. Mereka sudah tiba di kelas dan langsung terduduk di tempat masing-masing.
"Una, kau tidak apa-apa?" tanyanya sembari terus memperhatikan gerak-gerik Aruna yang nampak biasa saja.
"Ya, kenapa bertanya?"
"Aku hanya cemas, kau nampak berbeda setelah kita bertemu Baskara tadi. Apa ia juga mengganggumu tanpa sepengetahuanku?"
Aruna menoleh dan tersenyum, "Tidak, kok. Aku hanya mengantuk, semalam rasanya sulit sekali tertidur."
"Kau sakit? Kita ke UKS saja."
"Aku baik, tenang saja. Kau tahu, hanya mimpi buruk biasa," lugasnya.
"Begitu kah?"
"Hmm."
Aruna tidak sepenuhnya berbohong, ia memang kesulitan tertidur setiap malam semenjak kembali memutar waktu. Bayang-bayang kejadian masa lalunya benar-benar menghantui dan terus mengikutinya bahkan hingga ia telah kembali lagi. Semua perasaan sesak dan marah itu masih terkumpul di hatinya hingga menjadi beban berat. Sepertinya ia takkan bisa tidur dengan tenang sebelum berhasil menyelesaikan tujuannya.
Tapi sampai kapan?
Sampai kapan ia akan merasa seperti ini?