NovelToon NovelToon
Menikahi Ayah Mantanku

Menikahi Ayah Mantanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Perjodohan
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Dunia_halusinasi

Diana Ayuningtyas, Berniat memberikan kejutan. dengan sengaja mendatangi Apartemen Gilang Wijaya - sang kekasih, untuk merayakan ulang tahunnya.

Tetapi malah mendapatkan kenyataan bahwa kekasihnya ternyata tinggal bersama wanita lain.

"Kamu siapa ?"

"Aku? Aku tunangan pemilik Apartemen ini!"

Duarrr...

Diana langsung terdiam mematung, tidak ingin percaya.

"Sayang ! Siapa yang datang ?"

Tapi suara Gilang dari dalam, yang memanggil wanita di depannya ini dengan panggilan mesra, membuatnya tidak bisa menahan nya lagi.

Sebelum Gilang datang, Diana segera pergi dengan air mata yang perlahan mengalir.

Lift perlahan tertutup, matanya menatap lurus ke depan, hatinya bergemuruh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia_halusinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 Kesalahpahaman di kantor catatan sipil

Bab 7: Kesalahpahaman di Kantor Catatan Sipil

Mendengar jawaban Arga, jantung Diana yang sempat berdebar kencang perlahan kembali tenang.

Ia menatap pria itu dengan rasa lega sekaligus kagum.

Di tengah situasi yang rumit ini, Arga tetap menunjukkan sikap yang penuh rasa hormat, tidak memanfaatkan posisinya sedikit pun.

“Terima kasih, Pak Arga. Kalau begitu… saya siap,” ujar Diana dengan senyum kecil yang mulai terukir di bibirnya.

Ternyata itu yang dia khawatirkan, tapi aku juga tidak yakin bisa menahannya .

Astaga ! Sadar Arga ! Kau seperti anak muda yang sedang kasmaran saja.

Arga merutuki dirinya dalam hati, bahkan kepalanya menggeleng tanpa sadar.

Diana yang melihat itu sedikit heran.

"Pak ! Anda baik-baik saja?" Dia menggerakkan tangannya di depan Arga, membuat si empunya kembali tersadar.

Arga hanya tersenyum kaku.

Untuk menutupi kegugupannya, ia segera memanggil Radit masuk ke ruangan.

“Radit, tolong siapkan semua dokumen yang diperlukan untuk urusan pernikahan. Kita akan mengurusnya secara resmi hari ini juga”

“Baik, Tuan,” jawab Radit sigap, meski di dalam hatinya ia sedikit terkejut —

baru kemarin tuannya membicarakan soal tekanan dari keluarga,

hari ini sudah ada keputusan yang pasti.

Ternyata tuan gercep juga . Radit membatin sambil menahan senyum.

Dan sebagai asisten, ia hanya bisa patuh dan menjalankan tugas dengan baik.

Siang itu juga, mereka berangkat menuju kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil.

Arga mengajak Diana menggunakan mobil pribadinya,

dan sepanjang perjalanan suasana terasa canggung.

Mereka duduk bersebelahan, tetapi saling berpaling muka. Keduanya kompak melihat ke luar jendela.

Arga sesekali bertanya soal kebiasaan Diana,

kondisi orang tuanya, dan hal-hal ringan lainnya untuk mencairkan suasana.

"Apakah kamu ingin mengunjungi orangtua mu ?" Tanya Arga

"Yah, mungkin nanti" Jawab Diana

Arga berpikir sebentar, lalu menatap Diana dalam.

"Nanti lusa, kita bersama-sama mengunjungi orangtua mu, aku juga ingin bersilaturahmi dengan mereka"

"Benarkah?" Tanpa sadar Diana memegang lengan Arga karena bahagia.

Senyumnya begitu manis sampai membuat Arga terpesona.

Cantik..

Diana tersadar, lalu dengan pelan melepaskan genggaman tangannya.

"Maaf, aku kelepasan" Cicitnya malu

Arga hanya terkekeh geli.

"Tidak apa-apa, bukankah kita akan menikah. Hal seperti ini pasti akan sering terjadi"

Hah... Diana tersenyum malu-malu.

......................

Sesampainya di kantor Capil, mereka langsung diantar ke ruang pelayanan khusus karena sudah diatur sebelumnya.

Begitu duduk di hadapan petugas yang bertugas — seorang wanita paruh baya, terlihat name tag nya, Rina.

mereka menyerahkan berkas-berkas yang sudah lengkap.

Bu Rina melihat dokumen satu per satu, lalu menatap kedua orang di depannya secara bergantian.

Matanya menyipit sedikit, seolah membandingkan wajah keduanya.

Setelah beberapa saat, ia mengangguk seolah menemukan jawaban di dalam pikirannya.

“Baiklah, Bapak dan Anak. Semua berkas ini sudah lengkap. Sekarang Bapak dan Anak hanya perlu menandatangani surat pernyataan persetujuan pindah alamat dan pendataan keluarga baru ini,” ujar Bu Rina dengan nada ramah.

Mendengar ucapan itu, Arga dan Diana sama-sama tertegun.

Mereka saling pandang sejenak, lalu berusaha menahan tawa yang ingin meledak.

“Ehm… Bu, maaf. Sebenarnya bukan seperti itu,” kata Arga sambil berusaha menjaga sikap tenang.

Bu Rina mengangkat alisnya bingung.

“Bukan apa? Bukan ayah dan anak? Wajahnya mirip lho, Bapak terlihat lebih tua, dan Mbaknya masih sangat muda. Saya kira ini pendataan keluarga.”

Kali ini Diana tidak bisa menahan senyumnya lagi.

Ia menutup mulut dengan tangan, bahunya sedikit bergetar menahan tawa.

Arga pun tersenyum lebar, namun sedikit di paksakan.

Apa aku se-tua itu ? Batin Arga

“Maaf, Bu. Kami datang bukan untuk pendataan keluarga. Kami ingin mengurus pencatatan pernikahan resmi,” jelas Arga dengan nada sabar dan sedikit di tekan.

Mata Bu Rina terbelalak lebar, mulutnya terbuka sedikit karena terkejut.

Ia menatap lagi ke arah Arga, lalu ke arah Diana, berulang kali seolah tidak percaya dengan apa yang baru didengarnya.

“Pernikahan? Maksud Bapak… Bapak dan Mbak ini akan menikah?” tanyanya lagi untuk memastikan, suaranya sedikit meninggi karena kaget.

“Benar, Bu. Kami sudah sepakat dan memikirkannya dengan matang,” jawab Diana kali ini, dengan suara yang lebih tegas meski pipinya terasa memanas.

Bu Rina menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum malu.

“Ya ampun, maafkan saya! Saya kira Bapak ini ayahnya, karena perbedaan usianya cukup jauh dan tatapan Bapak seolah sedang menjaga anaknya sendiri. Ternyata calon suami istri! Maaf ya, saya salah paham.”

“Tidak apa-apa, Bu. Banyak orang yang akan berpikir seperti itu,” jawab Arga datar, ia merasa sedikit jengkel.

Sepertinya aku harus lebih giat lagi berolahraga, istriku masih muda. Pasti banyak pria yang akan meliriknya.

Jangan sampai itu terjadi !

Arga menatap Diana dari samping.

Memang benar.

Diana sangat cantik, apalagi ketika tersenyum. Dia terlihat manis.

Pantas saja Gilang tertarik padanya.

Diana menoleh karena merasa di perhatikan, dan Arga langsung mengalihkan pandangannya,

dia merasa malu karena ketahuan curi-curi pandang.

Dan setelah memperbaiki kesalahpahaman itu, proses pun berjalan lancar.

Bu Rina menjelaskan setiap poin dalam surat perjanjian dan buku nikah dengan jelas.

Saat sampai pada bagian hak dan kewajiban,

Arga menoleh ke arah Diana dan berbicara dengan nada lembut agar hanya terdengar olehnya.

“Diana, lihat baik-baik . Jika ada poin yang membuatmu tidak nyaman atau ingin diubah, katakan saja. Jangan ragu” bisiknya.

"Baiklah, dan.... Terimakasih" Ujar Diana

Ia membacanya dengan teliti.

Semua poinnya adil: tidak ada paksaan dalam hubungan, jaminan kebutuhan hidup, perlindungan hukum, dan kesepakatan berakhir setelah satu tahun tanpa ikatan lebih lanjut.

Ia mengangguk mantap.

“Semuanya sudah sesuai, Pak. Saya setuju,” jawabnya pelan. Malu malu kucing.

Arga pun mengangguk puas.

Saat keduanya menandatangani dokumen itu, jari mereka tanpa sengaja bersentuhan sesaat.

Deg deg deg ....

Jantung keduanya berdegup kencang.

Diana menarik tangannya sedikit karena terkejut,

Jantungku ! Batin Diana

namun Arga justru tersenyum kecil dan menatapnya dengan pandangan hangat.

Ada rasa nyaman yang tiba-tiba menyelimuti hati Diana,

Setelah semua selesai dan buku nikah resmi diserahkan,

mereka keluar dari ruangan dengan perasaan yang campur aduk.

Diana merasa lega, ada sedikit kebahagiaan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.

Sedangkan Arga masih sedikit kepikiran dengan kejadian tadi, dimana dia di sangka ayah Diana.

Itu sedikit menyebalkan untuknya.

Di luar sana, banyak wanita muda yang mengantri dan mendekati nya.

Dan dia menjadi percaya diri karena hal itu.

tetapi saat bersama Diana ?

Apakah dia memang terlihat seperti ayahnya?

Di luar, Radit yang sudah menunggu dan segera mendekat.

“Sudah selesai, Tuan?” tanya Radit.

“Sudah " Jawabnya singkat.

Radit mengedipkan mata berkali-kali.

Ada apa dengan tuannya ?

"Diana, kamu tunggu dulu di mobil, aku ingin berbicara dengan Radit !" Ujarnya lembut,

Diana mengangguk dan segera menuju mobil.

"Sepertinya ada hal yang penting " Gumamnya

Setelah Diana pergi, Arga mendekati asistennya.

"Apa aku terlihat tua ?" Tanya nya tanpa basa-basi

Radit bingung,

Tuan memang sudah tua kan ! Aku rasa usia tuan sudah hampir setengah baya.

Tetapi kata itu hanya terucap di dalam hati, ia tidak punya keberanian sebesar itu untuk mengungkapkannya.

"Tuan pria dewasa yang sehat dan bugar, saya bahkan merasa iri dengan tuan !" Ujar Radit dengan penuh keyakinan

Ia berharap tuannya cukup puas dengan jawaban itu.

Arga menatapnya dengan penuh selidik, membuat Radit gugup.

"Tuan, saya rasa Nyonya sudah menunggu terlalu lama " Ujar Radit

Arga akhirnya tersenyum.

"Nyonya" Ucap Arga dengan senyum yang aneh,

Radit merinding, ia mengelus tengkuknya pelan.

"Mari Tuan"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!