Selama 10 tahun, Inspektur REYHAN tidak pernah bisa melupakan kasus pembunuhan berantai yang membuat rekannya mati mengenaskan. Ciri khas pembunuhnya: selalu meninggalkan genangan darah segar, tapi TIDAK ADA JENAZAH, TIDAK ADA JEJAK, DAN TIDAK ADA MAYAT — seolah darah itu mengalir dan lenyap begitu saja ke dalam udara. Kasus itu ditutup sebagai misteri tak terpecahkan, sampai Reyhan menemukan petunjuk yang mengarah ke desa terpencil bernama DESA KELAM — tempat di mana rahasia paling mengerikan disembunyikan selama ratusan tahun. Di sana ia sadar: ini bukan sekadar pembunuhan biasa, tapi awal dari sesuatu yang jauh lebih besar dan mematikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Caesarius A Enda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KENYATAAN YANG HANCUR
Siklus penyiksaan terus berulang — tumbuh, disiksa, hancur, tumbuh lagi… berulang kali tanpa jeda, tanpa belas kasihan. Tapi Nihil belum puas. Ia ingin membuat mereka merasakan sesuatu yang jauh lebih buruk daripada sekadar rasa sakit fisik.
“Kalian pikir sakit di badan saja sudah cukup?” suara Nihil menggema dari ribuan mulut yang berdarah dan sobek, setiap kata membuat seluruh ruangan yang terbuat dari daging dan tulang berguncang hebat. “Aku akan hancurkan JIWA, INGATAN, DAN KENYATAAN KALIAN SENDIRI — sampai kalian tidak tahu mana yang asli, mana yang palsu, sampai kalian sendiri tidak tahu apakah kalian benar-benar ADA atau hanya mimpi buruk yang terus berulang.”
Ia menjulurkan tangan yang terbuat dari ribuan otak basah yang berdenyut, lalu menempelkan telapak tangannya ke dahi Zahara yang sekarang sudah tumbuh kembali tapi penuh bekas luka dan darah kering.
Seketika itu, DUNIA DI KEPALA ZAHARA HANCUR.
Ia melihat dirinya sendiri — tapi bukan sebagai Ratu Api yang kuat dan cantik. Ia melihat dirinya sebagai MAKHLUK KECIL YANG LUMPUH, KULITNYA BUSUK DAN SOBEK, TUBUHNYA DIPENUHI ULAT DAN CACING YANG MEMAKANNYA HIDUP. Ia melihat bahwa semua kenangan indah tentang api, tentang cinta, tentang teman-temannya — SEMUA ITU BOHONG. Itu hanya mimpi pendek yang muncul di antara ribuan tahun siksaan yang tak berujung.
“LIHAT!!! KENYATAANMU ADALAH INI — KOTOR, BUSUK, SAKIT, DAN TIDAK BERHARGA!” teriak Nihil sambil memasukkan ribuan kenangan palsu ke dalam kepala Zahara: ia melihat dirinya lahir dari tumpukan kotoran dan darah, melihat dirinya dipukul dan disiksa sejak lahir, melihat teman-temannya bukan sebagai sahabat — melainkan sebagai MAKHLUK YANG SELALU MENIPU, MENJUAL, DAN MENYIKSA DIRINYA LEBIH PARAH DARI SIAPA PUN.
Zahara menjerit bukan karena sakit badan — tapi karena SAKIT DI JIWANYA. Ia tidak tahu lagi apa yang benar, apa yang salah. Ia mulai percaya bahwa ia memang makhluk busuk yang tidak berharga, bahwa semua kebaikan yang pernah ia rasakan hanyalah tipuan jahat. Ia mulai membenci dirinya sendiri, membenci teman-temannya, membenci segala sesuatu yang ada.
Dan Nihil tertawa — tertawa yang bikin otak mau pecah.
“BAGUS… BAGUS SEKALI… SEKARANG KAMU MULAI BENAR-BENAR MILIKKU.”
Lalu ia beralih ke Elara.
“Kamu yang suka keindahan dan ketenangan kan? Aku akan berikan keindahan yang paling sempurna.”
Ia menyentuh dada Elara, dan seketika itu SELURUH TUBUH ELARA BERUBAH MENJADI RIBUAN MATA YANG KECIL, BASAH, DAN SELALU TERBUKA.
Setiap mata itu bisa melihat — melihat segala sesuatu yang paling mengerikan, paling menjijikkan, paling menyedihkan yang pernah ada di seluruh alam semesta. Ia melihat ribuan milyaran makhluk disiksa, dimakan, dicabut, dihancurkan… SEMUA ITU IA LIHAT SEKALIGUS, DI SEMUA MATA KECILNYA, TANPA PERNAH BISA MENUTUP SEDIKIT PUN.
Yang lebih mengerikan: setiap mata itu JUGA BISA MERASAKAN. Setiap rasa sakit yang ia lihat, ia rasakan juga di tubuhnya sendiri. Rasa terbakar, rasa dipotong, rasa dimakan, rasa sakit hati, rasa putus asa — SEMUA MASUK KE DALAM DADANYA SEKALIGUS.
“Rasakan keindahannya… rasakan betapa sempurnanya semua rasa sakit ini…” bisik Nihil sambil mengelus-elus ribuan mata kecil yang berdenyut dan meneteskan air mata darah. “Sekarang kamu adalah saksi dari segala kengerian — dan kamu akan merasakannya selamanya.”
Untuk Raka, Nihil melakukan hal yang jauh lebih buruk daripada melumpuhkannya:
“Kamu suka bergerak, kamu suka kecepatan kan? Sekarang aku buat kamu bergerak TERUS-MENERUS — tapi kamu tidak akan pernah sampai ke mana-mana.”
Ia mengubah tubuh Raka menjadi GULUNGAN DAGING DAN TULANG YANG TIDAK BERBATAS, terus bergerak, terus memutar, terus melesat maju… tapi ia selalu kembali ke tempat yang sama, selalu kembali ke ruangan neraka yang penuh darah dan bau busuk ini.
Setiap kali ia bergerak cepat, tubuhnya sendiri akan TERSOREK, TERIRIS, TERKOYAK OLEH GERAKANNYA SENDIRI. Darahnya mengalir makin deras, dagingnya makin sobek, tulangnya makin remuk… tapi ia TETAP HARUS BERGERAK, tidak bisa berhenti sedikit pun. Dan di dalam kepalanya, ia selalu melihat bayangan tempat yang indah dan damai — tempat yang ia tahu tidak akan pernah bisa ia capai, tidak peduli seberapa cepat ia berlari, tidak peduli seberapa jauh ia melangkah.
“LARI YANG CEPAT… LARI YANG JAUH… TAPI INGAT — KAMU TIDAK AKAN PERNAH KELUAR DARI SINI. KAMU AKAN SELALU KEMBALI KE PELUKANKU, UNTUK DISIKSA LAGI DAN LAGI.”
Untuk Lira yang dulu penuh cinta dan kasih sayang:
“Kamu suka mencintai kan? Sekarang aku buat kamu MENCINTAI HAL YANG PALING MENJIJIKKAN, PALING MENGERIKAN, PALING MENYAKITKAN DI DUNIA INI — DAN KAMU TIDAK AKAN PERNAH BISA BERHENTI MENCINTAINYA.”
Ia menyentuh hati Lira yang masih tergantung di luar dadanya, dan seketika itu HATI KECIL ITU BERUBAH MENJADI MAKHLUK KECIL YANG JIJIK — TUBUHNYA LENGKET, BERLENDIR, BERBAU BUSUK, MULUTNYA PENUH GIGI TAJAM YANG SELALU MENGGEROGOTI DAGING LIRA SENDIRI.
Tapi Lira merasakan CINTA YANG PALING BESAR, PALING DALAM, PALING GILA untuk makhluk kecil yang menyiksanya itu. Ia merasakan rasa rindu yang luar biasa saat makhluk itu tidak menggigitnya, rasa bahagia yang tak terbayangkan saat makhluk itu memakan dagingnya, rasa puas yang luar biasa saat makhluk itu meminum darahnya. Ia menangis karena bahagia setiap kali tubuhnya disiksa, ia memohon makhluk itu untuk menyakitinya lebih keras lagi, lebih dalam lagi — karena ia percaya bahwa rasa sakit itu adalah BUKTI CINTA YANG PALING MURNI.
“Cintailah dia… cintailah rasa sakitmu sendiri… karena itulah satu-satunya hal yang akan selalu ada bersamamu selamanya.”
Dan untuk Damian, Raja Kegelapan yang dulu paling kuat dan dingin:
“Kamu suka kegelapan kan? Kamu suka kesendirian kan? Sekarang aku buat kamu SELALU MELIHAT CAHAYA YANG PALING TERANG, PALING MENYILAU, PALING MENYAKITKAN — TAPI CAHAYA ITU TIDAK PERNAH MENYINARI APA PUN.”
Di depan mata Damian sekarang selalu ada CAHAYA PUTIH YANG LUAR BIASA TERANG, membuat matanya terbakar dan berdarah terus menerus. Tapi di balik cahaya itu TIDAK ADA APA-APA — tidak ada tempat, tidak ada orang, tidak ada jalan keluar. Hanya cahaya kosong yang menyakitkan mata, yang selalu mengingatkannya bahwa DULU PERNAH ADA KEHIDUPAN, PERNAH ADA HARAPAN, PERNAH ADA CINTA — TAPI SEMUANYA SUDAH HILANG SELAMANYA.
Ia merasakan kesepian yang tidak bisa dijelaskan — kesepian yang menusuk sampai ke tulang sum-sum, kesepian yang membuatnya ingin hancur berkeping-keping, tapi ia tidak bisa mati, tidak bisa hilang, tidak bisa lari ke mana-mana. Ia selalu sendirian di tengah cahaya yang menyakitkan itu, selalu mengingat apa yang sudah hilang, selalu tahu bahwa ia tidak akan pernah bisa mendapatkannya lagi.
“Rasakan kesepianmu… rasakan penyesalanmu… itu adalah makanan paling enak yang pernah aku rasakan.”
Tapi kengerian belum berakhir.
Nihil mengangkat kedua tangannya ke atas, dan seluruh ruangan daging itu mulai berubah bentuk lagi. Dinding-dinding kulit itu sekarang TERBUKA LEBAR, MENAMPARKAN DI BALIKNYA — DIRI MEREKA SENDIRI.
Mereka melihat ribuan, jutaan, milyaran salinan diri mereka sendiri — semua sedang disiksa dengan cara yang berbeda-beda, semua menjerit dengan suara yang sama persis, semua menangis dengan air mata darah yang sama. Dan yang paling mengerikan: MEREKA BISA MERASAKAN SAKIT DARI SEMUA SALINAN ITU SEKALIGUS.
Setiap kali satu salinan dipotong, mereka semua merasakan potongan itu.
Setiap kali satu salinan dibakar, mereka semua merasakan api itu.
Setiap kali satu salinan menangis, hati mereka semua hancur berkeping-keping.
“LIHAT!!! KALIAN BUKAN MAKHLUK TUNGGAL… KALIAN ADALAH LAUTAN SAKIT DAN KEGERIAN YANG TIDAK ADA AKHIRNYA. Kalian ada di mana-mana, kalian merasakan segalanya, kalian sakit selamanya — dan TIDAK ADA YANG BISA MENOLONG KALIAN, TIDAK ADA YANG BISA MENDENGAR KALIAN, TIDAK ADA YANG TAHU BAHWA KALIAN PERNAH ADA.”
Nihil mendekatkan wajahnya yang terbuat dari ribuan wajah mereka sendiri, menatap mata mereka yang penuh keputusasaan dan kegilaan.
“Dan bagian yang paling indah… AKU ADALAH KALIAN. Aku terbentuk dari semua rasa sakit, semua rasa takut, semua rasa benci yang pernah ada di dalam dirimu. Aku adalah bagian tergelap, terburuk, dan paling benar dari dirimu sendiri. Kalian tidak bisa melawanku… karena kalian sedang melawan DIRI KALIAN SENDIRI.”
Seketika itu, Zahara, Elara, Raka, Lira, dan Damian sadar — mereka tidak sedang disiksa oleh makhluk luar. MEREKA SEDANG MENYIKSA DIRI SENDIRI. Semua rasa sakit, semua kengerian, semua keputusasaan itu berasal dari dalam hati mereka sendiri, dari ketakutan terdalam mereka, dari hal yang selalu mereka sembunyikan dan takutkan seumur hidup.
Dan kenyataan itu jauh lebih mengerikan daripada segala penyiksaan fisik yang pernah mereka rasakan.
Mereka menjerit — menjerit sampai jiwa mereka rasanya mau lepas, menjerit sampai tidak ada lagi suara yang keluar dari mulut mereka, menjerit sampai mereka lupa apa itu suara, apa itu mulut, apa itu diri sendiri…
Tapi jeritan mereka hanya menjadi makanan yang lebih enak untuk Nihil — yang sekarang makin besar, makin kuat, makin mengerikan, karena ia sekarang memiliki SEGALANYA.
“SEKARANG KALIAN SUDAH TAHU KEBENARANNYA…” bisik Nihil dengan suara yang lembut dan mengerikan. “Dan sekarang kalian akan merasakan kebenaran itu — SELAMANYA.”