Bagaimana perasaan mu jika kau terpaksa harus menikah muda? Terutama dengan orang yang usianya jauh lebih tua dari mu? Inilah yang terjadi dengan Clara Adeline Ferguson. Ia adalah putri tunggal keluarga Ferguson yang terkenal kaya. Papa nya juga adalah salah satu donatur terbesar sekolah SMA Citra Kirana di kota X.
Kenapa? Scandal apa yang telah dia lakukan sehingga ia harus menikah begitu dini? Ya. Jawaban nya adalah. Clara itu sangat nakal dan juga tidak pernah mendengarkan kedua orang tuanya,ia bahkan bisa di bilang anak manja dengan perilaku buruk, tidak jarang ia membuat onar di sekolah, ia bahkan selalu mendapat nilai merah di raport nya dan terancam tidak naik ke kelas tiga karena sering bolos sekolah.
Sementara itu Zidan, adalah seorang guru laki-laki termuda di sekolah SMA Citra Kirana yang katanya adalah keponakan kepala sekolah, namun identitas Zidan ini tidak lah akurat seperti sedikit tertutup dan tidak ada yang tau tentang keluarga nya kecuali sang paman.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosemary Mary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode #08
"Ngak Nola, gue gak bercanda, papa gue ngejodohin gue sama seseorang dan gue bakal nikah secara rahasia Minggu depan dan cuma Lo satu-satunya orang yang gue kasih tau," kata Clara dengan wajah serius.
Nola yang melihat tatapan serius Clara tidak bisa berkata-kata lagi tidak pernah raut wajah sahabat nya seserius ini.
Clara pun mulai meneruskan ceritanya nya, tidak ada sedikitpun yang dia sembunyikan dari Nola, ia menceritakan kepada Nola sebab sang papa menjodohkan nya dengan seorang yang dia tidak kenal sama sekali, Clara juga meminta Nola untuk merahasiakan kepada semua orang di sekolah kalau dirinya akan menikah. Namun Clara tidak mengatakan kalau laki-laki yang akan menjadi suaminya adalah seorang guru.
Setelah mendengar cerita Clara, barulah Nola percaya atas semua yang menimpa sahabat nya tersebut.
"Clara kenapa pilihan nyokap sama bokap Lo se pendek ini sih? Mereka gak ngasih kesempatan gitu buat Lo berubah kenapa harus langsung nikah segala?" tanya Nola sambil memegang tangan Clara.
"Sebenarnya udah banyak kesempatan yang gue lewatin Nola, dan gue gak punya kesempatan lagi sekarang," kata Clara sambil tersenyum kecut.
"Terus yang nikah sama Lo siapa? Lo kenal gak orang nya dan resepsi nya bagaimana?" tanya Nola bertubi-tubi.
"Nol, gak ada yang namanya resepsi karena ini tersembunyi, mungkin Lo juga gak bakal bisa datang, gue gak kenal orang nya, mama sama papa gue bilang gue bakal kenal setelah hari pernikahan ya Minggu ini," kata Clara lagi.
"Astaga," kata Nola menyerah dia tidak bisa berkata apa-apa lagi kepada Clara karena ini masalah pribadi yang cukup rumit bagi nya.
"Nola, sebelum gue nikah, gue punya satu permintaan sama Lo," ucap Clara yang membuat lamunan kesedihan Nola menjadi buyar.
"Apa Clara? Bilang sama gue," kata Nola lagi.
"Gue mau Lo temenin gue ke rumah kak Brayen, gue kau minta maaf secara langsung sama dia soal kejadian gue yang ngedorong Yuna sampai dia masuk rumah sakit," ucap Clara sambil tersenyum kecil.
"Lo masih mau ketemu sama dia? Clara dengerin gue, dia gak bakal maafin Lo karena dia itu orang yang egois dia gak bakal percaya kalau sebenarnya Lo gak salah, Yuna aja yang bikin Lo kesel kan?" kata Nola tak setuju.
"Pliss Nola, ini juga mungkin terakhir kalinya gue bicara sama dia, setelah nikah gue mungkin emang masih sekolah tapi gak mungkin seperti biasa lagi, gue harus bersikap baik gue harus merubah semua sifat buruk gue supaya gue bisa bebas setelah satu tahun," kata Clara berusaha membujuk sang sahabat.
"Astaga anak ini, yaudah deh ayo kita ke sekolah aja sekarang," kata Nola berdiri dari duduknya dan mengulurkan tangannya kepada Clara.
"Lah, kok ke sekolah sih? Gue kan ngajak Lo ke rumah kak Brayen buat minta maaf," kata Clara masih tidak bergerak dari tempat duduknya.
"Lo lupa ya? Brayen kan ketua tim basket, dia sekarang pasti lagi di sekolah latihan, Seca gak lama lagi ada tanding," kata Nola lagi mengingatkan.
"Ah iya, lupa ayo deh," Clara pun berdiri dari duduknya dan menyambut uluran tangan Nola, mereka pun segera pergi dari restoran tersebut menuju sekolah.
Setelah menerima kenyataan bahwa dirinya sebantar lagi tidak akan bisa sebebas dulu Clara pun berubah ia mulai perlahan-lahan ingin memperbaiki dirinya dan juga kesalahan yang sudah di buatnya atas kenakalan yang belakangan terjadi.
Tidak butuh waktu lama mereka pun akhirnya tiba di sekolah SMA Citra Kirana.
Dan benar saja saat tiba di lapangan basket sekolah tim basket yang di pimpin oleh Brayen baru saja selesai latihan.
"Kak Brayen!" pangil Nola sambil melambaikan tangan nya.
Beryen yang mendengar nama nya di pangil segera menoleh, ia melihat kalau di luar lapangan ada Nola dan juga Clara gadis yang di bencinya karena dia anggap sombong, jahat dan angkuh.
Ia pun berpamitan dengan teman-teman nya untuk keluar duluan karena ingin menemui Nola dan Clara.
"Gue keluar duluan ya," kata Brayen sambil membawa tas nya.
"Brayen, Clara kayaknya gak capek-capek ngejar Lo, kenapa gak Lo terima aja, dia kan kaya," kata salah satu dari teman Brayen.
"Gue? Sama dia? Gak bakal, dia itu sombong dan sama sekali gak cocok sama gue, apalagi Lo semua tau dia yang bikin sepupu gue Yuna masuk rumah sakit," kata Brayen dengan jijiknya.
Ia pun kemudian melangkahkan kakinya keluar dari lapangan, sementara teman-teman nya hanya diam setelah mendengar ucapan Brayen.
Setibanya di luar lapangan, tepat di hadapan Nola dan Clara Brayen pun menghentikan langkahnya.
"Ada apa?" tanya Brayen kepada Nola.
"Clara, ayo ngomong," kata Nola mengedepankan Clara dan sedikit menjauh dari Brayen dan Clara untuk membiarkan mereka bicara empat mata.
"Kak Brayen, aku minta maaf soal kejadian waktu itu, aku sebenarnya sama sekali gak bermaksud buat ngedorong Yuna sampai dia jadi kayak gitu, aku beneran minta maaf," kata Clara sambil mendudukkan kepalanya.
Dia tidak berani menatap Brayen karena merasa kalau Brayen cukup membuat nya selalu jatuh cinta.
"Lo minta maaf? Ada mimpi apa Lo semalam sampai minta maaf kayak gini, tapi udah deh, percuma Lo juga salah orang buat minta maaf, yang Lo sakitin kan Yuna bukan gue, kenapa malah datang ke gue buat minta maaf," ucap Brayen sambil menatap kesal Clara.
"Tapi kak, alu udah minta maaf kok sama Yuna di hari kejadian," kata Clara berkata jujur.
"Gue gak percaya, minggir gue capek, gue mau istirahat, dan satu lagi yang perlu Lo ketahui, gue sampai kapan pun gak bakal suka sama Lo, dan gue mohon sama Lo buat jauhin gue sejauh-jauhnya, paham?" ucap Brayen sambil menujuk wajah Clara dengan jari telunjuk nya.
Sungguh saat ini hati Clara sangat sakit karena mendengar ucapan itu dari Brayen, laki-laki yang dia cintai meskipun cintanya selalu bertepuk sebelah tangan.
Rasanya ingin sekali Clara menghilang dari pandangan Brayen saat ini namun dia masih harus meminta maaf.
"Oke kak, aku paham," kata Clara masih mendudukkan kepalanya.
"Kak Brayen ini gak terlalu kasar apa?" ucap Nola sedari tadi menahan emosi nya melihat perlakuan Brayen kepada Clara.
"Nola udah," kata Clara mengode Nola untuk diam.
"Cih," kata Brayen terlihat sangat membenci Clara ia kemudian melangkah pergi meninggalkan Clara sambil menyenggol pundak Clara.
Sungguh rasanya panas hati Clara saat ini, tetapi dia harus menahan semuanya karena ini adalah cara dirinya untuk berlatih sabar menghadapi semuanya karena situasi saat ini sudah berbeda.
Alam yang rasanya dulu selalu memihak kepada Clara kini berbalik menghantam Clara dengan kenyataan yang sampai saat ini masih belum bisa di terima dengan baik oleh batin Clara.
Nola bergegas memegang lengan Clara, untuk menguat kan sahabat nya itu.
"Clara udah Lo gak boleh sedih, ingat dia bakal nyesel udah bikin Lo jadi kayak gini," kata Nola sambil menatap wajah sahabat nya dengan iba.
"Gue gak apa-apa kok Nola, yaudah sebaiknya kita habisin waktu kita buat main yuk, hari ini gue bakal traktir Lo main di taman kota karena setelah ini gue mungkin gak bisa lagi kayak dulu," kata Clara yang kemudian menarik Nola pergi dari lapangan basket tersebut.
Nola terdiam, dia tau yang di katakan Clara mungkin saja benar karena setelah menikah dengan orang yang di pilih orang tua nya untuk mendidik Clara mungkin saja Clara akan berubah demi satu tahun nya bercerai.
Bersambung ....