"Saat ayahku memilih menyelamatkan putri kesayangannya, dia mengorbankanku tanpa ragu."
Savira Dharma menghabiskan seluruh hidupnya mengejar sesuatu yang tidak pernah ia miliki: pengakuan dari ayahnya.
Sebagai putri kandung keluarga Dharma, ia belajar lebih keras, bekerja lebih lama, dan mengorbankan masa mudanya demi membuktikan bahwa dirinya layak dicintai. Namun ketika skandal penggelapan dana mengguncang Dharma Group, Savira dijadikan kambing hitam untuk melindungi keluarga yang selama ini ia bela.
Ditinggalkan sendirian di tengah hujan fitnah, ayahnya memilih diam.
Malam itu, Savira melompat dari puncak gedung perusahaan yang telah merenggut seluruh hidupnya.
Namun kematian bukanlah akhir.
Saat membuka mata, ia kembali menjadi gadis tujuh belas tahun—tujuh tahun sebelum semua pengkhianatan itu terjadi.
Kali ini, Savira tidak akan mengemis cinta.
Ia tidak akan mengorbankan dirinya demi keluarga yang tak pernah memilihnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. Bukti Nyata
Rasa manis permen stroberi di lidahnya sedikit meredakan gemuruh kemarahan di dada Savira malam itu.
Ia duduk meringkuk di sudut kamar sempitnya. Punggungnya bersandar pada dinding biru pucat yang terasa sedingin balok es. Napasnya masih menderu, memompa sisa adrenalin dari konfrontasi memuakkan di ruang kerja Wijaya.
Kertas kelulusan universitas yang kusut tergeletak begitu saja di atas lantai kayu. Benda itu adalah bukti nyata bahwa sekeras apa pun ia mendaki, ayahnya hanya akan melihatnya sebagai debu.
Savira memejamkan mata. Ia membiarkan permen buatan itu larut perlahan di dalam mulutnya. Rasa stroberi yang murahan ini mengingatkannya pada hari-hari ketika ibunya masih ada, membelai rambutnya saat ia menangis karena terjatuh.
Tangan kanannya merogoh saku celana flanel. Jemarinya mengusap kelopak patah dari jepit rambut plastiknya. Aroma melati yang sangat tipis menguar, bercampur dengan udara kamar yang apak.
Aroma itu bekerja seperti penawar racun. Detak jantung Savira yang semula berpacu liar kini mulai menemukan ritme yang lebih stabil. Otot leher dan bahunya yang menegang pelan-pelan mengendur.
Ketukan pelan dan ragu terdengar dari balik pintu kamarnya.
Savira membuka mata seketika. Sorot kelam di korneanya kembali menajam layaknya pisau belati. Ia bangkit berdiri tanpa mengeluarkan suara berisik dari tapak kakinya.
Ia memutar kenop pintu. Seorang pelayan wanita paruh baya berdiri menunduk di ambang pintu. Tangan pelayan itu gemetar menyodorkan sebuah amplop hitam pekat berhias segel lilin emas.
"Maaf mengganggu, Non Savira. Ada kurir khusus yang menitipkan ini di pos depan," ucap pelayan itu dengan suara pelan. "Kurir itu bersikeras amplop ini hanya boleh diserahkan langsung ke tangan Non Savira."
Savira mengerutkan kening. Ia mengambil amplop tebal tersebut. Kertasnya bertekstur kasar namun memancarkan aura kemewahan yang absolut.
"Bapak tahu soal ini?" tanya Savira dingin.
Pelayan itu menggeleng cepat. "Bapak dan Non Nadia sedang mencoba mobil baru di halaman belakang. Saya langsung mengantarkannya ke sini tanpa melewati mereka."
"Bagus. Kembalilah bekerja."
Savira menutup pintu dan menguncinya rapat-rapat. Ia berjalan menuju meja belajarnya, meletakkan amplop misterius itu di bawah cahaya lampu baca yang temaram.
Jemarinya meraba segel lilin emas tersebut. Ada ukiran singa mengaum yang sangat tegas. Lambang kebesaran Jayanegara Group.
Napas Savira kembali tertahan. Rasa manis di mulutnya mendadak tergantikan oleh antisipasi yang tajam.
Ia mengurai segel lilin itu dengan ujung kuku jempolnya. Sebuah kartu undangan berbahan akrilik hitam meluncur keluar. Tinta emas mencetak deretan huruf yang sangat elegan.
"Malam Syukuran Keluarga Jayanegara. Mengundang Nona Savira Dharma."
Savira menatap deretan huruf itu tanpa berkedip. Jayanegara mengadakan pesta besar malam ini juga. Ini adalah pergerakan impulsif yang sama sekali tidak ada di dalam memori masa lalunya.
Di kehidupan sebelumnya, Baskara tewas. Keluarga Jayanegara berkabung dalam kehancuran selama berbulan-bulan.
Kini, mereka merayakan kebebasan Baskara dari jerat hukum. Aaron Jayanegara secara spesifik mengirimkan undangan pribadi ke kamar putri keluarga musuh bebuyutannya.
Sebuah secarik kertas kecil jatuh dari balik kartu akrilik tersebut. Tulisan tangan dengan tinta hitam pekat tergores rapi namun memancarkan dominasi yang kuat.
"Untuk sang peretas jenius. Aku tahu kau ada di dalam keluarga ini."
Dada Savira bergemuruh pelan. Sudut bibirnya tanpa sadar melengkung membentuk senyum tipis. Senyum pertama yang murni didorong oleh rasa penasaran yang menggemaskan, bukan sarkasme berdarah.
Aaron mulai bergerak memburunya.
Pria arogan itu tidak tahu pasti wajah sang penyelamat malam itu. Aaron hanya melacak rute pelarian dan jejak peretasan kamera jalanan yang mengarah ke radius perumahan elite keluarga Dharma.
Sadar bahwa Wijaya Dharma adalah sosiopat licik, Aaron sengaja melempar jaring lebar. Ia pasti mengirimkan undangan VIP kepada seluruh anggota keluarga Dharma malam ini.
Aaron memancingnya untuk keluar dari persembunyian. Pria itu mengumpankan sebuah pesta besar sebagai arena perburuan.
Savira duduk di kursi kayunya. Ia memutar kartu akrilik itu di antara jari-jarinya.
Ia membutuhkan aliansi finansial Aaron untuk menghancurkan Wijaya. Modal awalnya sudah hangus tersapu akuisisi buas Jayanegara atas Nusantara Tech pagi tadi. Ia tidak punya pilihan selain menghadapi Aaron secara langsung.
Namun, Savira juga sangat tahu seberapa berbahaya insting predator pria itu. Aaron tidak akan menerima aliansi tanpa mengetahui secara pasti siapa yang ia hadapi.
"Kau ingin bermain kejar-kejaran, Aaron?" bisik Savira pada ruang kosong. Suaranya mengalun pelan, sarat akan antisipasi yang membuat aliran darahnya terasa hangat.
Ia menoleh ke arah cermin panjang di pintu lemarinya. Pantulan gadis tujuh belas tahun dengan celana jins pudar dan kaus kusam menatapnya balik.
Ia tidak akan datang sebagai putri penguasa Dharma. Ia akan datang sebagai hantu yang memegang kendali permainan.
Savira membongkar laci lemarinya yang paling bawah. Ia menarik keluar sebuah gaun hitam sederhana tanpa lengan. Gaun murah yang tidak memiliki merk, namun potongannya sangat pas membalut tubuh rampingnya.
Ia mengoleskan sedikit sisa parfum aroma melati di pergelangan tangannya. Wangi yang persis sama dengan yang tertinggal di amplop video malam itu.
Ia akan masuk ke dalam kandang singa dengan sukarela. Ia akan membiarkan Aaron mencium keberadaannya, namun ia tidak akan membiarkan pria itu menangkapnya dengan mudah.
Waktu bergulir cepat menuju malam pekat.
Gedung hotel bintang lima milik Jayanegara Group terang benderang oleh ribuan lampu kristal. Deretan mobil mewah memadati lobi utama. Wartawan dan fotografer bergerombol di luar garis batas, merekam setiap langkah para konglomerat ibukota.
Wijaya Dharma dan Nadia tiba lebih dulu dengan mobil baru mereka. Senyum palsu Wijaya mengembang sempurna di depan kamera, berpura-pura ikut bahagia atas kebebasan putra mahkota saingan bisnisnya.
Savira tiba tiga puluh menit kemudian. Ia turun dari taksi biasa, jauh dari karpet merah.
Gaun hitamnya membaur sempurna dengan bayangan malam. Ia menyelinap masuk melalui pintu samping yang dijaga ketat, menggunakan kode unik dari kartu undangan VIP miliknya untuk membungkam keluhan penjaga.
Suara dentingan gelas sampanye dan alunan musik klasik terdengar sayup-sayup dari aula utama lantai dua.
Savira memilih jalur yang tidak biasa. Ia menghindari kerumunan sosialita dan kilatan lampu kamera. Kakinya melangkah tenang menuju lorong privat yang hanya diakses oleh keluarga inti Jayanegara.