TIDUR DOANG TIBA-TIBA JADI MILIARDER

TIDUR DOANG TIBA-TIBA JADI MILIARDER

BAB 1 DOA KAUM REBAHAN

"Abdul! Kamu dengar Ibu nggk? Itu Bu RT sudah tiga kali bolak-balik di depan rumah sambil ngomel soal uang iuran kebersihan yang udah nunggak dua bulan!"

Suara teriakan ibunya meluncur dari balik sekat kamar, langsung membuyarkan lamunan panjang Abdul. Pemuda berusia dua puluh empat tahun itu tidak beranjak. Dia masih setia memeluk guling kapuknya yang sudah mengempis dan dipenuhi noda pulau-pulau kecokelatan akibat tumpahan keringat bertahun-tahun. Tubuhnya kering, berbalut kaos oblong putih yang sudah menipis dan celana boxer kain yang jahitannya mulai lepas di bagian paha.

"Iya, Bu, Abdul dengar," sahut Abdul dengan nada lemah. Mata pemuda itu menatap nanar ke arah atap seng yang bocor, menyisakan pemandangan langit kelabu Bekasi yang cerah.

"Kalau dengar ya bangun, Dul!. Cari kerjaan apa kek di luar. Jangan cuma rebahan terus dari pagi sampai ketemu pagi lagi. Ibu tahu kamu pusing karena di PHK dari pabrik garmen, tapi kalau cuma tidur, utang kita di warung seberang gak bakal lunas sendiri," 

lanjut ibunya, kali ini disusul dengan bunyi desis minyak jelantah di wajan yang menandakan sang ibu sedang menggoreng sisa tahu kemarin untuk lauk makan siang mereka.

Abdul menghela napas panjang hingga dadanya yang kurus naik turun dengan kentara. Dia membalikkan badan, menghadap ke arah dinding pembatas yang bergetar setiap kali ada truk tronton lewat di jalan raya depan gang. 

Kalimat ibunya tidak salah, sama sekali tidak salah. Masalahnya, ibunya tidak tahu saja kalau Abdul sudah mengelilingi kawasan Beberapa Tempat lowongan kerja hingga kakinya melepuh dan sandal jepitnya putus dua kali dalam minggu ini. Hasilnya tetap sama, nihil. 

Tanpa uang pelicin atau Ordal, lamaran kerjanya hanya berakhir menjadi pembungkus gorengan di tangan para sekuriti gerbang pabrik.

Dari sudut kamar yang satunya lagi, terdengar suara batuk yang berat dan basah. Suara itu disusul oleh erangan lirih yang sangat tipis, hampir tenggelam oleh bisingnya suara knalpot motor yang berseliweran di gang sempit luar rumah.

"Uhuukk... uhuk... Yan... Yanti... A.air..."

Mendengar panggilan itu, Abdul langsung bangkit dari posisinya. Sudut hatinya mencelos. Dia menyibak kain gorden lusuh yang menjadi pintu kamarnya lalu melangkah cepat menuju kamar belakang. 

Di atas ranjang kasur kapuk yang diletakkan langsung di atas lantai semen tanpa ranjang dipan, sesosok pria paruh baya terbaring dengan posisi tubuh yang kaku. Itu adalah bapaknya, seorang mantan kuli bangunan yang sudah delapan bulan ini lumpuh total di bagian tubuh sebelah kanan akibat serangan stroke mendadak.

Ibunya sudah lebih dulu masuk membawa segelas air putih hangat dengan sendok plastik kecil. 

Dengan telaten dan penuh kesabaran yang menyayat hati Abdul, ibunya menyuapkan air tersebut setetes demi setetes ke sela bibir suaminya yang tampak miring ke satu sisi.

"Pelan-pe-lan, Pak... pelan-pe-lan," bisik ibunya dengan suara yang bergetar menahan tangis yang sudah tertahan di ujung kelopak matanya.

Abdul bersandar di kosen pintu kayu yang sudah dimakan rayap. Pemandangan di depannya seperti pisau yang mengiris-iris jantungnya setiap hari. 

Obat pengencer darah dan vitamin syaraf bapaknya sudah habis sejak tiga hari yang lalu. Abdul tahu persis alasan ibunya tidak pergi ke apotek, dompet kain milik ibunya di dalam lemari plastik sudah kosong melongpong, hanya menyisakan beberapa keping uang logam seratus rupiah.

"Dul," panggil ibunya tanpa menoleh, fokusnya masih pada bibir sang suami. "Nanti sore, tolong kamu ke rumah Pak RT ya. Tolong pinjam uang seratus ribu saja dulu untuk tebus obat bapakmu yang eceran di apotek simpang itu. Ibu sudah gak punya muka lagi kalau harus ngutang ke warung Bu Tejo."

Abdul menelan ludah yang terasa kesat di tenggorokannya. Pinjam uang ke Pak RT sama saja dengan menyerahkan diri untuk diceramahi selama dua jam penuh tentang bagaimana pemuda zaman sekarang malas dan tidak punya semangat kerja. 

Namun, melihat dada bapaknya yang kembang kempis menahan sesak, Abdul tidak punya pilihan lain.

"Iya, Bu. Nanti sore Abdul ke sana," jawab Abdul singkat, menyembunyikan rasa gengsi dan luka yang berdarah di dalam dadanya.

Setelah membantu ibunya membalikkan posisi tidur bapaknya agar kulit punggungnya tidak melepuh akibat terlalu lama berbaring, Abdul kembali masuk ke dalam kamarnya yang berukuran dua kali dua meter. 

Dia menutup gorden rapat-rawat, mengunci diri dari realitas dunia luar yang terlalu mencekik. Perutnya berbunyi nyaring, memprotes karena sejak pagi tadi hanya diisi oleh segelas air teh tawar hangat demi menghemat jatah nasi yang ada di bakul dapur.

Abdul menjatuhkan kembali tubuhnya ke atas kasur lantai. Rasa lelah yang teramat sangat, bukan hanya lelah fisik melainkan lelah mental yang teramat besar, menggelayuti seluruh syaraf di kepalanya. 

Di luar sana, orang-orang sibuk mengejar dunia dengan segala kemewahannya, sementara di dalam kamar sempit ini, seorang pemuda harus memutar otak hanya untuk menyambung napas dua orang tuanya esok hari.

Air mata yang sejak tadi dia tahan akhirnya menetes juga, mengalir melewati pelipis dan membasahi kasur tipisnya. Abdul mengepalkan kedua tangannya yang kasar akibat bekas kerja pabrik, lalu menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong.

"Ya Tuhan..." Abdul berbisik dengan suara yang patah-patah di tengah isak tangisnya yang diredam agar tidak terdengar ke luar. "Hamba sudah berusaha. Hamba sudah jalan kaki sampai kaki hamba berdarah, tapi kenapa tidak ada satu pun pintu rezeki yang terbuka untuk hamba? Kenapa dunia ini pelit sekali pada orang miskin seperti kami?"

Dia berhenti sejenak, menghirup udara kamar yang pengap dan terasa panas. Rasa putus asa yang mendalam membuatnya mengucapkan kalimat yang bahkan tidak masuk ke dalam logika manusia normal.

"Kalau memang hamba tidak punya bakat untuk sukses di luar sana... seandainya saja... seandainya saja rebahan dan tidur ini ada harganya di dunia ini, Ya Tuhan. Hamba cuma pengen bapak sembuh, pengen ibu gak usah nangis lagi tiap lihat karung beras kosong. Tolong hamba, Ya Tuhan... hamba capek..."

Dengan sisa tenaga dan air mata yang mengering di pipinya, Abdul memejamkan matamya. Kepasrahan total seorang manusia yang merasa telah ditinggalkan oleh dunia membuatnya jatuh ke dalam fase tidur yang sangat cepat. 

Hanya dalam hitungan detik, napas Abdul melambat, detak jantungnya menjadi sangat teratur, dan kesadarannya padam sepenuhnya, masuk ke dalam fase tidur terdalam yang belum pernah dia alami sebelumnya.

Abdul tidak pernah tahu, bahwa tepat di saat dengkuran halusnya mulai menggema di dalam kamar reot itu, sebuah getaran aneh muncul dari handphone jadul miliknya yang tergeletak di atas lantai semen. 

Layar handphone yang sudah retak seribu itu tiba-tiba menyala sendiri, memancarkan cahaya biru keperakan yang menerangi sudut-sudut kamar yang gelap, menampilkan sebuah proses sinkronisasi aneh yang tertulis dalam bahasa asing: [Sleeper System Initializing... 1%... 50%... 100%. Integration Successful.]

Terpopuler

Comments

Gege

Gege

naaaah novel tema system yang ringan, enak dibaca modelan begene yang bikin hiburan lengkap... Yoo gass thor 10k kata tiap update..💪

2026-05-26

3

lihat semua
Episodes
1 BAB 1 DOA KAUM REBAHAN
2 BAB 2 10 JUTA PERTAMA
3 BAB 3 PEMBUKTIAN KEDUA
4 BAB 4 GOSIP DI TUKANG SAYUR
5 BAB 5 ALIBI
6 BAB 6 DI TERAS RUMAH
7 BAB 7 SORE HARI DI GANG SENG
8 BAB 8 UPGRADE
9 BAB 9 GANGGUAN
10 BAB 10 MIMPI KEDUA DI MODE UPGRADE
11 BAB 11 HANDPHONE BARU
12 BAB 12 KESIBUKAN DI TERAS RUMAH
13 BAB 13 JALAN-JALAN
14 BAB 14: HATI YANG TERENYUH
15 BAB 15 BORONG SEMBAKO
16 BAB 16 KEJADIAN TAK TERDUGA I
17 BAB 17 KEJADIAN TAK TERDUGA II
18 BAB 18 TUJUH RATUS LIMA PULUH JUTA
19 BAB 19 PENGGANGGU
20 BAB 20 PEMBANGUNAN RUMAH BARU
21 BAB 21 SATU MILIAR DUA RATUS JUTA
22 BAB 22 PAK RT
23 BAB 23 KEBAHAGIAAN
24 BAB 24 HARAPAN BARU
25 BAB 25 MOBIL KELUARGA
26 BAB 26 GERAKAN PERTAMA
27 BAB 27 DONATUR TAK BERNAMA
28 BAB 28 PANGGILAN DARI BANK SUKA
29 BAB 29 SATU LANGKAH LEBIH MAJU
30 BAB 30 AUDIT DARI PUSAT
31 BAB 31 JEJAK YANG TAK DITEMUKAN
32 BAB 32 MIMPI TENTANG KLINIK KECIL
33 BAB 33 TAMU DARI BANK SUKA
34 BAB 34 SATU LANGKAH TANPA PEGANGAN
35 BAB 35 JEJAK KEBAIKAN
36 BAB 36 GARIS AWAL KESEMBUHAN
37 BAB 37 PESANAN SERIBU SERAGAM
38 BAB 38 LANGKAH PERTAMA MENUJU PERUBAHAN
39 BAB 39 – JANJI DI BAWAH LANGIT SORE
40 BAB 40 – LANGKAH YANG HAMPIR HILANG
41 BAB 41 - BONUS PERTAMA: BAGIAN I
42 BAB 42 - BONUS PERTAMA: BAGIAN II
43 BAB 43 – PINTU YANG HAMPIR TERTUTUP
44 BAB 44 - TAHAP PERTAMA: BAGIAN 1
45 BAB 45 - TAHAP PERTAMA: BAGIAN 2
46 BAB 46 - TAHAP PERTAMA: BAGIAN 3
47 BAB 47 - TAHAP PERTAMA: BAGIAN 4
48 BAB 48 - SEASON 2
49 BAB 49
50 BAB 50
51 BAB 51
52 BAB 52
53 BAB 53
54 BAB 54
55 BAB 55
56 BAB 56
57 BAB 57
58 BAB 58
59 BAB 59
60 BAB 60
61 BAB 61
62 BAB 62
63 BAB 63
64 BAB 64
65 BAB 65
66 BAB 66
67 BAB 67
68 BAB 68
69 BAB 69
70 BAB 70
71 BAB 71
72 BAB 72
73 BAB 73
74 BAB 74
75 BAB 75
76 BAB 76
77 BAB 77
78 BAB 78
79 BAB 79
80 BAB 80
81 BAB 81
82 BAB 82
83 BAB 83
84 BAB 84
85 BAB 85
86 BAB 86
87 BAB 87
88 BAB 88
89 BAB 89
90 BAB 90
91 BAB 91
92 BAB 92
93 BAB 93
94 BAB 94
95 BAB 95
Episodes

Updated 95 Episodes

1
BAB 1 DOA KAUM REBAHAN
2
BAB 2 10 JUTA PERTAMA
3
BAB 3 PEMBUKTIAN KEDUA
4
BAB 4 GOSIP DI TUKANG SAYUR
5
BAB 5 ALIBI
6
BAB 6 DI TERAS RUMAH
7
BAB 7 SORE HARI DI GANG SENG
8
BAB 8 UPGRADE
9
BAB 9 GANGGUAN
10
BAB 10 MIMPI KEDUA DI MODE UPGRADE
11
BAB 11 HANDPHONE BARU
12
BAB 12 KESIBUKAN DI TERAS RUMAH
13
BAB 13 JALAN-JALAN
14
BAB 14: HATI YANG TERENYUH
15
BAB 15 BORONG SEMBAKO
16
BAB 16 KEJADIAN TAK TERDUGA I
17
BAB 17 KEJADIAN TAK TERDUGA II
18
BAB 18 TUJUH RATUS LIMA PULUH JUTA
19
BAB 19 PENGGANGGU
20
BAB 20 PEMBANGUNAN RUMAH BARU
21
BAB 21 SATU MILIAR DUA RATUS JUTA
22
BAB 22 PAK RT
23
BAB 23 KEBAHAGIAAN
24
BAB 24 HARAPAN BARU
25
BAB 25 MOBIL KELUARGA
26
BAB 26 GERAKAN PERTAMA
27
BAB 27 DONATUR TAK BERNAMA
28
BAB 28 PANGGILAN DARI BANK SUKA
29
BAB 29 SATU LANGKAH LEBIH MAJU
30
BAB 30 AUDIT DARI PUSAT
31
BAB 31 JEJAK YANG TAK DITEMUKAN
32
BAB 32 MIMPI TENTANG KLINIK KECIL
33
BAB 33 TAMU DARI BANK SUKA
34
BAB 34 SATU LANGKAH TANPA PEGANGAN
35
BAB 35 JEJAK KEBAIKAN
36
BAB 36 GARIS AWAL KESEMBUHAN
37
BAB 37 PESANAN SERIBU SERAGAM
38
BAB 38 LANGKAH PERTAMA MENUJU PERUBAHAN
39
BAB 39 – JANJI DI BAWAH LANGIT SORE
40
BAB 40 – LANGKAH YANG HAMPIR HILANG
41
BAB 41 - BONUS PERTAMA: BAGIAN I
42
BAB 42 - BONUS PERTAMA: BAGIAN II
43
BAB 43 – PINTU YANG HAMPIR TERTUTUP
44
BAB 44 - TAHAP PERTAMA: BAGIAN 1
45
BAB 45 - TAHAP PERTAMA: BAGIAN 2
46
BAB 46 - TAHAP PERTAMA: BAGIAN 3
47
BAB 47 - TAHAP PERTAMA: BAGIAN 4
48
BAB 48 - SEASON 2
49
BAB 49
50
BAB 50
51
BAB 51
52
BAB 52
53
BAB 53
54
BAB 54
55
BAB 55
56
BAB 56
57
BAB 57
58
BAB 58
59
BAB 59
60
BAB 60
61
BAB 61
62
BAB 62
63
BAB 63
64
BAB 64
65
BAB 65
66
BAB 66
67
BAB 67
68
BAB 68
69
BAB 69
70
BAB 70
71
BAB 71
72
BAB 72
73
BAB 73
74
BAB 74
75
BAB 75
76
BAB 76
77
BAB 77
78
BAB 78
79
BAB 79
80
BAB 80
81
BAB 81
82
BAB 82
83
BAB 83
84
BAB 84
85
BAB 85
86
BAB 86
87
BAB 87
88
BAB 88
89
BAB 89
90
BAB 90
91
BAB 91
92
BAB 92
93
BAB 93
94
BAB 94
95
BAB 95

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!