NovelToon NovelToon
SARUNG TANGAN PENGHANCUR GUNUNG

SARUNG TANGAN PENGHANCUR GUNUNG

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Danzo28

Dunia Zei tadinya hanya sebatas sawah berlumpur dan beratnya cangkul di pundak. Sampai akhirnya, Turnamen Musim Semi mengubah segalanya. Di atas arena, Zei melihat Qian Yue’er dari Sekte Cendrawasih bertarung. Gerakannya bukan sekadar bela diri, melainkan tarian maut yang terlampau indah untuk disaksikan oleh mata seorang petani miskin.

​Sejak detik itu, Zei menolak takdir lahirnya. Ia tak butuh pedang pusaka; dengan Qi elemen tanah yang brutal dan alat tani yang ia tempa menjadi senjata, Zei menantang dunia persilatan. Ia nekat merangkak naik dari turnamen ke turnamen, menghancurkan cemoohan kaum bangsawan yang menganggapnya tak lebih dari sampah yang bermimpi menyentuh bintang.

​Di saat para pendekar lain bertarung demi kekuasaan dan keabadian, alasan Zei mengayunkan senjatanya sangat sederhana dan naif: ia hanya ingin membuktikan diri pantas berdiri di panggung yang sama, dan melihat sang bulan menari di hadapannya sekali lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Matahari baru saja menyingsing di ufuk timur Desa Danau Keruh, menumpahkan semburat jingga pucat di atas hamparan sawah yang masih berselimut kabut. Di teras rumah bambunya, Zei duduk membungkuk di atas bangku kayu, menatap tumpukan koin tembaga di dalam mangkuk tanah liat. Setelah dihitung berulang kali oleh ibunya malam tadi, kesimpulannya tetap sama: tidak akan cukup.

​Ibukota kecamatan bukan sekadar jauh, namun gerbangnya dijaga oleh birokrasi yang memeras darah. Biaya pendaftaran Turnamen Seleksi Bakat Daun Hijau setara dengan harga tiga karung beras kualitas terbaik—sebuah kemewahan yang mustahil dikorbankan keluarganya saat bayang-bayang musim paceklik mulai mengintai.

​"Sudah kuduga, isi kepalamu itu memang cuma ada lumpur dan mimpi siang bolong, Zei!"

​Sebuah suara cempreng yang teramat akrab memecah keheningan pagi. Dari balik celah pagar, muncul seorang pemuda kurus berwajah cerdik. Jubah raminya sengaja diikat setinggi betis agar tak menyapu tanah kotor. Di bahunya, ia memikul sebuah karung goni yang tampak penuh. Itu A-Lang, sahabat Zei sejak mereka masih seukuran lutut kerbau.

​A-Lang melangkah masuk tanpa repot-repot meminta izin, langsung menghempaskan pantatnya di sebelah Zei, lalu mendengus meremehkan mangkuk koin di atas meja. "Hanya segini? Jangankan untuk menyogok panitia pendaftaran, untuk menyuap penjaga gerbang kota agar tidak menendangmu karena bau kotoran sapi saja ini tak akan mempan."

​Zei menghela napas panjang, bahunya merosot lelah. "Aku tahu, A-Lang. Tapi aku sudah bertaruh nyawa di hadapan Ayah. Aku harus tetap pergi."

​"Dan justru karena itulah aku ada di sini, Kawan!" A-Lang menyeringai lebar, menepuk dada kerempengnya dengan pongah. "Kau pikir untuk apa selama ini aku repot-repot ikut paman pengepul sayur ke kota? Aku hafal seluk-beluk tempat itu. Kau mungkin punya otot sekeras batu karang setelah latihan gilamu itu, tapi kau butuh otakku untuk menembus tembok kota. Mulai detik ini, aku adalah pengatur siasatmu!"

​"Tapi, A-Lang, dari mana kita bisa mendapatkan uang kekurangannya?" tanya Zei, keningnya berkerut bingung.

​Alih-alih menjawab, A-Lang justru mencengkeram pergelangan tangan Zei dan menariknya paksa ke luar halaman. "Ikut aku ke lumbung desa. Ada hal yang harus kau lihat."

​Ketika Zei melangkah melewati pintu lumbung yang biasanya senyap di pagi hari, langkahnya membeku. Di dalam ruangan luas yang menguapkan aroma jerami kering itu, hampir seluruh pemuda sebaya dari Desa Danau Keruh telah berkumpul. Di barisan paling depan, Mei—adik perempuannya—berdiri sambil mendekap selembar kain yang terlipat rapi.

​"Zei!" Bimo, pemuda berbadan tegap yang paling sering menantang Zei bertaruh adu panco, melangkah maju. Ia meletakkan sebuah kantong kain yang bergemerincing berat ke atas meja pemisah gabah. "Ini dari kami semua. Anak-anak lumpur Desa Danau Keruh."

​Zei terpaku, matanya menyapu wajah-wajah kusam di sekelilingnya. "Kalian... apa ini?"

​"Kabar bahwa kau berhasil memukul mundur Paman Yan tiga langkah menyebar lebih cepat dari wabah kutu air," A-Lang menjelaskan, senyum jahilnya kini memudar, digantikan oleh keseriusan yang jarang terlihat. "Tuan-tuan muda di kota selalu memandang kita seperti hama. Mereka mengira anak desa hanya berbakat mengendus pantat kerbau, tak pantas bermimpi menyentuh langit kultivasi. Hari ini, kau membawa sisa harga diri kami di pundakmu, Zei."

​Bimo menepuk bahu Zei dengan kasar, namun matanya memancarkan kebanggaan persaudaraan. "Kami mengumpulkan apa yang kami punya. Ada yang membongkar tabungan bambunya, ada yang merelakan jatah beli araknya. Jumlahnya pas untuk mendaftarkan namamu dan uang makan kita selama sebulan di sana. Kau harus menang, Zei! Jangan biarkan orang-orang kota itu menginjak-injak nama desa kita!"

​Mei perlahan mendekat, menyodorkan lipatan kain di tangannya kepada sang kakak. Saat terurai, benda itu adalah sebuah jubah pertarungan berbahan rami tebal berwarna cokelat tanah yang bersih. Potongannya gagah, dijahit rapat tanpa menyisakan satu pun tambalan kasar. "Ini dijahit semalaman oleh gadis-gadis desa, Kak. Agar Kakak bisa berdiri tegak, sama gagahnya dengan para kultivator sekte di panggung nanti," ucap Mei, matanya berkaca-kaca menyiratkan doa penolak bala.

​Tenggorokan Zei mendadak tercekik keharuan. Gelombang hangat yang begitu masif meledak di dadanya, merembet hingga menggetarkan ujung-ujung jarinya. Api motivasinya yang semula menyala demi mengejar keindahan tarian Qian Yue'er, kini disiram oleh minyak tanggung jawab. Di pundaknya yang lebar, kini bersandar harapan, tetesan keringat, dan jerit perlawanan dari setiap orang yang menyayanginya.

​"Terima kasih... bumi menjadi saksiku, aku tidak akan menundukkan kepala di hadapan mereka," ujar Zei, suaranya parau. Ia mencengkeram kantong koin itu seolah tengah memegang nyawa desanya.

​"Eits, simpan air matamu untuk nanti!" A-Lang bertepuk tangan memecah suasana haru, lantas menyeret sekeranjang besar batu sungai tajam dan setumpuk buah kesemek busuk yang baunya menyengat. "Sebelum berangkat, kita masih punya sisa waktu. Kultivator kota menyerang dengan pedang terbang dan sihir kilat, bukan dengan cangkulan lambat. Kita harus mengasah insting matimu!"

​A-Lang dengan sigap membagi para pemuda menjadi empat kelompok, mengepung Zei dari segala arah. "Aturannya sederhana, Zei! Kau berdiri di tengah, tutup matamu, dan gunakan Qi buminya untuk membaca arah angin. Jika wajahmu sampai terkena hantaman kesemek busuk ini, kau yang bertugas mencuci pantat kuda paman sayur sepanjang jalan menuju kota!"

​"Serang!" teriak A-Lang tanpa ampun.

​Whusss! Whusss!

​Hujan batu kerikil dan buah busuk melesat membombardir dari sudut-sudut mati. Pada gelombang pertama, Zei kelabakan. Beberapa buah kesemek mendarat telak di dada dan wajahnya, memercikkan cairan oranye pucat dan memicu gelak tawa riuh yang menggema di langit-langit lumbung.

​Namun, Zei segera menenangkan laju napasnya. Ia memejamkan mata, membiarkan telapak kakinya menyatu dengan lantai kayu dan tanah pijakannya. Ia memanggil Qi tanah, merentangkannya tipis dan sensitif ke udara layaknya jaring laba-laba purba. Sekecil apa pun pergeseran partikel debu dan niat lemparan yang membelah jaring Qi miliknya, pikiran Zei langsung menangkapnya.

​Plak! Plak!

​Rantai pergerakan Zei perlahan berubah wujud. Tanpa sedikit pun membuka kelopak mata, tubuhnya miring setengah inci ke kiri, membiarkan sebongkah batu kerikil melintas hanya selebar rambut dari pelipisnya. Saat tiga buah kesemek busuk meluncur deras bersamaan dari titik buta, Zei tidak menghindar. Ia menghentakkan kakinya, memadatkan energi ke permukaan kulit lengannya—memancing pendar redup Zirah Sisik Naga—dan membuat buah-buah itu hancur berkeping-keping saat membentur tubuhnya yang mendadak mengeras layaknya dinding benteng baja.

​Gelak tawa di lumbung menguap. Para pemuda desa mematung, sisa batu di genggaman mereka lolos begitu saja berjatuhan ke lantai.

​"Astaga naga..." gumam A-Lang takjub. "Kau benar-benar bukan manusia lagi, Zei."

​Siang harinya, di bawah tatapan tajam nan bangga dari Yan yang bersedekap di ambang pintu, serta sorak-sorai riuh lambaian tangan warga desa, sebuah kereta kuda pengangkut sayur reyot yang dikendalikan A-Lang mulai merayap lambat melewati gerbang Desa Danau Keruh.

​Duduk bersila di bak belakang, Zei mengenakan jubah rami barunya yang bersih. Tangannya mengelus gagang cangkul kesayangannya yang kini berkilau kehitaman. Matanya menatap lurus menembus cakrawala, sementara desanya perlahan menyusut menjadi titik kecil di kejauhan.

​Langkah pertama di atas tanah liat telah usai dipahat. Kini, roda kereta itu berputar menuju arena berdarah tempat langit yang sesungguhnya menunggu untuk ditaklukkan.

1
yulius hans
kok ngak tamat sich
Mamat Stone
sehat dan sukses selalu Thor 💪💪💪
Danzo28: aminnn
terimakasih ya
selanjutnya
sehat selalu 🥳🥳
total 1 replies
Mamat Stone
🤔
Mamat Stone
/Determined//Determined//Determined/
Mamat Stone
/Angry//Angry//Angry/
Mamat Stone
/Determined/
Mamat Stone
/Angry/
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
/Good/
Mamat Stone
/Ok/
Mamat Stone
😈/Determined/😈
Mamat Stone
😈/Angry/😈
Mamat Stone
🤩
Mamat Stone
🥰
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
buktikan merah Mu Jagoan Neon 😈
Mamat Stone
waktunya Jagoan Neon beraksi 😈
Mamat Stone
/Good/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!