Perselingkuhan di balas dengan selingkuh, hingga menghasilkan buah hati dalam hubungan terlarang!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NeyNaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam yang Mengubah Segalanya
Sejak usaha reklamenya bangkrut, kehidupan Irwan berubah drastis. Ia tidak lagi memiliki kesibukan seperti dulu. Hari-harinya justru dipenuhi kegelisahan, kemarahan, dan perasaan gagal yang terus menghantuinya.
Yang semakin membuatnya tidak nyaman adalah perubahan pada diri Sulis.
Dulu, sepulang kerja, Irwan masih mendapati Sulis menyiapkan makanan, menanyakan kabarnya, atau setidaknya memperhatikannya. Namun sekarang semuanya berbeda. Sulis hampir tidak pernah berada di rumah dalam keadaan santai. Sejak subuh ia sudah sibuk memasak untuk dagangannya. Siang hari bekerja di pabrik plastik. Sore hingga malam kembali berjualan.
Ketika pulang, Sulis hanya membersihkan diri, menghitung hasil dagangan, lalu beristirahat untuk memulai hari yang sama keesokan paginya.
Bagi Sulis, semua itu dilakukan demi bertahan hidup.
Namun di mata Irwan, keadaan itu terasa seperti pengabaian.
Harga dirinya yang sudah hancur akibat kebangkrutan semakin terluka setiap kali melihat Sulis mampu menghasilkan uang sendiri. Ia mulai merasa tidak dibutuhkan. Tidak dihormati. Tidak dianggap sebagai kepala keluarga.
Perasaan itu terus menumpuk hingga berubah menjadi kemarahan.
Suatu malam, setelah Sulis selesai berjualan dan sedang membereskan peralatan di depan rumah, Irwan pulang dalam keadaan emosi. Wajahnya tegang. Langkahnya cepat.
"Aku pulang dari tadi, kamu malah sibuk dagang!" bentaknya.
Sulis yang kelelahan hanya menghela napas.
"Aku lagi beres-beres, Mas."
"Kerja terus! Dagangan terus!"
Nada suara Irwan semakin tinggi.
Beberapa pelanggan yang masih berada di sekitar sana mulai melirik ke arah mereka.
Sulis merasa malu.
"Mas, jangan di luar. Kita ngomong di dalam saja."
Namun ucapan itu justru membuat Irwan semakin tersulut.
Tanpa diduga, ia meraih salah satu wadah makanan di atas meja dan membantingnya ke lantai. Suara pecahan plastik terdengar keras. Lauk yang baru saja dimasak Sulis berhamburan ke tanah.
Sulis membeku.
Belum sempat ia bereaksi, Irwan kembali menyapu beberapa wadah lain hingga jatuh berserakan.
"Mas! Jangan!"
Namun kemarahan Irwan sudah tidak terkendali.
Meja lipat yang biasa digunakan Sulis berjualan ditendangnya hingga roboh. Beberapa kotak makanan terlempar dan isinya tumpah ke jalan.
Sulis hanya bisa menatap dengan mata berkaca-kaca.
Itu bukan sekadar dagangan.
Itu hasil kerja kerasnya selama berhari-hari.
Tetapi bagi Irwan yang sedang dikuasai emosi, semua itu tidak berarti apa-apa.
Setelah memastikan tidak ada lagi yang bisa dibanting, Irwan menarik lengan Sulis dengan kasar dan membawanya masuk ke dalam rumah.
Pintu ditutup keras.
Kemudian dikunci.
Sulis mulai merasa takut.
Sangat takut.
Ia pernah melihat Irwan marah sebelumnya. Namun malam itu ada sesuatu yang berbeda pada tatapan pria itu.
Sesuatu yang membuat bulu kuduknya merinding.
"Aku capek lihat kamu sekarang!" bentak Irwan.
"Aku kerja buat hidup kita, Mas."
"Bohong!"
Sulis mundur beberapa langkah.
Tangannya gemetar.
Jantungnya berdegup sangat cepat.
Namun Irwan terus mendekat.
Pertengkaran kembali terjadi. Tidak ada lagi ruang untuk saling mendengarkan. Yang ada hanya kemarahan dan kekecewaan yang telah menumpuk selama berbulan-bulan.
Dalam situasi yang semakin memanas, Irwan kembali bertindak kasar.
Irwan menendang perut Sulis dengan kencang, membuatnya seketika terduduk,Suis tak menunggu lama,Sulis berusaha menjauh dan melindungi dirinya.
Rasa takut menguasai seluruh tubuhnya.
Saat itulah kesadaran yang selama ini berusaha ia abaikan akhirnya muncul dengan jelas.
Ia tidak aman.
Jika tetap berada di sana, keselamatannya bisa terancam.
Pikiran itu membuat Sulis mengambil keputusan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Begitu mendapat kesempatan ketika Irwan berpindah ke ruang lain, Sulis segera mengambil tas, ponsel, dan beberapa dokumen penting yang sudah lama ia simpan berjaga-jaga.
Tangannya gemetar saat membuka pintu belakang rumah.
Namun rasa takut memberinya keberanian.
Ia berlari.
Berlari secepat yang ia bisa meninggalkan rumah yang selama bertahun-tahun ia pertahankan.
Air mata terus mengalir di sepanjang jalan.
Malam terasa gelap.
Tetapi Sulis tidak peduli.
Yang ada dalam pikirannya hanya satu.
Ia harus pergi.
Ia harus menyelamatkan diri.
Dengan tangan yang masih gemetar, ia memesan kendaraan dan menyebut satu alamat yang langsung muncul di benaknya.
Apartemen Arman.
Selama perjalanan, Sulis terus memeluk tas di dadanya. Nafasnya belum teratur. Tubuhnya masih gemetar akibat ketakutan.
Beberapa kali Arman mencoba menghubunginya setelah menerima pesan singkat yang dikirim Sulis.
Pesan yang hanya berisi beberapa kata.
"Mas Arman... bolehkah saya datang? Saya butuh bantuan."
Saat kendaraan berhenti di depan apartemen, Arman sudah menunggu di lobi.
Begitu melihat Sulis turun dengan wajah pucat dan mata sembab, ia langsung menyadari bahwa sesuatu yang buruk telah terjadi.
Tanpa bertanya banyak, Arman menghampiri dan membantu membawakan tasnya.
"Sudah aman sekarang," ucapnya pelan.
Kalimat sederhana itu membuat pertahanan Sulis runtuh.
Untuk pertama kalinya malam itu, ia menangis tanpa berusaha menahannya.
Dan di tengah tangisan yang pecah dalam diam, Sulis mulai menyadari bahwa hidupnya telah mencapai sebuah titik yang tidak mungkin lagi diabaikan.
Malam itu bukan sekadar malam pelarian.
Malam itu adalah awal dari keputusan besar yang akan mengubah seluruh hidupnya.
Dengan tangan gemetar, Sulis terus menekan tombol lift. Dadanya naik turun menahan napas. Perutnya masih terasa nyeri akibat tendangan Irwan. Setiap gerakan membuat rasa sakit itu kembali menusuk. Namun ia memaksa dirinya tetap berdiri. Ia tahu satu hal, malam itu ia tidak boleh kembali ke rumah.
Pintu lift akhirnya terbuka.
Sulis masuk dan bersandar lemah pada dinding lift. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh. Bukan hanya karena rasa sakit yang ia rasakan, melainkan karena kenyataan pahit yang harus ia terima.
Rumah yang selama ini ia pertahankan dengan segala cara tidak lagi menjadi tempat yang aman.
Sesampainya di depan pintu apartemen Arman, Sulis ragu beberapa detik. Namun sebelum ia sempat mengetuk untuk kedua kalinya, pintu sudah terbuka.
Arman berdiri di sana dengan wajah terkejut.
"Sulis?"
Tatapan Arman langsung berubah saat melihat kondisi perempuan itu. Wajah Sulis pucat. Matanya sembab. Pakaiannya kusut. Dan yang paling membuat Arman cemas adalah cara Sulis memegangi perutnya.
"Astaga... ada apa?"
Sulis berusaha menjawab, tetapi suaranya tercekat. Yang keluar justru tangisan yang selama ini ia tahan.
Arman segera mempersilahkannya masuk.
"Duduk dulu. Pelan-pelan."
Sulis duduk di sofa sambil terus menangis. Tubuhnya gemetar hebat.
Arman mengambil segelas air putih dan meletakkannya di meja. Ia tidak memaksa Sulis bercerita. Ia hanya duduk di dekatnya, menunggu hingga perempuan itu sedikit lebih tenang.
Beberapa menit kemudian Sulis akhirnya mampu berbicara.
"Aku takut..."
Hanya dua kata itu.
Namun cukup membuat Arman memahami bahwa sesuatu yang sangat buruk telah terjadi.
"Aku takut dia bakal bunuh aku suatu hari nanti."
Kalimat itu membuat dada Arman terasa sesak.
Sebagai tenaga kesehatan, ia pernah melihat banyak korban kekerasan rumah tangga. Tetapi mendengar kalimat itu keluar langsung dari mulut Sulis terasa jauh lebih menyakitkan.
Malam itu Arman mengantar Sulis ke rumah sakit untuk memastikan kondisinya tidak mengalami cedera serius. Sepanjang perjalanan, Sulis hanya diam sambil memandang ke luar jendela.
Di dalam hatinya, sebuah keputusan mulai terbentuk.
Selama bertahun-tahun ia bertahan demi anak-anak, demi keluarga, dan demi harapan bahwa Irwan akan berubah.
Namun setelah malam itu, Sulis mulai menyadari bahwa mempertahankan pernikahan tidak boleh dibayar dengan nyawa.
Dan untuk pertama kalinya, ia benar-benar mempertimbangkan jalan yang selama ini selalu ia hindari.
Perceraian.
Si sulis juga demen bgt masih betah am tu laki...
kalau kata aku sih biar saja mreka ,dan s istri minta talak 3 dan cari cuan sebanyak banyaknya tuk menyenangkan diri sendiri dan anak. Ngapain bertahan dg laki2 tdk setia. najis .