maizy melihat berita tentang sepasang tulang dengan cincin pernikahan yang saling menggenggam romantis, menandakan cinta mereka tidak akan pernah tergerus oleh peradaban. Di bawah reruntuhan istana yang baru saja di temukan arkeolog Jerman, membuatnya penasaran namun harus menutup rasa ingin tahu nya di sekolah
pada perjalanan dia tidak sengaja bertabrakan dengan seorang anak laki laki yang sangat ia kenali, seseorang yang selalu menghujami nya dengan perkataan dan perundungan. Di sana Paul berdiri dengan angkuh di saat maizy dengan tertatih memungut buku nya..
perdebatan mereka masih berlanjut, sampai kedua nya muak dan memutuskan untuk beradu mulut dan malah membawa petaka. Kedua nya terjatuh dari tangga lantai 3
saat maizy terbangun, apa lah daya nya. dia terbangun di tengah tengah hutan hujan Jerman kuno, di keliling kuil kerajaan yang tidak asing, namun baru pertama kali ia datangi.
ternyata maizy terlempar ke masa lalu dan harus menduduki tahta ratu
apa yang akan dia lakuka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AEERA-ALEA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17
Di tengah keheningan yang menyakitkan antara Frederick dan Maizy, suara derap langkah kuda lain kembali terdengar dari arah belakang kabut yang lebih tebal. Kali ini, langkahnya terdengar lebih tergesa-gesa, angkuh, dan tanpa memedulikan formasi prajurit yang sudah rapi.
Klothak! Klothak!
"Singkirkan drama picisanmu itu, Aldrich. Kita tidak punya waktu untuk meratapi kepalanya yang mendadak kosong," sebuah suara bariton yang ketus, dingin, dan penuh otoritas memotong suasana sepi itu dengan kejam.
Pasukan berkuda kembali terbelah, memberikan jalan bagi seorang komandan lain yang memiliki pangkat setara dengan Frederick. Pria itu menunggangi kuda abu-abu besar dengan zirah perak yang tampak lebih kaku dan kokoh.
Dia adalah Cade Reinart .
Berbeda dengan Frederick yang memiliki aura pelindung, Cade memancarkan aura dominasi yang mutlak, egois, dan bertindak semaunya sendiri. Rambut hitamnya dipotong pendek dan rapi, membingkai wajahnya yang memiliki kulit agak lebih putih pucat dibanding tan skin milik Frederick. Namun, yang paling mencolok dari penampilannya adalah sepasang matanya yang berwarna coklat kemerahan, menatap Maizy dari atas kuda dengan pandangan tajam, jengah, dan sama sekali tidak memiliki kelembutan.
Cade tidak melompat turun dengan anggun seperti Frederick. Dia turun dengan hentakan kaki yang berat, membuat bot bajanya menimbulkan suara deburan tanah yang kasar.
"Cade, jaga batasanmu! Dia sedang bingung—" Frederick langsung berdiri, menempatkan tubuh tegapnya di depan Maizy, mencoba melindungi gadis itu dari tatapan mengintimidasi Cade.
"Bingung atau hanya sedang bersandiwara untuk lolos dari tanggung jawab?" sahut Cade dingin. Dia mengabaikan peringatan Frederick, melangkah memutar dengan santai namun berbahaya, lalu berhenti tepat di hadapan Maizy. Mata coklat kemerahannya menatap lekat-lekat gaun biru dongker Maizy yang kotor.
"Dengar, Nona Muda," ucap Cade, suaranya terdengar seperti perintah mutlak yang tidak menerima bantahan. "Kau sudah membuat dua divisi pasukan mengitari hutan terkutuk ini sejak fajar hanya karena aksi kaburmu yang kekanak-kanakan dari istana. Dan sekarang, setelah kami menemukanmu, kau ingin menggunakan trik 'amnesia' agar tidak diseret kembali? Menolak ikut?"
Cade mendengus miring, sebuah seringai yang sangat menyebalkan dan mengingatkan Maizy pada tekanan yang pernah dia rasakan di dunia modern dulu. Sifat egois Cade membuatnya tidak peduli apakah Maizy benar-benar lupa atau tidak. Baginya, tugas adalah tugas, dan keinginannya adalah hukum.
"Aku tidak peduli kau ingat namaku atau tidak. Kau tetap harus ikut dengan kami sekarang juga," ucap Cade tegas. Tanpa permisi dan dengan paksa, tangan besarnya yang dibalut sarung tangan kulit hitam langsung mencengkeram pergelangan tangan Maizy dengan kuat, menarik gadis itu agar keluar dari balik perlindungan Frederick.
"Lepaskan! Aku tidak mau!" pekik Maizy, sifat aslinya yang menolak ketidakadilan dan paksaan langsung berontak, mencoba menarik tangannya kembali dari cengkeraman kaku Cade.
"Cade! Lepaskan tanganmu darinya!" gertak Frederick dengan rahang mengeras, manik mata abu-abunya kembali memancarkan aura membunuh, siap menghunus pedangnya jika Cade melangkah terlalu jauh dengan memaksa Maizy.
"Lepaskan! Aku bilang aku tidak mau!" Maizy bersikeras, kakinya menjejak tanah basah dengan sekuat tenaga, mencoba menahan bobot gaun birunya yang berat agar tidak terseret oleh tarikan tangan Cade.
Namun, berhadapan dengan Cade Reinart berarti berhadapan dengan dinding batu yang keras kepala. Sifat egois dan mutlak tidak mau kalah dari komandan berambut pendek itu justru semakin terpicu melihat penolakan Maizy. Baginya, bantahan dari seorang tawanan—atau dalam hal ini, nona bangsawan yang sedang mogok—adalah hal yang tidak bisa ditoleransi.
"Kau pikir kau punya pilihan, Nona?" desis Cade dingin.
Mata coklat kemerahannya berkilat jengah. Tanpa membuang waktu untuk berdebat atau memedulikan gertakan Frederick di belakangnya, Cade mendadak merendahkan tubuhnya. Dengan satu gerakan kilat yang sangat bertenaga dan tanpa permisi, dia langsung menyusupkan lengan kekarnya di bawah lutut dan punggung Maizy, lalu mengangkat tubuh gadis itu dalam satu hentakan kasar.
Gendong paksa.
"Ah! Apa-apaan ini?! Turunkan aku!" Pekik Maizy kaget setengah mati, wajahnya memerah karena campur aduk antara marah dan syok. Kedua tangannya refleks memukul-mukul pelindung dada baja milik Cade, namun pukulan kecilnya sama sekali tidak mengusik sang komandan yang memiliki tubuh tegap layaknya prajurit garis depan. Gaun sutra birunya yang mengembang besar kini terlipat berantakan di lengan Cade, menjuntai kaku ke bawah.
"Cade! Kau sudah gila, hah?!" bentak Frederick.
Suara gesekan logam berdenting nyaring saat Frederick setengah menghunus pedang panjang dari sarungnya. Langkah kaki bot bajanya menghentak maju, bersiap meremukkan rahang Cade jika pria itu berani melangkah lebih jauh. Aura protektif dan lembut yang tadi Frederick tunjukkan pada Maizy seketika menguap, berganti menjadi hawa membunuh sedingin es yang menguar kuat ke seluruh penjuru hutan.
Cade menghentikan langkahnya, berbalik perlahan sambil tetap mendekap tubuh Maizy yang masih memberontak di dalam gendongannya. Seringai tipis yang memprovokasi terbit di sudut bibir pucatnya saat dia menatap mata abu-abu Frederick.
"Simpan pedangmu, Aldrich. Aku hanya melakukan tugas dengan caraku yang efisien," sahut Cade dengan nada santai namun mutlak menantang. "Jika dia menolak berjalan, maka dia harus diangkat. Kita sudah membuang cukup banyak waktu di rimba ini hanya untuk mendengarkan drama hilangnya ingatan seorang gadis."
Cade kembali melangkah menuju kuda abu-abu besarnya dengan langkah kaku penuh dominasi, sama sekali tidak memedulikan protes dari Maizy yang berada di dekapannya. Sifatnya yang semaunya sendiri benar-benar membuat Maizy merasa seperti terlempar kembali ke masa-masa sulitnya saat menghadapi ketidakadilan, sementara di belakang mereka, Frederick mengepalkan tangan kuat-kuat di gagang pedangnya dengan rahang yang menggertak menahan murka.
"Lepaskan aku! Apa-apaan sih, megang-megang begini?! Mesum!" teriak Maizy dengan wajah memerah padam karena murka, berusaha sekuat tenaga mendorong dada bidang Cade yang kaku berlapis zirah baja. Sifat ENFJ-nya yang menjunjung tinggi ruang personal dan harga diri membuatnya merasa sangat terhina dengan perlakuan semena-mena komandan berambut pendek itu.
Cade hanya mendengus miring, sama sekali tidak terpengaruh oleh makian Maizy. Mata coklat kemerahannya menatap lurus ke depan, fokus membawa tubuh Maizy menuju kudanya tanpa niat untuk mengendurkan cengkeraman kekarnya sedikit pun. Bagi Cade, protes Maizy hanyalah angin lalu yang tidak penting dibandingkan efisiensi tugasnya.
Sementara itu, Frederick yang tadinya sudah siap menghunus pedang, mendadak menghentikan gerakannya. Rahangnya bergejolak, mengeras menahan amarah yang membakar dada. Manik mata abu-abunya menatap punggung Cade dengan kilatan tajam, lalu beralih menatap Maizy yang sedang memberontak pasrah di dalam gendongan paksa tersebut.
Frederick memilih untuk diam.
Meskipun hatinya terasa sangat sakit dan perih melihat wanita yang dicintainya diperlakukan kasar—dan terlebih lagi, Maizy tidak mengingatnya—logika keprajuritannya memaksa Frederick untuk menahan diri. Dia tahu betul bahwa hutan terlarang ini tidak aman, dan kabut yang semakin tebal bisa mengundang bahaya yang jauh lebih besar. Tugas utama mereka dari kekaisaran adalah membawa Maizy kembali ke istana secepat mungkin, dalam keadaan hidup. Dan dalam situasi mendesak seperti ini, cara kasar Cade—meskipun sangat dia benci—memang jalan tercepat untuk keluar dari rimba kuno tersebut.
Dengan langkah kaku dan berat, Frederick berbalik menuju kuda hitam besarnya sendiri. Dia menunggangi kapalnya dengan satu hentakan mantap, memimpin barisan belakang pasukan berkuda yang kini mulai bergerak maju, mengawal Cade yang bersiap menaikkan Maizy ke atas pelana kuda abu-abunya untuk segera meninggalkan hutan belantara.