NovelToon NovelToon
MENDADAK JADI TRILIUNER MUDA

MENDADAK JADI TRILIUNER MUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Arrofy

SINOPSIS

Arkan Pradipta tidak pernah merasa dirinya gagal.

Ia hanya terlalu sering dipaksa mengalah oleh keadaan.

Di usia dua puluh dua tahun, hidupnya nyaris berhenti di tengah jalan. Kuliah Manajemen Bisnisnya tertunda, motor tuanya lebih sering batuk daripada melaju, dan setiap hari ia harus berpikir bagaimana cara membantu ibunya serta memastikan adiknya, Naya, tetap bisa mengejar masa depan.

Bagi orang lain, Arkan hanyalah pemuda miskin dari Pontianak yang tidak punya apa-apa.

Sampai suatu hari, saat ia dipermalukan karena tidak mampu menyelesaikan urusan biaya adiknya, sebuah suara asing muncul di kepalanya.

[Sistem Triliuner Absolut sedang melakukan pemindaian.]

[Saldo rekening: memprihatinkan.]

[Aset pribadi: tidak terdeteksi.]

[Kesimpulan: Tuan Rumah bukan miskin biasa.]

[Tuan Rumah adalah bencana finansial berjalan.]

Arkan mengira dirinya sedang berhalusinasi.

Namun beberapa detik kemudian, hidupnya berubah.

Rp3.000.000.000.000 masuk ke rekeningnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrofy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23 PROPERTI TRANSISI

Mobil hitam itu melaju meninggalkan rumah sakit.

Di belakang, gedung kaca dan lobi eksekutif perlahan menjauh. Di depan, jalanan Pontianak bergerak ramai seperti biasa, tetapi bagi Arkan, kota itu mulai terlihat berbeda. Bukan karena bangunannya berubah. Bukan karena langitnya lebih cerah. Melainkan karena untuk pertama kalinya, ia tidak sedang duduk di atas motor tua sambil menghitung berapa banyak bensin yang tersisa.

Ia duduk di kursi belakang mobil yang nyaman, bersama ibu dan adiknya, menuju sebuah rumah yang bahkan belum pernah ia bayangkan bisa mereka lihat secara langsung.

Naya masih menatap keluar jendela.

Bu Sari diam, tetapi tidak lagi banyak bertanya. Sesekali ia merapikan tas kecil di pangkuannya, lalu melirik Arkan seperti ingin memastikan semua ini masih berada dalam kendali anaknya.

Olivia duduk di kursi depan, memegang tablet, berbicara singkat dengan seseorang melalui pesan. Semua gerakannya rapi. Tidak ada kepanikan. Tidak ada suara berlebihan. Ia seperti orang yang sudah terbiasa mengatur hal besar dalam waktu singkat.

Di kepala Arkan, sistem menampilkan informasi properti.

[Properti Transisi Opsi 2]

[Tipe: rumah cluster modern.]

[Lokasi: area aman, akses jalan baik, tidak terlalu jauh dari fasilitas umum.]

[Status legal: bersih.]

[Siap huni: ya.]

[Keamanan: cukup.]

[Kenyamanan keluarga: tinggi.]

[Potensi membuat tetangga lama iri: sangat tinggi.]

Arkan menatap baris terakhir.

“Tidak perlu komentar yang itu.”

[Sistem hanya menampilkan risiko sosial.]

“Risiko sosial atau hiburan pribadi?”

[Keduanya dapat berjalan bersamaan.]

Arkan memilih tidak membalas.

Mobil memasuki kawasan yang lebih tenang. Jalanannya lebih lebar, pepohonan tertata, dan rumah-rumah mulai terlihat rapi di kiri kanan. Tidak ada gang sempit. Tidak ada kabel kusut bergantung rendah. Tidak ada suara motor lewat terlalu dekat dengan pintu rumah.

Bu Sari mulai memperhatikan sekitar.

Naya juga.

“Bang,” bisik Naya, “ini komplek orang kaya, ya?”

Arkan belum menjawab ketika sistem langsung menampilkan catatan.

[Definisi “orang kaya” menurut lingkungan lama: benar.]

[Definisi menurut aset Tuan Rumah: sederhana.]

Arkan menahan napas sebentar.

“Tempatnya aman,” jawab Arkan.

Naya menatapnya. “Aman biasanya mahal.”

“Mulai sekarang, kita cari aman dulu. Bukan murah dulu.”

Naya terdiam.

Kalimat itu sederhana, tetapi cukup membuat matanya berkedip pelan. Seolah ia baru mendengar urutan hidup yang berbeda dari biasanya.

Dulu, apa pun selalu dimulai dari murah.

Rumah murah.

Makanan murah.

Sekolah yang tidak terlalu mahal.

Obat yang secukupnya.

Pilihan hidup mereka selalu dipersempit oleh harga sebelum sempat dipertimbangkan oleh kebutuhan.

Kini Arkan membalik urutannya.

Aman dulu.

Nyaman dulu.

Layak dulu.

Baru setelah itu bicara harga.

Mobil berhenti di depan gerbang cluster. Satpam menghampiri, tetapi begitu melihat mobil dan menerima konfirmasi dari sopir, gerbang langsung dibuka. Di dalam, suasananya lebih sunyi. Rumah-rumah berdiri dengan halaman kecil, dinding bersih, dan jalan yang cukup untuk dua mobil berpapasan.

Bu Sari memegang tasnya lebih erat.

Olivia menoleh dari kursi depan. “Bu, rumah yang akan kita lihat tidak terlalu besar. Saya memilih properti yang nyaman untuk adaptasi awal. Bukan mansion, bukan rumah yang membuat keluarga merasa asing.”

Bu Sari mengangguk kecil.

“Terima kasih, Bu Olivia.”

Olivia tersenyum sopan. “Sama-sama, Bu.”

Mobil berhenti di depan sebuah rumah dua lantai dengan cat putih hangat dan pagar minimalis. Halamannya tidak luas berlebihan, tetapi cukup untuk beberapa tanaman dan satu mobil. Terasnya bersih. Jendelanya besar. Dari luar, rumah itu tampak tenang.

Tidak terlalu mencolok.

Tetapi jelas jauh di atas rumah lama mereka.

Naya turun dari mobil dengan langkah pelan.

Bu Sari menyusul, matanya menatap rumah itu lama.

Arkan turun terakhir.

Ia menatap bangunan di depannya.

Untuk ukuran orang yang tiba-tiba punya akses aset puluhan triliun, rumah ini mungkin sederhana. Namun bagi Arkan, rumah itu terasa seperti garis batas antara masa lalu dan masa depan.

Sistem muncul.

[Evaluasi visual: cukup layak.]

[Ukuran: tidak memalukan.]

[Keamanan: dapat diterima.]

[Catatan: sistem menahan diri untuk tidak menyarankan rumah dengan kolam renang, lift pribadi, dan ruang bioskop.]

Arkan memejamkan mata sesaat.

“Terima kasih sudah menahan diri.”

[Sama-sama.]

Olivia berjalan ke pintu. Seorang agen properti perempuan sudah menunggu dengan senyum profesional. Ia memperkenalkan diri singkat sebagai Maya, lalu menyerahkan kunci akses kepada Olivia.

“Rumah ini sudah siap huni, Bu. Dokumen lengkap sudah saya kirim ke tim legal.”

Olivia mengangguk. “Nanti kita bahas setelah Pak Arkan melihat.”

Maya menatap Arkan dengan sopan. Tidak berlebihan, tetapi jelas ia sudah tahu bahwa pemuda di depannya bukan calon pembeli biasa.

“Silakan, Pak.”

Pintu dibuka.

Udara sejuk dari dalam rumah menyambut mereka.

Naya langsung berhenti di ambang pintu.

Ruang tamu itu terang. Lantainya bersih. Sofa sudah tersedia. Ada meja kecil, rak minimalis, dan jendela besar yang membuat cahaya masuk dengan lembut. Dapur terlihat dari sisi belakang, rapi dan modern. Tangga menuju lantai dua berada di sisi kanan.

Bu Sari tidak berkata apa-apa.

Ia hanya berdiri, memandangi ruangan itu seperti seseorang yang takut menginjak mimpi.

Arkan masuk lebih dulu.

“Bu, masuk.”

Bu Sari melangkah pelan.

Naya menyusul, tangannya masih memegang map sekolah meskipun jelas map itu tidak dibutuhkan di sini.

Maya mulai menjelaskan dengan cepat, tetapi Olivia mengangkat tangan halus.

“Nanti detailnya kepada saya. Biarkan keluarga Pak Arkan melihat dulu.”

Maya langsung mengerti. “Baik, Bu.”

Arkan berjalan mengelilingi ruang tamu. Tidak terlalu luas sampai terasa kosong, tetapi cukup lega untuk membuat napas terasa lebih ringan. Tidak ada atap bocor. Tidak ada dinding lembap. Tidak ada kipas tua yang berdecit. Tidak ada kursi yang mengancam patah setiap kali diduduki.

Naya berjalan ke arah jendela, lalu menoleh ke Arkan.

“Bang, ini beneran bisa kita tinggali?”

“Kalau cocok.”

“Kalau cocok langsung?”

Arkan menatap Olivia.

Olivia menjawab tenang, “Kalau Pak Arkan setuju, transaksi bisa diselesaikan hari ini. Rumah ini sudah siap huni. Tinggal mengatur pemindahan barang penting.”

Naya terdiam.

Bu Sari menoleh cepat, tetapi kali ini ia tidak mengatakan “jangan mahal-mahal”. Mungkin karena sudah lelah terkejut. Mungkin karena ia mulai paham bahwa menolak setiap perubahan hanya akan membuat Arkan semakin berat.

Arkan berjalan ke dapur.

Bersih.

Ada kompor tanam, kabinet, wastafel, dan meja kecil yang cukup untuk mereka sarapan tanpa harus menata semuanya di ruang tamu.

Ia membayangkan ibunya memasak di sana tanpa harus menahan panas berlebihan. Membayangkan Naya mengambil air minum tanpa harus melewati dapur sempit yang penuh barang. Membayangkan mereka makan di meja yang benar, bukan di meja kecil yang juga dipakai untuk menyimpan dokumen dan obat.

[Sistem mendeteksi kecocokan emosional.]

[Opsi 2 semakin disarankan.]

Arkan tidak langsung menjawab.

1
irena
arkan harus lanjut kuliah.. klo perlu tambah pintar dianya thor.. supaya ga dibegoin dan dimanfaatkan sama orang orang jahat
AntoniusSadi
teruskan, gas pol bang
irena
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!