Sebuah kisah 2 orang anak SMA, dibalik seragam yang sama ternyata kehidupan mereka sangat bertolak belakang
dengan kisah anak gadis bernama Naira dengan kehidupan nya yang sunyi dan dingin
dan kisah anak lelaki yang berkerja keras sambil bersekolah tapi dikelilingi keluarga yang hangat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tazaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sayap Pelindung
Sore itu, sepulang sekolah, Naira sebenarnya berniat langsung pulang ke rumahnya yang megah namun sunyi. Namun, di tengah jalan, dia memutuskan untuk memarkirkan mobil mininya di depan sebuah gerai Indomaret yang searah dengan jalan menuju ruko grosir tempat Rama bekerja. Naira turun untuk membeli beberapa botol air mineral dingin dan beberapa camilan, berniat mengantarkannya secara kilat ke ruko sebelum dia benar-benar pulang ke rumah.
Naira menghabiskan sekitar sepuluh menit di dalam minimarket, mengantre di kasir, lalu berjalan kembali ke mobilnya dengan kantong plastik di tangan.
Sementara itu, di waktu yang hampir bersamaan, Rama baru saja sampai di area sekitar ruko grosir tempatnya bekerja paruh waktu. Dia menuntun sepeda tua miliknya melewati sebuah gang yang agak sepi di samping kompleks ruko. Bahu kirinya terasa pegal, dan tangan kanannya yang dibebat perban berdenyut pelan, efek dari gerakan bertenaga yang dipaksakannya siang tadi di kantin.
Baru saja roda sepedanya berputar beberapa meter, tiga buah motor bebek dengan knalpot brong yang bising tiba-tiba melesat masuk dari arah berlawanan, memotong jalur Rama secara paksa.
CIIIT!
Rama mengerem sepedanya. Tatapan matanya yang lempeng menatap datar ke arah tiga cowok yang baru saja turun dari motor bebek mereka yang tampak pretelan tanpa spion. Di barisan paling depan, Arga berdiri dengan senyum menyeringai, ditemani dua orang temannya yang berbadan tegap dari sekolah sebelah.
"Gak usah buru-buru masuk kerja, Anak Ruko," ucap Arga dengan nada meremehkan. Dia melempar puntung rokoknya ke tanah, lalu menginjaknya perlahan. "Urusan kita di kantin siang tadi belum selesai. Gue gak suka gaya lo sok pahlawan di depan Naira."
Rama tidak berpindah tempat. Dia menyandarkan sepedanya dengan tenang ke dinding pembatas ruko, lalu berbalik menghadapi ketiganya. "Gak ada urusan yang belum selesai. Kamu yang mulai, kamu juga yang malu sendiri," sahut Rama, suaranya sedatar es.
"Banyak bacot lo!"
Tanpa aba-aba, salah satu teman Arga maju dan melayangkan pukulan mentah ke arah wajah Rama.
Meskipun dalam kondisi lelah dan tangan kanan cedera, refleks karate yang sudah mendarat di otot Rama selama bertahun-tahun tidak bisa berbohong. Rama dengan cepat menggeser kaki kirinya ke belakang, memiringkan kepala, membuat pukulan itu hanya melewati angin. Dengan satu gerakan cepat tangan kiri, Rama mencengkeram kerah jaket lawan, memanfaatkan momentum berat badan musuh untuk membantingnya keras-keras ke atas tanah berbatu.
BRUGH!
"Sialan! Keroyok aja, gak usah jaim!" teriak Arga yang mulai panik melihat temannya tumbang dalam satu gerakan.
Arga dan satu temannya yang lain langsung maju bersamaan. Rama mencoba bertahan, melempar satu tendangan lurus (mae geri) yang tepat mengenai dada teman Arga hingga terjungkal ke dekat deretan motor bebek mereka. Namun, keterbatasan tangan kanannya yang tidak bisa dipakai menangkis menjadi celah fatal.
BUGH!
Pukulan mentah dari Arga mendarat telak di rahang kiri Rama, membuat cowok itu terhuyung mundur hingga punggungnya membentur dinding ruko. Sudut bibirnya yang lama kembali robek, mengeluarkan setitik darah segar. Arga tertawa puas melihat Rama terdesak. "Cuma segini kemampuan lo? Mana gaya lo yang sok paten siang tadi, hah?!"
Tepat di saat Arga bersiap melayangkan tendangan ke arah perut Rama, mobil mini Naira berbelok masuk ke area jalan ruko setelah dari Indomaret tadi. Dari balik kaca kemudi, mata Naira langsung membelalak horizontal. Jantungnya serasa melompat ke tenggorokan saat melihat siluet Rama sedang bersandaran di dinding dengan sudut bibir berdarah, dikelilingi oleh Arga dan geng motor bebeknya.
Naira tidak berpikir dua kali. Dia langsung menginjak pedal gas dalam-dalam.
TIIIIIIIIIITTTTTTTTTTTTT!!!!!!!
Suara klakson mobil yang melengking panjang dan memekakkan telinga tiba-tiba memecah keheningan gang sepi itu. Bersamaan dengan itu, sorot lampu high-beam yang sangat terang benderang dari mobil Naira memapar langsung ke wajah Arga dan teman-temannya, membuat mereka refleks menutup mata dengan tangan karena silau yang brutal.
Mobil mini itu mengerem mendadak tepat di antara Rama dan sirkelnya Arga, menciptakan jarak pemisah.
Pintu kemudi terbuka dengan kasar. Kantong plastik Indomaret yang dibelinya tadi terlempar begitu saja ke jok penumpang.
Naira turun dari mobil dengan napas yang memburu dan wajah yang merah padam karena amarah yang luar biasa. Tanpa rasa takut sedikit pun, Naira langsung pasang badan di depan Rama. Dia merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, mengadang Arga yang masih memegangi matanya karena silau.
"ARGA!!! BERHENTI GAK?!" teriak Naira dengan suara melengking yang bergetar hebat karena campur aduk antara takut dan murka.
Arga terkejut setengah mati melihat kehadiran Naira yang tiba-tiba. "N-Naira? Kok lo bisa di sini?"
"Kalian bertiga, beraninya main keroyokan sama orang yang tangannya lagi cedera?! Kalian gak punya urat malu ya?!" cerocos Naira tanpa ampun, langkah kakinya maju menekan Arga hingga cowok itu terpaksa mundur selangkah. "Denger ya, Arga! Sekali lagi kamu atau temen-temen sampah kamu ini sentuh Rama, aku gak bakal segan-segan laporin kalian ke polisi atas pasal pengeroyokan! Rekaman *dashcam* mobil aku udah merekam semua muka kalian dengan jelas dari pas aku belok tadi!"
Naira menunjuk ke arah kaca depan mobilnya yang memperlihatkan lampu indikator kamera yang berkedip merah.
Mendengar kata "polisi" dan melihat bukti rekaman *dashcam*, kedua teman Arga langsung ciut. Mereka saling berpandangan, lalu buru-buru mundur dan langsung menyela mesin motor bebek mereka dengan terburu-buru.
"Ga, cabut aja, Ga! Urusannya bisa panjang kalau bawa-bawa bokapnya si Naira," bisik salah satu temannya panik sambil menggas-gas motor bebeknya hingga memicu suara bising.
Arga mengepalkan tangannya kuat-kuat, menatap Naira dengan pandangan tidak percaya, lalu beralih menatap Rama yang berdiri tenang di balik punggung Naira sambil mengusap darah di bibirnya dengan lengan baju.
"Lo beruntung hari ini karena dilindungi cewek kaya lo," desis Arga tajam, mencoba menyelamatkan harga dirinya yang lagi-lagi runtuh. "Cabut!"
Ketiga motor bebek itu langsung digas kencang, knalpot brongnya meraung-raung memecah sore yang menjelang malam saat mereka berbalik arah dan melesat pergi meninggalkan area ruko, menyisakan kepulan asap tipis dan keheningan yang mendadak kembali mencekam.
Begitu ruko kembali sepi, Naira langsung membalikkan tubuhnya menghadap Rama. Pertahanan tegar yang dia pasang di depan Arga tadi seketika runtuh. Kedua tangannya yang gemetar bergerak menyentuh rahang Rama dengan sangat hati-hati.
"Ram... kamu gak apa-apa? Ya ampun, bibir kamu berdarah lagi... Padahal tadi aku cuma mau mampir ke Indomaret bentar buat beliin kamu minum," cicit Naira, air matanya sudah menggenang di pelupuk mata, siap tumpah melihat luka baru di wajah cowok itu.
Rama menatap Naira lempeng, lalu dengan pelan menurunkan tangan kecil Naira dari wajahnya agar gadis itu tidak terkena noda darah. Seulas senyum tipis, sangat tipis, muncul di wajahnya yang babak belur.
"Untung kamu mampir Indomaret dulu, Ra. Kalau langsung pulang, aku mungkin udah pingsan di sini," ucap Rama dengan nada baritonnya yang tenang, mencoba mencairkan ketakutan Naira. "Aku gak apa-apa, Ra. Makasih ya... udah jadi perisai aku sore ini."
Naira tidak memedulikan ucapan Rama yang berusaha sok kuat. Melihat darah segar yang kembali merembes dari sudut bibir cowok itu membuat dadanya berdenyut perih.
"Tunggu di sini, jangan banyak gerak!" perintah Naira setengah galak, meski matanya masih berkaca-kaca.
Dia berbalik setengah berlari menuju mobil mininya, membuka pintu penumpang, dan menyambar kantong plastik Indomaret yang tergeletak di jok. Di dalamnya ada dua botol air putih yang untungnya dibeli dari dalam kulkas minimarket, masih sangat dingin hingga memicu embun air di permukaan botolnya. Naira juga meraih selembar saputangan kain bersih dari dalam tas sekolahnya.
Begitu kembali ke hadapan Rama, Naira mendapati cowok itu sudah duduk bersandar di sebuah dinding semen ruko yang agak bersih, meluruskan kedua kakinya yang panjang. Sepeda tuanya tergeletak begitu saja di dekat mereka.
Naira ikut berlutut di depan Rama. Jarak mereka begitu dekat hingga Naira bisa mencium aroma samar keringat dan minyak tawon dari tubuh Rama, bercampur dengan aroma dingin dari botol air di tangannya.
"Sini wajah kamu," ucap Naira lembut, nadanya tak lagi meledak-ledak seperti saat menghadapi Arga tadi.
Rama menurut. Dia sedikit menundukkan kepalanya, menyejajarkan wajahnya dengan Naira.
Naira melipat saputangannya, membungkus bagian bawah botol air putih dingin itu, lalu menyentuhkannya dengan sangat pelan dan hati-hati ke sudut bibir Rama yang robek.
Ssshhh. Rama refleks meringis pelan, kelopak matanya terpejam sesaat karena rasa perih dan dingin yang langsung menusuk sarafnya.
"Sakit banget ya? Maaf, maaf... aku pelan-pelan," bisik Naira panik. Gerakan tangannya mendadak menjadi sangat halus, mengompres luka itu dengan ketukan-ketukan seringan kapas.
"Enggak apa-apa, Ra. Udah biasa," sahut Rama lirih.
Saat Rama kembali membuka matanya, pandangan mereka langsung berbenturan tanpa tameng apa pun. Jarak wajah mereka hanya berkisar belasan sentimeter. Rama bisa melihat dengan sangat jelas sisa air mata yang masih menggantung di bulu mata lentik Naira, serta binar khawatir yang begitu tulus di bola mata gadis itu.
Sementara bagi Naira, menatap mata hitam pekat milik Rama dari jarak sedekat ini selalu berhasil membuat pasokan oksigen di parunya mendadak menipis. Cowok ini selalu terlihat kaku dan lempeng, namun di dalam manik matanya, Naira bisa merasakan sebuah dunia yang sangat tenang dan melindunginya.
Fokus Naira perlahan beralih pada jemari tangan kirinya yang bebas, yang tanpa sadar bergerak naik menyentuh rahang kokoh Rama, menahan posisi kepala cowok itu agar tidak bergerak. Kulit tangan Naira yang halus dan dingin kontras dengan rahang Rama yang hangat dan sedikit kasar.
Suasana di gang samping ruko itu mendadak terasa begitu senyap. Raungan knalpot brong motor bebek Arga tadi seolah menguap, digantikan oleh suara degup jantung yang entah milik siapa atau mungkin milik keduanya yang sedang berpacu gaduh.
Naira menelan ludah pelan, hatinya menghangat luar biasa. "Kamu tuh... kenapa sih keras kepala banget? Kalau tadi aku gak mampir Indomaret dulu, aku gak bakal tahu kamu digebukin kayak gini, Ram."
Rama menatap bibir Naira yang mengerucut sebal, lalu pandangannya kembali naik mengunci mata gadis itu. Tangan kiri Rama yang bebas perlahan bergerak, bukan untuk menjauhkan tangan Naira, melainkan menggenggam pergelangan tangan kecil Naira yang sedang memegangi botol kompres di wajahnya.
Genggaman tangan Rama terasa hangat dan erat, menyalurkan rasa aman yang tak terlukiskan.
"Karena aku gak mau bikin kamu khawatir, Ra," ucap Rama, suaranya terdengar lebih berat dan dalam dari biasanya. Tidak ada nada cuek lagi di sana. "Aku bisa jaga diri. Tapi... melihat kamu langsung turun dari mobil dan berdiri di depan aku tadi..." Rama jeda sesaat, sudut bibirnya kembali berkedut membentuk senyuman tipis. "Baru kali ini ada cewek yang berani pasang badan buat anak karate."
Pipi Naira seketika merona merah padam, jauh lebih merah daripada warna senja yang mulai tenggelam di ufuk barat. Dia buru-buru mengalihkan pandangannya ke arah botol air di tangannya, salah tingkah brutal karena genggaman tangan Rama yang belum juga terlepas.
"Y-Yaa... habisnya aku gak suka lihat kamu curang begitu. Mainnya keroyokan," kilas Naira gugup, mencoba menetralkan detak jantungnya yang sudah berulah tidak karuan.
Rama terkekeh pelan, sebuah tawa rendah yang terdengar sangat seksi di telinga Naira. Dia perlahan melepaskan genggamannya, lalu mengambil alih botol dingin itu dari tangan Naira.
"Udah cukup kompresnya. Makasih ya, Tuan Putri," goda Rama lempeng, sengaja menggunakan sebutan itu karena Naira barusan bertingkah seperti pahlawan penolongnya.
Naira mengerucutkan bibirnya lagi, memukul pelan bahu sehat Rama karena malu. "Ih, Rama! Jangan ngeledek!"
Di bawah temaramnya lampu jalan ruko yang mulai menyala satu per satu, senyuman di wajah keduanya tidak lagi bisa disembunyikan. Luka di bibir Rama mungkin masih terasa perih, dan ruko ini mungkin masih dikelilingi jalanan yang sepi, namun sore itu, di antara dinginnya botol air putih dan hangatnya sebuah genggaman, mereka tahu ada sesuatu yang tumbuh semakin kuat di antara mereka. Sesuatu yang tak akan bisa dihancurkan oleh gertakan motor bebek mana pun.