seseorang yang ingin mengubah hidup nya dan ia bekerja keras demi itu semua
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sat*dya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
rahasia yang mulai terbuka
Malam di Akademi Zenith terasa jauh lebih dingin dibanding malam-malam biasa di sektor timur Neo Jakarta.
Setelah keluar dari area Lorong Barat, Alya dan Reno berjalan melewati taman utama akademi dalam diam. Cahaya lampu biru dari jalur pejalan kaki memantul di permukaan kanal transparan, menciptakan bayangan berkilau di sekitar mereka.
Namun suasana indah itu sama sekali tidak mampu menenangkan pikiran Alya.
Kepalanya penuh pertanyaan.
Tentang ayahnya.
Tentang Zenith.
Dan tentang Reno yang seolah mengetahui terlalu banyak.
“Ayahku sebenarnya siapa?” tanya Alya akhirnya.
Reno tetap berjalan tanpa langsung menjawab.
“Kalau dia hanya peneliti biasa, kenapa semua orang bersikap aneh saat mendengar namanya?”
Masih diam.
Alya mulai kesal.
“Kamu selalu melakukan itu.”
“Apa?”
“Bicara setengah-setengah.”
Reno berhenti berjalan.
Mereka kini berdiri di dekat taman kecil yang sepi. Suara air mengalir pelan dari kanal di samping mereka.
Tatapan Reno terlihat lebih serius dari biasanya.
“Karena semakin banyak yang kamu tahu,” katanya pelan, “semakin besar bahaya yang mendekat.”
Alya menghela napas panjang.
“Aku lelah mendengar kata ‘bahaya’ tanpa tahu apa maksudnya.”
Reno menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya berkata:
“Ayahmu pernah bekerja dalam proyek terbesar Zenith.”
Jantung Alya langsung berdegup.
“Proyek apa?”
“Project Elysium.”
Nama itu terdengar asing.
“Aku belum pernah mendengarnya.”
“Memang tidak seharusnya diketahui publik.”
Alya semakin bingung.
“Kenapa?”
Namun Reno kembali diam.
Alya hampir ingin berteriak kesal.
“Kalau kamu memang mau membantuku, berhenti menyembunyikan semuanya!”
Tatapan Reno sedikit berubah.
“Aku tidak menyembunyikan apa pun.”
“Kamu jelas tahu sesuatu.”
“Dan kamu jelas belum siap mendengarnya.”
Ucapan itu membuat Alya langsung tersinggung.
“Aku bukan anak kecil.”
“Bukan soal itu.”
“Lalu apa?”
Reno mengalihkan pandangan ke arah Menara Zenith yang menjulang di kejauhan.
“Kadang kenyataan jauh lebih buruk daripada yang kita bayangkan.”
Suasana kembali hening.
Angin malam berembus perlahan di antara pepohonan sintetis.
Alya menunduk pelan.
Ia tidak tahu kenapa, tetapi setiap berbicara dengan Reno, perasaannya selalu campur aduk.
Kesal.
Penasaran.
Namun juga merasa aman.
Dan itu aneh.
Karena Reno adalah orang paling misterius yang pernah ia temui.
Tiba-tiba gelang digital Reno berbunyi.
Layar kecil muncul di udara.
Panggilan internal akademi.
Ekspresi Reno langsung berubah dingin lagi.
“Aku harus pergi.”
“Apa?”
“Jangan kembali ke Lorong Barat.”
“Aku tahu.”
“Dan jangan percaya siapa pun dengan mudah.”
Alya melipat tangan.
“Kamu juga termasuk?”
Reno menatapnya beberapa detik.
“Terutama aku.”
Sebelum Alya sempat membalas, Reno langsung pergi meninggalkan taman.
Alya hanya bisa berdiri diam melihat punggungnya menjauh.
Pemuda itu benar-benar sulit dimengerti.
---
Keesokan paginya, suasana Akademi Zenith kembali sibuk.
Hari pertama kelas resmi dimulai.
Alya berjalan menuju gedung utama sambil membawa tablet digital barunya. Meski tubuhnya masih lelah setelah kejadian semalam, ia berusaha fokus pada pelajaran.
Namun bisikan siswa lain mulai terdengar lagi saat ia melewati lorong.
“Itu gadis yang bikin sistem AI error.”
“Katanya data nilainya sampai rusak.”
“Memalukan…”
Alya menunduk sambil mempercepat langkah.
Ia mencoba mengabaikan semuanya.
Tetapi tetap saja sakit mendengarnya.
“Alya!”
Hana berlari kecil menghampirinya.
“Kamu baik-baik saja?”
“Iya.”
“Kamu bohong.”
Alya tertawa kecil lemah.
Hana langsung menggandeng lengannya.
“Ayo cepat. Kita hampir terlambat.”
Mereka masuk ke ruang kelas besar berbentuk setengah lingkaran. Dinding ruangan dipenuhi layar hologram transparan, sementara meja belajar setiap siswa memiliki sistem AI pribadi.
Alya duduk di samping Hana.
Beberapa menit kemudian, seorang pria muda masuk ke kelas.
Rambutnya abu gelap dan wajahnya terlihat tenang.
“Selamat pagi,” katanya datar. “Saya Profesor Kael.”
Seluruh kelas langsung diam.
“Mata pelajaran pertama kalian adalah Analisis Sistem Neural.”
Alya langsung merasa pusing hanya mendengar namanya.
Profesor Kael mulai menjelaskan berbagai teknologi otak buatan, sinkronisasi AI, dan jaringan data manusia.
Sebagian siswa tampak memahami dengan mudah.
Namun Alya berusaha keras mengikuti penjelasan itu.
“Sekarang,” lanjut Kael, “kita akan melihat hasil evaluasi awal kalian.”
Layar hologram besar muncul di tengah kelas.
Nama-nama siswa mulai tampil beserta ranking mereka.
Reno Arkan
Livia Chen
Markus Vale
...
Bisikan kagum terdengar di seluruh kelas.
“Reno nomor satu lagi.”
“Sudah kuduga.”
Alya mencari namanya dengan gugup.
Namun semakin ke bawah, namanya tidak muncul.
Ia menelan ludah.
Sampai akhirnya—
Alya Rahman – Data Tidak Stabil
Ruangan langsung sunyi beberapa detik.
Lalu terdengar bisikan kecil dan tawa samar.
“Peringkat paling bawah…”
“Data tidak stabil? Apa maksudnya?”
“Bagaimana dia bisa masuk Zenith?”
Wajah Alya langsung panas.
Ia menggenggam tangannya erat di bawah meja.
Hana tampak marah.
“Dasar menyebalkan…”
Profesor Kael memperhatikan layar beberapa saat sebelum akhirnya berkata:
“Kasus seperti ini sangat jarang terjadi.”
Tatapan seluruh kelas langsung menuju Alya.
“Namun selama sistem belum memberikan keputusan akhir, siswa Alya Rahman tetap diperbolehkan mengikuti pelajaran.”
Nada suaranya terdengar formal, tetapi tetap membuat Alya merasa semakin malu.
Setelah kelas selesai, beberapa siswa langsung keluar sambil membicarakannya.
Alya membereskan tabletnya pelan.
“Abaikan mereka,” kata Hana.
“Aku sudah mencoba.”
Namun bahkan Alya sendiri mulai meragukan dirinya.
Bagaimana kalau memang terjadi kesalahan saat penerimaan beasiswa?
Bagaimana kalau ia sebenarnya tidak cukup pintar untuk berada di sini?
Saat itulah seseorang berhenti di depan mejanya.
Alya mendongak.
Livia Chen.
Gadis yang kemarin menabraknya di stasiun.
Rambut panjangnya tertata rapi, dan seragamnya terlihat sempurna.
Tatapannya dingin.
“Jadi kamu Alya Rahman.”
Alya berdiri perlahan.
“Iya.”
Livia melirik layar ranking yang belum mati sepenuhnya.
“Pantas saja sistem error.”
Hana langsung berdiri kesal.
“Maksudmu apa?”
Livia mengabaikannya.
“Zenith bukan tempat untuk orang biasa.”
Ucapan itu terasa seperti tamparan.
Alya menggigit bibirnya kuat-kuat.
Namun sebelum situasi semakin panas, suara seseorang terdengar dari belakang.
“Kalau begitu kenapa kamu masih berada di bawahku?”
Ruangan langsung hening.
Reno berdiri di pintu kelas.
Tatapannya lurus ke arah Livia.
Ekspresi gadis itu langsung berubah.
“Aku tidak sedang bicara denganmu,” katanya dingin.
“Tapi aku bicara denganmu.”
Suasana mendadak tegang.
Seluruh siswa yang belum keluar mulai memperhatikan.
Reno berjalan perlahan mendekat.
“Aku tidak suka orang yang terlalu banyak bicara,” katanya tenang.
Livia mengepalkan tangannya.
Namun ia tidak membalas.
Beberapa detik kemudian, gadis itu mendecih pelan lalu pergi begitu saja.
Hana tampak puas.
“Rasakan.”
Sementara Alya hanya berdiri diam.
Sekali lagi Reno membantunya.
Dan itu membuat perasaannya semakin bingung.
“Kenapa kamu melakukan itu?” tanya Alya pelan setelah suasana sepi.
Reno memasukkan kedua tangannya ke saku seragam.
“Karena dia salah.”
“Hah?”
“Kamu bukan orang biasa.”
Tatapan Reno terlihat sangat serius.
Seolah ia benar-benar yakin dengan ucapannya.
Jantung Alya berdetak aneh lagi.
Namun sebelum ia sempat bertanya lebih jauh, gelang digital seluruh siswa tiba-tiba berbunyi bersamaan.
Peringatan akademi.
Seluruh siswa diwajibkan hadir di aula utama malam ini.
Pengumuman penting akan disampaikan Direktur Adrian.
Suasana kelas langsung ramai.
“Ada apa lagi?”
“Baru hari kedua sudah ada pengumuman besar?”
Namun entah kenapa…
Alya merasakan firasat buruk.