NovelToon NovelToon
Kembalinya Sang Kaisar Agung

Kembalinya Sang Kaisar Agung

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi / Action
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Devourer

Ia hanyalah seorang "murid sampah" di Sekte Pedang Giok, pemuda tanpa masa depan yang hidup dalam kehinaan dan penindasan. Hingga suatu hari ia mendapatkan kembali ingatan masa lalunya, ketika ia masih seorang Kaisar Agung di alam atas dan pernah memimpin jutaan pasukan di atas medan perang berdarah.

Namun, karena mendapatkan pengkhianatan yang kejam dari murid kepercayaannya sendiri, Ia kini harus memulai segalanya dari awal.

Sampah? Tidak! Ia menggunakan seluruh memori masa lalunya dan mengubah dirinya menjadi sosok tak tertandingi yang dapat menyapu bersih semua semut pengganggu dari jalannya.

"Aku adalah ... Qin Xiang."

Genre: Aksi, Kultivasi, Reinkarnasi, Balas Dendam, Harem.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devourer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#22: Menguji Seekor Naga?

Semburat cahaya senja menyinari punggung Qin Xiang dan Qu Long saat mereka melangkah keluar dari Aula Misi. Keduanya membawa aura kepuasan yang berbeda; Qu Long dengan binar mata penuh kemenangan karena poinnya bertambah, sementara Qin Xiang tetap setenang permukaan telaga di tengah malam. Qu Long baru saja hendak mengusulkan untuk merayakan keberhasilan mereka dengan bermeditasi bersama di Aula Kultivasi, namun Qin Xiang segera menghentikan langkahnya dan menoleh perlahan.

“Aku punya urusan lain. Aku ingin pergi sebentar ke Paviliun Harta,” ujar Qin Xiang datar. “Pergilah duluan ke ke sana, aku akan menyusulmu setelah urusanku selesai.”

Mendengar itu, wajah Qu Long seketika berubah pucat laksana kertas. Ia tersenyum kecut, jemarinya menggaruk tengkuk yang tidak gatal. Bayangan perundungan yang ia alami terakhir kali di lorong granit masih menghantuinya bak mimpi buruk yang enggan pergi. Tanpa sosok Qin Xiang di sampingnya, Qu Long merasa dirinya hanyalah seekor domba gemuk yang berjalan sukarela ke sarang serigala.

“Kakak Qin pasti bercanda...” gumam Qu Long dengan nada memelas.

Qin Xiang hanya menatapnya dalam keheningan. Ia tahu betul sifat pengecut yang sudah mendarah daging di dalam diri temannya itu. Terlalu banyak nasehat hanya akan membuang napas, pikirnya. “Kalau begitu, daripada kau hanya mematung di sini, pergilah bersihkan kamar asrama kita hingga tak ada sebutir debu pun yang tersisa. Lalu temui aku kembali setelah kau menyelesaikan tugas itu.”

“Siap, Bos! Laksanakan!” Qu Long seketika berubah ceria, seolah-olah membersihkan lantai jauh lebih terhormat daripada harus menghadapi para senior preman di Aula Kultivasi. Ia segera berlari terbirit-birit menuju asrama, meninggalkan kepulan debu di belakangnya.

...

Langkah kaki Qin Xiang membawa dirinya menuju ke arah bangunan megah yang dikenal sebagai Paviliun Harta. Tempat itu laksana jantung dari logistik Sekte Pedang Giok, dipenuhi oleh hiruk-pikuk murid yang baru kembali dari misi sebelumnya. Sebagian besar dari mereka tampak sibuk tawar-menawar, mencoba menukar titik darah dan peluh mereka dengan sebilah pedang atau artefak pelindung yang sedikit lebih kuat.

Tujuan Qin Xiang datang ke sini sudah bulat. Pedang yang ia gunakan sebelumnya—sebuah senjata kelas menengah yang ia beli dengan poin hasil memeras trio pengacau—kini telah mencapai batas kemampuannya. Setelah pembantaian ratusan binatang buas di Desa Quang, bilah logam itu dipenuhi oleh retakan halus yang mematikan.

Di balik meja panjang yang terbuat dari kayu jati purba, duduk seorang wanita tua dengan rambut perak yang disanggul rapi. Meski wajahnya tampak keriput dimakan usia, aura yang terpancar dari tubuhnya terasa berat dan menindas—sebuah tanda bahwa ia adalah seorang praktisi tingkat tinggi yang sudah melampaui ranah Inti Formasi atau bahkan di atasnya.

Qin Xiang tidak membuang kata. Ia menyerahkan plat identitas emasnya ke atas meja kayu tersebut.

“Jenius Sekte Luar?” Tatapan wanita tua itu yang semula sayu seketika menajam. Ia menerima plat tersebut dengan jemari yang gemetar tipis. Matanya menyapu ukiran emas pada plat itu sebelum beralih menatap Qin Xiang dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan pandangan menginterogasi yang seolah ingin menelanjangi jiwanya. “Bocah, milik siapa benda ini sebenarnya?”

“Milikku,” jawab Qin Xiang pendek, suaranya tetap stabil tanpa sedikit pun getaran ketakutan.

“Hoh?” Wanita tua itu terkekeh dingin, sebuah suara yang terdengar seperti gesekan batu. “Kau ingin aku percaya bahwa seorang bocah di ranah Qi Fondasi tahap pertama memegang plat emas ini? Di dunia ini, seekor gagak tidak akan pernah bisa menjadi burung phoenix hanya dengan memakai bulu palsu.”

Qin Xiang sudah menduga akan ada beberapa orang dengan keraguan seperti ini. “Apa yang Anda inginkan dariku sebagai bukti, Tetua?”

“Mudah saja. Di dunia kultivasi, kekuatan adalah satu-satunya bahasa yang tidak bisa berbohong. Ikuti aku,” ujar wanita tua itu sembari bangkit berdiri.

Ia membawa Qin Xiang menuju sebuah ruangan khusus yang tersembunyi di balik tirai sutra tebal. Di tengah ruangan yang sunyi itu, berdiri sebuah patung pedang raksasa setinggi tiga meter yang terbuat dari Giok Murni tanpa cacat. Permukaannya dipoles hingga mengkilap seperti cermin, diciptakan khusus sebagai media untuk mengukur densitas energi bagi mereka yang disebut sebagai ‘anomali’ di Sekte Pedang Giok.

“Majulah. Salurkan Qi milikmu ke dalam patung ini. Jangan menahan diri, atau kau akan dipermalukan oleh batu ini,” perintah sang tetua sembari menyilangkan tangan di depan dada, diam-diam ia mengamati dari samping.

Qin Xiang melangkah maju. Ia tidak memasang kuda-kuda yang rumit. Dengan gerakan yang terlihat santai namun penuh wibawa, ia menempelkan telapak tangan kanannya ke badan patung giok yang dingin.

Wooshhh—!

Dalam sekejap, Qin Xiang memicu Qi Emas-nya. Aliran energi yang selama ini ia tekan di dalam Dantiannya mendadak bergejolak. Qi berwarna emas murni mulai merambat dari lengannya, menyelimuti permukaan patung giok tersebut laksana sulur-sulur naga yang sedang lapar. Ruangan yang semula remang-remang kini bermandikan cahaya keemasan yang menyilaukan.

Wanita tua itu menyipitkan mata. “Qi Emas? Energi macam apa ini? Begitu padat dan... murni?” gumamnya tertahan.

Patung giok itu mulai mengeluarkan suara berderit yang menyakitkan telinga. Warnanya berubah drastis dari hijau jernih menjadi biru, lalu oranye, dan akhirnya berhenti pada cahaya merah menyala yang pekat. Cahaya itu berdenyut kuat, menandakan bahwa patung tersebut baru saja menerima tekanan energi yang setara dengan serangan puncak dari ranah Qi Fondasi tahap 9.

Qin Xiang menoleh sedikit, melihat wajah wanita tua itu yang kini dipenuhi keterkejutan yang luar biasa. ‘Apa ini sudah cukup untuk membungkam keraguannya? Sepertinya cukup,’ batin Qin Xiang. Sebenarnya, ia bisa saja mendorong kekuatannya hingga patung itu berubah menjadi warna lagi yang menandakan ranah Inti Formasi, namun ia tidak ingin bertindak terlalu mencolok untuk menghindari beberapa masalah yang mungkin akan muncul.

“Cukup,” ujar Qin Xiang sembari menarik tangannya. Seketika, cahaya merah itu memudar, menyisakan hawa panas yang masih tertinggal di udara.

“Kau... kau benar-benar memiliki kekuatan tempur setara Qi Fondasi tahap 9?” suara wanita tua itu kini melunak, penuh dengan rasa tidak percaya yang bercampur dengan kekaguman murni. “Sepertinya mata tuaku ini memang sudah mulai rabun. Rekor sekte yang bertahan selama ini sepertinya telah runtuh di tangan seorang murid tahap pertama.”

Qin Xiang tidak menanggapi pujian itu dengan kesombongan. Ia hanya menangkupkan tangan. “Apakah sekarang aku diperbolehkan mendapatkan pedang baru?”

Pertanyaan itu membuat sang tetua tersentak dari lamunannya. Ia bergegas mengembalikan plat emas tersebut dengan kedua tangannya—sebuah tanda penghormatan yang sangat jarang ia berikan kepada murid luar. “Maafkan atas kelancanganku sebelumnya, Nak. Sebagai permintaan maaf, aku akan membiarkanmu memasuki lantai dua.”

“Lantai dua? Bukankah itu hanya untuk murid dalam sekte?” tanya Qin Xiang, alisnya terangkat sedikit.

“Tentu saja. Namun, aku, Lou Ji, adalah Tetua Paviliun Harta yang mempunyai wewenang atas setiap senjata di gedung ini. Jika aku memberikanmu izin, maka tidak akan ada seekor anjing pun yang berani menggonggong atau menyusahkanmu,” ungkapnya dengan nada penuh otoritas. Jabatannya memang memberinya wewenang luas yang melampaui tetua sekte biasa.

“Terima kasih atas kemurahan hati Anda, Tetua Lou,” balas Qin Xiang dengan seringai puas yang tersungging tipis di bibirnya.

...

Bersambung!

1
budiman_tulungagung
satu mawar 🌹
budiman_tulungagung
sepuluh mawar 🌹
budiman_tulungagung: oke.. masama brother
total 2 replies
budiman_tulungagung
lima mawar 🌹
Nanik S
Awal yang bagus
Devourer Is Back: Thanks udah mampir🙏🏻
total 1 replies
T28J
saya kasih like dan hadiah 👍
Devourer Is Back: Thanks ya🙏
total 1 replies
Devourer Is Back
Janji deh, sampai tamat 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!