Di tengah kehidupan yang penuh hinaan dan kesulitan, Xiao Chen kecil hanya memiliki satu mimpi—menjadi pendekar pedang terhebat di dunia.
Tanpa bakat luar biasa maupun latar belakang kuat, ia menapaki jalan pedang dengan tekad yang tak pernah padam. Bagi Xiao Chen, pedang bukan sekadar senjata, melainkan guru yang mengajarkannya tentang rasa sakit, pengorbanan, dan arti kehidupan.
Namun di dunia tempat kekuatan menentukan segalanya, mampukah seorang anak dari keluarga buruk mengukir namanya hingga mengguncang langit dan bumi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Pelajaran dari kekalahan
Dalam kegelapan yang sunyi, kesadaran Xiao Chen perlahan terseret kembali ke dimensi yang dikenalnya, Dunia Pedang.
Langit di sana tampak abu-abu, luas tanpa batas, dengan ribuan bayangan pedang yang tertancap di tanah. Kakek Roh Pedang berdiri membelakanginya, jubah hitamnya berkibar meski tak ada angin.
"Hari ini kau kalah. Dan itu adalah hal terbaik yang bisa terjadi padamu," ucap sang kakek tanpa menoleh.
Xiao Chen terdiam. Ia menunduk dalam, mengepalkan tangan kirinya yang gemetar. Rasa marah, malu, dan frustrasi bergumul di dadanya. "Aku lemah... aku bahkan tidak bisa menyentuhnya."
"Jangan biarkan emosi dangkal itu memakanmu, Nak," suara Roh Pedang melembut. "Apa kau memahami hakikat dari kemenangan dan kekalahan?"
Xiao Chen menggeleng pelan. "Maaf, Kakek Roh... aku tidak tahu. Aku hanya tahu rasa sakitnya."
"Dengarkan baik-baik. Kemenangan sering kali menjadi racun yang manis, ia membuat orang lupa diri, tinggi hati, dan berhenti berjalan karena merasa telah sampai. Sedangkan kekalahan... kekalahan adalah jamu yang pahit. Ia membuat orang marah dan kecewa, tetapi bagi mereka yang mau berpikir, kekalahan adalah guru yang paling jujur."
Roh Pedang berbalik, menatap Xiao Chen dengan sepasang mata yang tampak mengandung ribuan tahun sejarah. Ia tersenyum tipis sebuah senyum yang murni, tanpa ejekan.
"Kemenangan adalah hadiah bagi mereka yang mampu bertahan, belajar, dan bangkit kembali dari debu. Hari ini, kau tidak lari. Kau bertahan sampai kesadaranmu habis. Dan karena itu... kau telah belajar sesuatu yang tidak akan pernah dipahami oleh si sombong Zhao Kun itu. Kau luar biasa hari ini, Xiao Chen."
Mata Xiao Chen membelalak. Ini adalah pertama kalinya sang Roh memanggil namanya dengan nada bangga. Kehangatan aneh menjalar di dadanya, mengalahkan rasa dingin di jiwanya.
Saat Xiao Chen hendak membalas, dunianya berputar. Ia membuka mata dan disambut oleh langit-langit kayu yang kasar. Aroma pahit obat herbal yang menyengat langsung menyerang indra penciumannya.
"Aduh... akkh!" Xiao Chen meringis saat mencoba menggerakkan bahunya. Seluruh tubuhnya terasa seperti baru saja digilas kereta kuda.
Ia melirik ke bawah. Tubuhnya dibungkus perban putih hampir di setiap bagian. Tulang rusuknya masih berdenyut nyeri, dan tangan kanannya terbebat kaku, lumpuh sementara akibat benturan Qi tempo hari.
Di samping tempat tidurnya, Bao Hu tertidur pulas dalam posisi duduk yang tidak nyaman, tangannya masih memegang mangkuk obat yang sudah kosong.
Xiao Chen tersenyum getir. Ia tahu siapa yang telah menunggunya siang dan malam.
Bao Hu tersentak bangun saat merasakan pergerakan. Begitu melihat mata Xiao Chen terbuka, ia hampir melompat dari kursi. "Xiao Chen! Akhirnya! Kau sudah dua hari seperti mayat, Bung! Aku hampir saja memesan peti mati untukmu!"
"Maaf... membuatmu repot, Bao," bisik Xiao Chen parau.
"Kau benar-benar gila! Melawan senior dengan tangan kosong... untung saja kau segera diobati oleh tabib sekte, kalau tidak, kau mungkin sudah jadi hiasan lantai aula," keluh Bao Hu, meski matanya berkaca-kaca karena lega.
Tiba-tiba, pintu asrama terbuka. Seorang pemuda tampan dengan jubah biru Murid Dalam melangkah masuk. Ekspresinya datar, namun matanya tajam.
"Syukurlah kau sudah sadar," ucap senior itu. "Aku diperintahkan untuk memberitahumu: Zhao Kun telah dijatuhi hukuman cambuk dan kerja paksa di tambang batu Qi. Sumber dayanya dipotong selama tiga bulan. Namun, jangan terlalu senang... banyak saksi yang mengatakan kau yang memprovokasi terlebih dahulu, jadi hukumannya dikurangi."
Xiao Chen tersenyum pahit. Ia tahu kebenaran di sekte ini sering kali dibelokkan oleh mereka yang punya pengaruh. Zhao Kun mungkin dihukum, tapi pria itu pasti merasa menang karena berhasil menghancurkan harga diri murid baru itu.
Sebelum keluar, senior itu berhenti sejenak dan menoleh. "Ingat satu hal, Adik Seperguruan. Di dunia ini, jika kau lemah, jangan pernah berharap ada keadilan. Keadilan hanya milik mereka yang memegang pedang paling tajam."
Sementara itu, di Aula Tertinggi, suasana jauh lebih mencekam. Patriark berdiri di depan tumpukan abu dari pedang kuno yang baru saja hancur. Para Tetua berdiri berjajar di belakangnya dengan wajah tegang.
"Patriark, Anda yakin... benda itu ada di sini?" tanya seorang Tetua dengan suara gemetar.
"Pedang Penyegel ini tidak mungkin retak tanpa alasan," suara Patriark berat dan dingin. "Pedang Iblis Surgawi itu... pedang yang ribuan tahun lalu membelah langit dan membantai ratusan ribu nyawa demi mencapai ranah keabadian berdarah... ia ada di antara murid baru kita."
"Tapi Patriark, bagaimana jika itu hanya gema energi biasa?"
Patriark berbalik, menatap Han Gu yang berdiri di sudut. "Han Gu, lebih awasi semua murid baru. Terutama mereka yang menunjukkan perkembangan tidak wajar atau aura yang mencurigakan. Jangan biarkan satu pun lolos."
"Baik, Patriark," jawab Han Gu singkat, teringat pada bocah di asrama murid luar.
Malam harinya, Xiao Chen duduk di tepi kasur. Ia merenungkan setiap rasa sakit yang ia terima dari Zhao Kun.
"Tekad saja tidak cukup. Teknik tanpa tubuh yang kuat adalah bunuh diri. Dan emosi... emosi membuat pedangku tumpul," batinnya. Ia mulai menyadari sebuah filosofi baru. "Layaknya makanan yang harus seimbang antara rasa dan nutrisi, maka Qi, tubuh, pikiran, dan niat juga harus seimbang."
Beberapa hari kemudian, meski tubuhnya belum pulih total, Xiao Chen memaksakan diri mengikuti tugas pertama dari sekte: Mengumpulkan Rumput Embun Roh di Hutan Kabut.
Tugas ini penting untuk mendapatkan poin kontribusi dan tambahan Batu Qi. Setiap kelompok terdiri dari tiga orang.
Xiao Chen dan Bao Hu mendapatkan anggota baru—seorang gadis dengan rambut dikuncir kuda yang tampak sangat canggung.
"Hei, jangan terlalu tegang. Aku Xiao Chen, dan ini Bao Hu," ucap Xiao Chen ramah.
Gadis itu meremas ujung bajunya. "A-aku... aku Qian'er. S-salam kenal..."
Mereka bertiga mulai memasuki Hutan Kabut. Suasana di sana sangat tidak biasa. Kabut putih yang tebal merayap di tanah, dan pohon-pohon besar tampak seperti raksasa yang sedang mengawasi. Keheningan di sana terasa menindas, terlalu sunyi untuk sebuah hutan.
"Hei! Apa kalian melihat teman kami?!" teriak seorang murid luar dari kelompok lain di depan. "Dia tadi di belakangku, tapi tiba-tiba hilang!"
"Mungkin dia sedang buang air?" celetuk yang lain, mencoba bercanda meski suaranya gemetar.
Tiba-tiba, sebuah tetesan cairan kental jatuh ke dahi salah satu murid. Ia mengusapnya, lalu membeku saat melihat warna merah di jarinya. "D-darah?"
Ia mendongak ke arah dahan pohon yang tertutup kabut. Perlahan, di antara dedaunan, sepasang mata besar berwarna merah menyala terbuka lebar. Pupilnya vertikal, memancarkan aura predator yang haus darah.
"L-LARI!!!"
Tiba-tiba, suara Roh Pedang berteriak di kepala Xiao Chen dengan nada mendesak:
"Lari, Nak! Jangan menoleh! Itu bukan hewan liar biasa."