Arda Valdarez baru berusia delapan tahun ketika dunianya runtuh dalam satu malam.
Sebagai pewaris tunggal keluarga Valdarez—organisasi mafia terbesar dan paling ditakuti di kota—Arda tumbuh di balik tembok mansion mewah, dijaga oleh orang-orang bersenjata, dan dibayangi rahasia yang tak pernah dijelaskan kepadanya. Namun semua berubah ketika ayahnya, Leon Valdarez, dibunuh dalam sebuah pengkhianatan berdarah.
Sebelum menghembuskan napas terakhir, Leon hanya meninggalkan satu benda kepada putranya: sebuah cincin hitam berlambang ular.
Sejak malam itu, Arda menjadi buruan.
Organisasi mafia saingan, pembunuh bayaran, geng kriminal, hingga para pengkhianat dalam keluarganya sendiri memburu anak kecil itu demi sebuah rahasia yang tersembunyi di dalam cincin tersebut.
Di tengah pelariannya, Arda ditemani oleh Ravian, tangan kanan ayahnya yang sangat loyal, Darius, veteran tua keluarga Valdarez, Kael, pembunuh legendaris yang telah lama dianggap mati,serta Elena, seorang gadis misterius
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reza Haris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22 Kembalinya Pewaris Valdarez
Foto itu tidak keluar dari pikiran Arda selama dua hari penuh.
Bahkan saat tidur.
Bahkan saat berlatih.
Bahkan saat mengikuti rapat bersama Kael dan Ravian.
Wajah pria dalam foto tersebut terus saja muncul di pikiran arda.
Kabur.
Tidak jelas.
Namun terasa sangat familiar baginya.
Seolah-olah ia pernah melihatnya pria dalam foto itu.
Seolah ingatan itu ada didalam pikiran arda.
Namun tersembunyi di suatu tempat yang tidak bisa ia jangkau.
Dan semakin keras ia mencoba mengingatnya...
Semakin pula da frustrasi dengan pikiran dan perasaannya.
Malam kedua setelah penemuan foto itu, Arda kembali duduk di ruang arsip.
Map hitam masih terbuka di atas meja.
Beberapa foto lama berserakan di sekitarnya.
Lampu kecil di sudut ruangan menjadi satu-satunya sumber cahaya yang ada di ruangan itu.
Keadaan sunyi.
Hanya suara lembaran kertas yang sesekali dibalik.
Arda kembali memandangi foto kelompok lama itu.
Leon.
Isabella.
Marcus.
Kael.
Dan orang kelima.
Tatapannya tertuju pada wajah yang sebagian tertutup bayangan.
Lalu tiba-tiba...
Sebuah kenangan kecil muncul di dalam pikiran arda.
Sangat singkat.
Sangat samar.
Seperti potongan mimpi.
Ia melihat dirinya masih kecil.
Mungkin berusia tujuh atau delapan tahun.
Ada seseorang yang sedang berbicara dengan Leon di halaman rumah lama mereka.
Seorang pria tinggi.
Pria yang wajahnya tidak bisa ia lihat dengan jelas.
Namun entah kenapa...
Tubuhnya terasa mirip.
Arda langsung mengangkat kepala.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
"Mungkin kah..."
gumamnya.
Namun sebelum ia bisa berpikir lebih jauh...
Pintu ruang arsip sudah terbuka.
lau Kael masuk kedalam.
Pria itu membawa secangkir kopi.
Dan ekspresi yang tampak lelah.
"Kau masih di sini ternyata."
ucapnya.
Arda hanya mengangguk saja.
"Kau juga."
Kael tersenyum tipis.
"Laporan tidak akan membaca dirinya sendiri."
Untuk sesaat suasana menjadi sedikit lebih ringan.
Namun hanya sesaat.
Karena foto itu masih berada di antara mereka.
Dan keduanya tahu betapa pentingnya foto tersebut.
"Apakah ada perkembangan?"
tanya Kael.
Arda menggeleng saja.
"Belum."
"Lalu kenapa wajahmu seperti itu?"
Arda kembali melihat foto tersebut.
"Aku merasa pernah melihatnya."
Kael tidak langsung menjawab.
Karena itu bukan pertama kalinya ia mendengar kalimat tersebut.
Ravian pernah mengatakan hal yang sama.
Bahkan Elena juga pernah merasakan hal serupa saat melihat foto itu.
Aneh.
Sangat aneh.
Seolah orang kelima itu pernah hadir dalam hidup mereka.
Namun keberadaannya telah dihapus secara perlahan dari ingatan semua orang.
"Kita akan menemukan jawabannya."
ucap Kael akhirnya.
Namun bahkan dirinya sendiri tidak terdengar yakin.
Keesokan paginya.
Rumah persembunyian kembali sibuk.
Kali ini bukan karena serangan.
Bukan karena perang.
Melainkan karena sebuah undangan.
Undangan yang telah lama ditunggu.
Dan sekaligus sangat berbahaya.
Sebuah pertemuan besar dunia bawah akan diadakan malam ini.
Pertemuan pertama sejak kematian Leon.
Semua organisasi besar kota akan hadir.
Semua kelompok berpengaruh akan datang.
Dan untuk pertama kalinya...
Valdarez harus menunjukkan siapa penerus mereka.
Kael meletakkan surat undangan di atas meja.
Ravian berdiri di sampingnya.
Sementara Arda membaca isi surat itu.
"Jadi aku harus datang."
ucap Arda.
"Bukan harus."
jawab Kael.
"Memang kau yang akan datang."
Ruangan menjadi hening.
Karena semua orang memahami arti pertemuan itu.
Dunia bawah sedang mengamati.
Mereka ingin melihat apakah keluarga Valdarez masih kuat.
Atau sudah siap dimakan hidup-hidup.
"Kalau mereka melihat kelemahan..."
ucap Ravian.
"...mereka akan menyerang."
Arda mengangguk.
Ia sudah mengetahui itu.
Dan untuk pertama kalinya...
Ia tidak merasa gugup.
Setidaknya tidak sebanyak yang ia kira.
Karena selama beberapa bulan terakhir...
Ia telah menghadapi terlalu banyak hal.
Kematian.
Pengkhianatan.
Perang.
Dibandingkan semua itu...
Sebuah pertemuan terasa jauh lebih sederhana.
Menjelang malam.
Persiapan dilakukan.
Biasanya Leon selalu mengenakan setelan hitam ketika menghadiri pertemuan seperti ini.
Dan tanpa disadari...
Arda memilih warna yang sama.
Bukan karena ingin meniru.
Namun karena terasa tepat saja baginya.
Ketika ia keluar dari kamar.
Elena yang sedang berada di koridor langsung berhenti berjalan.
Matanya sedikit membesar.
Bukan karena pakaian itu.
Melainkan karena cara Arda membawanya.
Cara ia berjalan.
Cara ia menatap lurus ke depan.
Sesuatu telah berubah.
Dan perubahan itu semakin jelas setiap hari.
"Kau terlihat berbeda."
ucap Elena.
Arda tersenyum kecil.
"Semua orang bilang begitu.
"Kali ini aku serius."
Elena memperhatikannya beberapa saat.
Lalu berkata pelan.
"Kau terlihat seperti seseorang yang siap menghadapi apa pun."
Arda tidak langsung menjawab.
Karena jauh di dalam dirinya...
Ia masih memiliki ketakutan.
Masih memiliki keraguan.
Namun ia tidak lagi membiarkan semua itu mengendalikan dirinya.
Mobil berangkat pukul delapan malam.
Kael.
Ravian.
Darius.
Dan Arda.
Mereka menuju sebuah gedung tua di pusat kota.
Bangunan itu tampak biasa dari luar.
Namun semua orang yang berada di dunia bawah mengenal tempat tersebut.
Tempat netral.
Tempat pertemuan.
Tempat di mana perang biasanya ditunda sementara.
Begitu mereka tiba.
Puluhan kendaraan mewah sudah terparkir.
Penjaga bersenjata berdiri di berbagai sudut.
Tatapan mereka tajam.
Waspada.
Dan tidak ramah.
Saat Arda turun dari mobil...
Beberapa orang langsung memperhatikannya.
Bisikan mulai terdengar.
Samar.
Namun cukup jelas.
"Itu dia?"
"Anak Leon?"
"Masih muda."
"Apa dia benar-benar penerus?"
Arda mendengar semuanya.
Namun tidak bereaksi.
Karena Kael pernah mengatakan sesuatu.
Orang yang terlalu sibuk membuktikan dirinya biasanya tidak benar-benar kuat.
Mereka masuk ke aula utama.
Ruangan besar itu dipenuhi tokoh-tokoh berpengaruh dunia bawah.
Beberapa wajah tua.
Beberapa wajah baru.
Dan sebagian besar sedang memperhatikan Arda.
Menilai.
Mengukur.
Mencari kelemahan.
Salah satu pria tua tertawa kecil.
"Jadi ini pewaris Valdarez?"
Nada suaranya meremehkan.
Beberapa orang ikut tersenyum.
Namun Arda tetap tenang.
Ia berjalan menuju meja utama.
Lalu duduk di kursi yang selama ini ditempati Leon.
Tanpa ragu.
Tanpa meminta izin.
Tanpa menundukkan kepala kepada siapa pun.
Dan tindakan sederhana itu langsung mengubah suasana ruangan.
Karena semua orang memahami simbolnya.
Ia tidak datang sebagai tamu.
Ia datang sebagai Valdarez.
Pertemuan dimulai.
Beberapa topik dibahas.
Wilayah.
Bisnis.
Keamanan.
Lalu seorang pria bertubuh besar mulai berbicara.
"Situasi kota berubah."
ucapnya.
"Valdarez sudah tidak seperti dulu."
Ruangan kembali hening.
Karena semua orang tahu ke mana arah pembicaraan itu.
Pria itu menatap Arda.
Langsung.
Tanpa malu-malu.
"Mungkin sudah waktunya beberapa wilayah berpindah tangan."
Beberapa orang tersenyum.
Mereka sedang menguji Arda.
Dan semua orang menunggu reaksinya.
Namun Arda tidak marah.
Tidak membentak.
Tidak mengancam.
Ia hanya bersandar di kursinya.
Kemudian berkata tenang.
"Mungkin."
Jawaban itu membuat beberapa orang terkejut.
Pria besar itu tersenyum lebar.
Namun senyum tersebut tidak bertahan lama.
Karena Arda melanjutkan kalimatnya.
"Mungkin wilayah itu bisa berpindah tangan."
"Tapi hanya jika orang yang mengambilnya cukup kuat untuk mempertahankannya."
Ruangan langsung sunyi.
Arda menatap pria itu.
Tatapannya datar.
Dingin.
"Dan sejauh yang aku tahu..."
"...orang-orang yang mencoba mengambil milik Valdarez biasanya tidak hidup cukup lama untuk menikmatinya."
Keheningan memenuhi aula.
Total.
Beberapa orang saling berpandangan.
Beberapa lainnya langsung menahan senyum.
Bahkan Ravian hampir tertawa.
Karena jawaban itu sempurna.
Bukan emosi.
Bukan ancaman kosong.
Melainkan sebuah fakta.
Fakta yang diketahui semua orang di ruangan itu.
Pria besar tersebut akhirnya mengalihkan pandangan.
Dan untuk pertama kalinya malam itu...
Tidak ada lagi yang meremehkan Arda.
Ketika pertemuan berakhir.
Bisikan kembali terdengar.
Namun kali ini berbeda.
Bukan keraguan.
Bukan ejekan.
Melainkan sesuatu yang lain.
Pengakuan.
Rasa hormat.
Dan sedikit ketakutan.
Saat Arda berjalan keluar dari gedung bersama Kael dan yang lainnya...
Salah satu pemimpin organisasi besar berkata pelan kepada rekannya.
"Leon sudah mati."
Tatapannya mengikuti langkah Arda.
"Tapi Valdarez belum."
Di luar gedung, angin malam berembus pelan.
Arda berdiri sejenak di dekat mobil.
Menatap lampu kota yang membentang di kejauhan.
Tanpa ia sadari...
Malam ini menjadi titik balik.
Malam ketika dunia bawah berhenti melihatnya sebagai anak kecil.
Dan mulai melihatnya sebagai sesuatu yang jauh lebih berbahaya.
Sang pewaris telah kembali.
semangat kak dalam berkarya nya 💪💪💪