NovelToon NovelToon
Villain & Villainess

Villain & Villainess

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Hyacinthus Rainwood

Autumn Isabella, dua puluh dua tahun, memiliki profesi sebagai dokter hewan dan merupakan seorang ahli botani, dibunuh secara brutal oleh tunangannya yang berselingkuh.

Jasper Herasio, dua puluh enam tahun, seorang CEO yang tewas di tangan adik laki-lakinya karena masalah hak waris.

Keduanya, dalam takdir yang saling terikat, terlahir kembali di dalam sebuah novel yang berjudul "Enchanted Rose". Autumn, menjadi villainess utama dalam cerita: Amorette Ysandre Elowen. Jasper, menjadi villain utama dalam cerita: Algernon Leandor Remington.

Pertemuan dari takdir itu memaksa mereka untuk bertahan hidup bersama, sekaligus mengungkap kebusukan para tokoh utama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyacinthus Rainwood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

08: Rewrite

Suasana di ruang dansa sudah mulai mereda. Musik yang tadinya bergema riuh kini perlahan berhenti, dan pasangan-pasangan penari mulai berjalan beriringan menuju keluar ruangan, menuju aula utama di mana meja-meja panjang telah disiapkan lengkap dengan hidangan makan siang yang mewah dan beragam aroma lezat.

Amorette dan Algernon melangkah masuk kembali ke ruangan itu, penampilan mereka sedikit berantakan karena gerakan cepat tadi namun aura keduanya tampak jauh lebih hidup dan bersinar dibandingkan saat kedatangan mereka. Di mata orang-orang yang masih ada di sana, kepergian dan kembalinya mereka berdua hanya dianggap sebagai kebiasaan aneh sang Pangeran Algernon yang misterius, namun ada kilatan rasa ingin tahu yang semakin kuat mengemuka.

Begitu melangkah keluar menuju lorong penghubung, sosok Raja August sudah berdiri menunggu di sana. Raja dari Kerajaan Remington itu menatap putra pertamanya dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran antara keterkejutan, rasa heran, dan sedikit rasa lega. Selama ini, Algernon selalu menjauhi keramaian, selalu berbicara seperlunya saja dengan nada dingin dan kaku, seolah-olah tidak ada satu pun hal di dunia ini yang menarik baginya. Namun hari ini, Raja August melihat perubahan yang sangat nyata.

"Algernon," panggil Raja August dengan nada suara yang tetap sopan namun mengandung penasaran yang besar. Ia menoleh sebentar ke arah Amorette dan mengangguk hormat sebelum kembali menatap putranya. "Kau menghilang cukup lama bersama Putri Amorette. Apakah ada hal penting yang dibicarakan? Dan... bagaimana keadaanmu? Kau terlihat berbeda hari ini, jauh lebih segar dibandingkan biasanya."

Algernon menegakkan punggungnya, mengangkat dagunya sedikit dengan penuh wibawa, lalu membungkukkan badannya sedikit kepada ayahnya. Gerakan itu halus, elegan, dan penuh rasa hormat—sesuatu yang belum pernah dilakukan Algernon sebelumnya. Biasanya, ia hanya akan mendengus pelan atau menjawab sekenanya sebelum pergi begitu saja.

"Ayah," jawab Algernon dengan suara yang tenang, jelas, dan sangat sopan. "Kami hanya berdiskusi mengenai beberapa hal kecil yang menarik perhatian kami berdua. Putri Amorette adalah wanita yang sangat cerdas dan berwawasan luas. Berbincang dengannya membuka banyak sudut pandang baru yang tidak pernah terpikirkan olehku sebelumnya. Aku baik-baik saja, bahkan... aku merasa jauh lebih baik dari biasanya."

Raja August tertegun. Ia menatap putranya lekat-lekat, lalu melirik ke arah Amorette yang berdiri tenang di sampingnya. Pria tua itu tersenyum tipis. Di benaknya, muncul pemikiran bahwa kehadiran gadis inilah yang menjadi dampak baik bagi putra pertamanya yang selama ini tertutup dan dianggap tidak berguna itu. Sepertinya, gosip perubahan sikap Putri Amorette itu benar adanya. Dan ternyata, perubahan itu membawa pengaruh yang sangat positif bagi anakku, batin Raja August puas.

"Syukurlah kalau begitu. Kalau begitu, pergilah makan siang. Kita lanjutkan perbincangan di meja utama," ucap Raja August sambil melambaikan tangan memberi izin.

Amorette dan Algernon saling bertukar pandang sekilas, lalu bersama-sama membungkuk pamit. "Kami permisi dulu, Baginda."

Mereka berdua berjalan beriringan menuju aula makan yang kini sudah mulai ramai dipenuhi para bangsawan yang lapar dan bersemangat berbicara. Namun, baru saja melangkah melewati ambang pintu masuk, sosok tinggi tegap dengan seragam kebesaran Kerajaan Remington langsung menghadang jalan mereka. Itu adalah Pangeran Theodore. Wajahnya tampak sedikit merah, napasnya tidak beraturan, dan matanya menatap tajam ke arah Algernon sebelum akhirnya beralih menatap Amorette dengan sorot mata yang penuh hasrat dan kecemasan.

"Amorette," sapanya, nadanya terdengar seperti larangan sekaligus undangan. Ia sama sekali tidak melirik kakaknya. "Mari makan siang bersamaku. Aku ingin sekali mendengarkan pendapatmu mengenai tarian tadi dan... banyak hal lainnya."

Amorette mengangkat dagunya sedikit, menatap Theodore dengan tenang. Ia melirik sekilas ke arah Algernon, hanya sepersekian detik—namun itu cukup bagi pria itu untuk mengerti maknanya. Jangan biarkan aku sendirian dengannya. Aku butuh kau di sini sebagai penyeimbang.

Algernon tersenyum miring, lalu melangkah selangkah ke depan hingga posisinya berdiri di antara mereka berdua.

"Ah, adikku tercinta," sapa Algernon dengan nada nada santai namun menusuk. "Apakah kau tidak ingin sekalian mengundang kakakmu ini? Bukankah kita selalu berbagi segalanya? Lagipula, aku juga belum memiliki teman makan siang. Pesta ini ramai sekali, tapi rasanya sepi jika makan sendirian."

Tangan Theodore mengepal erat di sisi tubuhnya. Ia menatap kakaknya dengan pandangan yang bisa saja melubangi tubuh orang lain. Ia sangat ingin mengusir Algernon, sangat ingin memiliki waktu berdua saja dengan Amorette. Namun, etika dan sopan santun mencegahnya berbuat kasar. Ia menghela napas kasar, lalu mengangguk dengan terpaksa.

"Baiklah... ayo. Kita makan bersama."

Ketiganya pun berjalan beriringan menuju meja makan utama, tempat duduk kehormatan yang ditempati oleh kedua keluarga inti: Keluarga Kerajaan Elowen dan Keluarga Kerajaan Remington. Begitu ketiga sosok itu mendekat, percakapan hangat yang sempat terjadi di meja itu seketika terhenti. Semua mata—mulai dari Raja Julius, Ratu Mirelle, Raja August, hingga Ratu Remington dan tentu saja Elarise—langsung tertuju pada mereka.

Theodore bergerak cepat, menarik kursi kosong yang berada tepat di sebelah kursi Elarise dan berhadapan dengan Raja Julius. Ia menariknya keluar dengan maksud jelas: mengundang Amorette duduk di sana, di posisi yang paling dekat dengannya dan di sisi yang sama dengan pasangannya, Elarise.

Mata Elarise membelalak ngeri dan cemburu. Ia menggenggam serbet di tangannya dengan kuat. Kenapa dia menarik kursi itu untuknya?! Kenapa dia mengutamakan Amorette?!

Namun, rencana Theodore tidak berjalan mulus.

Tanpa ragu sedikit pun, Algernon berjalan melewati Theodore, duduk begitu saja di kursi yang baru saja ditarik itu dengan santai dan berwibawa. Kemudian, ia menggeser sedikit kursi di sebelahnya, memberi ruang untuk Amorette.

"Duduklah di sini, Amorette. Pemandangannya lebih baik dari sisi ini," ucap Algernon tenang seolah tidak terjadi apa-apa.

Amorette tersenyum tipis, lalu berjalan memutar meja dan duduk tepat di samping Algernon, berhadapan langsung dengan Ratu Mirelle dan Elarise. Theodore terpaku sejenak, menatap kursi kosong yang tersisa di sebelah Elarise dengan wajah merah padam karena kesal. Tidak ada pilihan lain, ia harus duduk di sana, terpaksa bersebelahan dengan gadis yang seharusnya ia puja namun kini justru terasa sangat menjemukan baginya.

Suasana menjadi kaku dan hening. Raja Julius berdeham pelan untuk memecah kebisuan.

"Kelihatannya kalian bertiga cukup akrab hari ini," ujar Raja Julius sambil tersenyum tipis, matanya tertuju pada putri sulungnya. "Terutama kau, Amorette. Tiga hari terakhir ini... kau sangat berbeda. Dulu, kau selalu menuntut perhatian, selalu menangis atau marah jika tidak diperhatikan. Namun sekarang... kau tenang, kau banyak membaca, dan kau bahkan bergaul dengan tamu dengan sopan. Apa yang membuatmu berubah drastis seperti ini?"

Pertanyaan itu langsung menjadi pusat perhatian. Semua orang menunggu jawaban Amorette, berharap gadis itu akan membuat kesalahan atau menjatuhkan dirinya sendiri.

Amorette mengangkat cangkir tehnya perlahan, menyesap sedikit sebelum meletakkannya kembali dengan bunyi halus. Ia menatap lurus ke arah ayahnya, sorot matanya tajam namun tenang, penuh ketegasan yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya.

"Baginda Ayah" jawabnya dengan suara jernih yang terdengar hingga ke ujung meja. "Dulu aku berpikir bahwa cinta dan perhatian harus dituntut dengan keras. Aku berpikir, jika aku berteriak, jika aku menangis, jika aku membuat keributan, maka mata semua orang akan tertuju padaku. Namun tiga hari terakhir ini, saat aku menghabiskan waktuku di perpustakaan, membaca sejarah kerajaan dan kisah-kisah para pemimpin besar, aku sadar satu hal yang sangat penting."

Ia berhenti sejenak, mengedarkan pandangannya ke seluruh wajah di meja itu.

"Perhatian dan penghormatan tidak bisa diminta, tidak bisa dituntut, dan tidak bisa dipaksa. Itu adalah sesuatu yang harus didapatkan. Seseorang yang berharga tidak perlu berteriak agar didengar. Seseorang yang hebat cukup diam saja, dan dunia akan berputar mengelilinginya. Aku hanya sadar, Ayah. Aku sadar bahwa membuang waktuku untuk hal-hal yang tidak berguna hanya akan membuatku terlihat semakin rendah. Aku ingin menjadi Putri Elowen yang benar-benar pantas disegani, bukan sekadar nama saja."

Jawaban itu tegas, cerdas, dan sangat dewasa. Raja Julius tertegun, Ratu Mirelle terdiam tak mampu menyanggah, dan bahkan Cornelius yang duduk di ujung meja pun mengangguk pelan tanpa sadar.

Kemudian, perhatian beralih ke Algernon. Raja August tersenyum lebar, merasa bangga dengan perubahan yang sama pada putranya.

"Dan kau, Algernon," sambung Raja August, suaranya penuh rasa bangga. "Selama bertahun-tahun, kau selalu menutup diri. Kau jarang bicara, kau selalu menghindar dari acara resmi, dan orang-orang mulai beranggapan bahwa kau tidak memiliki bakat apa pun selain menyendiri. Tapi hari ini... kau menari di depan semua orang, kau berbicara sopan, kau tertawa, dan kau terlihat begitu hidup. Kau mulai membuka diri kepada publik. Apakah ini juga pengaruh dari perubahan pandangan yang sama dengan Putri Amorette?"

Algernon tersenyum, menatap ayahnya dengan sorot mata yang sama tegasnya dengan Amorette. Ia tidak lagi menjadi pemuda pendiam yang pasif.

"Benar, Ayah," jawabnya lantang. "Selama ini aku berpikir bahwa menjadi diam dan menjauh adalah cara terbaik untuk menghindari masalah. Aku membiarkan orang lain menilai sesuka hati mereka, menganggapku lemah atau tidak berguna, karena aku pikir itu tidak penting. Namun aku salah. Keberadaan kita bukan hanya untuk diri sendiri. Sebagai pangeran Kerajaan Remington, pandangan rakyat dan sekutu terhadapku adalah cerminan dari kekuatan kerajaan kita. Jika aku dianggap sampah, maka kerajaan ini akan dipandang sebelah mata. Aku sadar, bahwa diam saja bukanlah kebijaksanaan, melainkan kemalasan yang berbahaya. Aku mulai belajar membuka diri, berbicara, dan menunjukkan bahwa darah Remington mengalir kuat di dalam tubuhku, sama kuatnya dengan adikku, Theodore."

Kalimat itu mengandung pesan tersirat yang sangat dalam. Algernon tidak lagi membiarkan dirinya diinjak-injak. Ia menegaskan posisinya sebagai pewaris sah, sebagai sosok yang berkuasa dan berwibawa. Ketegasan keduanya—Amorette yang tenang namun menusuk, dan Algernon yang dingin namun berkarisma—terpancar jelas di meja itu, membuat suasana menjadi begitu hening dan penuh rasa hormat yang baru tumbuh.

Percakapan panjang itu berlanjut membahas tentang sejarah, strategi pertahanan, hingga manajemen sumber daya alam. Di setiap topik, Amorette dan Algernon saling mengisi satu sama lain. Amorette memberikan wawasan tentang pengelolaan tanaman dan kekayaan alam yang ia dapatkan dari buku-buku, sementara Algernon memberikan pandangan strategi dan politik yang ia miliki sebagai mantan CEO. Keduanya terlihat sangat serasi, sangat cerdas, dan sangat mencolok dibandingkan Elarise yang hanya bisa tersenyum manis namun tidak memiliki wawasan apa pun, maupun Theodore yang mulai terlihat kalah bersaing.

Setelah hidangan penutup selesai disajikan dan suasana mulai terasa semakin menyesakkan bagi sebagian orang, Amorette perlahan berdiri. Ia meletakkan serbetnya dengan rapi di atas meja.

"Maafkan aku, Baginda Raja, Baginda Ratu, dan Yang Mulia Raja August," ucapnya dengan nada sopan namun tegas. "Kepalaku terasa sedikit pening dan tidak enak badan. Sepertinya terlalu banyak menghirup udara ramai hari ini. Aku izin pamit untuk kembali ke kamarku dan beristirahat sejenak."

Theodore segera bangkit berdiri, wajahnya terlihat khawatir dan antusias. "Aku yang akan mengantarmu, Amorette. Biar aku yang—"

Namun, lagi-lagi Algernon mendahuluinya. Pria itu juga berdiri dan membungkuk hormat.

"Maafkan aku juga," potong Algernon tenang. "Aku juga merasa sedikit lelah. Lagipula, sudah menjadi kewajibanku untuk memastikan Putri Amorette sampai dengan selamat dan nyaman, mengingat kami berdua sama-sama merasa kurang enak badan. Aku yang akan menemaninya kembali ke kamar."

Tanpa menunggu persetujuan atau penolakan dari siapa pun, Algernon berjalan mendekati Amorette dan berjalan beriringan bersamanya meninggalkan ruang makan.

Setelah sosok mereka berdua hilang di balik pintu, suasana di meja makan kembali riuh namun dengan nada pembicaraan yang berbeda. Raja August tersenyum lebar menatap Raja Julius, lalu menepuk bahu sahabat lamanya itu dengan penuh kekaguman.

"Julius, kau benar-benar beruntung," ucap Raja August dengan suara lantang agar semua orang mendengar. "Kau telah berhasil mendidik putri pertamanya dengan sangat baik. Amorette adalah wanita yang luar biasa. Cerdas, berani, dan memiliki wawasan yang luas. Dan lihatlah dampaknya... kehadirannya saja sudah cukup untuk mengubah pandangan hidup putraku, Algernon, yang selama bertahun-tahun tertutup rapat. Amorette membawa dampak positif yang luar biasa bagi anakku."

Raja August menatap ke arah Ratu Mirelle dan Elarise sekilas, lalu kembali menatap Raja Julius dengan senyum penuh makna yang mulai menjodoh-jodohkan.

"Jujur saja, menurutku... Amorette dan Algernon adalah pasangan yang sangat serasi. Keduanya sama-sama cerdas, sama-sama berwibawa, dan sama-sama memiliki karakter yang kuat. Keduanya saling melengkapi satu sama lain. Sedangkan untuk Theodore..." Raja August melirik sekilas ke arah putra keduanya yang duduk diam dengan wajah masam. "...sepertinya ikatan batin dan kecocokan Theodore lebih terasa dengan Putri Elarise. Keduanya sama-sama lembut, sama-sama manis, dan sangat serasi jika berdampingan. Aku mulai berpikir... mungkin pertunangan lama antara Theodore dan Amorette itu adalah kesalahan. Aku sangat mempertimbangkan untuk membatalkan pertunangan itu dan mengatur rencana baru yang jauh lebih cocok dan menguntungkan bagi kedua kerajaan kita."

Kalimat itu bagaikan petir di siang bolong.

Wajah Ratu Mirelle dan Elarise langsung bersinar terang karena kebahagiaan yang tak terhingga. Ratu Mirelle menahan senyum lebarnya dengan susah payah, sementara Elarise hampir melompat kegirangan di dalam hatinya.

Itu yang aku inginkan! Theodore akan menjadi milikku! Amorette akan dijodohkan dengan Algernon yang dianggap tidak berguna! Segalanya berjalan sempurna!

Namun, di sisi lain, dada Theodore terasa sesak dan panas karena kemarahan yang meledak-ledak. Ia mengepal tangannya di bawah meja, rahangnya mengeras menahan emosi yang membara.

Tidak! Aku tidak mau! Aku tidak menginginkan Elarise! Aku menginginkan Amorette! Kenapa ayahku malah menjodohkan kakakku dengannya?! Kenapa semua orang berpikir aku lebih cocok dengan Elarise?!

Theodore menatap tajam ke arah pintu yang baru saja dilewati Amorette, hatinya berteriak keras, sementara rencana tak terduga yang baru saja dikemukakan Raja August itu perlahan mengubah jalannya sejarah yang telah tertulis, jauh dari apa yang pernah dibayangkan siapa pun.

1
Agus Hidayat
rambutnya Amorette sebenarnya warna pirang apa hitam kok selalu berubah?
cynth: Kayaknya lupa kuubah deh. Seharusnya itu pirang (walau rencana awalnya hitam biar senada sama warna matanya). Terima kasih ralatnya ya, Kak (^-^)/
total 1 replies
kitty ❤
seru thor, lanjutkan 😍🔥
cynth: Thank you Kak (*^^*)
total 1 replies
MayAyunda
keren👍👍
cynth: Terima kasih udah mampir <3!
total 1 replies
cila_aa
baguss banget kak next nunggu chapter selanjutnyaa
cynth: Makasih udah mampir, Kak <3
total 1 replies
Sahabat Oleng
Keren 👍
cynth: Makasih Kak <3
total 1 replies
lidiaaa
semangat Kaa, ceritanya seru
cynth: Makasih Kak <3
total 1 replies
Davina Aurora
menarik ceritanya😍
cynth: Makasih Kak <3
total 1 replies
4revenge
hanssssss
4revenge
ini ni 😍
4revenge
seru padahal baru baca awal awal.
NonaMudaDesi
Kayaknya bagus nih cerita, konspenya kuereennn, tetep semangat kakk, aku mau nabung episode duku
cynth: Hai! Makasih banyak udah mampir <3
total 1 replies
Cattygril
semangat thor
Cattygril: sama-sama👌☺
total 2 replies
T28J
anggur sianida
T28J
kutu kupret juga si hans nih /Angry/
T28J
main catur saja biar akur kak 😂
MayAyunda
keren 👍👍
cynth: Terima kasih <3
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!