Di dunia bawah tanah yang kejam, seorang bos mafia yang tampan namun terkenal bengis tidak pernah ragu untuk melenyapkan siapa saja yang menghalangi jalannya. Ketika salah satu anak buah level bawahnya terjerat utang besar yang tak mampu dibayar, nyawa pria tua itu berada di ujung tanduk. Demi menyelamatkan diri dari eksekusi mati, sang bapak nekat menawarkan putri cantiknya sebagai penebus utang. Meski awalnya enggan, sang bos mafia akhirnya menerima kesepakatan tersebut dan menikahi si gadis. Dimulailah kehidupan pernikahan yang dingin, penuh tekanan, dan agak kasar di dalam rumah megah sang mafia. Namun, di balik dinding es yang dibangun sang bos, sebuah dinamika baru perlahan mulai menguji batasan kekejamannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan yang Kembali Pulang
Dua hari telah berlalu sejak kepergian Asher yang terburu-buru di malam pertama pernikahan mereka, namun hingga detik ini, belum ada satu pun tanda-tanda pria itu akan kembali menginjakkan kakinya di mansion. Kamar tidur utama yang luas itu terasa semakin raksasa dan sunyi bagi Chloe. Di dalam sangkar emas ini, waktu seolah merayap dengan sangat lambat, menyiksa batinnya dengan ketidakpastian yang mencekam. Tidak ada kabar, tidak ada pesan singkat, dan tidak ada panggilan telepon dari sang penguasa mansion. Keberadaan Asher Sterling benar-benar menguap ke dalam kegelapan dunia bawah tanah yang tidak bisa dijangkau oleh akal sehat Chloe.
Sore itu, sekitar pukul lima, langit di luar jendela kamar utama mulai berubah warna menjadi jingga keunguan. Chloe sedang duduk menyila di tengah ranjang king size-nya yang empuk, memegang ponsel pintarnya dalam posisi horizontal. Layar tipis itu kini terbagi menjadi empat kotak video besar, menampilkan wajah-wajah familiar yang dalam dua hari terakhir ini menjadi satu-satunya sumber kekuatannya.
"Bagaimana menu makan siangmu hari ini, Chloe? Apakah Bi Mirna memasakkan sup asparagus kesukaanmu?" suara Victoria terdengar memecah keheningan melalui pelantang suara ponsel. Wanita tertua Sterling itu tampak sedang duduk di kursi belakang mobil mewahnya, tampaknya sedang dalam perjalanan menuju salah satu hotelnya di London.
"Sudah, Kak Victoria. Bi Mirna memasak banyak sekali hari ini, sampai-sampai aku merasa kekenyangan," jawab Chloe dengan seulas senyuman tipis, mencoba menyembunyikan binar matanya yang tampak kuyu.
"Baguslah kalau begitu. Kau harus makan yang banyak, Mawar Kecil. Tubuhmu itu terlalu mungil, aku takut kau akan tertiup angin jika keluar mansion," sahut Cassandra dari kotak video sebelah kanan bawah. Cassandra tampaknya berada di sebuah galeri seni di Paris, latar belakangnya dipenuhi oleh lukisan-lukisan abstrak bernilai tinggi. Wajahnya yang cantik dihiasi oleh kacamata berbingkai emas.
Namun, ekspresi Cassandra mendadak berubah menjadi sedikit masygul saat dia melirik ke arah kotak video Eleanor. "Ngomong-ngomong... apakah salah satu dari kalian sudah mendapat kabar dari si kaku itu? Aku mencoba mengiriminya pesan kemarin mengenai laporan keuangan tahunan, tapi jangankan dibalas, dibaca pun tidak."
Eleanor, yang tampak sedang bersantai di sebuah kafe terbuka di Jenewa dengan latar belakang pegunungan Alpen yang indah, mengembuskan napas panjang sembari menggelengkan kepalanya kesal. "Jangankan kau, Cass. Aku bahkan mencoba menghubunginya lewat jalur telepon satelit darurat milik yayasan tadi pagi, dan hasilnya tetap sama: berada di luar jangkauan. Anak itu benar-benar keterlaluan. Menghilang di malam pertama pernikahan dan mematikan seluruh akses komunikasi selama dua hari penuh... jika dia berada di depanku sekarang, aku pasti sudah menjambak rambut rapinya itu."
Mendengar pengakuan dari ketiga kakak perempuan Asher, jantung Chloe berdenyut pelan. Ada rasa cemas yang aneh yang mendadak mencuat di dalam dadanya. Bahkan kakak-kakak kandungnya sendiri tidak bisa menghubungi Asher?
Selama dua hari ini, Chloe mengira Asher hanya sengaja mengabaikannya karena menganggap dirinya tidak penting, sebuah barang tebusan yang tidak perlu diberi tahu ke mana pemiliknya pergi. Namun kenyataan bahwa pria itu memutus seluruh kontak dengan keluarga besarnya menandakan bahwa masalah yang sedang dihadapi Asher di luar sana jauh lebih besar, lebih berbahaya, dan lebih gelap dari apa yang bisa diimajinasikan oleh gadis sepertinya.
Victoria yang menyadari perubahan ekspresi di wajah Chloe segera berdehem pelan melalui panggilan video, mencoba mengalihkan pembicaraan agar adik ipar barunya tidak semakin tenggelam dalam ketakutan. "Sudahlah, jangan bahas anak bodoh itu lagi. Dia sudah dewasa dan dia memiliki pasukan bersenjata lengkap di belakangnya. Tidak akan ada yang bisa menyentuh seujung rambutnya pun."
Victoria menatap layar ponselnya, mengunci pandangan matanya dengan Chloe melalui lensa kamera. "Chloe sayang, kami sengaja mengajakmu melakukan panggilan video sore ini karena kami tahu kau pasti merasa sangat kesepian di dalam mansion raksasa itu. Tinggal di sana sendirian, hanya ditemani oleh Bi Mirna dan barisan penjaga berjas hitam yang kaku seperti patung, pasti sangat membosankan, bukan?"
"Benar, Chloe," timpal Eleanor dengan senyuman yang sangat hangat dan tulus. "Kami bertiga sengaja mencuri waktu di tengah kesibukan pekerjaan kami masing-masing hanya untuk menemanimu mengobrol. Kami tidak ingin mawar kecil kami layu karena kesepian dan terlalu banyak berpikir di dalam rumah besar itu. Jika kau merasa bosan atau takut, ingatlah bahwa kau bisa menghubungi kami kapan saja, dua puluh empat jam sehari."
Mendengar perhatian yang begitu besar dari ketiga wanita berkuasa itu, air mata haru kembali menggenang di sudut mata rusa Chloe. Dia mengangguk pelan sembari menyeka sudut matanya dengan jemari mungilnya. "Terima kasih banyak, Kak Victoria, Kak Cassandra, Kak Eleanor... kehadiran Kakak semua benar-benar membuatku merasa jauh lebih baik. Aku tidak tahu harus bagaimana melewati dua hari ini jika tidak ada Kakak semua yang terus menghiburku."
Obrolan manis itu berlanjut selama hampir satu jam berikutnya. Mereka membahas banyak hal, mulai dari selera pakaian, makanan penutup favorit, hingga cerita-cerita konyol masa kecil Asher yang sengaja dibongkar oleh ketiga kakaknya untuk membuat Chloe tertawa. Melalui panggilan video itu, ketiga ratu Sterling berhasil memberikan rasa nyaman, aman, dan kehangatan keluarga yang sangat dinantikan oleh Chloe, bertindak sebagai perisai tak kasat mata yang menjauhkan jiwanya dari rasa sepi yang dingin.
Malam pun tiba, membawa kembali keheningan yang pekat dan hawa dingin yang menusuk kulit di dalam kompleks mansion mewah tersebut. Jam di atas meja nakas telah menunjukkan pukul sembilan malam lewat tiga puluh menit saat Chloe baru saja menyelesaikan ritual mandinya.
Asap uap air hangat masih menyelimuti kamar mandi marmer hitam saat Chloe melangkah keluar. Tubuhnya kini beraroma sangat harum, perpaduan antara wangi sabun ekstrak mawar putih dan minyak esensial vanila yang menenangkan. Rambut cokelat panjangnya yang masih sedikit basah dibiarkan terurai bebas di atas bahu dan punggungnya, memberikan kesan alami yang sangat kontras dengan kemegahan kamar tersebut.
Malam ini, entah mengapa, Chloe memilih untuk mengenakan pakaian tidur yang sedikit berbeda dari biasanya. Dia membuka lemari pakaian raksasanya dan mengambil sehelai gaun malam (nightgown) berbahan satin premium berwarna hitam pekat yang tipis. Gaun itu memiliki potongan tali spageti yang sangat tipis di bagian bahu, dengan potongan leher rendah yang mengekspos tulang selangka dan kulit dadanya yang seputih susu. Gaun malam itu jatuh dengan pas di tubuh mungilnya, menjuntai indah hingga ke batas lutut, bergoyang lembut mengikuti setiap langkah kakinya. Warna hitam pekat dari kain satin itu membuat kulit putih porselen Chloe tampak begitu kontras, memancarkan pesona murni yang murni namun terselubung keindahan yang sensual.
Chloe melangkah perlahan menuju jendela kaca besar yang membentang dari lantai hingga langit-langit kamar utama. Di dekat jendela itu, terdapat sebuah kursi santai berbahan beludru abu-abu gelap. Chloe mendudukkan tubuh mungilnya di sana, melipat kedua kakinya di atas kursi, dan memeluk lututnya sendiri.
Dari posisi ini, dia menatap lurus ke luar jendela. Di luar sana, kegelapan malam telah menguasai bumi seutuhnya. Halaman mansion yang luas hanya diterangi oleh pendar lampu taman yang temaram, memproyeksikan bayangan pohon-pohon cemara yang bergoyang tertiup angin malam yang kencang. Langit malam itu tampak pekat, tanpa ada satu pun bintang yang bersinar, seolah ikut merepresentasikan suasana hati Chloe yang masih diliputi oleh kabut ketidakpastian.
Sembari menatap kegelapan di luar, pikiran Chloe kembali melayang pada sosok suaminya. Dua hari penuh tanpa kabar dari Asher Sterling terasa seperti sebuah permainan mental yang menguras emosinya. Di satu sisi, kepergian Asher adalah sebuah berkah karena dia terbebas dari tuntutan malam pertama yang menakutkan. Namun di sisi lain, keheningan ini justru melahirkan ketakutan baru yang lebih merusak: ketakutan akan apa yang akan terjadi saat badai itu akhirnya kembali pulang. Apakah Asher akan kembali sebagai pria lembut yang menghapus riasan wajahnya semalam, ataukah sebagai monster berdarah dingin yang siap merenggut paksa sisa-sisa kebebasannya?
Cklek. Klik.
Suara mekanisme kunci otomatis pintu utama kamar yang terbuka dengan bunyi klik yang tegas seketika memecah kesunyian malam di dalam ruangan tersebut.
Tubuh mungil Chloe tersentak hebat di atas kursi beludru. Jantungnya mendadak berhenti berdetak selama satu detik, sebelum akhirnya berpacu dengan ritme yang luar biasa kencang, berdegup begitu keras hingga menciptakan rasa ngilu yang nyata di dadanya. Punggungnya menegang kaku, dan sepasang mata rusanya melebar sempurna karena syok.
Pintu kayu ek berukir emas kamar utama terbuka lebar secara perlahan.
Dari balik kegelapan koridor luar, sebuah siluet tubuh yang sangat tinggi, tegap, dan masif melangkah masuk ke dalam kamar. Langkah kakinya yang berat dan konstan berbunyi ketukan tegas di atas lantai marmer, membawa serta sebuah aura dominasi yang teramat pekat, dingin, dan mematikan—sebuah aura akrab yang seketika menyedot habis seluruh pasokan oksigen di dalam kamar pengantin tersebut.
Asher Sterling telah kembali.
Pria itu menutup pintu di belakangnya dengan satu tangan, membiarkan kunci otomatis kembali mengunci ruangan dengan bunyi klik yang final. Asher berdiri tegak di dekat pintu selama beberapa saat, membiarkan tubuh masifnya diterangi oleh pendar lampu tidur kamar yang temaram.
Penampilan Asher malam ini tampak sangat berantakan dan dipenuhi oleh jejak-jejak pertempuran yang kelam di luar sana. Jaket kulit hitam panjangnya tampak sedikit kotor, kancing atas kemeja hitam di balik jaketnya telah terbuka tiga buah, menampilkan dada bidangnya yang kokoh. Rambut hitam legamnya yang dua hari lalu dipotong sangat rapi kini tampak berantakan, beberapa helai jatuh menutupi dahinya. Wajah tampannya yang tegas terlihat sangat lelah, dengan bayangan lingkaran hitam samar di bawah matanya, namun rahangnya tetap mengeras kaku dengan ketegasan yang mutlak. Dan yang paling membuat Chloe menahan napas adalah aroma pekat yang menguar dari tubuh suaminya: aroma parfum wood and bergamot yang kini bercampur kuat dengan aroma keringat, asap mesiu yang samar, dan bau besi berkarat khas darah yang tertinggal di ujung lengan jaketnya.
Asher perlahan menggerakkan kepalanya, menyisir seisi kamar dengan sepasang mata kelabunya yang tajam bak elang, hingga akhirnya tatapan dingin itu berhenti dan mengunci sosok Chloe yang sedang duduk mematung di dekat jendela kaca besar.
Mata kelabu Asher yang tadinya redup dan lelah mendadak menggelap, dipenuhi oleh kilatan intensitas yang pekat saat melihat penampilan Chloe malam ini. Tatapannya merayap perlahan, mengabsen setiap jengkal tubuh murni istrinya yang hanya dibalut oleh gaun malam satin hitam tipis yang mengekspos kulit putih porselennya, sebelum akhirnya kembali mengunci sepasang mata rusa Chloe yang bergetar hebat dipenuhi rasa takut.