Bagi Jayden Xeno Frederick, perempuan hanyalah makhluk rumit yang membuang waktu. Sebagai ketua VULTURES—geng motor paling disegani di Jakarta—ia punya segalanya: kuasa, ketampanan, dan pengaruh. Namun, sepulangnya dari program pertukaran pelajar di London, prinsip hidup Jayden runtuh dalam semalam. Ia bertemu dengan Elleanor Catleena Smith, murid baru pindahan Amerika yang barbar, gemar membuat rusuh, dan sama sekali tidak mempan dengan pesonanya.
Elleanor—sang Queen Racer tersembunyi—berpindah ke Indonesia bukan untuk mencari cinta, melainkan karena didepak dari sekolah lamanya akibat merusak fasilitas sekolah. Sifat liar dan tak terkendali milik Elle justru memicu rasa penasaran Jayden. Rasa penasaran yang lambat laun bermutasi menjadi sebuah obsesi gelap dan posesif. Jayden menginginkan Elle, mutlak untuk dirinya sendiri.
Namun, mengurung seekor burung hantu yang hobi berontak tidaklah mudah. Apalagi di belakang Elle, ada Alkana Putra Adhytama, ketua geng WOLFANGS.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alyssa Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: Amuk di Tengah Coliseum
Kehadiran Elleanor di tengah sirkuit terbengkalai itu bak melemparkan sebatang korek api menyala ke dalam drum berisi bensin. Ratusan pasang mata anak geng motor se-Jakarta langsung tertuju pada gadis blasteran yang dengan berani berjalan membelah kerumunan. Bisik-bisik heran dan siulan samar mulai terdengar dari faksi-faksi kecil di sudut ruangan.
"Siapa tuh cewek? Berani amat nyelonong ke tengah lingkaran Vultures sama Wolfangs?"
"Gila, itu cewek yang diperebutkan Jayden sama Alka? Cantik parah sih, pantesan dua raja jalanan pada ribut."
Mendengar siulan dan tatapan lapar dari arah faksi lain, rahang Jayden mengeras sempurna. Urat-urat di lehernya menegang, dan sepasang netra hitamnya berkilat memancarkan aura membunuh yang begitu pekat. Ditolehkan kepalanya sekilas ke arah kerumunan yang berisik, membuat faksi-faksi kecil itu langsung bungkam seketika karena ketakutan.
Jayden melangkah lebar, mengabaikan Alka yang berada di depannya. Dalam hitungan detik, ia sudah berdiri di hadapan Elle, mencengkeram lengan atas gadis itu dengan cengkeraman yang jauh lebih erat dari biasanya—sebuah manifestasi dari rasa terkejut sekaligus amarah yang meluap-luap di dadanya.
"Siapa yang izinin lo keluar dari rumah, Elleanor?!" desis Jayden, suaranya terdengar sangat rendah, parau, dan bergetar menahan amuk gila yang siap meledak. Sisi obsesifnya nyaris kehilangan akal sehat melihat mangsanya berada di tempat terbuka yang penuh dengan bahaya seperti ini.
Elle meringis sedikit karena cengkeraman kuat Jayden, namun ia menolak untuk terlihat lemah. Ditatapnya mata gelap Jayden dengan binar menantang yang berapi-api. "Lepasin gua, Muka Tembok! Gak ada yang perlu ngizinin gua! Gua punya kaki buat jalan sendiri, dan gua muak dikurung terus!"
"Jayden, lepasin tangan lo dari dia!" Alka berteriak emosi, hendak maju mendekat, namun Erlan dan Shaka langsung pasang badan di depan ketua Wolfangs itu dengan wajah super serius.
"Mundur, Adhytama. Lo gak tahu seberapa gilanya Jayden kalau batas sabarnya udah habis," peringat Shaka dengan suara dingin yang sarat akan ancaman.
Jayden tidak memedulikan teriakan Alka. Fokus dunianya saat ini seratus persen terkunci pada Elle. Ia menarik tubuh mungil Elle hingga menempel pada dada bidangnya, mengungkung gadis itu dalam dekapan satu tangannya yang sekeras karang.
"Haikal! Buka pintu mobil sekarang!" perintah Jayden lantang tanpa mengalihkan pandangannya dari Elle.
"Siap, Bos!" Haikal dengan sigap langsung berlari menuju mobil sport mewah milik Jayden yang terparkir tidak jauh dari sana, membuka pintunya menggunakan remote kontrol.
"Gua gak mau masuk ke mobil lo, bajingan!" Elle memberontak hebat. Ia melayangkan pukulan takwondonya ke arah bahu Jayden dan mencoba menendang tulang kering cowok itu. Namun, Jayden yang sedang dikuasai oleh amarah dan obsesi gelap sama sekali tidak bergeming sedikit pun oleh serangan fisik Elle.
Dengan satu gerakan tegas yang tak terbantahkan, Jayden mengangkat tubuh Elle ke dalam gendongannya secara paksa, membawa gadis barbar itu menjauh dari lingkaran coliseum di hadapan ratusan pasang mata yang menonton dengan takjub.
"Alka! Tolongin gua!" teriak Elle frustrasi, refleks memanggil nama orang pertama yang terlintas di otaknya untuk meminta bantuan.
Mendengar Elle memanggil nama Alka di dalam dekapannya, langkah kaki Jayden sempat berhenti satu detik. Matanya menggelap hingga ke titik tergelap yang pernah ada. Sisi posesifnya bergejolak hebat, terbakar cemburu yang begitu membakar.
Jayden menunduk, menatap wajah Elle yang berada di dekapannya dengan pandangan mata yang begitu pekat dan mengerikan. "Sekali lagi mulut lo sebut nama bajingan itu di depan gua, Elle... gua pastikan malam ini lo gak bakal pernah bisa keluar lagi dari kamar penthouse gua selamanya."
Ancaman yang keluar dari bibir tipis Jayden kali ini terdengar begitu dingin, tenang, namun memiliki penekanan yang sangat nyata hingga membuat Elleanor tertegun dan menelan ludahnya susah payah. Sifat liarnya mendadak terkunci oleh ke-absolut-an aura gelap sang ketua Vultures.
Jayden melanjutkan langkahnya dengan cepat, memasukkan Elle ke dalam kursi penumpang depan mobil sport-nya dengan kasar, lalu membanting pintunya hingga tertutup rapat. Sistem penguncian sentral langsung berbunyi klik, mengunci Elle di dalam sana sebelum gadis itu sempat meraih tuas pintu.
Jayden memutari kap depan mobil, melirik ke arah Alka untuk terakhir kalinya dengan tatapan permusuhan yang final dan penuh kemenangan mutlak. Ia masuk ke kursi kemudi, menghidupkan mesin bertenaga monster tersebut, dan menginjak pedal gas dalam-dalam. Mobil sport hitam itu melesat membelah kegerangan malam, membawa sang rona buruan kembali masuk ke dalam sangkar emas yang kali ini akan dikunci jauh lebih rapat oleh sang predator jalanan.