NovelToon NovelToon
Pendekar Pedang Samudera

Pendekar Pedang Samudera

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Epik Petualangan / Action
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

Pewaris Pedang Samudera yang memilih berlayar ketimbang meneruskan jejak sang ayah. Lantas bagaimana cara dia untuk memanfaatkan pusaka legendaris itu dan mewujudkan perdamaian di Shenzhou jika dia sendiri adalah sampah yang dimanjakan ibu dan kakak perempuannya?

"Ibuku memberiku segalanya kecuali kebebasan. Kakakku memberiku perlindungan meski aku tidak memintanya. Sementara Ayahku memberiku mimpi yang membuatku terus berjalan meski semua orang berkata untuk berhenti. Aku adalah orang paling beruntung sekaligus paling terkekang di dunia."

Novel Xianxia baru dari Dana Brekker, bisa langsung baca aja. Tinggalkan like, vote, dan komentarnya kalau suka. Terima kasih!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PROLOG : PENDEKAR PEDANG SAMUDERA

Tiga puluh dua pendekar mengepung satu orang.

Formasi itu rapi, terlatih, dan mematikan, layaknya jaring yang dikencangkan perlahan di sekeliling ikan terbesar yang pernah mereka buru. Setiap pendekar dari Kekaisaran Feng Hua berdiri di posisi yang diperhitungkan, qi mereka mengalir tenang menunggu perintah. Akan tetapi, angin di antara pohon-pohon suci kuil itu malah berhenti berhembus.

Kemudian terdengar suara ombak.

Bukan dari sungai. Bukan dari danau di balik lereng. Suara itu keluar dari bilah pedang yang baru saja dicabut dari sarungnya, biru gelap kebiruan seperti lautan pada malam tanpa bintang, beriak halus dari pangkal hingga ujung mata pedang yang berarti mala petaka. Ukiran ombak perak di gagang hitamnya berkilat, dan sebutir mutiara biru di bawah pelindung tangan bersinar redup, seolah cahaya rembulan terperangkap di dalamnya.

Wei Changsong mengangkat Pedang Samudera setinggi dada, dan senyuman tipis terukir di sudut bibirnya.

“Tiga puluh dua,” bisiknya, sekadar memastikan hitungannya benar. “Kaisar Feng Hua memang tahu cara menghormati tamu.”

Pendekar paling depan yang bersenjatakan tombak api, lantas mengerutkan dahi. “Wei Changsong. Serahkan Pedang Samudera dan berlutut, maka Kaisar berkenan mengampuni nyawamu.”

“Berlutut?” Wei Changsong mengulang kata itu seperti mencicipi sesuatu yang asing di lidahnya. “Menarik.”

Maka bergeraklah dia. Langkahnya maju.

Pedang Samudera menyapu ke kanan, dan gelombang qi biru meledak dari bilahnya, menghantam tiga pendekar sekaligus hingga terlempar ke belakang. Sebelum dua orang dari mereka menyentuh tanah, Wei Changsong sudah berputar, mata pedangnya membelah serangan tombak api dari samping, memadamkan lidah api itu seperti angin mematikan lilin. Suara ombak sempat menggelegar sesaat, lalu mereda.

Hingga tombak api itu patah menjadi dua.

Namun demikian, Wei Changsong tidak berhenti bergerak. Gerakan pedangnya mengalir tanpa jeda ataupun ruang untuk napas lawan. Qi Tingkat Sepuluh memancar dari setiap ayunan dalam tekanan yang terus-menerus dan tak bisa diputus. Lima lawan turun dalam hitungan nafas pertama. Tujuh lagi di nafas kedua.

Adapun di puncak bukit yang menghadap kuil, dua manusia sedang asyik berdiri di balik rimbunnya pohon cemara.

Panglima Long Yuan, Gu Wenyuan, adalah pria tua yang telah menyaksikan seratus pertempuran. Rambutnya seputih tulang, punggungnya sedikit membungkuk oleh usia, tapi matanya yang Tingkat Delapan tidak pernah kehilangan ketajamannya. Matanya kini mengikuti setiap gerakan di bawah dengan penuh tanda tanya, antara kagum dan sesuatu yang lebih dalam dari itu.

“Aku tidak pernah melihat satu pun pendekar bergerak seperti itu,” ujarnya. “Tidak satu pun, dalam hidupku yang panjang ini.”

Wakil Panglima Shen Ruoyu yang bersebelahan dengannya itu menyilangkan kedua tangan di dada. Wanita itu masih tergolong muda untuk seorang senior, Tingkat Tujuh, dengan tatapan yang biasanya setajam pisau. Tapi kini ada keheningan di wajahnya yang tidak biasa. Akibat keheranan yang terbungkam.

“Baginda sendiri sudah menjatuhkan lebih dari setengahnya,” kata Shen Ruoyu. “Kita tidak perlu turun.”

Gu Wenyuan mengangguk sepakat. “Bantuan kita hanya akan mengotori pemandangan.”

Sementara suara ombak kembali menggelegar di bawah sana.

Wei Changsong mendengar itu.

Pendengarannya, yang sudah lama diasah jauh melampaui batas normal, menangkap setiap kata dari bukit itu meski diucapkan dalam bisikan. Kalimat Gu Wenyuan, kalimat Shen Ruoyu, dan penilaian mereka, bahwa dia tidak membutuhkan bantuan, bahwa pertempuran ini sudah beres sebelum selesai.

Pedang Samudera lantas berhenti sesaat di udara.

“Gu Wenyuan,” seru Wei Changsong, tanpa menoleh, suaranya menembus jarak dan pepohonan dengan mudah. “Shen Ruoyu. Aku tahu kalian di sana.”

Keheningan dari bukit itu terasa berat.

“Turun setelah ini beres,” lanjut Wei Changsong, tidak memberi ruang untuk penolakan. “Kuil ini baru awal. Seluruh wilayah suci Feng Hua akan kita bersihkan sebelum bulan ini habis. Aku butuh pasukanku bergerak cepat.”

Shen Ruoyu susah payah membuka mulut, hanya untuk menutupnya lagi.

Lantas Gu Wenyuan lah yang berbicara hati-hati. “Baginda, hukum langit Shenzhou sedang tidak stabil. Bagi mereka yang sudah mencapai Tingkat—“

“Tentu saja, aku tahu,” Wei Changsong mendahului. Ada sesuatu di rahangnya yang mengeras sesaat, menyerupai rasa sakit yang ditelan cepat-cepat. “Karena aku juga merasakannya.”

Tak lama kemudian, Pedang Samudera kembali bergerak.

Rasa sakit itu nyata. Sudah beberapa pekan, ada tekanan aneh yang muncul di titik-titik qi-nya setiap kali dia memaksakan diri melampaui batas tertentu seperti retakan halus di fondasi yang tidak kelihatan dari luar. Wei Changsong tahu apa artinya, dan dia memilih untuk tidak berpikir terlalu lama tentang artinya.

Masih ada terlalu banyak yang harus dikuasai. Terlalu banyak yang belum selesai.

Kekuatan seperti Pedang Samudera tidak boleh berhenti di titik ini. Tidak boleh.

Sampai pertempuran itu berakhir sebelum senja turun.

Wei Changsong berdiri di antara reruntuhan formasi Feng Hua, Pedang Samudera masih menetes, suara ombak di bilahnya perlahan mereda seperti gelombang yang menarik diri dari pantai. Sementara angin kembali berhembus. Pohon-pohon suci di halaman kuil bergoyang, acuh terhadap darah yang menggenang di antara akarnya.

Benar-benar kemenangan yang sempurna. Seperti semua kemenangannya yang lain.

Wei Changsong tidak tahu, dan mungkin tidak akan pernah mau tahu, bahwa ambisi yang membuatnya tidak mau berhenti, yang membuatnya menolak bantuan siapa pun, yang membuatnya mengabaikan retakan di fondasi qi-nya demi mengejar satu wilayah lagi, satu kuil lagi, satu kemenangan lagi, adalah juga ambisi yang suatu hari nanti akan menggerogotinya dari dalam.

Kekuatan Pedang Samudera tidak akan menyelamatkannya dari dirinya sendiri.

Dan pada akhirnya, ketika semua kebanggaan itu runtuh dan hanya tersisa satu tarikan napas terakhir, Wei Changsong yang tidak pernah meminta bantuan siapa pun akan menaruh seluruh harapannya pada satu orang. Tentu saja bukan panglima terbaiknya. Bukan pula pendekar senior yang paling setia, akan tetapi putranya. Yang masih terlalu kecil untuk memahami beban yang sudah disiapkan untuknya.

Begitulah awal dari semua yang kemudian terjadi.

“Lempar like, vote dan komentarnya biar Author makin semangat!”

1
Ilham Akbar
Mantap thor, apalagi kalo cerita ini sampai finish💪👍
DanaBrekker: Terima kasih atas dukungannya 👍
total 1 replies
Ilham Akbar
Mampus lu,, dasar betina rakus🤭
DanaBrekker: /Smirk/
total 1 replies
GFR31
top 👍
DanaBrekker: terima kasih. sangat disarankan juga buat ikutin kisah Ji Zhen di novelku yang berjudul Lahirnya Kultivator Naga Keabadian 🙏
total 1 replies
DanaBrekker
Selamat datang di karya baru author semoga kalian suka.. Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca cerita ini. Bisa terus kasih dukungan demi kelanjutan karya-karya author, dan kalau tidak suka jangan dipaksa 🤭🙏🤣
DanaBrekker: semoga cocok 🤭
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!