NovelToon NovelToon
Arunika Di Kala Senja

Arunika Di Kala Senja

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Trauma masa lalu
Popularitas:519
Nilai: 5
Nama Author: minttea_

Arunika hidup dengan trauma masa lalu yang membuatnya menjadi pribadi dingin dan tertutup. Setelah kehilangan kedua orang tuanya sejak kecil, ia diasuh oleh kakek dan neneknya di sebuah penginapan tua di desa wisata yang dipenuhi pohon damar. Aroma lilin dari getah damar selalu menjadi tempat ternyaman bagi Arunika, hingga kehadiran seseorang dari masa lalunya perlahan mengusik hidup yang selama ini terasa tenang. Di saat yang sama, seorang pemuda yang telah menemaninya sejak kecil masih setia berada di sisinya. Lalu, siapakah yang akhirnya akan dipilih Arunika?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Benang-Benang yang Mulai Terurai

Benang-Benang yang mulai Terurai

Matahari baru saja tergelincir ke ufuk barat, meninggalkan jejak-jejak jingga yang memudar di langit yang kini mulai meremang.

Angin sore berembus lebih kencang, membawa aroma tanah yang baru saja disiram air kolam dan sisa-sisa wangi masakan nenek yang menyeruak dari balik jendela dapur.

Di teras penginapan yang terbuat dari papan kayu ulin tua, Senja duduk sendirian.

Ia telah berganti pakaian—kemeja flanelnya yang berlumpur kini digantikan oleh kaus putih bersih yang tampak kontras dengan kulitnya—namun pikirannya masih tertinggal di tepi kolam tadi.

Pikiran Senja berkecamuk. Ucapan Arkala tentang "hubungan" itu seperti duri yang terselip di bawah kuku; kecil, tak terlihat, namun senantiasa memberikan rasa nyeri yang nyata setiap kali ia mencoba bergerak.

Ia menatap telapak tangannya sendiri. Ada perasaan aneh yang terus menghantuinya sejak menginjakkan kaki di tempat ini.

Logikanya mengatakan ini adalah wilayah yang sepenuhnya baru, ia belum pernah ke sini seumur hidupnya.

Namun, entah mengapa, setiap sudut desa ini, aroma udaranya, hingga cara cahaya lampion jatuh di lantai kayu, terasa seperti potongan teka-teki yang seolah ingin menyambung di kepalanya. Ia merasa seperti sedang mengalami dejavu yang sangat panjang, namun ia tak tahu kapan dan di mana asalnya.

Langkah kaki yang berat memecah keheningan.

Arkala muncul dari balik tikungan lorong, membawa sebuah kotak kayu berisi peralatan pertukangan.

Lelaki itu tampak masih agak kaku, namun intensitas kemarahannya seolah sudah meluruh bersama air mandi tadi.

Ia meletakkan kotak itu di lantai dengan bunyi dentuman yang sengaja dibuat keras untuk memecah lamunan Senja.

"Bengong saja lu, Dit! Kesambet penunggu kolam baru tahu rasa," tegur Arkala tanpa menoleh. Suaranya serak, khas orang yang baru saja mandi setelah kelelahan.

Senja mendongak, berusaha memasang wajah kalem meski hatinya masih agak dongkol. "Cari angin saja. Di kamar terus bosan, file juga sudah kelar semua. Papa juga belum balik, katanya masih ada deadline di proyek."

Arkala mendengus, lalu duduk di kursi kayu depan Senja. Ia mulai mengeluarkan amplas dan sebilah kayu kecil. "Orang kota kayak lu memang aneh ya. Kalau nggak ada kerjaan malah linglung. Di sini tuh ya duduk, napas, nikmatin hidup. Nggak usah sok sibuk terus, nanti otak lu konslet."

Senja tersenyum sinis. "Mungkin karena di tempat gue waktu itu sangat berharga, Kal. Nggak seperti lu yang hobinya cuma menangkap ikan kecil terus pamer selangit. Di sini semuanya lambat sekali, bikin gue gatal ingin mengerjakan sesuatu."

"Ya makanya muka lu kelihatan cemas terus," sahut Arkala santai sambil mulai mengamplas kayu dengan gerakan ritmis. Srek, srek, srek. Bunyinya mengisi kekosongan di antara mereka, berpadu dengan suara jangkrik yang mulai bernyanyi di sela pagar.

Keheningan kembali merayap. Angin berdesir melewati teras, membawa suara tawa Arunika yang lamat-lamat terdengar dari arah dapur. Senja berdeham, mencoba memancing pembicaraan yang membuat dia penasaran setengah mati, meski gengsinya setinggi langit.

"Kal," panggil Senja pelan.

"Apaan?" Arkala tidak mendongak, fokus sekali pada kayu di tangannya.

"Soal omongan lu di kolam tadi... hubungan lu sama Arunika. Lu nggak usah posesif amat lah. Gue cuma nanya, kenapa lu kayak mau nerkam gue tiap kali gue ngomong sama dia? Memangnya lu siapa? Pacarnya?"

Gerakan tangan Arkala berhenti. Ia menatap kayu di tangannya sejenak, lalu tawa pendek yang terdengar meremehkan keluar dari bibirnya. Ia mendongak, menatap Senja dengan sorot mata yang sulit ditebak.

"Pacar? Lu pikir hubungan di dunia ini cuma soal pacaran doang? Cetek amat pikiran lu," Arkala menggeleng-gelengkan kepala.

"Gue bilang kan lu nggak bakal paham. Lu itu orang baru, Dit. Jangan sok merasa paling tahu. Gue punya alasan sendiri kenapa gue nggak mau lu macam-macam. Lu lihat sendiri tadi di kolam, Arunika itu tulus, nggak seperti orang kota yang penuh trik."

Senja mengernyit, merasa tersinggung. "Lu pikir semua orang kota itu tukang tipu? Gue cuma nanya kenapa lu kayak pagar berduri begitu. Lebay banget tahu nggak."

Arkala menaruh amplasnya, lalu menatap Senja dengan pandangan yang sedikit lebih santai, meski mulutnya tetap pedas.

"Waspada itu perlu, Dit. Tapi ya sudahlah, gue hargai nyali lu yang berani minta maaf tadi, walau muka lu penuh lumpur. Setidaknya lu punya harga diri buat mengakui kalau lu salah."

Senja menghela napas, menatap bintang-bintang yang mulai kelihatan jelas di langit malam. "Gue cuma nggak mau suasana jadi makin berantakan. Gue ke sini buat menemani bokap kerja, bukan buat cari ribut sama warga lokal seperti lu."

Arkala kembali mengambil kayunya.

"Ya sudah, kalau lu mau selamat di sini, kurangi gaya sok tahu lu itu. Besok-besok jangan mancing pakai kemeja rapi begitu lagi. Lu mau menarik perhatian ikan apa mau presentasi? Malu-maluin gue saja."

Senja tertawa pendek, tawa yang sedikit mencairkan ketegangan. "Sialan lu, Kal. Besok gue pinjam kaus lu yang dekil itu saja biar lu puas."

"Dih, kaus gue kegedean buat badan lu yang kurang otot itu. Nanti lu malah tenggelam di baju gue," ejek Arkala sambil nyengir lebar.

Di tengah aksi saling sindir itu, Arunika muncul dari dalam penginapan membawa nampan berisi tiga gelas teh hangat.

"Masih saja berisik? Aku dengar ada yang lagi pamer badan, tapi kok yang satu kelihatan tipis?" tanya Arunika jenaka.

"Adit nih, Ka. Dia mau pinjam bajuku, katanya ingin merasakan jadi cowok tangguh sehari saja biar nggak kaku banget," canda Arkala sambil menyambar gelas tehnya.

Wajah Senja langsung memerah. "Gue nggak bilang begitu ya, Kal! Jangan ngaco lu kalau ngomong!"

Arunika tertawa, suara yang bagi Senja terdengar sangat adem tapi juga membuat dia makin bingung dengan perasaan aneh di hatinya.

"Bagus deh kalau kalian sudah bisa saling ejek begini. Capek tahu lihat kalian diam-diaman seperti musuh bebuyutan. Nih diminum tehnya, mumpung masih hangat."

Arunika duduk di bangku panjang, ikut menikmati angin malam yang makin dingin.

Senja menatap uap tehnya, sementara hatinya terus bertanya-tanya. Kenapa setiap kali melihat Arunika tertawa, ada bagian di pikirannya yang seolah mau terbuka paksa tapi kuncinya tidak ketemu-ketemu?

"Dit, lu bengong lagi? Itu tehnya diminum, jangan cuma dipandangi saja," tegur Arkala, membuyarkan lamunan Senja.

"Iya, bawel banget sih lu," sahut Senja cepat-cepat, lalu menyeruput teh melati yang harum itu.

Malam makin larut di bawah lampion penginapan yang bergoyang ditiup angin.

Di teras itu, meski masih penuh sindiran dan bahasa lu-gua yang ketus, dinamika antara Senja dan Arkala pelan-pelan mulai berubah.

Arkala mulai bercerita asal soal jenis kayu, dan Senja membalasnya dengan komentar tajam, tapi mereka tetap duduk di situ, bersama-sama.

Angin berembus kencang sekali lagi, menggoyang lampion hingga bayangan mereka menari-nari di lantai kayu. Kegelapan menyelimuti mereka, menyisakan aroma teh dan misteri yang makin tebal.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!